Tag Archives: curhat

Spesifik Itu Harus

27 Apr

Sore itu, di tengah hujan besar di sebuah restoran cepat saji, saya dan beberapa orang teman terlibat dalam sebuah percakapan yang absurd. Disebut absurd karena topiknya meloncat-loncat, tidak fokus, dan sama sekali tidak terarah. Saya lupa topik apa saja yang dibicarakan sore itu, tapi saya ingat reaksi mereka ketika saya bilang saya sedang ingin punya pacar.

Mereka, di luar perkiraan saya, terlihat kaget ketika saya menyatakan hal tersebut. Menurut mereka, seorang Senny yang terkenal feminis dan skeptis ketika membicarakan soal cinta tiba-tiba ingin punya pacar adalah kejadian langka dan mengejutkan. Baiklah, jadi menurut mereka orang semacam saya ini tidak wajar kalau ingin merasakan cinta, padahal hal itu kan manusiawi sekali… jangan-jangan selama ini saya tidak dianggap manusia oleh teman-teman saya itu (abaikan).

Setelah meyakinkan teman-teman saya itu kalau saya benar-benar serius ingin punya pacar, teman-teman saya pun akhirnya bertanya kriteria lelaki seperti apa yang saya inginkan untuk dijadikan pacar. Maka dengan antusias sekali, saya pun menceritakan tentang spesifikasi laki-laki yang saya inginkan. Untuk seorang yang demanding seperti saya, harusnya mereka tidak kaget kalau saya memiliki daftar yang panjang untuk itu, tapi reaksi mereka sungguh jauh di luar perkiraan saya. Waktu itu reaksi mereka…

“Busyet dah, lo cari calon pacar apa calon pegawai? Banyak amat mintanya?”

Hingga saat posting ini ditulis, saya masih belum merasakan ada yang salah dari memiliki daftar yang panjang dan kriteria yang detail untuk calon pasangan saya. Sebaliknya, saya malah merasa hal tersebut adalah hal yang wajar dan sangat penting untuk dilakukan.

Menurut saya, penting bagi seseorang memiliki kriteria yang detail dan sangat jelas untuk calon pasangannya kelak. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut tahu apa yang dia inginkan dan lebih fokus dalam masa pencarian pasangan. Dengan adanya daftar yang detail mengenai calon pasangan, maka seseorang tidak akan membuang-buang waktunya untuk berkencan dengan seseorang yang membuatnya tidak akan merasa nyaman.

Selain itu, sebuah kriteria yang spesifik juga menghindari diri dari kemungkinan terjadinya pertengkaran ketika sudah berhubungan akibat pasangan tidak memiliki spesifikasi seperti yang diinginkan. Saya misalnya, dengan adanya daftar yang detail, tentu saja saya tidak harus khawatir dan lalu dibuat emosi karena pasangan saya datang terlambat saat kencan, membiarkan saya membayari tagihannya, memakai sandal ketika sedang jalan dengan saya, blablabla yadaa yadaa. Hubungan akan terasa lebih aman dan nyaman karena orang tersebut sudah mendapatkan apa yang saya inginkan.

“Tapi ‘kan dalam sebuah hubungan pasti selalu ada rasa tidak aman dan nyaman, kecuali kalau pasangan yang kita dapatkan sempurna, which is nobody’s perfect.”

Saya mengangguk menyetujui pernyataan teman saya tersebut. Tidak ada seorang pun yang terlahir sempurna di dunia ini, maka dari itu ketika membuat kriteria calon pasangan otak perlu dipakai, berpikirlah logis dalam menentukan kriteria. Jangan sampai terjebak dengan kriteria sendiri yang akhirnya membawa kita pada kejombloan seumur hidup.

Lalu mengenai akan selalu ada titik dimana pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah hubungan merasa tidak aman dan tidak nyaman, saya pun menyetujuinya. Di sini komunikasi memiliki peran yang sangat besar dan penting dalam sebuah hubungan, agar ketika pihak yang terlibat dalam sebuah hubungan sedang merasa tidak aman atau tidak nyaman, masing-masing pihak dapat menegosiasikannya sehingga mencapai win-win solution dan hubungan yang berjalan pun dapat terselamatkan. Lagi pula, saya tidak pernah menyatakan bahwa adanya kriteria yang detail akan menjamin secara 100% hubungan akan berjalan aman dan nyaman, hanya saja jika dari awal seseorang sudah mengetahui apa yang diinginkannya, tentu saja kemungkinan bertengkar atau merasa kecewa karena tidak memiliki apa yang diinginkan menjadi lebih kecil.

“Tapi kita ‘kan nggak pernah tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta, gimana kalau suatu saat nanti kita malah jatuh cinta dengan orang yang sama sekali tidak termasuk dalam daftar kita?”

Begitu kata teman saya yang satunya lagi. Saya hanya tersenyum. Urusan perasaan memang kompleks, tapi mengingat saya ini orang yang demanding dan skeptis ketika membicarakan soal cinta, harusnya teman saya itu tahu kalau sulit bagi saya (bahkan hanya) untuk membayangkan diri saya jatuh cinta pada pria yang di luar daftar saya.

Pada akhirnya jika membicarakan sebuah hubungan dan calon pasangan yang ideal, tentu saja akan bersifat subjektif. Maka dari itu tidak heran jika hingga saat ini saya dan teman-teman saya masih belum bersepakat mengenai hal ini. Bagaimana dengan kamu?

Undefined Relationship Part Two

10 Dec

“Lo kenapa nggak pacaran aja sih sama dia, Sen?”

“Penting ya?”

“Iya dong. Biar hubungan lo sama dia jadi lebih pasti dan terarah.”

Saya tersenyum mendengar jawaban teman saya itu. Pertanyaan soal kenapa saya tidak pacaran dengan setiap lelaki yang dekat dengan saya terdengar sangat familiar di telinga saya dan reaksi saya masih sama setiap kali diberikan pertanyaan tersebut: balik bertanya apakah penting untuk saya berpacaran dengan lelaki tak terdefinisi saya.

Menurut teman saya itu (dan teman-teman saya lainnya baik yang saya kenal secara dekat maupun hanya selewat), status ‘pacaran’ penting eksistensinya agar sebuah hubungan lebih pasti dan lebih terarah. Saya… tidak percaya dengan jawaban itu.

Untuk saya, status ‘pacaran’ hanyalah sebuah label yang tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kepastian atau tujuan berlangsungnya sebuah hubungan.

Saya adalah tipikal orang yang sangat percaya bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini, terutama dalam hal berhubungan. Orang yang menikah saja bisa berakhir dengan perceraian, apalagi yang pacaran. Tidak lantas dengan adanya status, hubungan tersebut pasti berakhir bahagia.

Lalu apakah dengan adanya status, maka sebuah hubungan akan lebih terarah dan memiliki tujuan? Saya rasa tidak. Belajar dari pengalaman saya terdahulu, ditambah dengan pengalaman teman-teman saya, banyak hubungan yang berlabel tapi tidak memiliki tujuan. Pacaran hanya untuk senang-senang saja. Pacaran hanya sebagai ajang pamer status kalau mereka tidak jomblo dan sudah laku oleh orang lain. Pacaran tapi dari segi mental masih belum siap, dalam artian masih selalu mencari yang lebih dan ketika menemukan yang lebih dan sama-sama mau, berakhir pada perselingkuhan.

“Jadi lo lebih milih stay di sebuah hubungan yang beresiko sewaktu-waktu laki lo diambil orang lain karena nggak ada status?”

Saya mengangguk. Akan jauh lebih mudah untuk saya ketika saya harus mengakhiri sebuah hubungan karena salah satu pihak yang terlibat, baik saya maupun dia, tertarik dengan orang lain dan memilih orang itu. Lagian, bukankah soal perasaan adalah satu hal yang tidak bisa dikontrol sehingga kemungkinan salah satu pihak tertarik pada orang lain itu akan selalu ada baik dalam hubungan tak terdefinisi seperti yang saya jalani atau hubungan dengan status seperti orang pada umumnya?

Untuk saya, hal terpenting dalam sebuah hubungan bukan terletak pada eksistensi sebuah status, melainkan dari perasaan antara pihak-pihak yang terlibat. Selama saya menjalani hubungan dengan lelaki tak terdefinisi saya ini, saya merasa nyaman, aman, percaya, dan menikmati hubungan kami, dan rasa seperti itu bisa saja tidak saya rasakan lagi ketika sebuah status mengikat kami berdua.

Jadi kalau pihak-pihak yang terkait dalam sebuah hubungan merasa sama-sama sayang dan enjoy kenapa mesti repot-repot dikasih label ‘pacaran’ sih?

Hidup Dalam Mimpi

30 Nov

“Lo tahu nggak sih berapa banyak orang di luaran sana yang pengen ada di posisi lo? Banyak banget sen yang dying to get a job, apa pun itu jenis pekerjaannya, sementara lo dengan berbagai jenis peluang yang ada, lo malah menyia-nyiakannya aja gitu.”

Kalimat itu diucapkan oleh seorang teman ketika saya bercerita bahwa saya baru saja menolak beberapa tawaran pekerjaan yang datang pada saya.

Semuanya berawal dari keisengan saya. Iya, kalau lagi tidak ada kerjaan, saya memang suka iseng, mulai dari iseng SMS nanya kabar ke mantan pacar (yang sering banget bikin mereka geer setengah mati kalau saya masih menyimpan ‘perasaan’ pada sang mantan) sampai iseng ngirimin CV saya ke perusahaan-perusahaan yang sedang membuka lowongan pekerjaan. Berbekal keisengan yang selanjutnya, saya pun mulai menghadiri panggilan interview dari beberapa perusahaan yang saya kirimi CV dengan sedikit harapan bahwa saya akan jatuh cinta pada perusahaan itu atau mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan saya atau setidaknya, biarkan saya menemukan jodoh saya di perusahaan itu (abaikan yang terakhir ini).

Ah ya, seperti yang sudah bisa ditebak dari pengalaman-pengalaman terdahulu, keisengan selalu membawa saya pada masalah. Salah satunya adalah beberapa perusahaan tersebut jatuh cinta pada image yang saya tampilkan ketika sedang interview, lalu menawari saya pekerjaan yang… selalu berujung pada penolakan dari saya.

Sssttt… sebenarnya masalah ini rahasia ya. Saya tidak menceritakan soal ini ke keluarga saya karena saya tahu pasti mereka pasti tidak akan mengerti kenapa saya menolak tawaran kerja yang datang pada saya karena tepat seperti apa yang dikatakan teman saya, di luaran sana banyak sekali orang yang mati-matian menginginkan sebuah pekerjaan, tapi saya yang mendapat beberapa tawaran malah menolaknya.

Alasannya adalah karena saya belum menemukan pekerjaan yang cocok untuk saya. Tidak… jangan pernah berpikiran bahwa definisi pekerjaan yang cocok di mata saya adalah pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, membuat saya mampu membeli barang-barang branded setiap hari, dan bisa membawa saya keliling dunia setahun sekali. Saya tidak menilai sebuah pekerjaan semata-mata dari segi finansial saja.

Alasannya adalah karena saya merasa di usia saya yang 23 tahun ini saya tidak benar-benar mengejar mimpi saya. Sepanjang hidup saya, saya memiliki banyak mimpi yang ingin saya kejar, saya juga selalu tahu apa yang saya inginkan dalam hidup saya hanya saja… saya tidak pernah benar-benar merasa telah berbuat sesuatu untuk mengejar mimpi saya.

Seperti mimpi saya ingin menjadi pengacara yang tanpa alasan yang jelas berakhir begitu saja karena lulus SMA saya malah memilih untuk kuliah di jurusan manajemen ketimbang di jurusan hukum.

Seperti mimpi saya menjadi seorang penulis yang berakhir begitu saja karena saya tidak pernah konsisten menulis dan semua ide cerita saya selalu saja berakhir pada konsep tanpa pernah saya sentuh dan kembangkan sedikit pun.

Seperti mimpi saya untuk ini dan itu yang berakhir begitu saja karena saya memang tidak pernah melakukan sesuatu hal untuk itu. Padahal kenyataannya tidak ada hambatan yang cukup berarti yang dapat menghentikan saya mengejar mimpi saya. Padahal (Seperti apa yang dikatakan teman-teman saya) saya memiliki potensi untuk hidup dalam mimpi saya. Padahal… ah sudahlah.

Tanggal 27 Oktober kemarin, di hari ulang tahun saya yang ke 23, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu sendirian, merenung mengenai perjalanan hidup yang telah saya lewati selama 23 tahun dan menyusun visi masa depan berbekal keinginan untuk mulai serius terhadap hidup saya sendiri karena saya sudah tidak muda lagi.

Saat itulah saya mulai menyadari (atau lebih tepatnya menyesali) diri saya yang tidak pernah benar-benar serius akan mimpi saya. Harusnya segudang mimpi yang dibekali oleh cukup banyak kemampuan dapat membawa saya hidup dalam mimpi saya dalam artian yang sebenarnya, bukan malah membiarkan mimpi-mimpi tersebut tetap menjadi angan-angan yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Makanya, saya membuat keputusan untuk berhenti bermain-main dan mulai serius terhadap keinginan saya. Makanya, saya menolak pekerjaan tersebut karena saya tahu bukan pekerjaan tersebut yang sesuai dengan keinginan saya. Makanya, saya lebih memilih untuk bertahan dalam wilayah abu-abu saya yang penuh dengan ketidakpastian ketimbang memilih satu warna yang saya tahu pasti tidak ingin saya pilih.

Saya menolak tawaran tersebut bukan karena saya menolak rejeki, atau memasang standar yang tinggi, atau idealis, atau apapun itu. Saya menolak tawaran tersebut karena saya tidak ingin bangun di usia saya yang menginjak kepala 3 suatu saat nanti, lalu mulai menyesali diri karena saya tidak pernah benar-benar berusaha mengejar apa yang saya inginkan. Saya tidak mau menjadi bagian dari golongan mereka yang mapan finansial karena pekerjaannya tapi tidak pernah bahagia akan itu. Saya tidak mau membangun sebuah jembatan dengan tembok yang tinggi sebagai pemisah antara realita tempat saya hidup dengan keinginan yang hanya sebatas mimpi saja.

“Emangnya lo yakin mimpi lo bakalan bikin lo bahagia kalau lo mampu ngewujudinnya?”

Though question. Saya menghembuskan napas saya menghadapi pertanyaan ini, tersenyum, lalu menjawab “setidaknya saya sudah berusaha”.

Monster

11 Nov

Satu hal yang selalu sukses membuat saya ingin kembali ke masa lalu adalah karena monster yang menghantui saya hidup di kolong kasur saya dan hanya mendatangi saya ketika malam datang dan saya (terpaksa) harus tidur.

Berbeda dengan saat ini, ketika usia saya menginjak twenty something. Monster tersebut tidak lagi hidup di kolong tempat tidur saya, kini monster tersebut hidup dengan nyaman di pikiran saya.

Itulah mengapa saya selalu berusaha untuk tetap sibuk. Jika saya tidak dapat menemukan sesuatu yang bisa saya lakukan, saya mencari teman untuk bersosialisasi, baik itu melalui pembicaraan langsung atau sekedar sahut-sahutan di Twitter. Tentunya, kesibukan itu tidak selalu ada, ada masa ketika saya sedang benar-benar sial dan tidak ada satu pun yang bisa dilakukan, waktu seperti itulah yang selalu dipergunakan oleh monster tersebut untuk menyerang saya.

Monster itu bukan lagi sebuah sosok mengerikan, bertaring, bertubuh besar, dengan mata menyala yang seolah-olah siap menyerang saya kapan pun dia mau. Monster tersebut kini telah menjelma menjadi sebuah pikiran negatif yang membuat saya merasa jauh lebih takut daripada ketika saya harus berhadapan dengan monster imajinasi saya sewaktu masih kecil. Satu hal yang membuat saya merasa semakin terancam adalah karena saya tahu bahwa monster yang berhadapan dengan saya sewaktu kecil hanyalah sosok khayalan belaka, sementara monster yang kini berhadapan dengan saya adalah sesuatu yang sifatnya lebih nyata.

Monster tersebut kini menjelma menjadi sebuah kekhawatiran. Kekhawatiran bahwa hidup tidak berjalan sebagaimana rencana saya. Kekhawatiran akan tidak bisa mendapatkan apa yang saya inginkan.Singkatnya, saya khawatir akan masa depan saya, sesuatu yang memang sih belum terjadi, tapi mungkin saja terjadi

Monster tersebut kini menjelma menjadi sebuah ketakutan. Ketakutan akan kehilangan orang-orang (dan hal-hal) yang saya cintai. Ketakutan akan kegagalan. Ketakutan akan segala kemungkinan terburuk dalam hidup ini yang (lagi-lagi) belum terjadi tapi sangat mungkin terjadi sewaktu-waktu.

Berbeda dengan ketika saya masih kecil dimana saya bisa langsung berteriak dan membangunkan orang-orang untuk membantu saya mengusir monster, kali ini hanya tinggal saya sendirilah yang harus berhadapan dengan monster tersebut.

Pada akhirnya saya disadarkan oleh sebuah fakta bahwa musuh terbesar dalam hidup saya adalah diri saya sendiri, sebab dari diri saya sendirilah monster itu lahir, hidup, dan tumbuh. Dari diri saya sendirilah saya menghasilkan “makanan” untuk dikonsumsi oleh monster tersebut sehingga monster itu menjadi sebuah sosok yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Tapi, tidak peduli betapa mengganggunya monster tersebut dalam hidup saya, saya tidak akan pernah membiarkannya mati. Saya akan terus membuatkan makanan yang lezat untuk monster tersebut, karena jika monster tersebut mati, saya akan kehilangan tujuan saya dalam hidup dan tidak ada lagi yang pantas diperjuangkan.

Saya akan membiarkan monster itu tetap hidup dan tumbuh menjadi kuat bersama saya.

“Cara terbaik mengatasi monster dalam pikiran kamu adalah dengan jatuh cinta pada diri kamu sendiri, karena dengan cara itulah kamu bisa bersahabat dengan sang monster” – dia, beberapa jam yang lalu

 

Patah Hati

20 Oct

“Hal yang paling susah ketika kehilangan seseorang adalah membiasakan diri untuk kembali beraktivitas tanpa ada eksistensi orang tersebut di dalamnya”

Kalimat tersebut sempat saya update di akun Twitter saya beberapa hari yang lalu.

Tidak. Kalimat tersebut bukan hanya kalimat yang muncul selewat di kepala saya, melainkan berdasarkan pengalaman pribadi. Saya mengalami hal itu tidak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali, rasanya tidak akan bisa dihitung oleh jari berapa kali saya kehilangan seseorang dan harus kembali membiasakan diri beraktivitas tanpa ada eksistensi orang tersebut dalam hidup saya.

Seperti saat ini misalnya.

Tunggu! Sebelum kamu melanjutkan untuk membaca posting ini, saya ingatkan kamu bahwa posting kali ini adalah sebuah curahan hati, silakan segera tutup halaman ini dan abaikan posting kali ini jika kamu merasa sudah terlalu banyak drama dalam hidup kamu dan curahan hati saya ini hanya akan membuat hidup kamu terasa semakin sesak.

Akhirnya saya putus. Bukan putus dalam artian sepasang kekasih yang mengakhiri hubungan asmaranya lalu mengganti status Facebook-nya menjadi single karena saya dan dia tidak pernah benar-benar menjalin hubungan, tapi putus dalam artian… ah saya bingung mengartikan kata putus ini. Intinya adalah saya dan dia putus hubungan, sudah 2 minggu berlangsung.

Hubungan tak terdefinisi itu berakhir sudah. Dia ingin meresmikan hubungan saya dengannya, tapi saya belum siap, masih terlalu muda dan belum mapan baik dalam segi mental, finansial, dan terutama spiritual membuat saya enggan untuk meresmikan hubungan ini. Akhirnya dia menyerah, lalu mundur dari hubungan ini.

Perasaan saya?

Patah hati. Tidak pernah saya kira sebelumnya kalau saya sangat membutuhkan kehadiran dia dalam hidup saya. Saya butuh SMSnya setiap pagi, saya butuh telepon darinya setiap malam, saya butuh komentarnya tentang tulisan saya di blog ini yang selalu dikirimkannya melalui SMS (meskipun terkadang komentarnya hanya ‘tulisan kamu yang terbaru bagus deh’), saya butuh percakapan ringan di dalam mobil saat Bandung mulai berulah dengan kemacetannya, saya butuh….

Ah… tuh kan! Saya butuh banyak hal darinya.

Saya patah hati. Setiap malam saya mendengarkan lagu Katy Perry – Thinking Of You karena saya pikir itu satu-satunya lagu yang sangat menggambarkan perasaan saya saat ini. Selalu memikirkannya, bahkan ketika saya sedang bersenang-senang dengan segerombolan teman-teman dahsyat saya sekali pun.

Saya patah hati. Membiasakan untuk kembali beraktivitas tanpa eksistensinya adalah sesuatu yang sama sulitnya seperti seseorang yang amnesia ingin mengembalikan ingatannya. Berlebihan memang, tapi saat ini memang itulah yang sedang saya rasakan.

Saya patah hati dan kalau saja hal ini menimpa pada saya setahun yang lalu, saya pasti menjadi orang yang sangat emosional yang pernah ada. Untungnya waktu membuat saya menjadi lebih dewasa, sehingga saya lebih mampu mengontrol perasaan saya dan memendam semuanya di dalam.

Saya patah hati dan saya tidak menginginkan apa pun selain kehadiran dia kembali. Saya berjanji saya akan berusaha lebih keras untuk menyiapkan diri saya pada sebuah hubungan yang resmi. Saya berjanji akan lebih fleksibel dengan mengkompromikan segala sesuatunya dengannya. Atau setidaknya, kalau pun saya dan dia memang tidak ditakdirkan untuk bersama, setidaknya izinkanlah perpisahan ini terjadi secara bertahap, supaya saya lebih ikhlas dan lebih siap menerima perpisahan itu.

Saya patah hati dan hari ini, sama seperti 2 minggu terakhir yang saya habiskan tanpa eksistensinya, saya menghabiskan waktu luang saya dengan bersenang-senang dengan teman saya, sengaja supaya saya tidak terlalu memikirkan dia setiap saat. Usaha yang sia-sia karena dia tetap ada di dalam pikiran saya.

Saya patah hati. So much for my upcoming birthday!

Malam ini, beberapa jam yang lalu, saya update status di Twitter saya, bunyinya:

Have fun outside, miss you inside. Please call

Saya serius. Saya harap dia benar-benar menelepon saya karena saat ini saya sedang patah hati dan saya tidak mau siapa pun mengobatinya selain… dia.

“You’re the best and yes I do regret, How I could let myself let you go?”

Thinking of You by Katty Perry-


Ya, Ya, Ya

18 Oct

Hari itu semakin dekat. Hari ulang tahun saya yang ke 23. Monster di kepala saya semakin gencar menyerang, bahkan rasanya setiap malam saya tidur ditemani gelisah karena monster-monster itu. Hal seperti ini selalu dan selalu saja terjadi di bulan Oktober. Saya menyebutnya sindrom pra ulang tahun karena begitu hari ulang tahun saya datang, sindrom ini pun menghilang tanpa jejak.

Iya, saya memang over sensitive, impulsif, dan drama queen. Sindrom seperti ini sepertinya hanya dialami oleh saya atau orang-orang yang sama sensitif, impulsif, dan dramanya seperti saya.

Anyway, tapi tahun ini saya memiliki kebanggan tersendiri. Sebuah prestasi yang sangat hebat (menurut saya) dan kalau ini adalah sebuah perlombaan, saya pasti akan memenangkannya, lalu memajang piala dan sertifikatnya di ruang tamu saya, sengaja agar semua orang bisa melihatnya.

Prestasi terbesar saya tahun ini adalah keberhasilan saya mengatasi sindrom pra ulang tahun saya dengan baik. Iya sih, saya masih suka cemas dan khawatir tidak jelas mengenai pencapaian yang ingin saya raih dalam hidup saya; saya juga masih suka gelisah ketika tertidur, tapi setidaknya saya menghadapi sindrom ini dengan cara yang jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini, dalam rangka berperang menghadapi sindrom pra ulang tahun, saya memutuskan untuk melakukan begitu banyak hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan di kepala saya. Tahun ini, saya melakukan sebuah langkah yang sangat sederhana, tapi ternyata memberikan efek yang sangat hebat untuk diri saya sendiri. Tahun ini, saya mengatakan ‘YA’ untuk banyak hal.

Mengatakan ‘ya’.

Sepertinya sudah lama sekali saya lupa bagaimana cara mengatakan ‘ya’ tanpa sebuah keterpaksaan. Menjadi seorang yang pemikir dan penuh pertimbangan membuat saya kesulitan mengatakan ‘ya’ akan segala tawaran atau pun tantangan yang datang pada saya. Di lain sisi, menjadi seorang dengan sifat ‘nggak-enakan’ juga membuat saya menjadi seseorang yang sering mengatakan ‘ya’ hanya atas dasar rasa tidak enak pada orang lain dan pada akhirnya saya melakukan sesuatu dengan terpaksa.

Tapi tahun ini berbeda. Saya mengatakan ‘ya’ karena saya memang menginginkannya, jadi segala hal yang saya lakukan dilandasi sebuah keikhlasan.

Hasilnya? Luar biasa!

Cukup dengan kata’ ya’ saya menemukan diri saya jatuh cinta pada begitu banyak hal yang baru dan semakin cinta pada hal-hal yang saya cintai sejak dahulu.

Saya semakin cinta pada bau kopi yang diseduh dengan air panas. Saya semakin cinta pada menulis. Saya semakin cinta pada membaca. Saya semakin cinta pada kegiatan bersosialisasi yang memungkinkan saya bertemu dengan begitu banyak orang baru yang keren-keren (setidaknya di mata saya). Saya semakin cinta pada bau tanah dan dedaunan yang basah karena hujan. Saya semakin cinta pada melihat hujan deras turun dari dalam ruangan yang membuat saya tetap kering dan hangat. Saya semakin cinta…

Ah akan terlalu banyak dan terlalu panjang untuk diceritakan.

Saya juga menemukan cinta baru saya.

Saya mulai jatuh cinta pada Homogenic dan Ndeesaster, para musisi Indonesia yang membuat saya kembali percaya bahwa meskipun jumlahnya tidak banyak, tapi masih ada musisi Indonesia yang memang berkualitas dan tidak bermusik sesuai trend. Saya mulai jatuh cinta teman-teman baru saya, teman-teman baru yang mengeluarkan aura dan energi positif untuk saya sehingga saya pun, sama halnya seperti mereka, terbawa positif. Saya mulai jatuh cinta pada ‘It Girl’, sebuah game baru di FB yang mencegah saya dari penyakit bosan akibat tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan. Saya mulai jatuh cinta pada kegiatan mencari gambar untuk disisipkan pada posting blog saya. Saya mulai jatuh cinta pada….

Ah, lagi-lagi akan terlalu banyak dan panjang jika harus saya sebutkan satu per satu.

Tapi di balik semua kecintaan saya akan hal baru dan semakin dalamnya cinta saya akan hal lama, satu hal yang paling saya syukuri dan akan saya jadikan hadiah terindah untuk diri saya sendiri di hari ulang tahun saya adalah: kecintaan saya akan hidup saya dan diri saya sendiri.

Terdengar narsis memang, tapi siapa lagi yang bisa mencintai hidup dan diri saya lebih baik dari saya sendiri?

Jadi, besok-besok, ketika saya kembali menjadi orang yang sinis dan kurang menyenangkan, tolong kembalikan cinta saya pada hal lama atau pertemukan saya dengan cinta baru saya cukup dengan mengingatkan saya untuk berkata ‘ya’.

P.S. Gambar diambil dari getty images

 

 

Day 29: Sebuah Ruang

3 Sep

Kemarin saya mengeluh padanya tentang kota Bandung yang mulai terlalu sesak dan sempit untuk saya. Rasanya setiap penjuru kota Bandung sudah saya datangi, mulai dari factory outlet dan kafe yang jumlahnya bertambah sebulan sekali, hingga tempat-tempat pariwisata yang kurang terawat. Rasanya juga setiap tempat yang saya datangi akan mempertemukan saya dengan orang yang saya kenal, baik itu cuma sekedar saya kenal wajahnya karena saya dan dia sering berada di angkot yang sama, hingga seseorang yang saya kenal dengan baik, bahkan lebih baik daripada saya mengenal diri saya sendiri.

Dia tersenyum mendengar keluhan saya, lalu dia pun bertanya ‘kenapa saya menunda-nunda kepergian saya dari kota Bandung jika memang saya merasa Bandung sudah terlalu sesak dan sempit untuk saya?’.

Saya terdiam. Waktu dia bertanya akan hal itu, saya benar-benar tidak mampu menemukan kombinasi kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Dia pun tersenyum lalu membelai rambut saya.

Hari ini ketika dia sedang tidak berada di sisi saya dan saya memiliki cukup ruang untuk berpikir sendiri, saya menemukan jawabannya.

Bandung memang terlalu sempit dan sesak untuk saya, tapi walau bagaimana pun Bandung tetaplah Bandung, sebuah kota yang saya cintai karena di kota inilah saya menyimpan begitu banyak kisah dan kenangan tentang saya.

Bandung memang terlalu sempit dan sesak untuk saya, tapi setidaknya Bandung masih sangat berbaik hati memberikan saya dan dia sebuah ruang untuk berdua. Sebuah ruang dimana saya dan dia bisa bebas berbicara akan apa pun atau hanya sekedar berbagi tempat untuk menyibukan diri dengan pikiran masing-masing.

Pada akhirnya saya merasa tidak menjadi penting lagi apakah Bandung terlalu sesak atau terlalu sempit, selama saya dan dia masih memiliki ruang itu, sekalipun ruang itu hanyalah seluas mobil yang terjebak di tengah kemacetan.

Jadi jika besok-besok kamu mendengar saya mengeluh soal kota Bandung yang sudah terlalu sesak dan sempit lagi untuk saya, tolong pastikan bahwa kota Bandung masih menyisakan sedikit tempatnya untuk saya dan dia berbagi.

It takes you and me to make everything okay.

P.s. Gambar diperoleh dari gettyimages