Tag Archives: feeling

Mungkin

24 Nov

Mungkin suatu saat nanti saya akan menyesali keputusan saya ini

Ketika saya beranjak 30 tahun dan merasa belum melakukan apa pun untuk mewujudkan mimpi saya
Ketika pekerjaan saya perlahan-lahan menyita waktu dan pikiran saya hingga akhirnya saya tidak memiliki kehidupan lain
Ketika perasaan berada di ‘rumah’ telah selamanya hilang dari jiwa saya
Ketika uang tak lagi mampu membeli kebahagiaan sekalipun sifatnya temporer

Atau mungkin saya hanya sedang lelah, baik secara fisik, mental, maupun batin
Mungkin saya hanya belum siap menjalani semuanya, terlalu cepat dan terlalu prematur
Mungkin saya hanya butuh sedikit spasi dan waktu, untuk menenangkan diri dan memikirkan kembali semuanya

Ah, terlalu banyak kemungkinan dalam posisi saya yang abu-abu saat ini
Apa pun itu, saya hanya berharap yang terbaik, semoga kemungkinan yang baik saja yang terjadi pada saya dan semoga saya tidak lagi menjadi korban atas pilihan saya sendiri… Semoga…

Undefined Relationship Part Two

10 Dec

“Lo kenapa nggak pacaran aja sih sama dia, Sen?”

“Penting ya?”

“Iya dong. Biar hubungan lo sama dia jadi lebih pasti dan terarah.”

Saya tersenyum mendengar jawaban teman saya itu. Pertanyaan soal kenapa saya tidak pacaran dengan setiap lelaki yang dekat dengan saya terdengar sangat familiar di telinga saya dan reaksi saya masih sama setiap kali diberikan pertanyaan tersebut: balik bertanya apakah penting untuk saya berpacaran dengan lelaki tak terdefinisi saya.

Menurut teman saya itu (dan teman-teman saya lainnya baik yang saya kenal secara dekat maupun hanya selewat), status ‘pacaran’ penting eksistensinya agar sebuah hubungan lebih pasti dan lebih terarah. Saya… tidak percaya dengan jawaban itu.

Untuk saya, status ‘pacaran’ hanyalah sebuah label yang tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kepastian atau tujuan berlangsungnya sebuah hubungan.

Saya adalah tipikal orang yang sangat percaya bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini, terutama dalam hal berhubungan. Orang yang menikah saja bisa berakhir dengan perceraian, apalagi yang pacaran. Tidak lantas dengan adanya status, hubungan tersebut pasti berakhir bahagia.

Lalu apakah dengan adanya status, maka sebuah hubungan akan lebih terarah dan memiliki tujuan? Saya rasa tidak. Belajar dari pengalaman saya terdahulu, ditambah dengan pengalaman teman-teman saya, banyak hubungan yang berlabel tapi tidak memiliki tujuan. Pacaran hanya untuk senang-senang saja. Pacaran hanya sebagai ajang pamer status kalau mereka tidak jomblo dan sudah laku oleh orang lain. Pacaran tapi dari segi mental masih belum siap, dalam artian masih selalu mencari yang lebih dan ketika menemukan yang lebih dan sama-sama mau, berakhir pada perselingkuhan.

“Jadi lo lebih milih stay di sebuah hubungan yang beresiko sewaktu-waktu laki lo diambil orang lain karena nggak ada status?”

Saya mengangguk. Akan jauh lebih mudah untuk saya ketika saya harus mengakhiri sebuah hubungan karena salah satu pihak yang terlibat, baik saya maupun dia, tertarik dengan orang lain dan memilih orang itu. Lagian, bukankah soal perasaan adalah satu hal yang tidak bisa dikontrol sehingga kemungkinan salah satu pihak tertarik pada orang lain itu akan selalu ada baik dalam hubungan tak terdefinisi seperti yang saya jalani atau hubungan dengan status seperti orang pada umumnya?

Untuk saya, hal terpenting dalam sebuah hubungan bukan terletak pada eksistensi sebuah status, melainkan dari perasaan antara pihak-pihak yang terlibat. Selama saya menjalani hubungan dengan lelaki tak terdefinisi saya ini, saya merasa nyaman, aman, percaya, dan menikmati hubungan kami, dan rasa seperti itu bisa saja tidak saya rasakan lagi ketika sebuah status mengikat kami berdua.

Jadi kalau pihak-pihak yang terkait dalam sebuah hubungan merasa sama-sama sayang dan enjoy kenapa mesti repot-repot dikasih label ‘pacaran’ sih?

Heal A Broken Heart

6 Dec

“Gue patah hati, Sen.”

Status Twitter yang akhir-akhir penuh dengan drama, ajakan ketemuan yang mendadak, rokok yang dihisap tak henti-henti seperti lokomotif, mata yang sembab, hingga muka yang sama kusutnya dengan kain pel sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan kepada saya bahwa teman saya ini sedang patah hati.

Hubungan teman saya dengan pacarnya baru saja berakhir. Masalahnya klise, sangat klise hingga saya rasa tidak perlu dibahas di sini. Persoalan klasik yang akan membuat banyak orang di luaran sana mengangguk sambil berkata “I’ve been there”.

“How do you heal a broken heart, Sen?”

Saya terdiam. Saya pernah patah hati, beberapa kali, jadi saya tahu pasti bagaimana rasanya patah hati.

Saya pernah patah hati, tapi bagaimana cara saya menyembuhkannya?

Waktu saya patah hati, saya mencari kegiatan sebanyak mungkin supaya saya tidak memikirkan lagi soal patah hati saya atau pun orang yang membuat saya patah hati. Saya bersosialisasi dengan begitu banyak orang, menenggelamkan diri saya dengan begitu banyak pekerjaan, hingga mencari kegiatan di luar kebiasaan yang membuat saya pergi pagi pulang malam dalam keadaan lelah. Hasilnya? Well, saya mungkin lupa pada patah hati saya, tapi itu hanya sesaat, pada akhirnya, di waktu kosong saya, saya kembali merasakan patah hati itu.

Mencari kesibukan hanyalah sebuah cara untuk mengalihkan fokus, bukan mengobati patah hati.

“Jadi gimana cara lo mengobati patah hati?”

Saya menghadapinya. Suka atau tidak suka, tidak peduli apakah cara itu akan membuat saya menangis atau setidaknya sekedar berkaca-kaca, cara paling ampuh untuk mengobati patah hati adalah dengan menghadapinya.

Menghadapi patah hati berarti menghadapi rasa sakit yang dirasakan. Semakin sering saya berhadapan dengan rasa sakit saya, saya semakin kuat dan kebal terhadap rasa sakit itu. Semakin sering saya menghadapi rasa sakit saya, semakin tinggi kemampuan saya untuk menerima kenyataan dan berdamai dengan rasa sakit tersebut.

Meskipun menyakitkan, tapi menghadapi rasa sakit akibat patah hati tidak membunuh diri saya, malah membuat saya semakin kuat.

Anything that doesn’t kill you, makes you stronger

Day 13: Takut

17 Aug

Saya yakin setiap orang di dunia ini pasti memiliki rasa takut akan sesuatu. Ketakutan tersebut bisa jadi sesuatu yang nyata seperti takut akan gelap (seperti saya), takut akan serangga, takut akan ketinggian, atau sesuatu yang belum (dan akan) terjadi seperti ketakutan akan kehilangan seseorang.

Akhir-akhir ini saya dilipitu rsa takut yang begitu besar. Saking besarnya, hingga terbawa ke dalam mimpi saya. Saya merasa takut akan kegagalan saya mendapatkan masa depan seperti yang saya inginkan. Takut saya tidak bisa menjadi sosok wanita seperti yang saya inginkan. Takut saya tidak akan pernah menyentuh titik kemapanan identitas, finansial, dan spiritual seperti yang saya inginkan.

Katanya, perasaan takut akan masa depan, sesuatu yang belum terjadi dan belum tentu terjadi, adalah suatu hal yang wajar. Menjadi tidak wajar justru ketika rasa takut itu menghalangi saya berbuat yang terbaik untuk masa depan saya. Rasa takut itu justru seharusnya dijadikan motivasi untuk lebih berkomitmen pada segala hal yang saya lakukan.

Jadi, daripada terlalu memikirkan rasa takut yang menjadi mimpi buruk saya, saya akan mengubah pola pikir saya menjadi bagaimana caranya mengatasi rasa takut saya agar ketakutan saya tersebut tidak benar-benar terjadi dan kalau pun terjadi, setidaknya saya tidak akan terlalu menyesal karena saya sudah berusaha.

Bagaimana dengan kamu? Apa ketakutan terbesar kamu dan bagaimana cara mengatasinya?

Day 7: Anomali Kesepian

10 Aug

Bisakah seseorang merasa begitu kesepian ketika sedang ditemani dan merasa ditemani justru ketika sedang sendirian?

Pertanyaan itu terbersit di kepala saya beberapa bulan yang lalu. Entah apa yang membuat saya pertama kali berpikir seperti itu, tapi yang jelas pertanyaan itu lumayan mengganggu konsentrasi saya. Dalam sebuah perbincangan makan siang dengan seorang teman, saya pun mulai mengangkat topik ini. Menurut teman saya, rasanya tidak mungkin seseorang akan merasa kesepian ketika dia sedang bersama dengan temannya dan justru merasa ditemani ketika sedang sendirian. Ketika saya bertanya kenapa tidak mungkin, teman saya ini menjawab bahwa dari segi logika jelas saja tidak logis.

Pertanyaan selanjutnya yang saya ajukan kepada teman saya adalah kenapa kesepian selalu diasosiasikan dengan sendirian? Bukankah dari segi definisi saja sudah terdpat perbedaan antara kesepian dan sendirian, dimana kesepian adalah keadaan jiwa yang merasa hampa atau kosong, dan tidak mendapatkan kepuasan dalam hubungan sosialnya, sementara sendiri berarti keadaan dimana seseorang sedang tidak bersama siapa pun. Terdapat perbedaan konsep antara sendiri dan kesepian, dimana konsep sendiri adalah kuantitas dan konsep kesepian adalah kualitas.

Teman saya pun menjawab bahwa seseorang akan merasa kesepian jika dia sedang sendiri, jadi dari segi teori, kesepian dan sendiri, meskipun memiliki perbedaan konsep yang begitu jelas, tetap saja tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Mendengar jawaban teman saya tersebut, saya memutuskan untuk diam dan mengakhiri topik pembicaraan mengenai kesepian ini, meskipun ada bagian dari diri saya yang mengelak untuk menyetujui pendapat teman saya itu.

Beberapa hari yang lalu, sebuah pengalaman pribadi menjawab pertanyaan tersebut. Sebuah anomali kesepian, begitu kata Zhe, sahabat saya, terjadi pada saya.

Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu saya menghadiri pesta ulang tahun seorang teman. Pesta kecil-kecilan yang hanya dihadiri oleh teman-teman dekat saja dimana semua undangan saya kenal dengan baik. Dalam keadaan normal, saya akan merasa sangat akrab dengan kumpulan undangan tersebut, tapi sepertinya malam itu ada sesuatu yang salah pada diri saya. Di tengah sekelompok orang yang saya kenal dengan baik saya justru merasa kesepian. Saya memang masih bisa tertawa bersama mereka, berkomunikasi dengan baik bersama mereka, tapi hati kecil saya tetap merasa kesepian. Perasaan saya merasa kosong.

Besoknya, putus asa karena rasa kesepian yang melanda semalam, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu saya sendirian. Me time di sebuah coffee shop yang terletak di sebuah mall yang memang selalu ramai.

Memang tidak banyak yang bisa dilakukan ketika sedang sendirian, tapi justru itulah bagian kesukaan saya, ketika tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan, saya lebih leluasa untuk berpikir mengenai begitu banyak hal secara random.

Saya melihat ke sekeliling saya, mata saya bertemu dengan mata seorang barista yang sebelumnya melayani saya, berhubung saya memang rutin mengunjungi tempat itu dan memesan menu yang sama, tidak heran dia mengenal saya meskipun tidak secara harfiah, barista itu tersenyum pada saya, membuat saya merasa seperti sedang ditemani oleh seorang teman lama. Pemandangan kedua yang saya tangkap adalah sepasang kekasih yang berjalan melewati coffee shop tempat saya berada, mereka bergandengan dan mengobrol, sesekali obrolan mereka diselipi tawa, meskipun hanya sekilas, tapi melihat pasangan kekasih tersebut membuat saya merasa nyaman. Pemandangan saya selanjutnya adalah 4 orang wanita berpakaian kerja yang duduk tak jauh dari tempat saya duduk. Mereka terlihat akrab dengan obrolan yang tidak bisa saya dengar dari tempat saya duduk, melihat pemandangan tersebut membuat hati saya menghangat.

Lalu perasaan itu pun muncul. Di tengah kesendirian saya sore itu, saya justru merasa seperti sedang berada di tempat yang sangat familiar ditemani oleh sekelompok teman akrab yang membuat keadaan seburuk apa pun terlihat seperti baik-baik saja. Saya merasa seperti sedang berada di… rumah, tempat dimana saya selalu merasa nyaman, a place where my heart belong to.

Sore itu, pertanyaan saya beberapa bulan terjawab dengan memuaskan karena saya dipaksa untuk mengalaminya sendiri. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa bahkan orang terdekat pun bisa membuat saya kesepian, dan sebaliknya, justru seseorang yang benar-benar asing bisa membuat kita merasa ditemani.

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu pernah mengalami sebuah anomali kesepian? Tell me, plase!

P.S. Gambar diperoleh dari gettyimages