Tag Archives: Tragic

Ini Soal Aktualisasi Diri

4 Jan

“Arrghh… I hate it when he did that!”

Seruan mendadak dari seorang teman spontan membuat saya menoleh padanya. Matanya sibuk memandangi sebuah jam di tangan kirinya. Saya mengenal jam tersebut. Beberapa bulan yang lalu, ketika sedang berjalan-jalan di sebuah mall, teman saya ini melihat jam tersebut dan langsung merasa jatuh cinta, sayangnya sebagai masyarakat yang hidup di dunia bagian realita, untuk mampu membeli jam tangan tersebut, teman saya perlu menabung dan sebagai manusia yang hidup di kota besar dan kapitalis sejati, menabung tentu saja tidak akan pernah menjadi satu hal yang mudah mengingat dengan menabung berarti jatah hang out di kafe mahal perlu dikurangi.

Mengetahui usaha mati-matiannya (*berlebihan) untuk memperoleh jam tangan tersebut, saya tentu saja merasa heran kenapa bisa teman saya ini tidak terlihat senang dan malah cemberut ketika jam tersebut akhirnya berada di tangannya.

Antara memiliki kemampuan membaca pikiran atau memang ekspresi saya yang terlalu gampang ditebak, teman saya pun mulai mencurahkan kekesalannya karena pacarnya yang dari segi sosial ekonomi berada di atasnya membelikan jam tangan impiannya tersebut. Menurut teman saya, pacarnya tersebut sudah lancang dan kurang ajar karena dengan mudahnya dan tanpa permisi dulu yang bersangkutan membeli mimpi teman saya tersebut.

“Loh bukannya lo harusnya seneng karena akhirnya lo bisa dapat jam tangan itu? Secara kalo lo nabung sendiri gue rasa baru akhir tahun ini kali lo beli tuh jam, keburu nggak musim.”

“Iya sih! Tapi bukan itu masalahnya, Sen. Masalahnya adalah selama proses gue mendapatkan jam tangan tersebut, gue mulai sadar kalo itu bukan sekedar jam tangan, itu adalah mimpi dan cita-cita yang harus gue raih. Tujuan gue akhirnya berubah, bukan lagi untuk beli jam itu tapi untuk belajar konsistensi dan tegas sama diri gue sendiri, supaya pada akhirnya gue bisa mendapatkan apa yang gue mau. Gue juga pengen banget ketika gue ngelihat jam tangan itu, yang gue lihat bukan cuma waktu tapi betapa hebatnya diri gue karena akhirnya bisa memperoleh apa yang gue mau dengan usaha gue sendiri, bukannya malah ngelihat laki gue yang hidupnya serba enak dan bisa membeli mimpi gue dengan gampang tanpa harus usaha mati-matian kayak gue. Apa yang gue lihat di jam tangan ini sekarang bukannya bikin gue bangga, tapi malah bikin gue sakit hati.”

Saya tertohok mendengar pernyataan teman saya tersebut. Kalimat tersebut mengingatkan saya akan reaksi Samantha ketika Smith memberikannya cincin berlian yang menjadi incarannya dalam sebuah acara lelang, reaksi yang hampir sama dengan reaksi teman saya ini.

Pembicaraan tersebut membuat saya berpikir bahwa kita tidak akan pernah bisa menilai sebuah barang hanya berdasarkan label yang tertera atau nominalnya.

Pada akhirnya, sebuah barang mencerminkan pemakainya.

Sebuah barang bisa menjadi cerminan mengenai status sosial dan ekonomi pemakainya. Tas Hermes misalnya, mencerminkan mengenai status sosial dan ekonomi minimal A bagi pemakainya, sebab tanpa harus melihat nominalnya pun, saya rasa masyarakat dengan kelas sosial dan ekonomi menengah (apalagi bawah) akan merasa minder memasuki outletnya yang mewah dan dijaga oleh satpam yang akan memandang sebelah mata orang yang memasuki outlet tersebut dengan pakaian tidak gaya yang akan mengundang komentar negatif dari para police fashion.

Sebuah barang juga bisa mencerminkan mengenai karakteristik pemakainya. Saya kurang ahli dalam hal ini, tapi setidaknya saya bisa melihat apakah seorang perempuan masuk dalam kategori feminin atau boyish dari apa yang dikenakannya. Atau apakah seseorang pintar menjaga kebersihan atau dekil dari seberapa bersih barang-barang yang dikenakannya.

Sebuah barang bisa bercerita banyak. Selalu ada cerita yang tersimpan di balik sebuah barang, cerita yang akan mengingatkan pemakainya akan sesuatu, lalu membaginya kepada teman-temannya atau hanya mengundang sebuah emosi muncul di permukaan pemiliknya ketika secara tak sengaja kenangan akan barang tersebut muncul.

Maka dari itu, ketika teman saya mengekspresikan kekecewaannya, saya lantas bisa mengerti reaksinya tersebut. Barang tersebut diharapkan teman saya dapat mengekspresikan dirinya. Jam tangan itu seharusnya dapat menyimpan cerita mengagumkan akan perjuangan teman saya, seorang wanita muda perkotaan yang boros dan sangat kapitalis tapi harus rela mengurangi jatah hang out dan belanjanya demi mendapatkan jam tangan tersebut. Apa yang dikenakan teman saya pada tangan kirinya seharusnya dapat mengingatkan dua hal pada teman saya ketika meliriknya: waktu dan perjuangan. Dan tentu saja, hal-hal tersebut tidak akan pernah terjadi karena jam tersebut diperoleh dari hasil pemberian.

Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Teman saya ini tentu saja tidak akan bisa menolak pemberian pacarnya, kecuali jika teman saya ini berniat mencari masalah dan mengakhiri hubungannya itu.

Setidaknya pengalaman tersebut memberikan saya dan teman saya pelajaran bahwa ketika menginginkan sesuatu untuk diri sendiri, alangkah lebih baik kalau hal tersebut dipendam rapat-rapat agar kejadian serupa tidak akan terjadi lagi.

Dan sedikit nasehat untuk para lelaki di luaran sana, ketika pacarmu menginginkan sesuatu, jangan ambil keputusan seenaknya untuk membelikan barang tersebut, cari tahu dulu apakah pasanganmu itu ingin kamu membelikannya atau ingin dia membelinya sendiri.

P.S. Gambar diperoleh dari http://gettyimages.com

Day 5: Stupid Indonesian, A Stereotype

8 Aug

“Ah Senny, you are too smart for Indonesian.”

Kalimat tersebut diucapkan oleh seorang teman bule say. Meskipun kalimat tersebut ditujukan sebagai sebuah pujian, tapi saya sama sekali tidak merasa dipuji. Sebaliknya, saya sebagai orang Indonesia asli justru merasa sedang dilecehkan.

Koreksi saya kalau saya salah, tapi kalimat yang menyatakan bahwa saya terlalu pintar untuk seorang berkebangsaan Indonesia memberikan kesan bahwa orang Indonesia itu bodoh. Apalagi mengingat kalimat ‘too smart for Indonesian’ tersebut ditujukan kepada saya yang dari segi prestasi biasa-biasa saja.

Berbekal kepercayaan pada pepatah ‘tidak ada asap jika tidak ada api’ dan tidak mau mudah terbakar emosi, saya pun mencoba mengkonfirmasikan kalimat itu kepada si bule. Yah siapa tahu saya yang sedang kelewat sensitif jadi menganggap kalimat yang bermaksud positif menjadi sebuah kalimat negatif. Tapi alangkah terkejutnya saya ketika si bule berkata bahwa selama ini stereotype yang berkembang di negaranya adalah Indonesia negara tertinggal dengan bangsa yang bodoh.

Menurut si bule, selama ini jika dia melihat tayangan di media, berita di Indonesia hanyalah tentang terorisme, kerusuhan, kemiskinan, bencana alam, masyarakat primitif, dan seterusnya, dan seterusnya.

Meskipun saya akui Indonesia, negara dimana saya lahir dan dibesarkan adalah sebuah negara yang rusuh dan terlalu banyak chaos di dalamnya, tetapi tentu saja saya merasa tersinggung dengan stereotype tersebut. Sebenci apa pun saya terhadap Indonesia, tetap saja negara ini yang akan saya bela sampai mati (berlebihan).

Lalu saya pun mulai menjelaskan kepada si bule yang belum pernah menyentuh Indonesia dan selama ini hanya mengenal Indonesia dari media mengenai keadaan Indonesia yang sebenarnya. Dimana meskipun Indonesia adalah sebuah negara yang berkembang, akan tetapi Indonesia menempati urutan ketiga pembeli berlian terbesar seluruh dunia. Bahwa meskipun banyak aksi anarkis dan terorisme berkembang di Indonesia, tapi kami terbiasa hidup bertetangga dengan suku yang berbeda-beda. Bahwa meskipun apa yang ditayangkan di media di negaranya memberi kesan bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk yang bodoh, akan tetapi kami tidak pernah absen meraih gelar juara olimpiade-olimpiade bertaraf internasional.

Anyway, obrolan saya dengan si bule pun membawa saya pada sebuah pemikiran mengenai stereotype terhadap golongan-golongan tertentu. Selama ini kita terlalu banyak mendengar dari orang lain dan terlalu percaya pada media tanpa melihat situasi dan kondisi yang sebenarnya sehingga seringnya stereotype yang tertanam di pikiran kita adalah stereotype yang salah. Nggak usah deh jauh-jauh menyalahkan si bule yang memang dari negara lain yang jaraknya jauh sekali dengan Indonesia, saya sendiri merasa selama ini saya sudah menanamkan stereotype yang salah mengenai warga Indonesia itu sendiri, seperti misalnya si suku A stereotype-nya adalah pelit, suku B itu kasar, suku C itu lembek, dan sebagainya dan sebagainya.

Pembicaraan saya dengan bule tersebut menyadarkan saya bahwa lain kali, sebelum saya menggeneralisasi golongan tertentu, sebaiknya saya terjun ke lapangan lebih dahulu, supaya saya tidak terdengar seperti seorang yang bodoh, douchey, atau sok tahu dan bisa lebih bijak lagi menilai.

Posting ini akan saya tutup dengan sebuah pertanyaan: selama ini saya melihat di media tentang negara-negara di Benua Afrika yang sebagian besar hidup primitif, tertinggal, miskin, dan lapar (yah, tepat seperti stereotype yang tertanam di kepala si bule mengenai Indonesia), pada kenyataannya apakah benar demikian? Anyone tell me, please!

Korban Kemaluan

8 Jun

Salah satu alasan yang membuat saya mengurangi intensitas menonton televisi adalah karena tontonan yang saya lihat sangat depresif. Bayangkan saja, dari pagi begitu saya membuka mata dan melihat berita, yang saya lihat berita seputar orang yang bunuh diri karena tidak mampu membeli handphone, orang yang membunuh saudaranya sendiri karena tidak dipinjami uang yang jumlahnya hanya ratusan ribu, perang, korupsi, video porno artis, hingga pelecehan seksual. Kalau sudah waktunya prime time, tetap saja tayangan sinetron isinya depresif karena menggambarkan soal ibu-ibu tajir gila harta atau orang jahat hingga season sekian yang tidak juga ditangkap polisi atau mendapat azab dari Tuhan atau setidaknya, tobat dengan sendirinya.

Sigh! Mengingat acara televisi saya jadi merasa tertekan.

Anyway, ada satu hal yang menarik perhatian saya hari ini. Jadi ceritanya kakak sepatu merah (yang sepatunya nggak selalu merah itu) membuat posting di tweet soal korban pelecehan seksual di Trans Jakarta yang menunduk ketika diwawancarai. Karena penasaran, saya pun akhirnya menyalakan televisi saya, mencari berita soal yang bersangkutan dan… yup, sang korban terlihat menunduk ketika dimintai keterangan.

Kenapa dia menunduk? Tentu saja karena dia merasa malu. Tapi pertanyaan besarnya adalah: apa sih sebenarnya yang membuat sang korban merasa malu?

Pikiran saya pun menganalisa apa yang sebenarnya membuat sang korban merasa malu dan jawaban pertama yang muncul di kepala saya adalah karena di Indonesia ini (atau mungkin di belahan bumi lainnya juga), masyarakat cenderung turut menyalahkan sang korban karena telah menjadi korban pelecehan seksual.

Masih ingat kasus seorang artis dangdut yang payudaranya dicolek ketika sedang diwawancarai? Sewaktu kasus itu terjadi, saya melihat banyak sekali pihak yang justru menyalahkan si pedangdut karena berpakaian terlalu seksi, atau gayanya yang terlalu menggoda, atau bahasa tubuhnya yang memang ‘mengundang’ atau blablabla yadaa yadaa.

Pertanyaannya adalah: memangnya selalu wanita yang berpakaian minim dengan gaya yang menggoda dan bahasa tubuh yang mengundang saja yang menjadi korban pelecehan seksual? TIDAK saudara-saudara. Tidak semua korban pelecehan seksual seperti yang ada di gambaran masyarakat umum. Saya jadi ingat cerita soal teman saya yang sangat religius dan berkerudung dengan baju yang serba gombrang dan tetap menjadi korban pelecehan seksual di bajaj. Atau seorang teman yang sangat tomboy dan berpenampilan seperti lelaki yang menjadi korban pelecehan seksual di angkot. Atau bahkan saya sendiri yang waktu itu pulang olahraga dengan muka kucel, jaket yang sama sekali tidak ketat dan diresleting hingga leher, serta celana jeans panjang yang sempat ‘ditawar’ oleh om-om di sebuah kafe.

Jadi kesimpulannya adalah, sang objek pelecehan seksual sama sekali tidak bersalah. Satu-satunya yang bersalah dalam kasus pelecehan seksual adalah sang pelaku karena otak mesumnya sampai-sampai tidak mampu mengendalikan napsu yang tidak pada tempatnya itu.

Jadi seharusnya, masyarakat tidak ikut menyalahkan (apalagi menghakimi) korban pelecehan seksual. Jelas-jelas dia yang jadi korban, tapi malah dia lagi yang disalahkan. Nggak heran korban pelecehan seksual sering merasa malu karena telah menjadi korban. Nggak heran juga banyak sekali kasus pelecehan seksual di luaran sana yang tidak pernah dilaporkan karena korban takut dengan anggapan masyarakat sekitar. Nggak heran juga para pelaku pelecehan seksual bisa berkeliaran dengan bebas dan menjamah tubuh perempuan mana pun yang kebetulan duduk di sebelahnya di angkutan umum.

Belum lagi dengan kecenderungan masyarakat yang melindungi sang pelaku pelecehan seksual. Ketika seseorang menggoda perempuan yang sedang jalan di depan orang tersebut dan sang perempuan merasa terganggu, orang-orang yang mendengarnya justru memakluminya. Atau ketika seseorang mengadukan kasus pelecehan seksualnya ke polisi, sang pelaku malah dibebaskan dengan alasan nggak cukup bukti (in my defense, perlu bukti seperti apa seeeehhhh??). Atau di televisi pelaku pelecehan seksual mukanya dibuat blur supaya penonton tidak bisa mengenalinya, padahal menurut saya sangat penting untuk mengenali korban untuk mengantisipasi kejadian yang sama terjadi pada orang lain sekaligus juga menghukum sang pelaku dengan rasa malu.

Tapi ah ya, mau gimana juga masyarakat tetap saja seperti apa yang saya gambarkan tadi. Sulit rasanya untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk menjadikan sang subjek sebagai satu-satunya pembuat kesalahan dalam kasus pelecehan seksual.

P.S. Gambar diambil dari sini

Oh Life!

20 May

Seorang anak membentak orang tuanya karena tidak dibelikan Nintendo Wii, sementara anak yang lain terpaksa harus bekerja menjadi kuli angkut di pasar untuk membayar obat yang diperlukan demi kesembuhan ibunya yang sedang terkapar tak berdaya di gubuknya.

Seorang anak pengusaha bekerja asal-asalan di perusahaan milik keluarganya, sementara seorang fresh graduate yang potensial sibuk mengetuk satu demi satu pintu perusahaan hanya untuk meminta sebuah pekerjaan dengan gaji kurang dari 2 juta.

Seorang ibu-ibu muda arisan di sebuah mall sambil memamerkan tas barunya yang harganya cukup untuk membiayai 3 kali makan sekampung, sementara seorang nenek-nenek tua harus menjadi pemulung hanya untuk mencari makanan yang tidak memenuhi standar kelayakan gizi.

Terakhir, saya menghabiskan begitu banyak waktu saya di sebuah coffee shop tanpa alasan yang jelas, sementara di luaran sana seorang anak terpaksa putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya pendidikan yang harganya sama dengan 3 gelas kopi yang saya minum.

Kejadian tersebut adalah cuplikan kejadian-kejadian yang saya lihat dan saya alami dalam waktu satu bulan terakhir ini. Well, kalau saja saya lebih pintar menggunakan seluruh sense yang ada dalam diri saya, maka saya akan menjadi sedikit lebih peka dan menyadari betapa ironinya dunia di sekitar saya sejak dulu.

Kejadian-kejadian tersebut membuat saya ingin berteriak sekeras mungkin, meneriakkan sebuah kalimat yang saya yakin semua orang menyadarinya “life is not fair!”.

Ya, life is not fair. Orang-orang (termasuk saya) mendapatkan apa yang tidak seharusnya didapatkan. Ada masa dimana saya sangat ingin menutup mata dan telinga saya, menutup diri saya terhadap kenyataan yang terjadi di sekitar saya. Tapi masalahnya adalah saya tidak bisa. Saya hidup di dunia nyata, dimana ketidakadilan dan kesenjangan adalah santapan mata dan telinga saya sehari-hari dan begitu banyak orang yang terpaksa menyerah pada mimpi-mimpinya terdahulu hanya karena terbentur oleh realita.

Pada akhirnya kenyataan tersebut membuat saya berpikir, apakah dunia ini akan menjadi tempat yang jauh lebih baik jika hidup berjalan dengan adil? Apakah akan menjadi sangat menyenangkan dan nyaman jika setiap orang mendapatkan apa yang benar-benar seharusnya mereka dapatkan?

Lucu, karena jawaban tidak justru langsung muncul di pikiran saya begitu pertanyaan tersebut saya ajukan pada diri saya sendiri.

Saya membayangkan situasi dimana setiap orang mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Saya membayangkan setiap orang mendapatkan hal baik karena mereka telah berkelakuan baik dan mendapatkan hal buruk ketika mereka telah berkelakuan buruk. Saya membayangkan rasio kejadian baik dan buruk yang akan menimpa saya sebagai akibat dari tindakan saya. Saya membayangkan diri saya akan menjadi sangat tidak siap ketika hal buruk menimpa saya karena saya baik secara sengaja maupun tidak sengaja telah berbuat buruk. Saya membayangkan tentang semua orang berlomba-lomba berbuat baik untuk mendapatkan imbalan yang serupa, saya membayangkan diri saya meragukan setiap perbuatan baik yang dilakukan orang-orang (dan diri saya sendiri).

Terakhir, saya membayangkan akan menjadi sangat mudahnya hidup ini karena setiap yang kamu peroleh adalah hasil dari perbuatan kamu. Ketika kamu berbuat A, maka kamu akan mendapat A, sementara jika kamu berbuat B, maka kamu akan mendapat B. Hidup akan terasa sangat hitam putih, tidak ada grey area dan sepertiny faktor luck dan teori peluang sama sekali tidak akan berlaku dalam situasi seperti ini.

Pada akhirnya jawaban saya membuat saya berpikir bahwa mungkin hidup memang seharusnya tidak adil. Mungkin hidup memang seharusnya dipenuhi oleh begitu banyak peluang dan pengalaman. Mungkin setiap hal yang kita dapat memang seharusnya tidak selalu hal yang layak kita dapatkan. Mungkin…, argh, siapa saya sih berani-beraninya mengomentari soal ini?!

“Life’s hard. It’s supposed to be. If we didn’t suffer, we’d never learn anything.”

Taken from Jesse on Before Sunset

Are You A Homophobic Or Something?

18 Jan

Baru saja saya mengobrol dengan seseorang yang mengira saya ini lesbi. Meskipun pada akhirnya dia berkata kalau dia sedang bercanda, tapi saya tahu pasti kalau dia serius ingin memastikan orientasi seksual saya.

Lantas apa perlu saya membuat sebuah klarifikasi?

Umm…, sebenarnya tidak juga sih. Toh tidak peduli seberapa keras saya membantah gosip-gosip murahan itu dan menyatakan secara terang-terangan tentang orientasi seksual saya, mereka tidak akan pernah mendengar saya. Bukankah mereka, orang-orang yang senang bergosip mengenai hal-hal yang murahan itu, hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar?

Tapi kali ini saya benar-benar merasa perlu menuliskan ini di blog saya. Ya… ya…, saya EMOSI!

Jadi gosip kalau saya lesbi ini bukan pertama kalinya saya dengar. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya dalam masa cuti kuliah saya, saya pernah mendengar gosip sejenis. Ironi sekali mengingat gosip murahan ini beredar di tempat dimana saya sangat jarang bersosialisasi bernama: kampus, sebuah institusi yang harusnya berisi orang berpendidikan.

Dengan pemikiran positif bahwa tidak ada asap kalau tidak ada api, saya pun mencoba untuk menyelidiki kenapa akhirnya banyak sekali mereka yang bahkan tidak kenal saya bergosip seperti itu hingga akhirnya gosip tersebut membuat banyak orang percaya dan membuat saya merasa nama baik saya tercemar.

Iya, saya merasa mereka telah mencemarkan nama baik saya dan kalau saja saya punya bukti otentik mengenai siapa yang pertama kali menyebarkan gosip murahan tersebut, saya pasti sudah menghubungi pengacara dan melaporkan orang terkutuk itu ke pengadilan atas dasar pencemaran nama baik. Berlebihan? I don’t think so. Bukannya saya sebagai warga negara Indonesia yang baik memiliki hak untuk melaporkan setiap tingkah laku orang lain yang terasa mengganggu kehidupan saya?

Oke, balik ke topik awal! Beberapa orang memang sempat mengatakan secara langsung bahwa kemungkinan terbesar penampilan fisik saya membuat saya terlihat lesbi. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena gen cara berjalan ayah saya yang tidak ‘rapet’ atau anggun seperti para model di catwalk menurun ke saya. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena saya lebih merasa nyaman menggunakan T-shirt, celana jeans, dan sneaker. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena saya ini tipikal manusia wash up and go, bukan seperti wanita kebanyakan yang senang berlama-lama di depan kaca untuk berdandan. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena saya lebih  nyaman dengan rambut pendek saya ketimbang memanjangkan rambut saya.

Lantas apakah itu berarti saya harus mengubah penampilan fisik saya? Harus mulai memanjangkan rambut saya (seperti yang sedang saya lakukan sekarang), memakai rok (yang juga sudah mulai saya lakukan), berdandan (juga mulai saya lakukan), dan memakai sepatu high heels (yes, saya juga sudah mulai melakukannya).

Ah, tapi betapa dangkalnya saya kalau saya harus mendengar pendapat mereka hingga akhirnya saya mengubah penampilan saya hanya untuk menjauhi diri dari gosip mengenai orientasi seksual saya.

Jadi saya memutuskan untuk menutup telinga saya pada mereka, para penggosip sialan yang sangat dangkal dengan menilai orientasi seksual seseorang berdasarkan penampilan fisiknya.

Situ pikir semua perempuan yang memakai t-shirt, sneaker, berambut pendek, dan tidak dandan adalah lesbian? Hello… open your eyes, then! Saya mengenal seorang lesbian yang berambut panjang, suka dandan, pergi selalu mengenakan sepatu hak, dan sangat wanita. So you’re wrong!

Iya saya tahu kalau setiap orang memiliki kecenderungan untuk do judge a book by its cover, tapi untuk saya tidak fair saja kalau ada seseorang yang menilai orientasi seseorang berdasarkan tampilan luarnya saja.

Dan lagian nih ya… kalau misalnya, ini cuma kalau lho ya, kalau misalnya saya beneran lesbi memangnya apa urusannya sama orang lain? Urus diri sendiri saja belum benar mau sok-sokan ngurusin orang lain!

Last note: sebenarnya saya nggak suka merasa diri saya lebih superior dibandingkan yang lain, tapi sekarang saya bisa mengerti kenapa saya tidak pernah benar-benar merasa cocok dengan mereka: karena meskipun dari segi ekonomi saya di bawah mereka, tapi setidaknya dari kelas sosial saya lebih tinggi, setidaknya saya tidak kampungan seperti mereka yang menilai orientasi seksual berdasarkan penampilan luarnya dan hanya berani ngomong di belakang saja!

P.S. maaf untuk curhat yang sangat impulsif ini, blogger!

Kisah Tragis Seorang Teman

9 Jun

Gue mau cerita sebuah kisah tragis seorang teman… Dikatakan tragis karena ceritanya memang benar-benar tragis… Sebuah kisah tragis yang mau gue posting dari zaman kapan tahu tapi selalu aja lupa….

Jadi… sebut saja Dodol, teman saya yang sangat unik (dengan catatan unik sama aneh nggak ada bedanya). Sangat mencintai warna ungu. Groupies nomor satu Ariel Peterpan yang sering hampir nangis tiap kali dia mendengar orang menghina Ariel.

Nah… suatu hari si Dodol naik angkot. Didalam angkot udah ada seorang bapak-bapak yang lagi ngerokok DjiSam Soe sangat menganggu udara bebas terbatas di angkot. Terus… nggak lama ada banci naik angkot itu. Sekarang perasaan si Dodol mulai nggak enak, nggak tau karena asap rokok si bapak atau karena banci atau karena si Dodol liat bayangannya sendiri di kaca huehe…

Terus… waktu sang banci turun dan lagi-lagi menyisakan Dodol dan sang bapak. Lalu… si bapak sambil terkekeh-kekeh melihat si Dodol dan berkata:

“Neng, cantikan banci itu daripada eneng!”