Tag Archives: blog

Day 30: Case Closed

4 Sep

Konsistensi.

Kata itu adalah kata pertama yang melintas di pikiran saya ketika saya diberikan sebuah tantangan untuk menulis selama 30 hari berturut-turut. Saya bukan orang yang konsisten, terutama dalam hal menulis. Biasanya saya hanya menulis ketika saya sedang mood.

Membayangkan menulis selama 30 hari berturut-turut membuat saya merinding sendiri. Awalnya saya pikir tidak mungkin saya bisa melakukannya, lagi pula menulis itu seharusnya menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan, bukannya suatu kegiatan yang dilakukan karena terpaksa.

Perlu waktu yang lama dan penuh pertimbangan untuk saya akhirnya menerima tantangan 30 hari menulis ini. Sampai akhirnya setelah tawaran yang kesekian kalinya dari orang yang berbeda, saya mengiyakan tantangan ini. Modal saya hanya dua: nekad dan kecintaan akan menulis.

Hasilnya?

Ratusan kata yang diketik lalu dihapus lagi. Puluhan draft. Berjam-jam waktu yang digunakan hanya untuk berpikir. Berulang kali berpikir untuk menyerah dan meninggalkan tantangan ini. Dan akhirnya di sinilah saya, tepat di hari terakhir tantangan 30 hari menulis.

I’m so gonna miss it!

Akan sangat kangen dengan setiap malam sebelum tidur yang saya gunakan untuk berpikir akan posting tentang apa besok. Akan sangat kangen meng-update status twitter saya yang diakhiri dengan hashtag #30harimenulis. Akan sangat kangen dengan setiap pembicaraan yang saya lakukan dengan teman-teman saya dengan perhatian yang jauh lebih detail, berharap pembicaraan tersebut dapat menginspirasi saya menulis. Akan sangat kangen dengan googling hal-hal yang nggak jelas, siapa tahu saya menemukan sesuatu yang menarik untuk dijadikan bahan posting.

Pada akhirnya saya belajar banyak hal dari tantangan ini. Saya belajar bahwa tidak ada yang tidak bisa saya lakukan selama saya berpikir saya bisa melakukannya, you can if you think you can. Saya belajar bahwa menulis adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk diri sendiri, untuk memasturbasikan otak diri sendiri, dan masalah apakah para pembaca akan menyukainya atau tidak lantas menjadi hal yang tidak penting lagi. Saya belajar bahwa diperlukan sebuah komitmen dan kecintaan akan komitmen itu sendiri agar berhasil dalam hal apa pun.

Tugas saya sudah selesai. Tantangan ini bisa saya lewati, tidak terlalu baik sih, tapi setidaknya saya bisa melakukannya. Setelah ini masih akan ada tantangan lainnya yang menunggu saya di depan, tantangan-tantangan yang mungkin pada awalnya membuat saya berpikir tidak mungkin saya bisa melakukannya.

Tugas saya sudah selesai, tapi rasanya masih kurang berhasil kalau saya tidak dapat menemukan orang yang bersedia meneruskan tantangan ini. Jadi teruntuk kamu, siapa pun yang saat ini sedang membaca posting ini, saya harap kamu mempunyai cukup kenekadan dan kecintaan untuk melakukan tantangan ini, tidak harus sekarang karena tantangan ini terbuka hingga waktu yang terbatas.

Tugas saya sudah selesai dan case closed.

P.S. Gambar diambil dari getty images

 


Advertisements

Day 25: Sumpah, Saya Wanita!

30 Aug

Sebagai seorang blogger yang mulai ngeblog dari tahun 2005, satu-satunya hal yang menganggu saya adalah seringkali saya melihat comment yang dilemparkan oleh pengunjung yang baru membuka blog saya yang memanggil saya dengan sebutan ‘mas’ atau ‘bro.

Saya sendiri tidak pernah tahu apa yang salah dalam penulisan atau blog saya sampai-sampai saya seringkali dikira lelaki. Padahal dari segi penulisan, saya kira saya sudah cukup wanita. Dari segi nama blog sendiri, kurang wanita apa sih nama ‘bluestockin’. Belum lagi dari segi theme yang saya tampilkan yang didominasi oleh warna putih dan pink.

Ah tapi sudahlah, rasanya membicarakan soal kurang wanita apa saya dari segi penulisan dan blog saya akan menjadi sebuah topik yang tidak akan ada habisnya, tapi kali ini, di posting ini saya ingin membuat sebuah klarifikasi bahwa saya ini wanita, sumpah!

Ini Bukan Tentang Uang, Jendral!

14 Jan

Beberapa hari yang lalu saya diajukan pertanyaan yang membuat saya mengkerutkan dahi saya. Seorang teman kerja saya, teman paling dekat saya di kantor bertanya:

“Lo ‘kan udah lama ngeblog tapi belum menghasilkan uang sama sekali, kok lo mau sih terus-terusan ngeblog?”

Pertanyaan semacam itu sebenarnya bukan hanya pertama kalinya saya dengar. Saya pernah diajukan pertanyaan sejenis oleh seorang adik angkatan saya di kampus, teman selewat saya, bahkan hingga ketika saya menjadi seorang narasumber di salah satu stasiun televisi di Bandung. Mereka bertanya soal berapa uang yang sudah saya hasilkan dari blog.

Saya memaklumi mereka yang tidak benar-benar mengenal saya, lalu bertanya pertanyaan seperti itu, mungkin mereka berpikir bahwa saya sematrealistis itu hingga segala hal yang berhubungan dengan saya ada kaitannya dengan uang. Tapi kalau yang mengajukan pertanyaan itu adalah teman dekat saya sendiri, perasaan marah dan kecewa.

Saya akui blog ini tidak menghasilkan uang sama sekali, malah terkadang saya yang mengeluarkan uang untuk blog ini. Saya tidak pernah mengecek pagerank saya karena saya memang tidak mau soal itu dan kalau pun saya memiliki pagerank yang cukup untuk memasang iklan, saya tidak akan melakukannya. Blog saya ini juga tidak sebagus itu sehingga ada penerbit yang tertarik untuk membukukan blog ini.

Tapi apa saya peduli soal itu? TIDAK, jendral!

Kamu mau tahu kenapa saya ngeblog?

Bukan… alasannya bukan uang. Saya merasa masih bisa mencukupi kebutuhan saya dengan uang yang saya raih di dunia nyata.

Saya ngeblog karena saya menyukainya. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, akhirnya saya bisa melakukan apa yang benar-benar saya sukai tanpa harus berhadapan dengan tekanan dari manapun.

Saya ngeblog karena saya suka pamer. Saya suka menunjukkan kepada dunia apa yang sedang saya rasakan. Ketika saya jatuh cinta, patah hati, sedih, senang, marah, kecewa atau apapun itu, saya ingin menunjukkan kepada siapa pun, syukur-syukur kalau subjek yang membuat saya merasakan apa yang saya rasakan membacanya.

Saya ngeblog dengan semangat ingin berbagi. Saya ingin berbagi tentang apa yang saya pikirkan tentang segala sesuatu, meskipun pemikiran saya terkadang tidak penting untuk dibagi kepada siapa pun, meskipun saya tahu di luaran sana banyak sekali orang yang tidak peduli dengan apa yang ada di pikiran saya.

Dan kamu tahu apa yang saja yang telah saya hasilkan lewat blog?

Saya menjadi kaya karena blog. Bukan kaya finansial, tentunya tapi saya lebih kaya dari itu.

Saya mengenal begitu banyak teman-teman baru yang sangat menyenangkan. Orang-orang yang memiliki kualitas spesifik yang selalu sukses membuat saya terperangah dan mereka tentu saja tidak pernah bisa dibeli dengan uang.

Saya mendapatkan begitu banyak pengetahuan baru yang saya peroleh dari membaca blog orang lain atau comment yang muncul ke blog saya. Pengetahuan baru yang sering menginspirasi saya untuk mengkonsep sesuatu yang sangat membantu untuk pekerjaan saya atau sekedar memacu kreativitas saya. Hal tersebut tidak akan pernah bisa saya beli dengan uang.

Dan yang terpenting adalah, saya mendapatkan kebebasan tak terbatas dari blog ini. Saya tidak harus menyimpan segala sesuatu yang ada di kepala saya dengan alasan menjaga perasaan orang lain atau menghindari pandangan-pandangan yang muncul setelahnya.

Pada akhirnya saya hanya bisa tersenyum menghadapi pertanyaan dari teman saya itu. Mungkin dia memang berpikir bahwa sebuah blog sama halnya seperti sebuah pekerjaan yang harus menghasilkan uang bahkan meskipun pekerjaan tersebut adalah bagian dari hobi. Mungkin dia tidak akan pernah bisa mengerti kalau meskipun saya matrealistis, tapi saya tidak mau menilai segala sesuatunya dari uang. Dan mungkin dia tidak akan pernah tahu betapa kayanya saya sekarang meskipun saya tidak pernah mendapatkan uang dari blog saya.

Besok-besok, kalau ada yang bertanya mengenai hal serupa pada saya, maka dengan tegas saya akan menjawab:

“Ini bukan tentang uang, jendral!”

P.S. Gambar diambil dari http://istockphoto.com