Tag Archives: Time

Desember

2 Dec

Desember. Saya selalu jatuh cinta pada bulan Desember. Saya selalu jatuh cinta pada segala hal tentang Desember.

Desember, waktunya untuk mereview kembali satu tahun yang telah dilewati. Mengingat-ingat begitu banyak pengalaman yang membuat saya tersenyum, tertawa, atau bahkan menangis. Sejarah adalah satu hal yang membentuk saya menjadi pribadi seperti yang sekarang ini, maka dari itu saya menganggap kegiatan mereview kenangan adalah suatu kegiatan yang penting dan wajib dilakukan di bulan Desember. Mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi dan telah dilewatkan itu penting supaya saya bisa belajar banyak dari pengalaman. Bukankah pengalaman itu adalah guru terbaik dan guru tidak akan menjadi yang terbaik jika saya tidak belajar apa pun dari situ?

Desember adalah saatnya bagi saya untuk mengakui kesalahan yang telah diperbuat, baik sengaja maupun tidak. Mengakui kesalahan itu tidak segampang yang dipikirkan. Perlu keberanian dan jiwa yang sangat besar untuk bisa membuat dirimu benar-benar mengakui kesalahanmu sendiri. Hal yang terpenting dalam sebuah kesalahan adalah mengakuinya, lalu belajar dari kesalahan itu. Setelah kamu bisa mengakui kesalahanmu sendiri dan belajar darinya, maka langkah selanjutnya adalah meminta maaf. Meminta maaf pada mereka yang baik sengaja atau tidak telah kamu sakiti, meminta maaf pada… dirimu sendiri.

Desember adalah saat yang tepat untuk menyusun masa depan. Tahun ini saya memutuskan untuk tidak memasang standar yang terlalu tinggi untuk masa depan saya. Tidak akan ada lagi ekspektasi yang tinggi kan hidup saya di masa mendatang, karena mengutip pernyataannya “terkadang membiarkan segalanya berjalan sesuai arahnya adalah cara terbaik untuk mengetahui apa yang Tuhan takdirkan untuk kamu”, jadi saya tidak mau lagi menekan diri saya terlalu keras. Biarkanlah semuanya berjalan sesuai arahnya. Go with the flow.

Desember adalah waktu dimana kenangan akan masa lalu, realita masa kini, dan harapan masa depan bersatu. Ada begitu banyak perasaan yang selalu menyerang hati saya setiap bulan Desember, mulai dari rasa sedih, kecewa, marah, senang, bahagia, terkejut, dan begitu banyak perasaan lainnya yang akan menjadi terlalu panjang untuk diuraikan satu per satu.

Desember. Maafkan untuk segala kesalahan yang telah saya perbuat. Semoga kamu semua selalu sehat dan berbahagia.

“If you think back and replay your year, if it doesn’t bring you tears either of joy or sadness, consider it wasted.” – Ally McBeal


Peterpan

22 Sep

“There were times I refuse to grow up.”

Menjadi tua dan dituntut untuk bersifat dewasa adalah sesuatu yang terkadang ingin sekali saya hindari. Fakta bahwa seiring berjalannya waktu, bertambahnya umur dan kedewasaan, tapi justru jatah hidup di dunia ini berkurang adalah sesuatu yang sangat tidak saya sukai.

Suatu hari saya bermimpi menjadi seorang Peterpan. Rasanya menyenangkan sekali menjadi seseorang yang tidak pernah menjadi tua, berasa memiliki kemampuan menghentikan waktu. Rasanya menyenangkan sekali karena saya tidak harus mengemban tanggung jawab apa pun, tidak harus menjaga image demi sebuah kedewasaan, dan dapat melakukan apa pun yang saya sukai karena pada akhirnya ketika saya melakukan sebuah kesalahan orang-orang akan memakluminya karena saya masih kecil.

Mimpi menjadi seorang Peterpan begitu indah pada awalnya. Hingga akhirnya, di menit terakhir mimpi indah saya tersebut, seperti sebuah monster, mimpi tersebut berubah menjadi sebuah mimpi buruk.

Memang menyenangkan sekali menjadi muda selamanya, tapi tetap saja tidak akan pernah bisa menandingi kesenangan akan tumbuh dewasa dan menjadi tua bersama orang-orang yang saya cintai.

Mimpi tersebut membuat saya sadar bahwa saya sedang berada di sebuah mimpi buruk karena saya yang muda selalu dipertemukan dengan teman-teman dan keluarga saya yang lalu tumbuh dewasa dan menjadi tua dan sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Pada akhirnya saya menjadi seseorang yang ditinggalkan karena saya adalah satu-satunya orang yang tidak berubah.

Ternyata, meskipun ada masa dimana saya merasa enggan tumbuh, masa dimana saya benci menjadi dewasa karena sebuah keharusan bukan pilihan, masa dimana semua mimpi saya terpaksa sirna karena terbentur oleh realita, masa dimana hidup sepertinya semakin sulit saja untuk dilalui dan masalah tidak pernah usai mendatangi hidup saya; saya masih akan jauh lebih menikmati masa-masa seperti itu ketimbang jika saya menjadi muda selamanya dan tidak pernah tumbuh dewasa dan menjadi tua bersama orang-orang yang saya cintai.

Menjelang usia saya yang ke 23 tahun bulan depan, saya berharap saya tidak akan pernah kehabisan orang-orang yang saya cintai sehingga dalam setiap fase saya tumbuh dewasa dan menjadi tua, saya bisa melewatinya bersama orang-orang yang saya cintai.

 

Day 2: Replay

5 Aug

Malam hari, ketika kaki sudah menjerit karena sepatu hak tinggi yang dipakai seharian, badan yang berdemo minta diistirahatkan setelah beraktivitas, dan pikiran yang terasa mumet karena ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan selama sehari penuh, saya harusnya berbaring di atas kasur dan mencoba untuk memejamkan mata saya.

Tapi semalam berbeda.

Semalam, dalam perjalanan pulang saya di taksi sehabis mengunjungi seorang teman yang berulang tahun, sesuatu menganggu pikiran saya, membuat saya tidak bisa tidur dan resah semalaman. Masih bulan Agustus, artinya saya masih punya 2 bulan lagi sampai akhirnya usia saya bertambah satu tahun, tapi sindrom itu sudah muncul.

Saya menyebutnya sindrom pra ulang tahun dan kalian yang membaca blog saya dari dulu, pasti sudah tahu kalau saya mengalami sindrom ini setiap tahun. Siapa sangka kalau ternyata kali ini sindromnya datang lebih awal?

Malam hari, ketika keinginan untuk bersosialisasi menyentuh titik negatif dan tidak ada satu pun yang bisa saya lakukan, saya biasanya membaca. Pilihan saya semalam adalah membaca beberapa buku dan posting blog saya dari awal, membuat saya kembali membuka kotak memori yang sudah tertutup rapat dalam otak saya.

Beberapa tulisan membuat saya tersenyum sendiri. Beberapanya lagi bahkan membuat saya terpaksa menahan tawa saya agar tidak membangunkan orang-orang rumah yang sudah tertidur. Beberapa tulisan membuat saya kembali merasakan marah. Beberapanya lagi membuat saya ingin menangis.

Semalam, menjelang tidur saya, rasanya ada begitu banyak emosi yang mewarnai perasaan saya. Perasaan dari masa lalu, yang ternyata ketika diingat-ingat masih menimbulkan efek emosi yang sama.

And here comes the thought:

Its funny how I think things not changed at all day by the day, but when I look back, things evolved. I changed a lot. You changed a lot. Things changed a lot. We changed a lot… in to better.

If you think back and replay your year, if it doesn’t bring you tears either of joy or sadness, consider it wasted by Ally McBeal

Tik… Tok…

2 Jan

Ada masa dimana saya sangat ingin menghentikan berjalannya waktu. Masa dimana yang saya inginkan untuk dimiliki selamanya adalah semua yang saya punya hari ini. Refuse to grow up. Menghindari fakta bahwa saya, kamu, dan bahkan bumi menua. Menghindari fakta bahwa dengan bertambahnya waktu setiap detik, umur pun terus bertambah, dan jatah hidup akan semakin berkurang.

Ada masa dimana saya sangat ingin mengembalikan waktu. Kembali pada waktu dimana segala hal menjadi sangat mudah bagi saya. Kembali pada waktu dimana saya bisa memiliki apa yang tidak lagi saya miliki sekarang. Kembali pada waktu ketika saya dihadapkan pada pilihan-pilihan yang memberikan pengaruh dalam hidup saya sekecil apa pun pengaruh itu.

Selalu ada masa dimana saya berharap saya memiliki garansi dalam hidup saya, masa dimana saya selalu memiliki kesempatan kedua dalam setiap hal.

Tapi seiring dengan bertambahnya kedewasaan, saya belajar bahwa hidup hanya berlangsung satu kali. Saya (dan kamu) tidak pernah memiliki garansi mengenai bagaimana hidup akan berjalan di masa kini maupun masa depan. Saya (dan juga kamu) juga tidak selamanya memiliki kesempatan kedua. Dan saya (dan lagi-lagi kamu juga) tentunya tidak akan pernah bisa kembali ke masa mana pun dalam hidup kamu.

Kita memang tidak pernah bisa berkompromi dengan waktu, maka yang bisa kita lakukan hanyalah live life to the fullest. Tertawa sebelum hati kita sakit dan yang bisa kita lakukan hanyalah menangis. Berbagi sebelum kita merasa tidak ada lagi yang bisa dibagi dalam hidup kita. Menjalin hubungan yang baik dengan banyak orang sebelum kita kehilangan kemampuan berkomunikasi kita sehingga setiap hal dan kata yang keluar dari kita hanya akan membuat hubungan kita dengan orang lain menjadi buruk. Membuat seseorang merasa nyaman sebelum akhirnya kita berasa di zona paling tidak nyaman dan membutuhkan seseorang untuk membuat kita merasa senyaman mungkin. Meyakini setiap hal yang memang baik untuk kita sebelum akhirnya kita kehilangan keyakinan kita akan segala hal. Dan… menghabiskan waktu dengan hal-hal yang produktif sebelum kita kehilangan produktivitas dan kehabisan waktu kita.

The most important thing is not what’s up with your life but how you live your life.

Anyway, happy new year girls, guys, and gays! Am so wishing all the best for you, guys!

P.S. I know it’s not such a good post to say happy new year. Suddenly I lost my brain today so… sorry about this. And again, HAPPY NEW YEAR