Tentang Kesendirian

9 Jan

  “Kenapa sih suka banget menyendiri di coffee shop?”

  Pertanyaan seorang teman melalui Whatsapp membuat saya tersenyum. Sore itu saya menolak ajakan bertemunya dengan alasan saya sedang menikmati me time saya di salah satu kedai kopi lokal favorite saya di Bandung.

Pertanyaan seperti apa yang teman saya tanyakan sore itu bukanlah pertama kali saya dengar. Tidak sedikit dari orang yang saya kenal, pernah mempertanyakan pertanyaan sejenis, tentunya dengan pilihan kata yang berbeda.

Jadi apa yang membuat saya senang menyendiri di sebuah kedai kopi?

Saya sangat suka kopi… lebih dari itu, saya jatuh cinta pada kedai kopi. Saya lupa kapan tepatnya pertama kali saya mulai menyukai kopi. Ibu saya seorang peminum kopi. Beliau rutin membuat secangkir kopi hitam panas setiap sore, dan setiap sore adalah waktu kesukaan saya di rumah karena saya selalu suka dengan aroma kopi panas yang beliau seduh, tapi apa saya berminat mencicipi kopi tersebut? Tidak. Saya menyukai aroma kopi panas, tapi saya tidak pernah tertarik mencicipi rasanya, sebab yang saya tahu pada waktu itu adalah semua kopi memiliki rasa yang sama, pahit.

Tapi saya ingat kapan pertama kalinya saya jatuh cinta pada kedai kopi…

Sore itu, saat saya sedang menikmati ritual jalan sore saya, hujan deras tiba-tiba saja turun, membuat saya terpaksa memasuki sebuah kedai kopi yang tak jauh dari tempat saya berjalan saat itu. Dan di situlah saya pertama kali jatuh cinta pada kedai kopi…

Saya jatuh cinta dengan aroma kopi yang menyambut saya begitu saya memasuki area kedai kopi tersebut, barista yang menyapa saya dengan ramah sambil membuat kopi pesanan customer lainnya,  kursi kayu atau sofa yang menghiasi kedai kopi,  deretan cangkir kopi dengan beragam ukuran yang menghiasi meja bar, lagu-lagu yang dimainkan, pemandangan yang saya lihat di kedai kopi: obrolan-obrolan hangat di meja sebelah, pengunjung yang menikmati me time sambil membaca buku atau bekerja, hingga suara tawa dari sekelompok pengunjung lainnya.

Singkatnya, segala yang ada di kedai kopi membuat saya jatuh cinta.

“Sendirian banget?”

Tidak banyak orang yang tahu kalau saya sebenarnya introvert, dan untuk seseorang yang introvert, bertemu dengan orang lain cukup menguras energi saya. Tuntutan pekerjaan yang membuat saya menghabiskan sebagian besar waktu saya di kantor bersama dengan rekan-rekan kerja, ditambah tuntutan untuk menjadi anggota keluarga yang baik dengan menghabiskan sebagian dari waktu di akhir pekan saya untuk bersama mereka, membuat waktu menyendiri saya menjadi sangat mewah.

Setiap kali saya menyendiri, saya merasa energi saya kembali penuh. Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi setiap kali saya menghabiskan waktu saya sendirian, saya merasa lebih siap menghadapi tantangan apapun dalam hidup saya, mulai dari hal kecil seperti berbasa-basi dengan rekan kerja yang menyebalkan hingga hal besar seperti menyelesaikan proyek besar dalam waktu sehari.

Just because I’m alone, doesn’t mean I feel lonely.

Saya tidak pernah merasa kesepian setiap kali saya menghabiskan waktu saya tanpa ditemani siapa pun, yang ada malah saya merasa lebih “berisi”. Dari kesendirian saya, saya belajar untuk berkomunikasi dengan diri saya sendiri. Saya menjadi lebih mengerti akan apa yang saya inginkan dalam hidup saya, apa yang saya rasakan, dan apa yang harus saya lakukan agar lebih fokus dalam hidup saya.

Menghabiskan waktu bersama orang lain memang perlu untuk melatih sensitivitas saya terhadap lingkungan sekitar dan cara saya bersosialisasi, tapi untuk saya, bersosialisasi dengan diri saya sendiri juga tak kalah penting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: