It Might Be… love

18 Mar

It might be that cool sweater and converse you wore on the first time we’ve met at the coffee shop,

It might be those flirty texts we sent each other while we’re at work,

It might be the way you hold my hand at the mall,

It might be that stupid and childish jokes that never fails to make me laugh,

It might be the sound of your singing voice at David Foster’s concert,

It might be the smell of your perfume,

It might be the way you hug me when I’m not feeling good about things,

It might be the way you called me “blue”

It might be anything and I don’t really know why can you make me so in love with you

All I know is I’m in love with you

Like Po loves noodles, Minion loves banana, or Cookie Monster loves cookies

I love you more than I love my cup of morning coffee which I don’t mind not to have one since the day I found you

I love you for no particular reason,

So suddenly and unexpected

And that’s why M,

It’s called fall in love,

Because M…, you don’t force yourself to fall, it just happens

Tentang Kesendirian

9 Jan

  “Kenapa sih suka banget menyendiri di coffee shop?”

  Pertanyaan seorang teman melalui Whatsapp membuat saya tersenyum. Sore itu saya menolak ajakan bertemunya dengan alasan saya sedang menikmati me time saya di salah satu kedai kopi lokal favorite saya di Bandung.

Pertanyaan seperti apa yang teman saya tanyakan sore itu bukanlah pertama kali saya dengar. Tidak sedikit dari orang yang saya kenal, pernah mempertanyakan pertanyaan sejenis, tentunya dengan pilihan kata yang berbeda.

Jadi apa yang membuat saya senang menyendiri di sebuah kedai kopi? Continue reading

Sampai Nanti

11 Nov

“Just because you feel like giving up, doesn’t mean you have to give up.”

 

Kalimat singkat dari seorang teman di tengah secangkir kopi panas dan hujan kota Jakarta malam itu terasa sangat menampar bagi saya.

Belakangan hidup terasa lebih berat. Definisi hidup di sini maksud saya adalah work life, bukan love life, sebab, selain love life saya cukup memuaskan, saya juga bukan tipe orang yang terlalu memikirkan soal love life.

Saya sangat mencintai pekerjaan saya, dan tidak pernah sekalipun dalam hidup saya, saya meragukan kecintaan saya akan hal itu. I love my job even tho it wasn’t the job I used to dream of when I was younger.

 

Tapi rupanya cinta saja tidak pernah cukup untuk membuat saya tetap bertahan.

Pernah merasa sudah memberikan yang terbaik tapi tetap dinilai tidak serius?

Pernah merasa penilaian yang diberikan sangat subjektif hanya berdasarkan kedekatan?

Pernah merasa bahwa value yang diberikan oleh tempat kamu bekerja tidak sama dengan value yang kamu miliki?

Pernah merasa sekencang apapun larimu akan terasa percuma karena terdapat perbedaan visi yang sangat signifikan antara kamu dengan tempat kamu bekerja?

Belakangan itulah yang saya rasakan atas kehidupan pekerjaan saya. Bangun pagi di hari kerja mulai terasa menantang karena saya enggan berangkat ke kantor. Memikirkan sesuatu yang strategis tidak lagi terasa menyenangkan. Menghasilkan sesuatu pun tidak lagi terasa membanggakan, melainkan hanya rutinitas penggugur kewajiban supaya yaa… setidaknya dari kelakuan saya yang dinilai tidak serius dan kompetensi saya yang dinilai pas-pasan ini, saya tidak dianggap ngantor cuma untuk numpang internetan sambil main game dan tiap bulan dikasih gaji buta lah.

Akhir-akhir ini rasanya sangat ingin menyerah. Tidak terhitung lagi berapa banyak keinginan untuk pura-pura sakit supaya tidak harus ngantor melintas di pikiran ketika bangun tidur, apalagi pikiran untuk mengetik surat resign dengan modal nekat tanpa benar-benar yakin akan melakukan apa setelah tidak lagi bekerja kantoran.

“I’ll leave… I can’t handle it anymore,” itu kata saya pada seorang teman sebelum akhirnya dia mengeluarkan kalimat yang terasa sangat menampar saya.

“Masalah nggak selesai dengan lo nyerah, potensi menambah masalah sih iya.”

Saya terdiam mendengar kalimat teman saya itu.

Di satu sisi saya sangat setuju dengan kalimat teman saya itu. Tidak pernah ada jaminan bahwa masalah akan selesai ketika saya memutuskan untuk menyerah, potensi untuk menambah masalah baru malah sangat tinggi. Di sisi lain, saya pun mempertanyakan diri saya sendiri, apakah ada jaminan bahwa masalah akan selesai dan keadaan jadi lebih baik? Tidak juga sih.

“I know you ya, Sen. It’s not like kita baru kenal kemarin sore dan gue nggak tahu apa-apa soal lo. You’re not the kind of woman who give up easily, jadi buang jauh-jauh deh pikiran mau nyerah itu.”

“Talk is cheap.”

“Yeah I know, but you’re the one who told me that you love your job right? So stay at it for better or worse… at least until you found something’s better. I know it might sounds naïve but if you really love what you do, this problem is just a small piece of cake.”

 

Pada akhirnya saya mengangguk dan memutuskan untuk berusaha percaya bahwa jika saya benar-benar mencintai pekerjaan saya, maka masalah seperti ini hanya masalah kecil yang tidak ada apa-apanya untuk saya.

Sampai kapan?

Mungkin sampai saya menemukan penawaran yang lebih baik.

Mungkin sampai akhirnya lingkungan membuat saya menjadi seperti mereka.

Atau mungkin sampai saya benar-benar lelah dan mengibarkan bendera putih di atas meja kerja saya.

Sampai kapan pun itu, wish me luck ya guys!

Tersesat

15 May

“I can’t believe my life. One minute it’s going okay, I mean…as okay as my life can get, then the gong knocks me completely off my feet.” – Ally McBeal

Suatu hari hidupmu baik-baik saja. Kamu bisa saja memiliki hal yang ingin sekali dimiliki oles banyak orang di luaran sana, pekerjaan yang oke, gaji yang lumayan untuk membiayai gaya hidup, partner yang mencintai kamu apa adanya, dan jaringan pertemanan yang luas yang membuat hidup kamu terasa jauh lebih mudah untuk dijalani.

Suatu hari kamu merasa baik-baik saja, lalu hal yang sangat kecil terjadi dan membuatmu berpikir ulang tentang hidupmu.

Hal kecil yang menekan tombol memori di otak dan membuka kembali luka yang ada di hati kamu, luka yang selama ini kamu kira telah sembuh padahal kenyataannya adalah luka itu tidak pernah sembuh, kamu hanya sudah terbiasa untuk hidup dan tumbuh dengan luka tersebut.

Hal kecil seperti…
Berada pada thread comment yang sama dengan seseorang dari masa lalu.

Kamu kira kamu telah move on, tapi melihat namanya setelah bertahun-tahun kamu hidup tanpa eksistensinya membuat luka di hatimu kembali terasa dan seolah itu belum cukup menyakitkan, kamu memutuskan untuk mencari namanya di internet, membuka semua media sosial yang dimilikinya, melihat apa yang telah terjadi padanya sejak kamu dan dia hilang kontak.

But then things get worse.

Kamu kemudian mulai merasa ragu akan hal yang lebih menyakitkan untukmu: fakta bahwa hidupnya baik baik saja tanpa dirimu atau fakta bahwa ternyata kamu masih menyimpan rasa itu padanya.

Rasa itu?
Kamu kemudian mulai kesulitan menjelaskan rasa apa sebenernya yang ada di hatimu untuknya, dan semakin kamu mencari tahu akan rasa tersebut, semakin kamu merasa frustasi dan marah karena kamu tersesat dalam perasaanmu sendiri.

Kamu lalu mulai mempertanyakan tentang hidupmu sendiri.

Benarkah semua yang kamu miliki saat ini adalah hidup yang kamu inginkan?
Benarkah kamu ingin menghabiskan sisa hidupmu untuk menjalani pekerjaanmu?
Benarkah kamu mencintai partnermu atau kamu hanya terbiasa dengan eksistensinya dalam hidupmu?
Benarkah kamu nyaman berada di lingkaran pertemanananmu, tanpa pernah merasa kesepian?
Benarkah uang yang kamu hasilkan mampu membeli semua yang kamu inginkan?
Atau benarkah, seseorang yang telah memanfaatkanmu demi uang, menyakiti hatimu begitu dalam, dan bahkan tidak pernah memikirkan dirimu sekalipun adalah seseorang yang terus hidup dalam hati dan kepalamu bahkan ketika kamu tidak menyadarinya?

Kamu terus bertanya-tanya dan semakin sering kamu mempertanyakan hal-hal tersebut, semakin kamu merasa tersesat.

Mungkin ini saatnya untuk kamu berhenti sejenak, menikmati segala rasa yang tak pernah bisa kamu definisikan, mendengar isi hatimu, berkompromi atas hal-hal yang terjadi pada hidupmu, dan mengikhlaskan hidupmu.

Berhentilah sejenak, lalu ketika semua sudah berakhir, berbaliklah dan sadari bahwa akan ada seseorang yang selalu menunggumu di tempat yang sama.

Tentang Perselingkuhan

4 Apr

Akan selalu ada pertama kali untuk segala hal, dan setiap pengalaman pertama memberikan pelajaran yang bahkan tidak akan pernah bisa didapatkam dari kelas termahAl sekalipun.

Pengalaman pertama minum alkohol mengajarkan saya bahwa bersenang-senang tetap membutuhkan tanggung jawab.
Pengalaman pertama menyetir mengajarkan saya betapa pentingnya untuk tetap fokus dan mengendalikan emosi.
Pengalaman pertama disakiti seseorang mengajarkan saya untuk memaafkan dan melupakan hal-hal yang tak seharusnya diingat

Dan tibalah pengalaman pertama saya berselingkuh dan menyakiti perasaan seseorang
Dulu saya selalu berpikir bahwa berselingkuh membutuhkan uang dan manajemen waktu yang baik, tapi lalu saya sadar bahwa tidak hanya kedua hal itu saja yang dibutuhkan, tapi juga hati yang dingin. Hati yang dingin untuk menyimpan kebohongan dari seseorang yang mencintai saya apa adanya, hati yang dingin untuk menyembunyikan fakta bahwa saya telah mengkhianati komitmen dan kepercayaan yang telah dibangun dengan proses yang tidak sebentar.

Sama halnya dengan pengalaman pertama lainnya, pertama kali saya berselingkuh mengajarkan saya banyak hal.
Saya belajar bahwa hati bukanlah mainan dan saya tidak seharusnya bermain-main dengan hati dan perasaan seseorang, termasuk diri saya sendiri.
Saya belajar bahwa memiliki 2 cinta sama sekali tidak menyenangkan, sebab pada akhirnya yang kamu butuhkan adalah perasaan cukup, bukan perasaan berlebih.
Saya belajar bahwa mengkomunikasikan apa yang saya rasakan dan pikirkan, semenyakitkan apapun itu, jauh lebih baik daripada menyimpannya sendiri dan membiarkan masalah yang merupakan kerikil kecil dalam hubungan menumpuk hingga akhirnya menjadi bom waktu yang menyakiti diri saya sendiri, dan terlebih lagi semua yang terlibat dalam hubungan itu.
Saya belajar bahwa kesenangan sementara tidak sebanding dengan perasaan bersalah atas apa yang telah saya lakukan.
Saya belajar bahwa sekompleks apapun yang kamu pikirkan dan kamu rasakan, tidak lantas menjadikan kamu memiliki alasan dan pembenaran untuk mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan.
Saya belajar bahwa saya tidak bisa mendapatkan semua yang saya inginkan, dan maka dari itu saya harus belajar memilih dan siap dengan segala konsekuensi atas pilihan yang telah saya pilih.
Saya belajar bahwa jatuh cinta itu gampang, tapi menjaga cinta membutuhkan mental dan komitmen yang kuat.

Tidak mudah rasanya untuk mengakui bahwa kamu telah memilih keputusan yang salah dan kamu terlambat untuk menyadarinya. Berat rasanya untuk tahu bahwa orang yang kamu sakiti adalah orang yang mencintai kamu dengan tulus dan bersedia membagi dunianya bersama kamu, bahwa tidak ada satupun yang layak diperlakukan seperti ini dan merasakan sakitnya.

Ini adalah fase yang sulit bagi saya, tapi saya tahu saya harus belajar bertanggung jawab dan menerima segala konsekuensi atas kesalahan saya. Fase ini sulit dan menyakitkan, tapi ini adalah proses pendewasaan dari diri saya.

Dan pada akhirnya, hidup adalah sebuah pembelajaran.

3 Months With You

10 Feb

Aku mencintai kamu seperti aku mencintai Bandung,
Sejauh apapun aku pergi meninggalkanmu, aku akan tetap krmbali padamu
Sebab kamu adalah tempat dimana hatiku berada

Aku mencintai kamu seperti aku mencintai secangkir kopi sepulang kerja,
Kehadiranmu membuat aku merasa memiliki teman untuk berbagi, dalam kebahagiaan maupun kesedihan
Sebab kehadiranmu menghangatkan hatiku

Aku mencintai kamu seperti aku mencintai butter croissant,
Kesederhanaanmulah yang membuatku jatuh cinta
Sebab kamu dengan semua kesederhanaanmu cukup untukku

Dan aku hanya butuh seseorang yang cukup untuk melengkapi hidupku

image

Happy mensiversary, dear!
I was in love with you 3 months ago,
I’m in love with you today,
And I will be in love with you tomorrow.

People Around Me

4 Feb

Kadang orang yang nggak pernah benar-benar kita kenal justru adalah orang yang punya jasa untuk kesuksesan kita

Seperti tukang sapu depan gedung kantor yang setiap hari menyapa “selamat pagi” yang tidak pernah gagal membangkitkan mood baik gue di pagi hari

Atau office boy yang nggak pernah lupa membelikan sekaleng kopi supaya gue bisa fokus kerja seharian

Atau barista yang membuatkan secangkir kopi yang enak supaya pikiran gue bisa lebih relax

Atau satpam komplek yang setiap malam bilang “selamat istirahat”

Mereka-mereka itu, dengan caranya sendiri membuat gue mengerjakan segala sesuatunya menjadi lebih baik dan kalau sampai apa yang sedang dikerjakan saat ini berhasil… gue nggak akan bisa mengelak kalau ada bagian dari mereka yang membantu keberhasilan gue… sekecil apapun bagian itu.

Selamat malam!
Selamat beristirahat, semoga tidurmu nyenyak!

View on Path

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 391 other followers