Tag Archives: Guy

Ini Soal Aktualisasi Diri

4 Jan

“Arrghh… I hate it when he did that!”

Seruan mendadak dari seorang teman spontan membuat saya menoleh padanya. Matanya sibuk memandangi sebuah jam di tangan kirinya. Saya mengenal jam tersebut. Beberapa bulan yang lalu, ketika sedang berjalan-jalan di sebuah mall, teman saya ini melihat jam tersebut dan langsung merasa jatuh cinta, sayangnya sebagai masyarakat yang hidup di dunia bagian realita, untuk mampu membeli jam tangan tersebut, teman saya perlu menabung dan sebagai manusia yang hidup di kota besar dan kapitalis sejati, menabung tentu saja tidak akan pernah menjadi satu hal yang mudah mengingat dengan menabung berarti jatah hang out di kafe mahal perlu dikurangi.

Mengetahui usaha mati-matiannya (*berlebihan) untuk memperoleh jam tangan tersebut, saya tentu saja merasa heran kenapa bisa teman saya ini tidak terlihat senang dan malah cemberut ketika jam tersebut akhirnya berada di tangannya.

Antara memiliki kemampuan membaca pikiran atau memang ekspresi saya yang terlalu gampang ditebak, teman saya pun mulai mencurahkan kekesalannya karena pacarnya yang dari segi sosial ekonomi berada di atasnya membelikan jam tangan impiannya tersebut. Menurut teman saya, pacarnya tersebut sudah lancang dan kurang ajar karena dengan mudahnya dan tanpa permisi dulu yang bersangkutan membeli mimpi teman saya tersebut.

“Loh bukannya lo harusnya seneng karena akhirnya lo bisa dapat jam tangan itu? Secara kalo lo nabung sendiri gue rasa baru akhir tahun ini kali lo beli tuh jam, keburu nggak musim.”

“Iya sih! Tapi bukan itu masalahnya, Sen. Masalahnya adalah selama proses gue mendapatkan jam tangan tersebut, gue mulai sadar kalo itu bukan sekedar jam tangan, itu adalah mimpi dan cita-cita yang harus gue raih. Tujuan gue akhirnya berubah, bukan lagi untuk beli jam itu tapi untuk belajar konsistensi dan tegas sama diri gue sendiri, supaya pada akhirnya gue bisa mendapatkan apa yang gue mau. Gue juga pengen banget ketika gue ngelihat jam tangan itu, yang gue lihat bukan cuma waktu tapi betapa hebatnya diri gue karena akhirnya bisa memperoleh apa yang gue mau dengan usaha gue sendiri, bukannya malah ngelihat laki gue yang hidupnya serba enak dan bisa membeli mimpi gue dengan gampang tanpa harus usaha mati-matian kayak gue. Apa yang gue lihat di jam tangan ini sekarang bukannya bikin gue bangga, tapi malah bikin gue sakit hati.”

Saya tertohok mendengar pernyataan teman saya tersebut. Kalimat tersebut mengingatkan saya akan reaksi Samantha ketika Smith memberikannya cincin berlian yang menjadi incarannya dalam sebuah acara lelang, reaksi yang hampir sama dengan reaksi teman saya ini.

Pembicaraan tersebut membuat saya berpikir bahwa kita tidak akan pernah bisa menilai sebuah barang hanya berdasarkan label yang tertera atau nominalnya.

Pada akhirnya, sebuah barang mencerminkan pemakainya.

Sebuah barang bisa menjadi cerminan mengenai status sosial dan ekonomi pemakainya. Tas Hermes misalnya, mencerminkan mengenai status sosial dan ekonomi minimal A bagi pemakainya, sebab tanpa harus melihat nominalnya pun, saya rasa masyarakat dengan kelas sosial dan ekonomi menengah (apalagi bawah) akan merasa minder memasuki outletnya yang mewah dan dijaga oleh satpam yang akan memandang sebelah mata orang yang memasuki outlet tersebut dengan pakaian tidak gaya yang akan mengundang komentar negatif dari para police fashion.

Sebuah barang juga bisa mencerminkan mengenai karakteristik pemakainya. Saya kurang ahli dalam hal ini, tapi setidaknya saya bisa melihat apakah seorang perempuan masuk dalam kategori feminin atau boyish dari apa yang dikenakannya. Atau apakah seseorang pintar menjaga kebersihan atau dekil dari seberapa bersih barang-barang yang dikenakannya.

Sebuah barang bisa bercerita banyak. Selalu ada cerita yang tersimpan di balik sebuah barang, cerita yang akan mengingatkan pemakainya akan sesuatu, lalu membaginya kepada teman-temannya atau hanya mengundang sebuah emosi muncul di permukaan pemiliknya ketika secara tak sengaja kenangan akan barang tersebut muncul.

Maka dari itu, ketika teman saya mengekspresikan kekecewaannya, saya lantas bisa mengerti reaksinya tersebut. Barang tersebut diharapkan teman saya dapat mengekspresikan dirinya. Jam tangan itu seharusnya dapat menyimpan cerita mengagumkan akan perjuangan teman saya, seorang wanita muda perkotaan yang boros dan sangat kapitalis tapi harus rela mengurangi jatah hang out dan belanjanya demi mendapatkan jam tangan tersebut. Apa yang dikenakan teman saya pada tangan kirinya seharusnya dapat mengingatkan dua hal pada teman saya ketika meliriknya: waktu dan perjuangan. Dan tentu saja, hal-hal tersebut tidak akan pernah terjadi karena jam tersebut diperoleh dari hasil pemberian.

Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Teman saya ini tentu saja tidak akan bisa menolak pemberian pacarnya, kecuali jika teman saya ini berniat mencari masalah dan mengakhiri hubungannya itu.

Setidaknya pengalaman tersebut memberikan saya dan teman saya pelajaran bahwa ketika menginginkan sesuatu untuk diri sendiri, alangkah lebih baik kalau hal tersebut dipendam rapat-rapat agar kejadian serupa tidak akan terjadi lagi.

Dan sedikit nasehat untuk para lelaki di luaran sana, ketika pacarmu menginginkan sesuatu, jangan ambil keputusan seenaknya untuk membelikan barang tersebut, cari tahu dulu apakah pasanganmu itu ingin kamu membelikannya atau ingin dia membelinya sendiri.

P.S. Gambar diperoleh dari http://gettyimages.com

Day 1: Deaf, Blind, And Stupid

4 Aug

Karena yang terpenting dalam sebuah hubungan, jenis apa pun hubungan itu, adalah komunikasi antara semua pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut.

Kamu meminta saya untuk mengerti. Lalu detik selanjutnya kamu membuat saya merasa kerdil. Perkataanmu membuat saya berpikir jangan-jangan kamu menganggap saya terlalu tuli, terlalu buta, dan terlalu bodoh untuk mengerti kamu.

Mungkin saya memang terlalu tuli, terlalu buta, dan terlalu bodoh untuk mengerti kamu, tapi sadarkah kamu itu semua terjadi karena kamu tidak pernah memberikan pengertian? Sadarkah kamu bahwa kamu yang membuat saya menjadi tuli, buta, dan bodoh karena kamu menghilang begitu saja ketika saya berusaha untuk meminta penjelasan?

Saya tidak akan memaksa kamu untuk membuat saya mengerti. Saya juga tidak akan memaksa kamu untuk mendefinisikan segalanya. Saya tidak mau memaksa kamu untuk bekerja sama dengan saya memperbaiki hubungan tak terdefinisi agar baik kamu maupun saya sama-sama merasa enak dan semuanya menjadi jelas.

Saya tidak mau, tidak akan, dan tidak akan pernah memaksa kamu untuk mengubah pikiran kamu tentang saya yang tuli, buta, dan bodoh karena tidak bisa mengerti kamu. Saya hanya mau kamu tahu bahwa saya tidak memiliki kemampuan membaca pikiran dan andaikan saja saya diberikan waktu satu menit saja untuk memerkosa pikiran kamu, mungkin saya akan mengerti semuanya.

Titik Nggak Pake Koma

5 Sep

Saya punya seorang teman. Lelaki dan tidak akan pernah saya sebutkan namanya kepada kalian. Kita berteman dari zaman dulu, zaman saya masih abg labil yang bangga jalan-jalan di mall memakai seragam putih abu-abu. Dulu, semua orang yang saya dan dia kenal mengira saya dan dia pacaran, hubungan saya dan dia memang dekat banget siy.

Bahkan sampai sekarang, ketika secara tidak sengaja saya sedang jalan dengannya dan bertemu dengan teman-teman kami dulu, tidak sedikit dari mereka yang bertanya: “Masih?” dengan ekspresi kagum seolah-olah kami memang benar-benar pasangan yang masih langgeng bertahun-tahun.

Kenyataannya adalah tidak ada apa-apa di antara kami. Murni cuma teman. Titik. Nggak Pakai Koma. Saya selalu merasa aman dan nyaman setiap kali menghabiskan waktu dengannya. Setiap kali keinginan untuk jalan-jalan muncul ke permukaan, tapi lagi nggak mau pergi sendirian, dia adalah orang pertama yang saya hubungi. Kalau lagi ada keperluan ke satu tempat dan ngerasa butuh saran untuk sesuatu atau sekedar butuh teman untuk meningkatkan kepercayadirian, saya pasti memintanya untuk menemani saya.

Dan dia selalu ada. Selalu bisa menemani saya dalam setiap ‘aktivitas ingin ditemani’ saya, mulai dari mengantar saya mencari baju baru sekaligus memberi saran mana baju yang sebaiknya dibeli, menemani saya dengan pikiran dan khayalan saya di coffee shop, menyanyi bersama di tempat karaoke, wisata kuliner bersama, survey tempat atau harga soal pekerjaan, bahkan sampai nyalon bersama. Sepertinya, selain ke kamar mandi, tidak ada satu pun aktivitas yang tidak bisa saya lakukan dengan dia secara bersamaan.

Belakangan hubungan kami yang sempat mulai merenggang kembali dekat. Dalam satu bulan, minimal satu kali frekuensi saya bertemu dengannya. Hal itu belum lagi ditambah dengan chatting via y!m atau facebook dan sms-sms nggak penting yang kalau dipikir-pikir lagi cuma sebagai aktivitas mengisi waktu dan membuang-buang uang.

Akhir-akhir ini saya mulai merasa suka. Beberapa orang teman mengatakan kalau akan lebih baik jika saya dan dia meresmikan hubungan kami ke level ‘lebih dari teman’, pendapat itu bahkan saya dengar tidak hanya dari orang yang mengenal kami dari dulu, tapi juga baru saja mengenal kami.

Sebenarnya pendapat bahwa sebaiknya kami pacaran sudah menjadi pendapat yang biasa untuk kami. Biasanya, saya tidak terlalu menanggapi pendapat itu. Biasanya saya cuma menjadikan itu pendapat yang masuk telinga kiri keluar kanan tanpa pernah saya sangkutkan di otak saya.

Tapi akhir-akhir ini, tanpa alasan yang jelas saya mulai kepikiran pendapat-pendapat tersebut. Alasannya sederhana: sejauh ini, cuma dialah yang bisa memberikan saya rasa aman dan nyaman tak terkira. Satu hal yang bahkan tidak bisa diberikan oleh Zhe, sahabat saya yang bergender perempuan.

Saya mulai berpikir kalau

We’re such a great team together

But it’s just impossible

And don’t ask why cause I would never answer

Rebound Guy[s]

11 May

Tadi sore terjebak dalam sebuah pembicaraan dengan Zhe. Awalnya siy gue cuma mau bilang kalo beberapa hari yang lalu gue ketemu Mr. R, tapi Zhe kesulitan untuk mengingat Mr. R, sementara gue yakin banget kalo gue sempet ngenalin Mr. R ini ke Zhe. Sedikit konfrontasi antara gue yang ngotot pernah banget ngenalin Mr. R ke Zhe dan Zhe yang ngotot ngga pernah kenal Mr. R yang gue maksud sampai akhirnya Zhe bilang…

“OKay deh ngga penting siapa itu Mr. R, sekarang yang penting itu apa posisi Mr. R di hidup lo?”

Sempet mikir sebentar untuk cari kata yang pas untuk menggambarkan posisi Mr. R dalam hidup gue sampai akhirnya gue STUCK pada kata intermezzo. Dan pembicaraan pun bermulai dari sini. Sebuah pembicaraan yang menyadarkan gue bahwa…

Gue memiliki banyak sekali pria-pria rebound dalam hidup gue, bukan karena gue LAKU tapi karena gue selalu punya cara yang MANIPULATIF untuk mendapatkan pria mana pun yang gue mau sebagai rebound (ini cuma berlaku untuk rebound guys ya!)

Setiap kali gue patah hati, terluka, sakit, atau bahasa lain yang menggambarkan rasa sakit yang sama, gue selalu mencari pria-pria yang bersedia menjadi rebound gue.

Kalau setiap kali gue mendapatkan rebound gue, gue ngga akan mempertahankannnya lebih dari 1 bulan (kebanyakan malah cuma bertahan sekitar semingguan)

Kalau eksistensi pria-pria rebound itu dalam hidup gue cuma sebagai pelarian, pelampiasan akan rasa sakit gue. Karena gue selalu berpikir kalau rasa sakit gue karena cinta bisa disembuhkan dengan mencari pelarian.

Eksistensi pria-pria rebound dalam hidup gue cuma sebagai sebuah persembunyian dari rasa takut gue akan kegagalan, ketakutan gue akan tidak akan pernah lagi memiliki seorang pendamping.

Mereka, pria-pria rebound gue, adalah suatu akibat dari pikiran dangkal gue bahwa dengan khadiran mereka, rasa kesepian ini akan hilang begitu saja, tapi lalu ternyata ngga semudah itu mengusir rasa kesepian ini.

Lalu setelah gue bosen dengan satu rebound, gue bakalan berpinah, mencari rebound yang lain, dan terus seperti itu. Berganti dari satu rebound ke rebound yang lain sampai akhirnya gue bosen, gue lelah bermain dengan hati gue sendiri, lalu gue memutuskan untuk sendiri, untuk menikmati kesendirian gue, dan (biasanya) pria datang di saat gue sedang menikmati kesendirian gue.

Lalu gue mulai sadar bahwa gue pengecut. Bahwa selama ini gue telah terbiasa menjadikan orang lain sebagai tempat persembunyian gue dari kenyataan.

Kebiasaan buruk memang. Tahu banget harus SESEGERA mungkin dihentikan.

Tapi kali ini biarkan gue bermain dengan hati gue, bermain dengan mereka yang gue sebut… REBOUND GUYS

Open Relationship

3 May

Belajar dari pengalaman sebelumnya, nggak lagi mau over exposed terhadap sesuatu yang belum pasti. Nggak mau ngenalin siapa pun ke dunia gue sebelum pasti karena in the end, ketika hubungannnya gagal, yang tersisa tinggal perasaan malu.

Tapi susah juga untuk nahan diri karena gue adalah makhluk dengan kecenderungan sifat extrovert yang lebih tinggi daripada introvert-nya.

Jadi bikin pengumuman aja deh. Kalau sekarang status facebook gue:

Senny is in an open relationship with Andy Andrian

Semoga berlanjut ke tahap yang lebih serius dan tertutup 😉

Single Life

27 Apr

Jadi ceritanya setelah hubungan gue dengan Mr. remove yang ngga dewasa dan membuat gue merasa seperti telah membuat kebodohan terbesar dalam sejarah hidup gue berakhir gitu aja, kehidupan cinta gue kembali acak-acakan. Deket sama beberapa orang tapi yah gitu deh…pada akhirnya mereka semua cuma jadi intermezzo dalam hidup gue (eh ini ngga ada maksud gue mau pamer yah, tapi gimana lagi dong, pasaran lagi naik… pria-pria dari masa lalu mendadak berdatangan kembali hehe…)

Kalo udah begini, yang kelihatan repot banget tuh si Zhe. Repot nerima telepon ngga mutu gue tentang I have no idea what to wear today sementara di lemari gue banyak banget tumpukan baju mulai dari yang sehari-hari gue pake sampai yang cuma 2 jam gue pake sejak pembelian pertama. Repot dengerin dan mengingat-ingat cerita jalan gue dengan mereka.Repot… argh, pokoknya repot segala-galanya deh.

Nah tadi pagi, waktu gue menengok keadaan SOHO-nya yang makin lama nampak makin berantakan, ngga tahu karena bosen direpotin atau karena dia memang sudah benar-benar kerepotan, Zhe mendadak membahas tentang love life gue yang sebenernya nggak layak untuk dibahas.

“Jadi lo mau yah gue kenalin sama temen gue? Dijamin ngga bakalan nyesel deh. POtensial, mapan, mature, dan pastinya jauh lebih baik dibandingin si Mr. Remove itu. Mau ya?”

Ada beberapa hal yang ngga gue suka dari kalimat di atas. Pertama, intonasi kalimat Zhe jauh lebih terdengar seperti sebuah pernyataan BUKAN pertanyaan. Kedua, ekspresinya waktu mengucapkan nama Mr. Remove membuat gue terlihat seperti pecundang yang masih juga belum bisa move on tanpa dia. Ketiga, gue adalah tipe orang yang nggak percaya dengan konsep orang yang lebih baik; buat gue, semua orang tuh terlahir sama-punya kekurangan dan kelebihan masing-masing jadi ngga pernah ada orang yang lebih baik di antara yang lainnya, selama perbandingannya masih manusia dan BUKAN malaikat.

By the way, gue udah cerita belum siy kalo Zhe sangat terobsesi pada usaha perjodohan? Sampai niat mau buka usaha biro jodoh gitu deh. Sialnya, Zhe cuma punya satu penyaluran obsesi: GUE.

Mending kalo yang dijodohinnya emang oke banget, seringnya siy si Zhe lebay aja. Malahan, dia pernah ngejodohin gue sama orang yang bahkan dia sendiri lupa mukanya kaya gimana. See, betapa sialnya temen gue yang satu itu?!

Biasanya siy, gue pasrah aja nerima perjodohan dia. Tapi kali ini gue bertekad untuk ngga segampang itu lagi. Gue capek. Gue lelah. Dan sekarang ini gue lagi nikmatin banget kehidupan 100% single gue (baca: kerja, kuliah, skripsi). Jadi, begitu Zhe menawarkan diri untuk menjodohkan gue lagi dengan pria entah siapa, gue dengan cepat menggeleng.

“Kenapa?”

“Males ah. Gue lagi beneran pengen sendiri dulu. I’m so in love with my single life right now.”

“Ah denial banget sih lo!”

“Denial apa?”

“Yah denial aja. Tahu banget deh kalo sebenernya ngga gitu seneng dengan status single lo itu. Lo bilang lo single and happy itu karena lo pengen nguatin diri lo sendiri kan?”

“Sok tahu lo!”

“Apa sih yang nggague tahu tentang lo?”

“Banyak”

“Ngga mungkin! Udah deh, pokoknya lo tenang aja ya… gue bakalan bantuin lo sepenuh hati sampai akhirnya lo dapet laki lagi…yang potensial!”

“…”

“Cun…, kok lo diem siy?”

“Zhe, pernah kepikiran ngga siy sama lo kalo yang bikin gue ngga happy dengan single life gue itu yah orang-orang kayak lo ini. Orang-orang yang kelihatannya repot banget sama kejombloan gue. Orang-orang yang ngejudge gue ngga happy sama kehidupan single gue sekarang ini. Orang-orang yang panik menghadapi status single gue dan malah kepanikannya bikin gue ngerasa tertekan. pernah kepikiran ngga sama lo?”

“Eeeee….”

“Lagian gue juga masih muda banget. Umur gue baru 22 bulan oktober ntar jadi gue masih punya banyak banget waktu ngga kayak lo yang harus kejar tayang.”

“…”

Skak mat!

P.S. Cuma mau kembali menegaskan kalau gue lagi sangat menikmati kehidupan single gue sekarang ini, jadi mau usaha sampai pantat berdarah-darah juga gue lagi ngga mau aja menerima lowongan perjodohan. Demikian dan terima kasih

[Lagi-Lagi] CINTA!

22 Apr

Udah hampir tengah malem. Harusnya siy gue udah tidur, nyiapin energi buat besok biar nggak tidur waktu ujian lagi. Atau seenggaknya baca-baca dikit, prepare buat ujian besok. Atau seenggaknya gue udah mulai rebahan di kasur, kasian juga ke si badan yang belakangan ini dituntut untuk bermobilitas tinggi, kasian juga sama si otak yang udah mulai capek karena gue menuntutnya untuk berpikir terlalu kerasa belakangan ini.

Singkat kata, harusnya sekarang ini gue udah istirahat. Tapi nggak bisa. Badan emang capek. Otak juga ngga kalah capeknya. Tapi nggak tahu kenapa nggak mau aja istirahat. Kalo udah gini jadi bingung mau ngapain. Mau tidur nggak bisa. Mau chatting juga yang online tinggal sedikit dan bukan tipe yang menyenangkan untuk diajak mengobrol malam. Akhirnyamalah browsing ngga jelas, diselingi acara bengong sampai akhirnya…

Salah sih emang… tapi kepikiran kejadian beberapa bulan yang lalu (atau mungkin beberapa minggu yang lalu? ah gue emang selalu nggak bagus dalam mengingat waktu). Waktu itu, hubungan gue sama si Mr. T yang sekarang suggest untuk menyebut dia Mr. Remove lagi anget-angetnya. Awal-awal hubungan gue dan dia (ngga sudi untuk menyebut hubungan kita lagi), jam segini biasanya gue dan dia lagi teleponan.

Mendadak inget di suatu ritual teleponan gue dan dia, tepat setelah dia mulai flirting sama gue, gue menjawab kalau sebaiknya dia berhenti berekspektasi lebih sama gue, karena someday dia pasti bakalan kecewa karena gue nggak memenuhi ekspektasinya itu. Gue mengingatkan dia untuk meninggalkan gue daari sekarang sebelum dia capek menghadapi sifat impulsif gue. Mengingatkan dia untuk menyiapkan diri menghadapi kompleksitas gue dan kalau memang nggak bisa, lebih baik pergi dari sekarang.

Masih inget banget waktu dia ngejawab kalau dia bakalan berusaha ngertiin gue. Bakalan nerima gue beserta keimpulsifan dan kompleksitas gue. NGgak bakalan ninggalin gue.

Inget juga waktu kita masang tattoo temporary bareng di pergelangan tangan kita. Dia matahari dan gue bulan, complete each other. Waktu itu dia yang ngajak bikin tattoo. Oh ya, dia juga yang ngelepas tattoonya waktu mulai mengering. Kayaknya itu pertama kalinya dia beneran pegang tangan gue di tempat umum deh, di tempat sate padang jalan Balubur.

Inget juga waktu gue dan dia nonton bareng di Blitz trus karena datangnya kepagian dan laper, akhirnya mutusin untuk makan di Quali. Waktu itu gue ngasih dia sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya dia punya tapi karena dia butuh uang, dia berniat untuk menjual punyanya itu. Waktu itu dia sempet nolak sih, tapi gue paksa untuk nerima. Inget banget dia bilang kalau dia nggak bakalan ninggalin barang itu. Inget waktu dia bilang untuk secara intens menghubungi gue. Inget waktu dia bilang kalau jalan sama gue selalu menyenangkan karena nggak ada yang dipikirin. Inget waktu dia megang tangan gue di Quali. Inget kelakuan ‘sedikit nakal’ gue dan dia di dalam bioskop. Inget waktu dia bilang gue terlihat cantik banget hari itu.

Masih inget juga waktu gue ada di rumahnya, di tengah obrolan, dia ngirim sms yang isinya: “Boleh ngga aku nemenin kamu sampai sukses nanti?” dan waktu itu gueberasa kayak abg banget. Jantung deg-degan, muka juga kayaknya udah merah banget. Speechless. NGgak usah dilanjutinlah yah apa kejadian selanjutnya.

Masih inget juga waktu hari ulang tahunnya. Dia ke rumah gue, makan bakso yang seporsinya cuma 3000 dan dia makan 2 porsi. Udah gitu, ditemani cuaca di luar yang hujan dan lagu-lagu mellow di MP3 gue, gue kasih dia kado. Satu kotak coklat plus buku yang covernya foto gue dan dia di Asia Afrika. Di dalam buku itu gue tulis kalau itu adalah sahabat keduanya setelah gue. Inget banget waktu dia bilang itu adalah kado terbaiknya, tapi jauh lebih baik lagi gue sebagai sang pemberi kado. Inget banget dia bilang makasih sambil cium jidat gue.

Argh… sebenernya masih banyak banget hal yang gue dan dia lewati bareng yang gue inget. Masih banyaaaak banget. Tapi udahlah nggak mau dibahas karena…

Harusnya, gue ngga percaya gitu aja semua omongan dia. Tapi ngga tahu deh, gue segampang itu aja larut sama dia. Zhe bilang, itu karena dia datang di saat yang tepat-saat dimana gue akhirnya bisa lepas dari bayang-bayang sang mantan sepanjang masa dan mulai mau membuka diri lagi.

Seperti yang gue kira sebelumnya, hubungan gue dan dia nggak berjalan lama. Ngga tahu pasti berapa lama tapi akhirnya selesai juga. Niat untuk tetap berteman tapi ternyata sesuatu darinya membuat gue sangat kecewa. KECEWA BANGET dan akhirnya gue memutuskan untuk nggak kenal lagi dengannya. Yeah, terdengar seperti gue kalah perang sih. Kedengaran ngga dewasa juga. Tapi ya udahlah, untuk soal ini, biarlah gue yang memutuskan sendiri, bahkan ketika keputusan ini salah.

Terus gimana perasaaan gue?

Well, jujur siy awalnya ngerasa drop banget. Sempet nangis-nangis edan sampai nggak tau tempat (lirik Lala), berlanjut sampai nangis-nangis di kamar. Males ngapa-ngapain berhari-hari. Kehilangan fokus hidup (lebaaayyy!!).

Tapi sekarang gue udah baikan kok. Jauh lebih baik daripada masa berkabung waktu itu. Kembali terbiasa untuk ngga berkontak-kontak ria dengannya (hal yang awalnya gue kira bakalan berat banget). Mulai fokus terhadap hal yang seharusnya.

Sekarang, gue kembali skeptis. Skeptis terhadap pria. Skeptis terhadap eksistensi cinta. Mau sampai kapan? Gue juga ngga tau pasti sampai kapan, yang gue tahu, gue bakalan berhenti menjadi orang yang skeptis sampai akhirnya gue jatuh cinta lagi.

Mudah-mudahan nggak ada yang nyadar kalau tulian ini gue bikin dalam keadaan mendadak kangen sama Mr. Remove dan lalu langsung merasa TOLOL.