Tag Archives: Quotes

Tuhan Bersosialisasi

13 Oct

Kalau kemarin saya membuat sebuah posting yang menggambarkan kejenuhan saya akan kata ‘Insya Allah’, maka kali ini saya ingin menggambarkan kejenuhan saya akan kata ‘demi Allah’.

Demi Allah

Saya ingat pertama kali saya belajar mengerti kata tersebut, bukan dari guru agama saya, melainkan dari ayah saya. Saya ingat ketika saya masih kecil dan orang tua saya berpikir saya masih terlalu kecil untuk mengerti perbincangan orang dewasa, saya selalu mendengar ayah saya mengatakan kalimat tersebut ketika sedang bertengkar dengan ibu saya. Dari ayah saya, saya belajar bahwa ‘demi Allah’ adalah sebuah kata yang diucapkan ketika kamu tidak sedang berkata jujur, tapi kamu ingin membuat lawan bicaramu percaya pada kamu dengan mudah.

Waktu saya mulai sekolah dan belajar agama, saya baru tahu bahwa persepsi saya mengenai ‘demi Allah’ salah total. Berdasarkan apa yang saya dapat dari pelajaran agama (yang hanya saya perdalam semasa saya sekolah saja), saya mengetahui bahwa ‘demi Allah’ adalah kata yang boleh diucapkan hanya ketika kamu berkata jujur.

Makna yang sangat kontras dengan apa yang saya lihat pada situasi sehari-hari bukan?

Ya, persis sekali dengan kata ‘Insya Allah’.

Ngomong-ngomong setelah beberapa waktu yang lalu saya dilanda kejenuhan akan kata ‘Insya Allah’, kali ini saya diserang kejenuhan yang teramat sangat akan kata ‘demi Allah’. Entah kebetulan atau memang sedang trend, tapi saya menemukan banyak sekali orang yang mengatakan ‘demi Allah’ kepada saya.

Semuanya mengatakan ‘demi Allah’ untuk alasan yang sama, agar saya percaya dengan apa yang mereka katakan. Berbeda dengan kata ‘Insya Allah’, reaksi saya menghadapi ‘demi Allah’ adalah diam, sambil berkata dalam hati ‘just wait and see!’.

Berhadapan dengan begitu banyak orang yang membawa-bawa Tuhan dalam aktivitas sosialnya membuat saya bertanya-tanya sendiri apakah sebenarnya saya ini ketampangan seperti orang yang religius dan dapat mempercayai orang yang membawa-bawa nama Tuhan dengan mudah?

Jawabannya adalah tidak dan tidak.

Satu tidak untuk tampang yang membuat orang berpikir saya ini religius dan akan percaya apa pun selama itu mengatasnamakan Tuhan di dalamnya

Dan satu tidak untuk saya yang mudah percaya akan segala sesuatu yang memuat Tuhan di dalamnya.

Maka hari ini, izinkan saya mendeklarasikan sesuatu:

Ketika kamu diminta untuk melakukan sesuatu tapi kamu tidak yakin atau tidak mau melakukannya, maka sebaiknya katakan tidak jangan pernah mengatakan Insya Allah karena selain kamu akan mengecewakan saya (dan mungkin juga lawan bicaramu yang lainnya, kamu juga sudah mempermainkan Tuhan)

Ketika kamu ingin membuat seseorang percaya akan kata-katamu jangan pernah mengatakan Demi Allah karena hal tersebut tidak lantas membuat orang lain percaya, terutama ketika kamu sebenarnya sedang berbohong, mengatakan hal tersebut akan membuat kamu terdengar seperti sedang menyepelekan Tuhan.

Pada akhirnya, saya meminta kamu, dengan hormat, untuk tidak membawa-bawa Tuhan dalam aktivitas sosial yang kamu lakukan dengan saya, karena di mata saya, hal tersebut tidak membuat kamu terlihat seperti seorang yang religius, tapi justru membuat kamu terlihat seperti seorang manusia yang tidak tahu diri karena senang sekali mempermainkan Tuhan.

Pada akhirnya, sesuatu yang membuat saya percaya pada kamu adalah waktu dan itikad baik yang kamu tunjukkan pada saya, bukan karena kamu memuat nama Tuhan dalam setiap kalimat yang kamu ucapkan.

 

Advertisements

Day 24: WORD!

29 Aug

Never wish your life easier, wish your life better.

Jadi mulai sekarang saya harus mengubah pola pikir saya tentang hidup ini. Ketika kesialan terjadi, saya tidak mau lagi berharap hidup saya lebih mudah, tapi saya akan berharap masalah yang saya hadapi adalah sesuatu yang akan menjadikan saya seseorang yang lebih dewasa dan bisa mengubah hidup saya menjadi lebih baik lagi.+

Day 12: Experiencing God

15 Aug

Terkadang kita memang dipaksa untuk menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan agar bisa menghargai sesuatu yang baik yang terjadi pada kita. Namanya experiencing God, jendral!

Dia. Dalam sebuah SMS. Di repost dalam blog ini dalam waktu yang sangat sempit dan koneksi internet yang buruk.

Day 6: Insya Allah

9 Aug

Insya Allah.

Artinya jika Tuhan mengizinkan.

Sewaktu saya masih kecil, seorang guru agama saya mengatakan bahwa ketika kita berjanji akan sesuatu sebaiknya kita mengatakan Insya Allah. Menurut beliau, segala rencana yang kita buat pada akhirnya akan diputuskan oleh Allah apakah akan berjalan atau tidak. Beliau juga berkata, ketika seseorang mengatakan Insya Allah maka janjinya harus dapat dipegang dan kecuali ada sesuatu yang sifatnya benar-benar di luar kuasa-Nya, orang tersebut harus benar-benar memenuhi janjinya.

Tapi seiring dengan pertambahan umur dan kedewasaan saya, saya justru menemukan begitu banyak pengalaman yang mengajari saya mengenai arti Insya Allah yang sesungguhnya.

Meskipun dalam agama dan sejak saya kecil saya selalu diingatkan bahwa seseorang yang mengatakan Insya Allah harus dapat menempati janjinya kecuali ada sesuatu yang benar-benar di luar kuasanya, tetapi saya justru menemukan hal yang kontras dengan apa yang diatur dalam agama yang saya anut dan apa yang diajarkan oleh guru agama saya sejak kecil. Pada kenyataannya, saya justru menemukan orang yang mengatakan Insya Allah justru mengingkari janji mereka.

“Insya Allah gue datang” artinya dia tidak akan datang.

“Insya Allah gue kerjain seperti yang lo minta” artinya dia tidak akan mengerjakan seperti apa yang saya minta.

“Insya Allah kita ketemu sebelum gue pergi” artinya dia tidak akan menemui saya sebelum dia pergi.

“Insya Allah gue hubungi lo” artinya dia tidak akan menghubungi saya.

Pada akhirnya, Insya Allah hanyalah sebuah kata yang bermakna penolakan secara halus. Sebuah kalimat perhalusan dari kalimat “saya tidak bisa menepati janji saya” atau “saya tidak bisa melakukan apa yang kamu harapkan”.

Akhir-akhir ini saya merasa mulai jenuh mendengar kata Insya Allah. Terlalu banyak penolakan secara halus membuat saya merasa sulit menemukan orang yang tegas dan tidak membawa Allah dalam aktivitas sosialisasi. Makanya ketika saya berhadapan dengan seseorang yang berjanji dengan mengatakan Insya Allah, saya memberikan pertanyaan penegas berupa “ya atau tidak?”.

Saya bukannya tidak percaya akan apa yang diajarkan agama saya, akan tetapi saya ingin semua orang yang berjanji dengan saya bersikap lebih tegas dan berhenti membawa-bawa nama Allah ketika dia tidak bisa atau tidak mampu atau bahkan tidak mau menepati janjinya.

Karena sebaiknya seseorang mengatakan ya untuk sebuah ya dan tidak untuk sebuah tidak.

Oh Life!

20 May

Seorang anak membentak orang tuanya karena tidak dibelikan Nintendo Wii, sementara anak yang lain terpaksa harus bekerja menjadi kuli angkut di pasar untuk membayar obat yang diperlukan demi kesembuhan ibunya yang sedang terkapar tak berdaya di gubuknya.

Seorang anak pengusaha bekerja asal-asalan di perusahaan milik keluarganya, sementara seorang fresh graduate yang potensial sibuk mengetuk satu demi satu pintu perusahaan hanya untuk meminta sebuah pekerjaan dengan gaji kurang dari 2 juta.

Seorang ibu-ibu muda arisan di sebuah mall sambil memamerkan tas barunya yang harganya cukup untuk membiayai 3 kali makan sekampung, sementara seorang nenek-nenek tua harus menjadi pemulung hanya untuk mencari makanan yang tidak memenuhi standar kelayakan gizi.

Terakhir, saya menghabiskan begitu banyak waktu saya di sebuah coffee shop tanpa alasan yang jelas, sementara di luaran sana seorang anak terpaksa putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya pendidikan yang harganya sama dengan 3 gelas kopi yang saya minum.

Kejadian tersebut adalah cuplikan kejadian-kejadian yang saya lihat dan saya alami dalam waktu satu bulan terakhir ini. Well, kalau saja saya lebih pintar menggunakan seluruh sense yang ada dalam diri saya, maka saya akan menjadi sedikit lebih peka dan menyadari betapa ironinya dunia di sekitar saya sejak dulu.

Kejadian-kejadian tersebut membuat saya ingin berteriak sekeras mungkin, meneriakkan sebuah kalimat yang saya yakin semua orang menyadarinya “life is not fair!”.

Ya, life is not fair. Orang-orang (termasuk saya) mendapatkan apa yang tidak seharusnya didapatkan. Ada masa dimana saya sangat ingin menutup mata dan telinga saya, menutup diri saya terhadap kenyataan yang terjadi di sekitar saya. Tapi masalahnya adalah saya tidak bisa. Saya hidup di dunia nyata, dimana ketidakadilan dan kesenjangan adalah santapan mata dan telinga saya sehari-hari dan begitu banyak orang yang terpaksa menyerah pada mimpi-mimpinya terdahulu hanya karena terbentur oleh realita.

Pada akhirnya kenyataan tersebut membuat saya berpikir, apakah dunia ini akan menjadi tempat yang jauh lebih baik jika hidup berjalan dengan adil? Apakah akan menjadi sangat menyenangkan dan nyaman jika setiap orang mendapatkan apa yang benar-benar seharusnya mereka dapatkan?

Lucu, karena jawaban tidak justru langsung muncul di pikiran saya begitu pertanyaan tersebut saya ajukan pada diri saya sendiri.

Saya membayangkan situasi dimana setiap orang mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Saya membayangkan setiap orang mendapatkan hal baik karena mereka telah berkelakuan baik dan mendapatkan hal buruk ketika mereka telah berkelakuan buruk. Saya membayangkan rasio kejadian baik dan buruk yang akan menimpa saya sebagai akibat dari tindakan saya. Saya membayangkan diri saya akan menjadi sangat tidak siap ketika hal buruk menimpa saya karena saya baik secara sengaja maupun tidak sengaja telah berbuat buruk. Saya membayangkan tentang semua orang berlomba-lomba berbuat baik untuk mendapatkan imbalan yang serupa, saya membayangkan diri saya meragukan setiap perbuatan baik yang dilakukan orang-orang (dan diri saya sendiri).

Terakhir, saya membayangkan akan menjadi sangat mudahnya hidup ini karena setiap yang kamu peroleh adalah hasil dari perbuatan kamu. Ketika kamu berbuat A, maka kamu akan mendapat A, sementara jika kamu berbuat B, maka kamu akan mendapat B. Hidup akan terasa sangat hitam putih, tidak ada grey area dan sepertiny faktor luck dan teori peluang sama sekali tidak akan berlaku dalam situasi seperti ini.

Pada akhirnya jawaban saya membuat saya berpikir bahwa mungkin hidup memang seharusnya tidak adil. Mungkin hidup memang seharusnya dipenuhi oleh begitu banyak peluang dan pengalaman. Mungkin setiap hal yang kita dapat memang seharusnya tidak selalu hal yang layak kita dapatkan. Mungkin…, argh, siapa saya sih berani-beraninya mengomentari soal ini?!

“Life’s hard. It’s supposed to be. If we didn’t suffer, we’d never learn anything.”

Taken from Jesse on Before Sunset

Relatif Cantik

19 Dec

Ini perasaan saya saja atau di luaran sana juga banyak orang yang berpikiran seperti saya ya?

Saya kok merasa kalimat “Cantik itu relatif” cuma berlaku untuk orang-orang tertentu ya? Orang-orang yang nggak cukup oke untuk masuk kategori cantik tapi nggak hancur-hancur amat untuk masuk kategori jelek. Dengan kata lain kalimat tersebut cuma berlaku untuk mereka yang mukanya biasa-biasa aja, standar.

Weits, bentar… jangan dulu timpuk saya pake sendal sebelum kamu dengar penjelasan saya.

Jadi gini lho, beberapa hari yang lalu saya berkenalan dengan seorang pereu yang cantiknya luar biasa dan sekarang pereu ini sudah resmi jadi saingan kerja saya. Namanya Tamara (bukan nama sebenarnya). Kulitnya putih, rambutnya panjang bergelombang, dan mukanya rada indo padahal sama sekali nggak ada darah bule di dirinya. Singkatnya, si Tamara ini memang punya paras yang mirip banget sama Tamara Bleszinsky, cuma yang ini versi mudanya.

Menurut saya, kalimat “cantik itu relatif” jelas nggak berlaku dalam hidup Tamara, karena yah bok, berdasarkan hasil observasi saya, cantiknya si Tamara itu mutlak. Mau tukang becak, tukang somay, tukang ojeg, sampai om-om pengusaha kelas menengah yang kekayaannya nggak akan habis 7 turunan kecuali mereka lagi apes dan nekad mempertaruhkan hartanya di Las Vegas juga pasti bakalan mengakui si Tamara ini cantik. Dari laki brengsek yang matanya jelalatan sampai pereu yang doyan sesama juga pasti bakalan mengakui kalau dia itu cantik. Malah saya yakin kalau kecantikan Tamara ini ditanya sama orang yang matanya katarak juga, mereka bakalan mengakui kalau Tamara itu cantik. Mau nanya ke rumput yang bergoyang juga bahkan jawabannya bakalan sama, Tamara itu cantik.

Jadi cantik itu relatif jelas cuma berlaku untuk perempuan yang dari segi tampang masuk kategori biasa aja. Nggak usah repot-repot nunjuk orang deh, saya sudah menunjuk diri saya masuk dalam kategori biasa aja.

Masih belum cukup bukti juga?

Mari saya kasih studi kasusnya.

Kasus pertama

Saya: “Eh mau gue kenalin nggak sama temen gue, namanya Tamara. Dia lagi cari pacar lho.”

Mr. X: “Tamara cantik nggak, sen?”

Saya: “Cantik dong ah, mana ada temen gue yang nggak cantik?”

Kasus kedua

Saya: “Eh temen gue, Eneng, lagi cari pacar nih. Lo mau dikenalin nggak?”

Mr. X: “Eneng? Cantik?”

Saya: “Cantik itu kan relatif , jadi ntar lo coba aja nilai sendiri si Eneng itu cantik atau nggak.”

Got the point?

See! Cantik itu sifatnya mutlak karena ketika saya mengatakan cantik itu relatif, maka fakta yang sedang terjadi adalah saya sedang menilai kecantikan seseorang yang berwajah biasa saja, karena fakta yang sebenarnya terjadi adalah, ketika saya yakin akan kecantikan seseorang, saya akan benar-benar mengatakan bahwa dia cantik tanpa ada embel-embel relatif di belakangnya.

Jadi udah deh, please stop mengatakan bahwa cantik itu relatif di depan saya, karena kalimat itu mulai terdengar hipokrit di telinga saya.

Dan ini catatan untuk kalian yang merasa cantik mutlak: tolong perbaiki kualitas dulu karena ketika seseorang berpikir kalau kamu cantik, orang tersebut akan menaruh ekspektasi yang sangat tinggi pada kamu.

Dan untuk kalian yang merasa dirinya cantik relatif: tenang ajaaa…, pada akhirnya hal yang membuat orang lain nyaman adalah isi kepala kamu, bukan apa yang terlihat di luar.

P.S. posting ini dibuat dalam perasaan nggak karuan dan penuh protes tanpa ada niatan menyerang pihak mana pun. Terima kasih

This Day

30 Mar

And I would never forget about this day.. March 30 2009

Hari dimana sebuah quotes dari From The Editor Cosmopolitan edisi April 2009 berhasil membuat hidup gue kembali normal.

“Kalo selama ini tentang saya… saya…, dan saya, kenapa harus ada kamu di dalamnya?”