Tag Archives: Thought

Random Thought On Working Hour

27 Nov

Two days ago I decided to left a note on tissue at one of my favorite coffee shop saying:

“After about 10 – 15 visits to this Sbucks, 5 missing drinks (which I never complained about those), I finally have my perfect extra dry cappuccino and raspberry americano on the rock today. Thanks :)”

Yesterday, when I came to that coffee shop again, all baristas there suddenly know my name.

I never thought they read my notes and (even better) put the tissue on their locker. It makes my week.

Now, Starbucks Grand Indonesia become my number one favorite Starbucks.

Kamu dan Jakarta

20 Jun

GambarI love Jakarta as much as I hate Jakarta.

Dan saya mengibaratkan kamu adalah Jakarta.

Saya membenci Jakarta. Jalanan yang tidak bersahabat, banjir setiap kali hujan, kriminalitas dimana-mana, hingga manusia-manusia judgmental yang lebih mempermasalahkan barang-barang palsu ketimbang kepribadian yang palsu.

Saya membenci Jakarta karena ketidakmampuannya memberikan keamanan bagi saya.

Saya membenci Jakarta sama seperti saya membenci kamu.

Tapi di sisi lain saya mencintai Jakarta.

Saya mencintai waktu terbuang sia-sia di tengah kemacetan Jakarta yang pada akhirnya membuat saya menghabiskan waktu berkualitas dengan diri saya.

Saya mencintai Jakarta sebab di tengah ketidakmampuannya memberikan rasa aman bagi saya, saya justru belajar untuk menjadi manusia yang lebih tangguh dan kuat.

Saya mencintai Jakarta karena Jakarta mengajarkan saya untuk selalu berusaha menjadi lebih baik lagi, tidak peduli sekeras apa realita menampar saya.

Saya mencintai Jakarta dan keberhasilannya memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi saya.

Saya mencintai Jakarta sebagaimana saya mencintai kamu.

Jakarta adalah kamu dan kamu adalah Jakarta.

Saya akan selalu mencintai kamu seperti saya mencintai Jakarta yang tidak akan pernah membalas cinta saya tidak peduli berapa besar rasa cinta saya.

I love you like I love Jakarta and I hate to admit the fact that both of you and Jakarta are always be the part of my life no matter what.

Suatu Saat Nanti

24 Jan

Saya lupa kapan terakhir kalinya saya memiliki me time yang berkualitas. Jadwal yang padat membuat saya lupa akan pentingnya menghabiskan waktu yang berkualitas dengan diri saya sendiri. Waktu berkualitas yang saya maksud adalah: memerhatikan lingkungan sekitar lebih banyak, berdiskusi dengan hati lebih dalam, dan mendengarkan kata hati lebih seksama.

Beberapa hari ini, Tuhan menganugrahi saya sakit supaya saya dapat menikmati waktu untuk diri saya sendiri. Di tengah kesendirian tersebut saya kembali mempertanyakan tentang diri saya, tentang hidup saya saat ini, dan tentang kehidupan yang ingin saya jalani suatu saat nanti.

Seorang teman pernah berkata bahwa saat ini saya hidup di sebuah kehidupan yang menurut masyarakat disebut sebagai good life. Bekerja di sebuah bank ternama dengan jalur karir fast track dan gaji yang lumayan… Di luaran sana, saya yakin ada begitu banyak orang yang menginginkan kehidupan yang saya jalani ini. Tapi pertanyaannya adalah: apakah kehidupan seperti ini yang benar-benar saya inginkan?

Saya tentu saja menggeleng akan pertanyaan tersebut. Bahkan jauh sebelum saya mengambil keputusan untuk bekerja di perusahaan tersebut pun saya sudah tahu pasti bahwa ini bukan kehidupan yang saya inginkan.

Lalu kehidupan seperti apa yang sebenarnya saya inginkan?

Pertanyaan tersebut membuat saya terdiam. Hati saya merasa ditampar karena di saat saya sibuk mengeluh soal kehidupan yang tidak sesuai keinginan saya, saya justru tidak tahu kehidupan seperti apa yang sebenarnya saya inginkan.

Mungkin saya sudah terlalu lama menutup diri dari kata hati saya sendiri sehingga pertanyaan sesederhana itu pun tidak bisa saya jawab.

Mungkin terlalu banyak ditampar oleh realita membuat hati saya tidak lagi memiliki nyali untuk mengatakan kejujuran.

Atau mungkin… Saya memang tidak pernah tahu kehidupan seperti apa yang saya inginkan.

Semalam saya membuat keputusan bahwa 5 tahun dari sekarang, saya harus sudah memperoleh jawaban akan kehidupan yang saya inginkan.

Suatu saat nanti….
5 tahun dari sekarang….
Ketika saya sudah tahu apa yang benar-benar saya inginkan, maka saya akan meninggalkan semua yang saya miliki saat ini

Suatu saat nanti…
5 tahun dari sekarang….
Saya mungkin tidak lagi memiliki apa yang saya miliki sekarang, tapi saya akan dengan bangga berkata ‘hey, I live a good life now’

Suatu saat nanti…
5 tahun dari sekarang…
Semoga masih ada cukup waktu dan kesempatan untuk saya

Jadi bagaimana dengan kamu?
Apakah sudah menjalani kehidupan yang kamu inginkan?

Coffee Shop

11 Aug

Kamu bisa menemukanku di sini. Sedang mengobrol dengan beberapa orang teman. Sesekali obrolan kami diselingi cibiran akan manusia-manusia di sekitar kami, sesekali obrolan kami diselingi celaan satu sama lain, dan maaf jika sesekali kami tak mampu menahan tawa kami hingga rasanya mengganggu tamu lain yang duduk di sekitar kami.

Kamu bisa menemukanku di sini. Sedang berdua dengan seorang teman perempuan. Terkadang kami hanya sekedar membuang waktu. Terkadang kami memang harus bertemu untuk kepentingan tertentu. Tapi seringnya kami bertemu untuk berbagi cerita. Cerita tentang apa yang menjadi passion kami, apa yang ingin kami lakukan, apa yang sudah kami lakukan, apa yang sedang terjadi dalam hidup kami, atau cerita mengenai apapun itu, bukan masalah apakah cerita kami penting atau tidak selama masih ada sesuatu yang bisa dibagi satu sama lain.

Kamu bisa menemukanku sedang berdua dengan seorang lelaki. Dari gelagat kami berdua kamu akan bisa menangkap bagaimana jenis hubungan kami. Jika kamu menangkap sedikit keintiman dalam pembicaraan maupun tingkah laku kami, mungkin kamu lalu akan bertanya kemana hubungan kami akan mengarah. Ah pertanyaan itu… Aku sendiri pun tidak pernah benar-benar yakin kemana akan kubawa hubungan yang sedang kujalani, sebab seperti yang selalu kamu bilang padaku, aku memiliki commitment issue.

Kamu bisa menemukanku di sini. Seorang diri. Mungkin aku sedang menunggu seseorang. Mungkin aku sedang berusaha fokus mengerjakan sesuatu. Atau mungkin aku memang hanya sedang ingin sendiri, menghabiskan me time sambil menulis, mencari ide, membaca buku, blog walking, atau sekedar sight seeing.

Apapun yang sedang aku lakukan dan dengan siapapun itu, kamu akan selalu bisa menemukanku di sini. Aku memang menghabiskan sebagian besar waktu luangku di sini. Aku bahkan menyediakan anggaran khusus untuk dihabiskan di tempat ini.

“Dasar kapitalis!” itu yang kamu bilang padaku.

Aku hanya tersenyum. Kapitalis memang sebagian dari imanku. Dan kamu memang tahu banyak tentangku.

Tapi tahukah kamu bahwa aku sangat mencintai tempat ini?

Tahukah kamu bahwa seburuk apapun moodku, aku akan merasa jauh lebih baik ketika aku memasuki tempat ini dan mencium aroma khasnya?

Tahukah kamu bahwa aku telah menjadikan tempat ini sebagai rumah keduaku, rumah tempat diriku merasa benar-benar diterima dan berpikir ‘semuanya akan baik-baik saja apapun yang terjadi’?

Tahukah kamu bahwa tempat ini menyimpan begitu banyak rahasia tentangku? Tentang waktu dimana aku menangis karenamu, tentang kesepian ketika aku terjebak di tengah keramaian, tentang hati yang menghangat setelah berbagi kebahagiaan dengan seorang asing, tentang perasaan ditemani ketika aku sedang sendiri, tentang ketakutanku yang aku tutupi dengan kenaifanku, tentang perjuanganku melawan monster di kepalaku, dan masih ada begitu banyak tentangku lagi yang tak akan pernah ada cukup waktu untuk diuraikan satu per satu.

Tahukah kamu bahwa aku sangat mencintai tempat ini melebihi rasa cintaku padamu dulu?

Dan terakhir, tahukah kamu bahwa aku masih menyimpan harapan itu? Harapan untuk bertemu kamu lagi suatu saat nanti, dengan keadaan satu sama lain yang lebih dewasa dan lebih baik, lalu kita saling menyapa dan kamu… Membuat aku jatuh cinta kembali di sini… Di kedai kopi ini.

image

Sebab jatuh cinta lagi denganmu di kedai kopi inj adalah impian termanis yang bisa kupikirkan.

Indonesia Merdeka

17 Aug

“Kalau kita hidup di zaman pra kemerdekaan, kira-kira kita bakalan jadi pahlawan nggak ya?”

Pertanyaan tersebut diajukan oleh seorang teman dalam sebuah perbincangan sore kamu. Waktu itu, saya tidak menanggapi pertanyaan teman saya tersebut dengan serius, saya malah membuat lelucon dari pertanyaan yang diajukan teman saya tersebut.

Sampai akhirnya semalam ketika saya tidak bisa tidur dan dunia maya dipenuhi euforia kemerdekaan, saya kembali kepikiran akan pertanyaan tersebut.

Akankah saya menjadi seorang pahlawan jika saya hidup di era pra kemerdekaan?

Jawaban pertama yang muncul di kepala saya adalah jawaban yang muncul dari idealisme saya, ‘iya’. Saya akan menjadi seorang pahlawan yang berada di barisan terdepan melawan penjajah, memimpin pasukan meski dalam keadaan sakit, atau setidaknya saya akan menjadi orang yang menyebarkan semangat kesetaraan gender seperti apa yang dilakukan Kartini dengan surat-suratnya.

Tapi realita menampar saya. Hati kecil saya menolak menyetujui bayangan tersebut. Jawaban yang jujur justru berbanding terbalik dengan jawaban ideal saya. Secara mengejutkan, ternyata lebih mudah bagi saya untuk membayangkan kehidupan warga kelas menengah yang pasrah, yang hanya mengharapkan kemerdekaan tapi tidak melakukan apa-apa untuk meraihnya. Atau bahkan jika saya beruntung, maka saya akan menjadi seorang anak ningrat yang sama sekali tidak peduli akan kemerdekaan, tidak mau berjuang meraih kemerdekaan, tapi justru teriak paling keras ketika kemerdekaan diumumkan hanya karena terbawa euforia dan tidak mau disebut tidak nasionalis.

Saya jadi berpikir, selama ini saya telah salah pengertian mengenai kemerdekaan. Suka atau tidak dan sadar maupun tidak, pemikiran saya akan kemerdekaan sangat dangkal. Selama ini saya berpikir bahwa Indonesia tidak perlu merdeka, pokoknya selama perut saya kenyang, hidup saya senang, dan banyak uang, semuanya akan baik-baik saja, merdeka atau tidak. Semangat ‘merdeka atau mati’ tentu saja tidak tumbuh dalam diri saya sedikit pun.

Semalam seorang teman mengatakan sesuatu yang (maaf sekali saya lupa kalimat persisnya) membuat saya berpikir ulang apakah sebagai warga negara Indonesia saya sudah menjalankan peran saya dengan baik dan apakah saya sudah cukup berprestasi dan menciptakan Indonesia yang lebih baik.

Jawabannya tidak. Saya tidak menjalankan peran saya sebagai warga dengan baik, tidak juga cukup berprestasi dan menciptakan Indonesia yang lebih baik.

Selama ini saya sibuk mengatai-ngatai, memarahi, mengeluh, dan memaki pemerintah yang tidak becus menjalankan tugasnya, padahal di luar kesadaran saya juga sebenarnya tidak becus menjalankan tugas dan peran saya sebagai warga negara.

Kemarin, dalam sebuah acara buka bersama, saya dan beberapa orang teman menyisakan makanan kami di piring dalam porsi yang cukup banyak, alasannya satu: bosan. Sementara saya sibuk setelah ini mau makan dimana lagi, seorang teman berinisiatif memanggil seorang anak kecil penjaja makanan dan memberikan makanan sisa kami untuk dimakan. Awalnya saya pikir itu adalah tindakan yang tidak sopan dan malah cenderung melecehkan, tapi ketika saya melihat ekspresi anak itu, saya berubah pikiran. Dari raut wajah anak itu saya menangkap satu hal yang jauh di luar dugaan saya: ekspresi kemerdekaan, merdeka dari rasa lapar dan ketakutan akan tidur dengan perut kosong.

Malamnya saya berbincang dengan sahabat saya mengenai kejadian tersebut. Sahabat saya menanggapi dengan kalimat yang berhasil membuat pola pikir saya berubah “menurut gue, apa yang lo lakuin itu salah satu bentuk prestasi. Prestasi ‘kan nggak selamanya harus sesuatu yang bersertifikat, berpiala, berpiagam, dan diakui aja, dengan lo bisa berbagi dengan orang yang sama sekali nggak lo kenal secara ikhlas juga udah bentuk dari prestasi. Prestasi yang cukup lo dan Tuhan yang tahu.”

Kalimat tersebut membawa saya pada definisi ulang kata prestasi.

Prestasi adalah ketika saya dapat membebaskan seseorang dari rasa lapar.

Prestasi adalah ketika saya dapat menerima perbedaan opini dan pandangan tanpa harus berakhir dengan tombol block atau rasa benci.

Prestasi adalah ketika saya dapat membebaskan seseorang menganut kepercayaannya, baik itu kepercayaan akan adanya Tuhan maupun kepercayaan akan tidak adanya Tuhan.

Prestasi adalah ketika saya dapat membebaskan seseorang untuk mengekspresikan dirinya tanpa harus menghakiminya setelah itu.

Prestasi adalah… ketika saya dapat membuat lingkungan sekitar saya merasa merdeka.

Maka secara otomatis pemikiran saya akan kemerdekaan pun berubah.

Merdeka di kepala saya tidak lagi sekedar perut kenyang, hidup senang, dan banyak uang. Dan YA, saya rasa Indonesia harus merdeka.

Meskipun semangat ‘merdeka atau mati’ belum benar-benar tumbuh dan berkembang, tapi setidaknya semangat tersebut sudah mulai muncul di hati saya. Maka pagi ini saya mengawali hari saya dengan semangat yang baru dan sebuah pertanyaan ‘apa lagi prestasi yang dapat saya lakukan untuk memerdekakan Indonesia?’.

Semoga semangat tersebut benar-benar semangat baru yang mengisi hidup saya, bukan hanya sebuah bentuk euforia terhadap hari kemerdekaan.

Bicara Selingkuhan

30 Apr

Setiap kali membahas mengenai perselingkuhan, saya menjadi sangat peka. Sebuah pembicaraan singkat di Twitter yang dilanjutkan dengan diskusi panjang dengan seorang sahabat membawa saya pada analisa mengapa seorang perempuan bersedia untuk dijadikan selingkuhan.

Saya ingat, satu tahun yang lalu seorang teman menceritakan soal hubungannya dengan suami orang. Waktu saya terkejut dan mengingatkan padanya bahwa itu adalah sebuah perbuatan yang tidak sebaiknya dilakukan, teman saya berkata bahwa dia tahu itu salah, tapi dia sangat mencintai lelaki tersebut dan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dia harus mengakhiri hubungannya dengan lelaki tersebut. Saya hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Cinta memang bisa menghipnotis orang untuk melakukan apa pun. Teman saya itu salah satunya, seolah-olah belum cukup mengejutkan saya, teman saya pun lalu mengeluarkan kalimat pembelaan diri “I don’t kill people, Sen… An affair doesn’t kill people, it just hurt them”.

When we’re happy we just don’t care about how does it feels to other people. Tanpa harus bercerita pun saya bisa melihat bahwa teman saya ini sedang berbahagia. Aura kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya, aura kebahagiaan tersebut bahkan menyebar pada orang-orang di sekitarnya termasuk saya. Jatuh cinta dengan seseorang yang memiliki karakter seperti sosok lelaki yang menjadi idamannya membuat teman saya berbahagia, persoalan status lelaki tersebut lantas menjadi satu isu yang tidak penting di mata teman saya itu. “Yang penting gue bahagia, terserah deh orang mau kayak gimana,” begitu kata teman saya. Saya jadi berpikir, ketika seseorang bahagia, jangan-jangan orang tersebut memang memiliki kecenderungan untuk melupakan perasaan orang lain. Selama diri bahagia dan tidak tersakiti, untuk apa peduli perasaan orang lain? Suka atau tidak, egois memang sudah menjadi sifat dasar manusia.

Karena pada dasarnya, kebutuhan utama perempuan adalah keamanan. Tidak peduli apakah perempuan tersebut berasal dari kalangan menengah ke atas atau ke bawah, career woman atau family woman, mandiri atau manja, blablabla yadaa yadaaa, perempuan membutuhkan keamanan. Rasa aman untuk bisa membeli apa yang dibutuhkan dan diinginkan, rasa aman untuk memiliki rumah yang membuatnya merasa nyaman, rasa aman untuk memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi dalam keadaan apa pun, hingga rasa aman untuk memiliki seseorang yang akan tumbuh dan menjadi tua bersama. Beberapa perempuan rela melakukan apa saja demi rasa aman tersebut. Itulah kenapa ketika ada seorang laki-laki datang dan menawarkan rasa aman yang tidak bisa didapatkannya dari diri sendiri  dan sosok lainnya, perempuan tersebut akan dengan senang hati menerimanya, meskipun konsekuensinya adalah menjadi selingkuhan.

We want what we can’t have. Kami, para perempuan, selalu menginginkan apa yang tidak bisa kami miliki. Kami terobsesi untuk memiliki apa yang tampaknya mustahil untuk dimiliki. Malah, dalam beberapa kasus, kami menginginkan sesuatu karena kami tahu bahwa kami tidak bisa memilikinya. Dalam kasus perselingkuhan, beberapa perempuan sebenarnya tahu bahwa lelaki tersebut sudah memiliki pasangan, akan tetapi hal tersebut tidak membuat keinginan untuk memiliki lelaki tersebut urung, malah membuat sang perempuan semakin menginginkannya. Makanya, ketika ada kesempatan untuk memiliki sesuatu yang kelihatannya tidak mungkin, beberapa perempuan mengambil kesempatan tersebut.

Pada dasarnya perempuan memiliki jiwa kompetitif yang tinggi. Perempuan senang berada dalam sebuah kompetisi, sayangnya perempuan tidak senang jika harus kalah. Secara frontal, perempuan terobsesi untuk menang. Ada kepuasan tersendiri jika seorang perempuan berhasil memenangkan sesuatu, tidak peduli sekecil apa pun hal itu. Tanpa bermaksud untuk mengatakan bahwa perempuan yang menjadi selingkuhan adalah seorang pemenang, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ketika seseorang berhasil mendapatkan apa yang sebelumnya sudah menjadi milik orang lain, maka perasaan menang dan berhasil mengalahkan seseorang akan muncul ke permukaan.

Ketika perempuan mengidolakan perempuan lain, perempuan tersebut ingin menjadi seperti idolanya. Saya jadi ingat beberapa minggu yang lalu teman saya bercerita soal seorang sekretaris yang rela menjadi selingkuhan suami bosnya karena dia sangat terobsesi dan mengidolakan sosok bosnya tersebut. Untuknya, dapat memiliki lelaki yang sama seperti lelaki yang dimiliki oleh bos yang juga idolanya tersebut merupakan sebuah indikator dia telah mampu mengimbangi kualitas yang dimiliki idolanya itu.

We’re just daddy’s little girl. Beberapa perempuan menjadikan ayahnya sebagai role model. Berbeda dengan menjadikan perempuan sebagai role model, ketika seorang perempuan memiliki male role model, maka perempuan tersebut akan mencari sosok lelaki yang mirip dengan role model-nya tersebut. Karakter pengertian, perhatian, pekerja keras, baik hati, kebapakan, dan protektif  yang biasanya dimiliki dalam diri seorang ayah menjadi karakter yang wajib dimiliki oleh lelaki yang akan menjadi pasangannya kelak. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang dapat memerankan sosok seperti itu selain… seseorang yang sudah (atau pernah) berkeluarga.

Men are like wine, better by age, unfortunately they’re already taken or gay. Tidak seperti perempuan yang seolah-olah memiliki “masa kadaluarsa”, semakin tua seorang laki-laki, maka semakin dia terlihat lebih baik dan lebih menarik. Pengalaman mendewasakan dan meningkatkan kualitas seorang laki-laki. Sayangnya tidak semua perempuan memiliki cukup kesabaran untuk menjalani proses peningkatan kualitas dan kedewasaan bersama seorang lelaki. Beberapa perempuan menginginkan sosok lelaki yang berkualitas dengan cara yang instan, maka berhubungan dengan lelaki yang sudah beristri adalah sebuah pilihan terbaik.

Some people are love being a bitch. Saya jadi ingat seorang kenalan saya yang terobsesi untuk menyakiti orang lain. Setiap kali dia telah berbuat buruk pada orang lain, dia menceritakannya dengan bangga tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun. Sakit. Awalnya saya kira sosok seperti ini hanya ada di sinetron-sinetron saja, tetapi ternyata di dunia nyata pun sosok seperti ini benar-benar hidup.

Pada akhirnya, apa pun alasan seorang perempuan bersedia menjadi selingkuhan, saya rasa dasar dari semua itu adalah kurangnya kemampuan untuk menahan diri dan berempati terhadap sesama. Tanpa bermaksud untuk menuduh perempuan-perempuan yang menjadi selingkuhan tidak memiliki rasa empati, akan tetapi bukankah jika seseorang memiliki rasa empati yang tinggi maka dia akan sadar bahwa diselingkuhi itu sakit sehingga dia tidak akan pernah mau menjadi pihak ketiga?

Ngomong-ngomong, uraian tersebut hanyalah asumsi saya. Jika ada yang ingin menambahkan atau berbeda pendapat boleh saja, selama masih menggunakan etika ketika mengemukakan pendapatnya.

Kasih Sayang, Kasih Uang

16 Mar

“Coba tolong jelaskan apa gunanya kasih sayang kalau tidak kasih uang?”

Beberapa hari yang lalu saya memuat status tersebut dalam Twitter dan Facebook saya. Jangan tanya apa yang ada di pikiran saya waktu saya membuat kalimat seperti itu, yang jelas pertanyaan itu memang sudah sangat mengganggu pikiran saya dalam waktu yang lumayan lama.

Reaksi yang saya dapat dari status tersebut cukup beragam, mulai dari yang menyetujui, mengatai saya dangkal, bahkan hingga memberikan saya kuliah singkat melalui message FB (terima kasih loh), tapi dari sekian banyak reaksi tersebut hanya ada satu respon yang membuat saya berpikir.

Respon tersebut muncul dari seorang teman blogger saya yang juga masuk dalam friend list saya di Facebook. Beliau mengatakan “mungkin pertanyaan yang harus kamu jawab dulu adalah pentingan kasih sayang atau uang?”

Jadi lebih penting kasih sayang atau uang?

Saya menjawab dua-duanya penting. Ah ya, saya memang manusia yang lemah dalam menentukan prioritas, sehingga saya tidak bisa membuat kesimpulan yang pasti mengenai mana yang lebih penting antara uang dan kasih sayang. Saya juga lemah dalam membuat pilihan sehingga ketika saya diajukan pertanyaan ini, saya lebih memilih untuk bermain aman dan menjawab bahwa keduanya penting.

Tapi bukankah keduanya memang penting?

Kasih sayang itu penting adanya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika saya hidup tanpa kasih sayang. Mungkin saya akan berada di daftar sampah masyarakat atau sudah menjadi pasien rumah sakit jiwa atau bahkan saya sudah meninggalkan dunia ini dari zaman entah kapan, membunuh diri saya karena sudah tidak ada lagi kasih sayang untuk saya.

Tapi apakah kasih sayang cukup untuk membuat seseorang bertahan hidup? Apakah mungkin seseorang dapat bertahan hidup dengan sehat tanpa pernah merasa kelaparan hanya karena makan kasih sayang? Tentu saja tidak. Kalau begitu apa artinya hidup dengan berlimpah kasih sayang jika tidak ada uang?

Maka uang bersifat sama pentingnya. Tanpa uang saya tidak akan bisa bertahan hidup. Semua yang ada di dunia ini dibeli dengan uang. Perut yang lapar harus diberi asupan makanan yang tentu saja dibeli dengan uang. Pikiran yang penat harus diberi hiburan yang tentu saja perlu uang untuk memperolehnya. Ketika sakit, untuk bertahan hidup pun saya harus pergi ke dokter dan mengkonsumsi obat-obatan dan memerlukan uang untuk bisa membeli itu semua.

Tapi apakah hidup dengan berlimpah uang akan terasa lebih indah dan jauh lebih baik jika tidak ada kasih sayang di dalamnya, sekali pun kasih sayang itu muncul dari diri sendiri? Ah, saya ragu akan hal itu.

Maka melihat berdasarkan skala kebutuhan dan fungsi yang diberikan, hingga kini saya masih juga tidak bisa membuat prioritas antara uang dan kasih sayang. Jika diibaratkan dalam bentuk barang, maka jelas sekali bahwa kasih sayang dan uang bukanlah sebuah barang substitusi yang bisa diganti ketika yang satunya lagi tidak ada, kasih sayang dan uang adalah barang komplementer yang harus saling melengkapi satu sama lain.

“Buat gue, uang jauh lebih penting, Sen. At least kalau gue punya uang banyak, gue bisa beli segalanya, termasuk kasih sayang.”

Saya tertawa mendengar jawaban teman saya tersebut. Iya juga sih, uang bisa saja membeli kasih sayang, tapi bukankah jika kasih sayang diperoleh dengan cara ‘dibeli’ maka kasih sayang yang didapatkan adalah kasih sayang yang instan dan tidak tulus, kasih sayang yang hanya berlandaskan uang dan bisa hilang seketika karena kasih sayang tersebut menemukan ‘ladang uang’ yang lebih subur?

 

 

 

P.S. Gambar diperoleh dari http://gettyimages.com