Tag Archives: Sex

Korban Kemaluan

8 Jun

Salah satu alasan yang membuat saya mengurangi intensitas menonton televisi adalah karena tontonan yang saya lihat sangat depresif. Bayangkan saja, dari pagi begitu saya membuka mata dan melihat berita, yang saya lihat berita seputar orang yang bunuh diri karena tidak mampu membeli handphone, orang yang membunuh saudaranya sendiri karena tidak dipinjami uang yang jumlahnya hanya ratusan ribu, perang, korupsi, video porno artis, hingga pelecehan seksual. Kalau sudah waktunya prime time, tetap saja tayangan sinetron isinya depresif karena menggambarkan soal ibu-ibu tajir gila harta atau orang jahat hingga season sekian yang tidak juga ditangkap polisi atau mendapat azab dari Tuhan atau setidaknya, tobat dengan sendirinya.

Sigh! Mengingat acara televisi saya jadi merasa tertekan.

Anyway, ada satu hal yang menarik perhatian saya hari ini. Jadi ceritanya kakak sepatu merah (yang sepatunya nggak selalu merah itu) membuat posting di tweet soal korban pelecehan seksual di Trans Jakarta yang menunduk ketika diwawancarai. Karena penasaran, saya pun akhirnya menyalakan televisi saya, mencari berita soal yang bersangkutan dan… yup, sang korban terlihat menunduk ketika dimintai keterangan.

Kenapa dia menunduk? Tentu saja karena dia merasa malu. Tapi pertanyaan besarnya adalah: apa sih sebenarnya yang membuat sang korban merasa malu?

Pikiran saya pun menganalisa apa yang sebenarnya membuat sang korban merasa malu dan jawaban pertama yang muncul di kepala saya adalah karena di Indonesia ini (atau mungkin di belahan bumi lainnya juga), masyarakat cenderung turut menyalahkan sang korban karena telah menjadi korban pelecehan seksual.

Masih ingat kasus seorang artis dangdut yang payudaranya dicolek ketika sedang diwawancarai? Sewaktu kasus itu terjadi, saya melihat banyak sekali pihak yang justru menyalahkan si pedangdut karena berpakaian terlalu seksi, atau gayanya yang terlalu menggoda, atau bahasa tubuhnya yang memang ‘mengundang’ atau blablabla yadaa yadaa.

Pertanyaannya adalah: memangnya selalu wanita yang berpakaian minim dengan gaya yang menggoda dan bahasa tubuh yang mengundang saja yang menjadi korban pelecehan seksual? TIDAK saudara-saudara. Tidak semua korban pelecehan seksual seperti yang ada di gambaran masyarakat umum. Saya jadi ingat cerita soal teman saya yang sangat religius dan berkerudung dengan baju yang serba gombrang dan tetap menjadi korban pelecehan seksual di bajaj. Atau seorang teman yang sangat tomboy dan berpenampilan seperti lelaki yang menjadi korban pelecehan seksual di angkot. Atau bahkan saya sendiri yang waktu itu pulang olahraga dengan muka kucel, jaket yang sama sekali tidak ketat dan diresleting hingga leher, serta celana jeans panjang yang sempat ‘ditawar’ oleh om-om di sebuah kafe.

Jadi kesimpulannya adalah, sang objek pelecehan seksual sama sekali tidak bersalah. Satu-satunya yang bersalah dalam kasus pelecehan seksual adalah sang pelaku karena otak mesumnya sampai-sampai tidak mampu mengendalikan napsu yang tidak pada tempatnya itu.

Jadi seharusnya, masyarakat tidak ikut menyalahkan (apalagi menghakimi) korban pelecehan seksual. Jelas-jelas dia yang jadi korban, tapi malah dia lagi yang disalahkan. Nggak heran korban pelecehan seksual sering merasa malu karena telah menjadi korban. Nggak heran juga banyak sekali kasus pelecehan seksual di luaran sana yang tidak pernah dilaporkan karena korban takut dengan anggapan masyarakat sekitar. Nggak heran juga para pelaku pelecehan seksual bisa berkeliaran dengan bebas dan menjamah tubuh perempuan mana pun yang kebetulan duduk di sebelahnya di angkutan umum.

Belum lagi dengan kecenderungan masyarakat yang melindungi sang pelaku pelecehan seksual. Ketika seseorang menggoda perempuan yang sedang jalan di depan orang tersebut dan sang perempuan merasa terganggu, orang-orang yang mendengarnya justru memakluminya. Atau ketika seseorang mengadukan kasus pelecehan seksualnya ke polisi, sang pelaku malah dibebaskan dengan alasan nggak cukup bukti (in my defense, perlu bukti seperti apa seeeehhhh??). Atau di televisi pelaku pelecehan seksual mukanya dibuat blur supaya penonton tidak bisa mengenalinya, padahal menurut saya sangat penting untuk mengenali korban untuk mengantisipasi kejadian yang sama terjadi pada orang lain sekaligus juga menghukum sang pelaku dengan rasa malu.

Tapi ah ya, mau gimana juga masyarakat tetap saja seperti apa yang saya gambarkan tadi. Sulit rasanya untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk menjadikan sang subjek sebagai satu-satunya pembuat kesalahan dalam kasus pelecehan seksual.

P.S. Gambar diambil dari sini

Love For |Sex| For Love

3 Feb

Beberapa hari yang lalu saya dibikin pusing oleh pengakuan seorang teman yang berkata bahwa dia telah resmi melepas keperawanannya untuk lelaki yang sudah berpacaran dengannya selama hampir setahun terakhir ini. Pengakuan seperti ini sebenarnya bukan untuk pertama kalinya saya dengar, beberapa orang teman saya juga jelas-jelas mengakui kalau mereka sudah tidak perawan lagi, malah ada beberapa yang rela membagi pengalaman seksnya kepada saya dengan suka rela tanpa harus ditanya terlebih dahulu.

Jadi harusnya saya tidak usah kaget dan mengeluarkan reaksi yang berlebihan ketika mendengar pengakuan tersebut dari teman saya yang ini. Tapi kali ini kasus spesial, kasus langka. Saya yakin kalau kamu mengenal teman saya yang ini, kamu juga akan merasakan hal yang sama seperti saya.

Masalahnya adalah teman saya yang ini adalah seorang teman yang sepanjang sejarah hubungan pertemanan saya dengannya, saya mengenalnya sebagai sosok yang alim. Teman saya yang ini adalah teman yang selalu terlihat risih ketika dia terjebak dalam pembicaraan bertema seks, bahkan cuma sekedar pembicaraan soal ciuman. Teman saya yang ini bahkan protes dan sibuk menceramahi saya panjang lebar ketika saya memakai baju berkerah Sabrina atau ketika melihat foto saya memakai tank top di sebuah club malam.

Dan sekarang… teman saya yang ini mengakui kalau dia telah melepaskan keperawanannya untuk lelaki yang BAHKAN belum satu tahun berhubungan dengannya.

Saya shock. Kaget sekaget-kagetnya. Dan kalau saya mengidap penyakit jantung akut, saya pasti perlu segera dibawa ke UGD begitu mendengar kabar ini. Ya… ya…, mulai berlebihan kayak sinetron 😉

Reaksi kaget saya yang berlebihan pun membawa saya pada pertanyaan kenapa, dan teman saya yang ini pun menjawab dengan entengnya bahwa dia cinta.

Kelanjutan ceritanya pasti bisa kamu tebak sendiri. Teman saya yang ini merasa dirinya terlalu cinta pada sang pacar, sang pacar pun memanfaatkan cinta tersebut untuk mendapatkan seks, dan teman saya ini dengan alasan sangat cinta dan takut kehilangan akhirnya memutuskan untuk memberikan seksnya, melepaskan sesuatu yang sangat dijaganya selama 23 tahun bernama: keperawanan.

WTF??!

Okay, cukup pembahasan tentang teman saya yang ini, jangan sampai kalau dia membaca postingan saya ini dia mulai menjadi pintar dan waras, lalu menyesali keputusannya itu. Biarkan yang lalu menjadi lalu.

Hanya saja… saya kok tidak pernah setuju dengan konsep making love yah? Saya malah lebih setuju dengan konsep having sex ketimbang making love, meskipun saya sendiri memutuskan untuk tidak melakukan seks di luar nikah.

Untuk saya, alasan untuk bersenang-senang atau mendapatkan uang adalah alasan yang lebih bisa diterima ketimbang cinta. Bagi saya, yang namanya cinta itu ‘kan harusnya saling menjaga bukannya malah saling ‘merusak’. Saya sendiri bahkan mengakui kalau jauh lebih gampang untuk saya berciuman dengan orang yang bukan siapa-siapa bagi saya. Ketika ada perasan dalam diri saya terlibat dalam hubungan saya dengan seseorang, saya cenderung membutuhkan waktu yang sedikit lama hingga akhirnya saya memutuskan untuk berciuman dengan orang itu (well, silakan sebut saya perempuan murahan tak bermoral setelah pengakuan ini).

Saya jadi bertanya-tanya kenapa yah di luaran sana banyak sekali orang yang berpikir untuk memberikan seks untuk mendapatkan cinta dari seseorang? Dan kenapa juga masih banyak sekali orang yang berpikir dengan mengobral cintanya sana sini (yang saya yakin mayoritas dari cintanya itu adalah hasil manipulasi) untuk mendapatkan seks?

For God’s sake go get a grip, guys!

Untuk saya sex dan love itu adalah hal yang berbeda. Tidak ada hubungannya sama sekali. Kalau kamu mencintai seseorang, bukan berarti kamu harus having sex (atau kalau ada cinta di dalamnya maka konsepnya menjadi making love) dengan orang itu. Di sisi lain, ketika kamu having sex dengan seseorang bukan berarti ada perasaan cinta di dalamnya.

Saya yakin banyak orang yang tidak akan sependapat dengan saya, hanya saja kali ini saya ingin mengingatkan kepada teman saya yang ini dan siapa pun yang masih peduli dengan racauan nggak jelas saya:

Pada dasarnya setiap orang itu layak dicintai, jadi jangan pernah berpikir untuk memberikan sex agar bisa mendapatkan cinta seseorang

Dan untuk mereka yang menjadikan cinta sebagai alat untuk mendapatkan seks: KAMU ITU BASI!

H.E.L.P!

23 Sep

Anyone… you guys, can you help me?

I start to hate things called L.O.V.E.

Seriously! Melebihi keseriusan saya yang ingin memiliki badan Bree Turner yang akhirnya membuat saya (sepertinya akan) mengeluarkan banyak uang untuk membeli krim anti selulit dan mengikuti kursus salsa atau melebihi keseriusan saya yang benar-benar ingin menjadi penari striptease at least untuk laki saya suatu saat nanti.

Akhir-akhir ini saya mulai melihat betapa L.O.V.E. atau yang biasa orang Indonesia sebut cinta, memberikan pengaruh yang begitu besar kepada begitu banyak orang. Sayangnya, dalam kasus saya, saya melihat pengaruh tersebut cenderung lebih ke arah yang buruk daripada yang baik. Saya melihat itu, bukan hanya terjadi pada diri saya, tapi juga pada teman-teman di kehidupan saya.

Saya mulai menangkap gejala bahwa L.O.V.E. atau cinta sudah melenceng dari makna yang sebenarnya (meski saya tidak pernah tahu pasti apa makna yang sebenarnya dari cinta). Akhir-akhir ini saya mulai berpikir bahwa cinta sebenarnya hanyalah sebuah alasan, pembenaran, pembelaan, sebuah excuse untuk banyak orang untuk tetap berada di jalan yang salah bahkan ketika mereka menyadari dengan sepenuh hati bahwa mereka berada di jalan yang salah. They know that they’re in the wrong track but they’re still stick on it in the name of love.

And that was just… sounds stupid and silly for me.

But anyway,

We can’t be smart and in love at the same time, right?

Perlu bukti? Pernah dengar tentang orang yang rela membunuh dirinya sendiri setelah diputusin oleh pacarnya yang sebenarnya tidak pernah benar-benar cinta? Atau orang yang rela membagi password facebooknya pada sang pacar yang ternyata psikopat dan mulai nekad mengupload foto ciuman mereka berdua yang diambil entah kapan dan oleh siapa ketika hubungan mereka dalam masalah? Atau orang yang memutuskan untuk stay single dan melewatkan begitu banyak calon pasangan potensial cuma demi menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah memikirkan orang itu sama sekali? Dan tentunya, masih banyak contoh kebodohan karena cinta lainnya yang nggak akan pernah cukup waktu sejuta tahun untuk membahasnya di postingan ini.

Dari beberapa contoh yang terjadi di lingkungan sekitar saya, saya berani menyimpulkan bahwa cinta selalu berhasil mengambil logika manusia dengan cara yang manipulatif.

Dari situlah lantas muncul istilah love for sex dan sex for love. Karena faktanya, beberapa orang memanipulasi keadaaan, bertingkah seolah-olah dia memberikan cinta yang tulus dan dalam, untuk mendapatkan sex; sementara di sisi lain, beberapa orang memanipulasi keadaan, bertingkah seolah-olah dia memberikan sex dengan suka rela, untuk mendapatkan cinta. Seorang teman malah berkata bahwa pilihannya memang ada dua, love for sex or sex for love; the one who doesn’t choose will get nothing.

Tapi yang menurut saya paling parah adalah saya melihat telah terjadi perubahan yang cukup signifikan pada teman-teman saya, dan semua itu terjadi gara-gara cinta. Yup, cinta telah merubah teman-teman saya (dan mungkin banyak orang lain di luaran sana) dengan cara yang sangat instan dan (seringnya) tidak bisa dimengerti.

Teman saya yang dulunya anti selingkuh, mendadak bersedia menjadi selingkuhan seseorang yang sudah bertunangan dan tidak akan pernah meninggalkan tunangannya.

Teman saya yang dulunya career minded dan bersumpah akan menjadi penari seumur hidupnya, mendadak meninggalkan karirnya sebagai penari hanya karena sang pacar tidak menyetujui pilihan karir teman saya yang katanya membuat teman saya seperti wanita gampangan.

Teman saya yang dulunya rajin menabung demi masa depan, mendadak menjadi seseorang yang sangat boros dan mulai sering meminjam uang sana-sini hanya untuk membiayai seluruh pengeluaran nggak jelas dan nggak penting sang pacar.

Teman saya yang penurut pada orang tuanya, mendadak memutuskan untuk meninggalkan rumah, berbohong pada orang tuanya, dan bahkan melawan orang tuanya, hanya demi membela sang pacar begajulan yang tidak mendapat restu dari sang orang tua.

Bahkan, teman saya yang dulunya religius, membuat sebuah keputusan yang sangat mengejutkan saya, mengumumkan dengan bangga bahwa dia telah pindah agama hanya demi mendapat restu dari orang tua sang pacar yang belum tentu juga akan bersedia menikahi teman saya.

Dalam pandangan saya, sama sekali tidak masalah kalau kalian melakukan hal-hal seperti: melawan orang tua, kabur dari rumah, berbohong, mengkhianati, pindah agama, membuang-buang banyak uang, meninggalkan karir yang juga sebenarnya sudah menjadi mimpi sejak dulu, atau hal lainnya yang tidak logis selama

Apa yang kalian lakukan dalam cara yang salah tersebut adalah sebuah proses untuk mencapai tujuan yang benar,

Tapi yang menjadi masalah buat saya adalah:

darimana kalian tahu bahwa kalian telah memilih tujuan yang benar sementara dalam prosesnya saja kalian telah melakukan hal yang salah?

apakah ada jaminan bahwa kalian tidak akan pernah menyesali keputusan kalian yang sudah tanggung melakukan hal yang salah, berada di jalan yang salah?

apakah kalian benar-benar berada pada tujuan yang benar?

Guys, do you??

Talk About Sex

1 Dec

There’s only 3 things about sex:

  1. Some guys good in missionary
  2. The others good in WOT
  3. The rest don’t know how to sex

Huehehe… bersambung ah! TAdinya postinganny mau panjang tapi keburu lupa apa yang mau diposting huaahahahaha… 😉

Ternyata…

22 Jul

Tadinya judulnya mau begini: Om-Om Genit Yang Ternyata Nggak Berperut Buncit, Bermata Sipit, dan Hidungnya NGgak Belang Sama Sekali

Tapi kamu tahu ‘kan kenapa akhirnya gue nggak posting dengan judul seperti itu? Kepanjangan, cing! Bisa-bisa orang-orang udah pada keburu capek baca judulnya sebelum baca isinya.

Anyway…, setelah sekian lama nggak posting di blog karena gue lagi sibuk menjadi organizer pesta kawinan temen gue dan (akhirnya) baikan juga sama Zhe setelah 3 harian ngambek, gue mau posting dengan masalah rutin yang sering banget gue alami mengenai pelecehan se*sual.

Ugh…, padahal sumpahnya gue nggak pernah jalan-jalan pake celana pendek, apalagi rok pendek. Gue juga nggak suka dandan menor-menor kayak cewek-cewek Bandung kebanyakan. Tapi… kenapa gue sering banget dilecehkan sama om-om nggak jelas??

Contoh kejadiannya kayak…

Suatu sore di O la la Dago, gue bersama seorang temen yang nggak jelas lagi nunggu seorang teman yang sama nggak jelasnya. Waktu itu gue nggak pake yang aneh-aneh kok. Cuma jaket dengan sleting tertutup, celana jeans panjang, dan sepatu keds. Nggak pake make up karena gue baru aja balik fitness tapi lalu si mas-mas O La La datang bawa selembar tisu dan bilang ada pesan dari meja yang nggak jauh dari tempat gue duduk. Mas-mas itu jelas banget bilang kalo pesannya buat gue, bukan buat temen gue yang nggak jelas. Dengan setengah hati gue baca tuh tisu yang isinya:

“Hai, kenalan dong! Tn. R 0811xxxxx”

Dan gue dengan bodohnya melirik si Tn. R itu dan dia jelas-jelas menatap gue dengan tatapan mesum seolah-olah ngajak gue tidur. Busyet dah, tuh om-om nggak tahu diri emang! MEndingan kalo ganteng, ini sih… meskipun emang perutnya nggak buncit dan matanya nggak sipit tapi tuh om jauuuuh banget dari standarisasi ganteng di negara mana pun.

Atau ada lagi…

Waktu gue lagi nungguin Zhe yang lagi meeting di hotel. Gue nungguin Zhe sendirian di lobby hotel sambil internetan. Nggak ada tampang-tampang kalo gue ini cewek binal yang lagi mangkal nungguin om-om ngajakin ngamar, yang ada tampang manusia cantik dan intelek huehehe… tapi terus ada om-om yang kali ini lumayan ganteng dan berperawakan tinggi besar nyamperin gue dan lalu terjadilah sebuah percakapan…

Om-om laknat: “Kerja di sini?” (dengan penekanan pada kata kerja yang jelas banget mengartikan bukan benar-benar kerja di sini tapi mangkal di sini)

Gue: “Nggak!” (Berusaha untuk cuek padahal jantung gue berasa udah mau meledak)

Om-om sial: “Jadi nggak kerja di sini?” (Ngelihat gue dengan tatapan yang jelas banget nggak percaya sama jawaban gue)

Gue: “Nggak!” (mulai ngerasa nyesel kenapa harus nunggu Zhe di sini, bukannya di tempat laen yang bagusan dikit)

Om-om jahanam: “Terus lagi ngapain di sini?”

GUe: (Zhe…, gue bunuh lo habis ini! “Nungguin temen lagi ada meeting di sini.”

Om-om bajingan: (ekspresinya terlihat sumringah begitu dia bilang gue lagi nungguin temen gue yang meeting di sini)

GUe: (meralat dengan cepat karena jawaban itu membuat gue nampak seperti germo) “Maksudnya dia lagi ada meeting sama klien dari Jakarta. Temen saya itu punya butik, sekarang lagi ada di ruang meeting..” (suara gue terdengar ngambang)

Om-om: “Oh! Ya udah, om tinggal dulu ya!” (Masih dengan ekspresi ngajak tidur yang pernah gue lihat sebelumnya)

Kampret!

Belum selesai nih…

Waktu gue lagi nungguin seorang temen yang entah kenapa nggak mau masukin mobilnya ke parkiran PVJ dan akhirnya memaksa gue untuk nungguin di depan PVJ. Untungnya ada temen jadi at least gue nggak sendirian banget. Lagi asyik-asyik nunggu sambil memaki karena sang penjemput lama banget, ada om-om yang lagi-lagi nggak berperut buncit, bermata sipit, dan hidungnya nggak belang membuka kaca jendela mobilnya lalu ngedadahin gue dengan gerakan tangan yang lebih tepat buat ngajak gue masuk daripada ngedadahin. Dan parahnya lagi, temen gue yang nggak bantu itu malah bilang…

“Temen lo, Sen?”

U see that?!

Gimana gue nggak hipertensi?! Dari sekian banyak kalimat yang LAYAK dibilangin waktu gue sedang marah, kesal, dongkol, dan lain sebagainya akibat dilecehkan, temen gue malah memilih kalimat sialan kayak gitu ditambah dengan tawa ngeledek waktu gue bilang dia sama sekali bukan temen gue dan masa iya gue temenan sama om-om ganjen kayak gitu…

Ugh… so tragic!

Eh ya, sebenernya masih banyak lagi siy kejadian nggak banget seputaran pelecehan yang gue alami yang gue yakin banget kalo dibukuin bakalan jadi lebih tebel daripada bukunya Harry Potter karena di dalamnya mengandung unsur makian-makian gue huehehe…

Ah sudahlah, mari kita think positive dan ambil moral of the story-nya, yaitu…

  1. Pelecehan se*ksual tidak selalu terjadi pada tipe artis seperti DP yang emang bahasa tubuhnya minta dilecehkan, tapi juga bisa terjadi pada siapa saja, termasuk gue… wanita cantik, pintar, intelek paling oke sejagad raya huehehe…
  2. Jangan pernah menunggu untuk alasan apa pun karena setelah dipikir-pikir kejadian sialan kayak gitu selalu gue alami di saat gue menunggu.
  3. Last but not least…, please deh om! Inget umur… buruan tobat… Gue rasa kalian (baca: para om-om laknat yang sama sekali nggak berperut buncit, bermata sipit, dan berhidung belang) untuk bisa tahan di kasur lebih dari lima menit aja perlu dopping edan-edanan… masa iya masih berani-beraninya ngajakin wanita segar dan muda belia seperti gue meranjang…

P.S. Dulu gue selalu berpikir kalo om-om gatel yang disebut hidung belang itu berperut buncit dan bermata sipit tapi ternyata gue salah… huehehe… Ternyata nggak semua om berperut buncit dan bermata sipit itu om-om ganjen…

Have Sex Go Mad

27 Feb

Ini postingan pertama gue di rumah baru. Yippiiiee…, akhirnya sempet juga posting di rumah baru, secara account ini udah dibikin dari zaman kapan tau… huehe…

By the way, minggu kemaren, untuk menghilangkan stress, gue jalan sama Ms. M – model yang sekarang ini lagi gue manajeri. Karaokean di Lemonade adalah solusi oke untuk gue dan Ms. M – sang banci tampil untuk menunjukkan kenarcissan kami dengan budget terbatas (maklum akhir bulan rupiah melemah dan menguat (menguatirkan maksudnya ;))

Terus, sebelum balik, Ms. M seperti cewek pada umumnya ngajak gue ke toilet, touch up dulu katanya. Terus waktu gue sama Ms. M lagi asyik ngobrol sambil touch up di toilet Lemonade tiba-tiba ada seorang cowok masuk ke toilet. Cowok?! Masuk toilet cewek?!

Sempet mau protes dan negur dia juga karena gue tahu banget kalo toilet di Lemonade itu terpisah antara cowok sama cewek (nggak kayak di sebuah cafe di Jakarta yang inisialnya PH yang toiletnya disatuin). Tapi terus ada sesuatu yang menahan gue untuk ngomong karena… nggak lama kemudian ada seorang cewek, yang ternyata cewek si cowok ini masuk, ngelihat gue dengan ekspresi “lo ngerti ‘kan?”, lalu tersenyum nakal sama gue.

Sempet bingung juga apa yang harus gue lakuin, tapi akhirnya gue memutuskan untuk mengangguk, narik Ms. M yang masih sibuk dengan make up nggak jelasnya, lalu keluar dan pindah ke toilet lain.

TApi seudah itu gue jadi kepikiran…

Gue dosa nggak ya karena ngebiarin orang have sex di tempat umum?

Terus…

Emang segitu kebeletnya sampai-sampai harus ngelakuinnya di toilet Lemonade? Apa nggak bisa di hotel aja? Atau kalo lagi nggak ada duit kenapa nggak di mobil aja?

Dan dari situ juga gue jadi kepikiran kalo dengan gue mendiamkan mereka, itu artinya gue secara nggak langsung udah menyampaikan pesan bahwa hal kayak gitu tuh  wajar banget dan boleh dilakuin di sembarang tempat. Kalo betapa having sex udah jadi sesuatu yang biasa banget dan nggak tabu lagi.

So… next time kalo kalian yang mengalami pengalaman seperti gue apa yang bakalan kalian lakuin?

Apa kalian bakalan mendiamkan mereka? Atau melakukan tindakan lain?

And last, what do you think about it, guys?