Tag Archives: People

Kamu dan Jakarta

20 Jun

GambarI love Jakarta as much as I hate Jakarta.

Dan saya mengibaratkan kamu adalah Jakarta.

Saya membenci Jakarta. Jalanan yang tidak bersahabat, banjir setiap kali hujan, kriminalitas dimana-mana, hingga manusia-manusia judgmental yang lebih mempermasalahkan barang-barang palsu ketimbang kepribadian yang palsu.

Saya membenci Jakarta karena ketidakmampuannya memberikan keamanan bagi saya.

Saya membenci Jakarta sama seperti saya membenci kamu.

Tapi di sisi lain saya mencintai Jakarta.

Saya mencintai waktu terbuang sia-sia di tengah kemacetan Jakarta yang pada akhirnya membuat saya menghabiskan waktu berkualitas dengan diri saya.

Saya mencintai Jakarta sebab di tengah ketidakmampuannya memberikan rasa aman bagi saya, saya justru belajar untuk menjadi manusia yang lebih tangguh dan kuat.

Saya mencintai Jakarta karena Jakarta mengajarkan saya untuk selalu berusaha menjadi lebih baik lagi, tidak peduli sekeras apa realita menampar saya.

Saya mencintai Jakarta dan keberhasilannya memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi saya.

Saya mencintai Jakarta sebagaimana saya mencintai kamu.

Jakarta adalah kamu dan kamu adalah Jakarta.

Saya akan selalu mencintai kamu seperti saya mencintai Jakarta yang tidak akan pernah membalas cinta saya tidak peduli berapa besar rasa cinta saya.

I love you like I love Jakarta and I hate to admit the fact that both of you and Jakarta are always be the part of my life no matter what.

Advertisements

Tuhan Bersosialisasi

13 Oct

Kalau kemarin saya membuat sebuah posting yang menggambarkan kejenuhan saya akan kata ‘Insya Allah’, maka kali ini saya ingin menggambarkan kejenuhan saya akan kata ‘demi Allah’.

Demi Allah

Saya ingat pertama kali saya belajar mengerti kata tersebut, bukan dari guru agama saya, melainkan dari ayah saya. Saya ingat ketika saya masih kecil dan orang tua saya berpikir saya masih terlalu kecil untuk mengerti perbincangan orang dewasa, saya selalu mendengar ayah saya mengatakan kalimat tersebut ketika sedang bertengkar dengan ibu saya. Dari ayah saya, saya belajar bahwa ‘demi Allah’ adalah sebuah kata yang diucapkan ketika kamu tidak sedang berkata jujur, tapi kamu ingin membuat lawan bicaramu percaya pada kamu dengan mudah.

Waktu saya mulai sekolah dan belajar agama, saya baru tahu bahwa persepsi saya mengenai ‘demi Allah’ salah total. Berdasarkan apa yang saya dapat dari pelajaran agama (yang hanya saya perdalam semasa saya sekolah saja), saya mengetahui bahwa ‘demi Allah’ adalah kata yang boleh diucapkan hanya ketika kamu berkata jujur.

Makna yang sangat kontras dengan apa yang saya lihat pada situasi sehari-hari bukan?

Ya, persis sekali dengan kata ‘Insya Allah’.

Ngomong-ngomong setelah beberapa waktu yang lalu saya dilanda kejenuhan akan kata ‘Insya Allah’, kali ini saya diserang kejenuhan yang teramat sangat akan kata ‘demi Allah’. Entah kebetulan atau memang sedang trend, tapi saya menemukan banyak sekali orang yang mengatakan ‘demi Allah’ kepada saya.

Semuanya mengatakan ‘demi Allah’ untuk alasan yang sama, agar saya percaya dengan apa yang mereka katakan. Berbeda dengan kata ‘Insya Allah’, reaksi saya menghadapi ‘demi Allah’ adalah diam, sambil berkata dalam hati ‘just wait and see!’.

Berhadapan dengan begitu banyak orang yang membawa-bawa Tuhan dalam aktivitas sosialnya membuat saya bertanya-tanya sendiri apakah sebenarnya saya ini ketampangan seperti orang yang religius dan dapat mempercayai orang yang membawa-bawa nama Tuhan dengan mudah?

Jawabannya adalah tidak dan tidak.

Satu tidak untuk tampang yang membuat orang berpikir saya ini religius dan akan percaya apa pun selama itu mengatasnamakan Tuhan di dalamnya

Dan satu tidak untuk saya yang mudah percaya akan segala sesuatu yang memuat Tuhan di dalamnya.

Maka hari ini, izinkan saya mendeklarasikan sesuatu:

Ketika kamu diminta untuk melakukan sesuatu tapi kamu tidak yakin atau tidak mau melakukannya, maka sebaiknya katakan tidak jangan pernah mengatakan Insya Allah karena selain kamu akan mengecewakan saya (dan mungkin juga lawan bicaramu yang lainnya, kamu juga sudah mempermainkan Tuhan)

Ketika kamu ingin membuat seseorang percaya akan kata-katamu jangan pernah mengatakan Demi Allah karena hal tersebut tidak lantas membuat orang lain percaya, terutama ketika kamu sebenarnya sedang berbohong, mengatakan hal tersebut akan membuat kamu terdengar seperti sedang menyepelekan Tuhan.

Pada akhirnya, saya meminta kamu, dengan hormat, untuk tidak membawa-bawa Tuhan dalam aktivitas sosial yang kamu lakukan dengan saya, karena di mata saya, hal tersebut tidak membuat kamu terlihat seperti seorang yang religius, tapi justru membuat kamu terlihat seperti seorang manusia yang tidak tahu diri karena senang sekali mempermainkan Tuhan.

Pada akhirnya, sesuatu yang membuat saya percaya pada kamu adalah waktu dan itikad baik yang kamu tunjukkan pada saya, bukan karena kamu memuat nama Tuhan dalam setiap kalimat yang kamu ucapkan.

 

Day 28: Unusual

2 Sep

Kadang, cuma butuh seorang asing dan sebuah kegiatan di luar kebiasaan untuk membuat saya (dan mungkin juga kamu) berpikir.

Seperti seorang asing bernama Shaskia Noerdin. Saya tidak pernah mengenalnya dan satu-satunya hal yang membuat saya mengetahui tentangnya (dan tertarik untuk mencari tahunya lebih dalam lagi) adalah karena billboard bergambar wajahnya yang terpampang di laundry 5 a sec jalan R.E. Martadinata – Bandung yang sering saya lewati.

Dalam sebuah posting di blognya, Shaskia Noerdin membawa saya pada sebuah kegiatan yang jauh di luar kebiasaan saya: membaca berita kematian di sebuah koran yang memang tiap hari diantar ke rumah.

Membaca koran saja sudah menjadi sesuatu yang di luar kebiasaan untuk saya, mengingat saya lebih memilih membaca majalah yang jauh lebih menarik atau berita di internet yang lebih up date, apalagi membaca berita kematian di sebuah koran.

Sebenarnya, saya benci kegiatan ini. Biasanya, ketika saya terpaksa membaca sebuah koran karena ada sesuatu yang menarik di dalamnya, saya selalu melewatkan kolom ini. Saya takut akan kematian, sesuatu yang pasti akan terjadi pada siapa pun, dan saya tidak pernah bagus dalam menghadapi ketakutan saya sendiri.

Tapi saya sudah bilang ‘kan kalau hari ini berbeda? Hari ini seorang asing menginspirasi saya untuk melakukan sebuah kegiatan di luar kebiasaan saya.

Saya tidak percaya akan sebuah kebetulan, maka takdir membawa saya pada hari dimana koran yang saya baca menampilkan sebuah berita kematian dari seseorang yang saya kenal, tidak dekat, tapi setidaknya saya pernah mengobrol dan berjabat tangan dengannya. Ibu itu pernah menjalin hubungan kerja dengan saya.

Melihat berita kematian ibu itu di koran membuat saya melihat ke belakang dan mengingat-ingat sosok ibu itu. Lucu karena untuk ukuran seseorang yang hanya kenal selewat dengan saya, ternyata ibu itu meninggalkan begitu banyak kesan di hati saya, untungnya kesan tersebut adalah sebuah kesan yang baik, tidak ada satu pun kesan buruk yang membekas di hati saya.

Pada akhirnya, setelah saya membaca berita kematian itu, saya memejamkan mata saya, lalu mengatakan dalam hati “satu lagi orang yang baik telah pergi, semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya”.

Pagi ini, seorang asing dan sebuah kegiatan di luar kebiasaan saya membawa saya pada sebuah niat untuk menjalani hidup saya jauh lebih baik lagi, menyusun komposisi terbaik ddan mengoptimalkan penggunaan peralatan terbaik dalam hidup saya hingga akhirnya suatu saat nanti, ketika saya sudah meninggal, saya telah benar-benar merampungkan sebuah resep kehidupan yang baik.

Suatu saat nanti, ketika saya meninggal, saya harap nasib saya akan sama seperti nasib ibu itu ketika berita kematiannya dibaca oleh saya: diingat sebagai orang baik dan didoakan diterima di sisi-Nya. Amin!

Day 27: Hubungan Sesama Manusia

1 Sep

Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup saya adalah lingkaran pergaulan saya yang cukup luas. Dunia saya mengharuskan saya untuk bertemu, bergaul, dan berteman dengan begitu banyak orang dari latar belakang dan dunia yang berbeda. Dari anak dugem hingga anak pesantren. Dari pecinta dunia maya hingga anti pergaulan dunia maya. Dari kelas ekonomi bawah hingga kelas menengah atas sekali. Dari lulusan SMA hingga lulusan S3. Dari ibu rumah tangga, pegawai negeri, pegawai swasta, entrepreneur, hingga freelancer. You named it!

Sayangnya, dunia pergaulan saya juga membuat saya terpaksa bertemu dengan orang-orang yang jika saya dibolehkan untuk memilih, maka saya akan lebih memilih untuk tidak mengenalnya sama sekali.

Salah satu tipikal manusia yang ingin saya hindari di dunia ini adalah tipikal manusia yang mengaku dirinya beragama, sangat religius, dan pandai sekali membina hubungannya dengan Tuhannya, tetapi jelas tidak memiliki kemampuan untuk membina hubungannya dengan sesama manusia.

Untuk saya, bukanlah sesuatu hal yang salah jika seseorang  lebih mementingkan hubungannya dengan Tuhan ketimbang hubungannya dengan sesama manusia. Itu adalah sesuatu yang sifatnya sangat wajar. Setiap orang tentunya memiliki prioritasnya sendiri dalam hidup, tapi akan menjadi tidak wajar jika prioritas tersebut lantas mengabaikan hal yang tak kalah penting lainnya.

Mengaku beragama tapi setiap perkataan dan prilakunya menyakiti orang lain. Bukankah Tuhan juga mengatur hubungan dengan sesama manusia?

Kalau bertemu orang-orang seperti itu saya jadi mempertanyakan apakah benar mereka memiliki Tuhan dan menghadap pada-Nya? Jangan-jangan selama ini mereka hanya mengaku-ngaku beragama saja lagi. Tapi yah… sudahlah. Siapa sih saya berani-beraninya mengajari mereka yang ber-Tuhan tentang salah satu cara beriman yaitu membina hubungan baik sesama manusia?

“Untuk apa punya agama kalau kita masih saling menyakiti satu sama lain?” by a friend

Day 25: Sumpah, Saya Wanita!

30 Aug

Sebagai seorang blogger yang mulai ngeblog dari tahun 2005, satu-satunya hal yang menganggu saya adalah seringkali saya melihat comment yang dilemparkan oleh pengunjung yang baru membuka blog saya yang memanggil saya dengan sebutan ‘mas’ atau ‘bro.

Saya sendiri tidak pernah tahu apa yang salah dalam penulisan atau blog saya sampai-sampai saya seringkali dikira lelaki. Padahal dari segi penulisan, saya kira saya sudah cukup wanita. Dari segi nama blog sendiri, kurang wanita apa sih nama ‘bluestockin’. Belum lagi dari segi theme yang saya tampilkan yang didominasi oleh warna putih dan pink.

Ah tapi sudahlah, rasanya membicarakan soal kurang wanita apa saya dari segi penulisan dan blog saya akan menjadi sebuah topik yang tidak akan ada habisnya, tapi kali ini, di posting ini saya ingin membuat sebuah klarifikasi bahwa saya ini wanita, sumpah!

Day 21: Hujan, Malam Hari, dan Kota Bandung

26 Aug

Hujan, malam hari, dan Bandung adalah kombinasi yang paling menyenangkan untuk saya.

Saya suka hujan. Hujan membuat saya menjadi lebih sensitif terhadap segala hal. Kalau saya ini seorang jenius atau ilmuwan, hal pertama yang saya teliti pastilah mengenai zat apa yang terkandung dalam air hujan sehingga hujan selalu sukses membuat setiap orang merasakan sesuatu.

Saya suka malam hari. Ketenangan dan inspirasi selalu saya dapat di malam hari. Di coffee shop, club, atau bahkan hanya sekedar di kamar, sedang mengobrol, menulis, bekerja, clubbing, nonton televisi, atau bahkan tertidur, malam hari selalu menjadi waktu terbaik saya.

Saya suka Bandung, cinta malahan. Menjadi seseorang yang lahir dan dibesarkan di Bandung dan hanya meninggalkan Bandung selama 3 tahun membuat saya sangat mencintai kota ini.

Jadi malam itu, ketika hujan turun di Bandung, saya memutuskan untuk keluar rumah tanpa tujuan.

Saya ingat seorang teman pernah mengatakan kepada saya bahwa jika seseorang pintar menggunakan setiap sense yang dimilikinya, maka orang tersebut akan mampu menjadi seseorang yang sangat peka menilai situasi di sekitarnya. Hujan, malam hari, dan Bandung membuat saya lebih pintar menggunakan sense yang ada dalam diri saya.

Sense saya membawa saya pada Bandung bagian realita. Kota Bandung dimana di sekeliling saya ada begitu banyak hal yang terjadi yang membuat saya sadar bahwa ada begitu banyak hal yang terjadi di sekitar saya yang membuat saya harusnya bersyukur akan hidup saya.

Malam hari sewaktu hujan di kota Bandung, saya melihat seorang ibu-ibu separuh baya yang berjualan bunga mawar, lima ribu rupiah setangkai, tapi sedikit sekali peminatnya. Saya melihat seorang pengamen berpindah dari satu angkutan umum ke angkutan umum yang lainnya, menyanyikan lagu dengan suara fals dan permainan gitar yang asal-asalan. Saya melihat seorang perempuan, masih lengkap dengan seragam sekolahnya berdiri di trotoar, menunggu angkutan umum dalam keadaan menahan dingin dan basah tanpa jaket dan payung. Saya melihat seorang wanita muda sedang kebingungan karena di tengah hujan mobilnya mogok dan sepertinya dia sama sekali tidak tahu caranya memperbaiki mesin mobil. Saya melihat seornag pengemis tidak berkaki dan berjalan menggunakan lututnya di sebuah perempatan.

Lalu perasaan itu pun muncul, malam hari di tengah hujan di kota Bandung, hati saya menghangat, padahal cuaca malam itu lumayan dingin. Malam hari di tengah hujan di kota Bandung, saya tersadar bahwa kesialan seperti apa pun yang menimpa hidup saya, masih ada begitu banyak hal yang patut disyukuri.

Day 20: Reuni

26 Aug

Satu hal yang selalu sukses membuat saya merasa memiliki hari yang baik adalah ketika secara tidak sengaja saya bertemu dengan seorang teman lama. Teman lama yang saya maksud adalah seorang teman lama yang karena kesibukan masing-masing atau dunia yang sudah berbeda akhirnya tidak pernah ada kontak lagi satu sama lain dalam jangka waktu yang lama.

Kemarin, hal tersebut terjadi pada saya. Dalam ritual me time saya, saya bertemu dengan seorang teman lama. Berhubung baik saya dan dia sama-sama sedang sendirian, akhirnya kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama.

Selalu ada banyak hal yang bisa diceritakan dalam sebuah reuni dadakan bersama seorang teman lama, meskipun kadang rasa canggung mengawali pertemuan tersebut. Cerita soal betapa menyenangkannya masa kecil yang pernah kita lewati bersama. Cerita soal impian-impian impulsif kita sewaktu masih kecil yang tentu saja saat ini hanya dijadikan bahan tertawaan. Cerita soal segala yang pernh dilewati bersama dan yang telah terlewati karena kesibukan kita akan hidup masing-masing.

Sebuah reuni selalu sukses menekan tombol rewind memori saya, membuat pikiran saya mengotak-atik sebuah kotak berisi kenangan masa lalu, dan pada akhirnya membuat saya tersenyum sendiri mengingatnya.