Tag Archives: Society

Tentang Kesendirian

9 Jan

  “Kenapa sih suka banget menyendiri di coffee shop?”

  Pertanyaan seorang teman melalui Whatsapp membuat saya tersenyum. Sore itu saya menolak ajakan bertemunya dengan alasan saya sedang menikmati me time saya di salah satu kedai kopi lokal favorite saya di Bandung.

Pertanyaan seperti apa yang teman saya tanyakan sore itu bukanlah pertama kali saya dengar. Tidak sedikit dari orang yang saya kenal, pernah mempertanyakan pertanyaan sejenis, tentunya dengan pilihan kata yang berbeda.

Jadi apa yang membuat saya senang menyendiri di sebuah kedai kopi? Continue reading

Day 21: Hujan, Malam Hari, dan Kota Bandung

26 Aug

Hujan, malam hari, dan Bandung adalah kombinasi yang paling menyenangkan untuk saya.

Saya suka hujan. Hujan membuat saya menjadi lebih sensitif terhadap segala hal. Kalau saya ini seorang jenius atau ilmuwan, hal pertama yang saya teliti pastilah mengenai zat apa yang terkandung dalam air hujan sehingga hujan selalu sukses membuat setiap orang merasakan sesuatu.

Saya suka malam hari. Ketenangan dan inspirasi selalu saya dapat di malam hari. Di coffee shop, club, atau bahkan hanya sekedar di kamar, sedang mengobrol, menulis, bekerja, clubbing, nonton televisi, atau bahkan tertidur, malam hari selalu menjadi waktu terbaik saya.

Saya suka Bandung, cinta malahan. Menjadi seseorang yang lahir dan dibesarkan di Bandung dan hanya meninggalkan Bandung selama 3 tahun membuat saya sangat mencintai kota ini.

Jadi malam itu, ketika hujan turun di Bandung, saya memutuskan untuk keluar rumah tanpa tujuan.

Saya ingat seorang teman pernah mengatakan kepada saya bahwa jika seseorang pintar menggunakan setiap sense yang dimilikinya, maka orang tersebut akan mampu menjadi seseorang yang sangat peka menilai situasi di sekitarnya. Hujan, malam hari, dan Bandung membuat saya lebih pintar menggunakan sense yang ada dalam diri saya.

Sense saya membawa saya pada Bandung bagian realita. Kota Bandung dimana di sekeliling saya ada begitu banyak hal yang terjadi yang membuat saya sadar bahwa ada begitu banyak hal yang terjadi di sekitar saya yang membuat saya harusnya bersyukur akan hidup saya.

Malam hari sewaktu hujan di kota Bandung, saya melihat seorang ibu-ibu separuh baya yang berjualan bunga mawar, lima ribu rupiah setangkai, tapi sedikit sekali peminatnya. Saya melihat seorang pengamen berpindah dari satu angkutan umum ke angkutan umum yang lainnya, menyanyikan lagu dengan suara fals dan permainan gitar yang asal-asalan. Saya melihat seorang perempuan, masih lengkap dengan seragam sekolahnya berdiri di trotoar, menunggu angkutan umum dalam keadaan menahan dingin dan basah tanpa jaket dan payung. Saya melihat seorang wanita muda sedang kebingungan karena di tengah hujan mobilnya mogok dan sepertinya dia sama sekali tidak tahu caranya memperbaiki mesin mobil. Saya melihat seornag pengemis tidak berkaki dan berjalan menggunakan lututnya di sebuah perempatan.

Lalu perasaan itu pun muncul, malam hari di tengah hujan di kota Bandung, hati saya menghangat, padahal cuaca malam itu lumayan dingin. Malam hari di tengah hujan di kota Bandung, saya tersadar bahwa kesialan seperti apa pun yang menimpa hidup saya, masih ada begitu banyak hal yang patut disyukuri.

Day 14: Langkah Kecil

18 Aug

Jadi berhubung kemarin adalah 17 Agustus dimana acara televisi lagi sedikit bermutu (excuse), dan ada begitu banyak hal yang harus saya lakukan (excuse), dan hidung saya lagi meler (excuse), dan bulan puasa juga (excuse) jadi posting hari ke 14 sedikit terlambat satu hari.

Ngomong-ngomong, hari kemerdekaan kemarin, timeline saya dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk mengeluh soal Indonesia yang belum merdeka. Saya, entah karena sedang sensi atau memang sudah muak, merasa bosan membaca update status seperti itu. Saya pikir, kenapa sih orang-orang ini pada sibuk mencaci pemerintah, memaki negara tetangga yang berulah lagi, mengeluh soal keburukan sistem di Indonesia, sementara dirinya sendiri tidak melakukan apa pun untuk Indonesia. Mohon maaf nih sebelumnya, tapi saya melihat itu seperti seorang banci terlihat banci.

Contoh paling sederhana dan paling umum yang saya lihat adalah orang-orang yang dengan bangga mengaku memiliki NPWP tapi dengan tak kalah bangganya juga mengaku tidak pernah membayar pajak. Jadi fungsi NPWP tersebut bukan untuk membantu perekonomian negara, melainkan untuk bebas biaya visa ke luar negeri.

Atau ketika mencaci para pejabat negara yang suka korupsi tapi sendirinya ketika ditilang karena melanggar peraturan lalu lintas lebih memilih untuk menyogok polisinya daripada disidang.

Coba tolong jelaskan apa namanya kalau bukan banci teriak banci?

Saya rasa untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik, sudah saatnya masyarakatnya menjadi lebih pintar dengan berhenti mengandalkan pemerintah (yang jelas-jelas katanya sudah tidak bisa diandalkan lagi) dan memulai segala sesuatunya dari diri sendiri. Tidak perlu melakukan hal yang besar kok, hal yang kecil juga kalau dilakukan secara massal pasti akan memberikan efek yang besar.

Coba mulai menjadikan Indonesia negara yang lebih baik dengan membuang sampah pada tempatnya, membayar pajak tepat waktu, mematuhi peraturan lalu lintas, bersedia disidang ketika melanggar peraturan, datang tepat waktu ke kantor, atau… (isi sendiri dengan hal kecil yang kamu lakukan atau akan kamu lakukan untuk membuat Indonesia menjadi negara yang lebih baik).

Karena segala sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil, jadi mulai dari sekarang coba pikirkan apa langkah kecilmu untuk membuat Indonesia menjadi negara yang lebih baik?

Korban Kemaluan

8 Jun

Salah satu alasan yang membuat saya mengurangi intensitas menonton televisi adalah karena tontonan yang saya lihat sangat depresif. Bayangkan saja, dari pagi begitu saya membuka mata dan melihat berita, yang saya lihat berita seputar orang yang bunuh diri karena tidak mampu membeli handphone, orang yang membunuh saudaranya sendiri karena tidak dipinjami uang yang jumlahnya hanya ratusan ribu, perang, korupsi, video porno artis, hingga pelecehan seksual. Kalau sudah waktunya prime time, tetap saja tayangan sinetron isinya depresif karena menggambarkan soal ibu-ibu tajir gila harta atau orang jahat hingga season sekian yang tidak juga ditangkap polisi atau mendapat azab dari Tuhan atau setidaknya, tobat dengan sendirinya.

Sigh! Mengingat acara televisi saya jadi merasa tertekan.

Anyway, ada satu hal yang menarik perhatian saya hari ini. Jadi ceritanya kakak sepatu merah (yang sepatunya nggak selalu merah itu) membuat posting di tweet soal korban pelecehan seksual di Trans Jakarta yang menunduk ketika diwawancarai. Karena penasaran, saya pun akhirnya menyalakan televisi saya, mencari berita soal yang bersangkutan dan… yup, sang korban terlihat menunduk ketika dimintai keterangan.

Kenapa dia menunduk? Tentu saja karena dia merasa malu. Tapi pertanyaan besarnya adalah: apa sih sebenarnya yang membuat sang korban merasa malu?

Pikiran saya pun menganalisa apa yang sebenarnya membuat sang korban merasa malu dan jawaban pertama yang muncul di kepala saya adalah karena di Indonesia ini (atau mungkin di belahan bumi lainnya juga), masyarakat cenderung turut menyalahkan sang korban karena telah menjadi korban pelecehan seksual.

Masih ingat kasus seorang artis dangdut yang payudaranya dicolek ketika sedang diwawancarai? Sewaktu kasus itu terjadi, saya melihat banyak sekali pihak yang justru menyalahkan si pedangdut karena berpakaian terlalu seksi, atau gayanya yang terlalu menggoda, atau bahasa tubuhnya yang memang ‘mengundang’ atau blablabla yadaa yadaa.

Pertanyaannya adalah: memangnya selalu wanita yang berpakaian minim dengan gaya yang menggoda dan bahasa tubuh yang mengundang saja yang menjadi korban pelecehan seksual? TIDAK saudara-saudara. Tidak semua korban pelecehan seksual seperti yang ada di gambaran masyarakat umum. Saya jadi ingat cerita soal teman saya yang sangat religius dan berkerudung dengan baju yang serba gombrang dan tetap menjadi korban pelecehan seksual di bajaj. Atau seorang teman yang sangat tomboy dan berpenampilan seperti lelaki yang menjadi korban pelecehan seksual di angkot. Atau bahkan saya sendiri yang waktu itu pulang olahraga dengan muka kucel, jaket yang sama sekali tidak ketat dan diresleting hingga leher, serta celana jeans panjang yang sempat ‘ditawar’ oleh om-om di sebuah kafe.

Jadi kesimpulannya adalah, sang objek pelecehan seksual sama sekali tidak bersalah. Satu-satunya yang bersalah dalam kasus pelecehan seksual adalah sang pelaku karena otak mesumnya sampai-sampai tidak mampu mengendalikan napsu yang tidak pada tempatnya itu.

Jadi seharusnya, masyarakat tidak ikut menyalahkan (apalagi menghakimi) korban pelecehan seksual. Jelas-jelas dia yang jadi korban, tapi malah dia lagi yang disalahkan. Nggak heran korban pelecehan seksual sering merasa malu karena telah menjadi korban. Nggak heran juga banyak sekali kasus pelecehan seksual di luaran sana yang tidak pernah dilaporkan karena korban takut dengan anggapan masyarakat sekitar. Nggak heran juga para pelaku pelecehan seksual bisa berkeliaran dengan bebas dan menjamah tubuh perempuan mana pun yang kebetulan duduk di sebelahnya di angkutan umum.

Belum lagi dengan kecenderungan masyarakat yang melindungi sang pelaku pelecehan seksual. Ketika seseorang menggoda perempuan yang sedang jalan di depan orang tersebut dan sang perempuan merasa terganggu, orang-orang yang mendengarnya justru memakluminya. Atau ketika seseorang mengadukan kasus pelecehan seksualnya ke polisi, sang pelaku malah dibebaskan dengan alasan nggak cukup bukti (in my defense, perlu bukti seperti apa seeeehhhh??). Atau di televisi pelaku pelecehan seksual mukanya dibuat blur supaya penonton tidak bisa mengenalinya, padahal menurut saya sangat penting untuk mengenali korban untuk mengantisipasi kejadian yang sama terjadi pada orang lain sekaligus juga menghukum sang pelaku dengan rasa malu.

Tapi ah ya, mau gimana juga masyarakat tetap saja seperti apa yang saya gambarkan tadi. Sulit rasanya untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk menjadikan sang subjek sebagai satu-satunya pembuat kesalahan dalam kasus pelecehan seksual.

P.S. Gambar diambil dari sini

Are You A Homophobic Or Something?

18 Jan

Baru saja saya mengobrol dengan seseorang yang mengira saya ini lesbi. Meskipun pada akhirnya dia berkata kalau dia sedang bercanda, tapi saya tahu pasti kalau dia serius ingin memastikan orientasi seksual saya.

Lantas apa perlu saya membuat sebuah klarifikasi?

Umm…, sebenarnya tidak juga sih. Toh tidak peduli seberapa keras saya membantah gosip-gosip murahan itu dan menyatakan secara terang-terangan tentang orientasi seksual saya, mereka tidak akan pernah mendengar saya. Bukankah mereka, orang-orang yang senang bergosip mengenai hal-hal yang murahan itu, hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar?

Tapi kali ini saya benar-benar merasa perlu menuliskan ini di blog saya. Ya… ya…, saya EMOSI!

Jadi gosip kalau saya lesbi ini bukan pertama kalinya saya dengar. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya dalam masa cuti kuliah saya, saya pernah mendengar gosip sejenis. Ironi sekali mengingat gosip murahan ini beredar di tempat dimana saya sangat jarang bersosialisasi bernama: kampus, sebuah institusi yang harusnya berisi orang berpendidikan.

Dengan pemikiran positif bahwa tidak ada asap kalau tidak ada api, saya pun mencoba untuk menyelidiki kenapa akhirnya banyak sekali mereka yang bahkan tidak kenal saya bergosip seperti itu hingga akhirnya gosip tersebut membuat banyak orang percaya dan membuat saya merasa nama baik saya tercemar.

Iya, saya merasa mereka telah mencemarkan nama baik saya dan kalau saja saya punya bukti otentik mengenai siapa yang pertama kali menyebarkan gosip murahan tersebut, saya pasti sudah menghubungi pengacara dan melaporkan orang terkutuk itu ke pengadilan atas dasar pencemaran nama baik. Berlebihan? I don’t think so. Bukannya saya sebagai warga negara Indonesia yang baik memiliki hak untuk melaporkan setiap tingkah laku orang lain yang terasa mengganggu kehidupan saya?

Oke, balik ke topik awal! Beberapa orang memang sempat mengatakan secara langsung bahwa kemungkinan terbesar penampilan fisik saya membuat saya terlihat lesbi. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena gen cara berjalan ayah saya yang tidak ‘rapet’ atau anggun seperti para model di catwalk menurun ke saya. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena saya lebih merasa nyaman menggunakan T-shirt, celana jeans, dan sneaker. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena saya ini tipikal manusia wash up and go, bukan seperti wanita kebanyakan yang senang berlama-lama di depan kaca untuk berdandan. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena saya lebih  nyaman dengan rambut pendek saya ketimbang memanjangkan rambut saya.

Lantas apakah itu berarti saya harus mengubah penampilan fisik saya? Harus mulai memanjangkan rambut saya (seperti yang sedang saya lakukan sekarang), memakai rok (yang juga sudah mulai saya lakukan), berdandan (juga mulai saya lakukan), dan memakai sepatu high heels (yes, saya juga sudah mulai melakukannya).

Ah, tapi betapa dangkalnya saya kalau saya harus mendengar pendapat mereka hingga akhirnya saya mengubah penampilan saya hanya untuk menjauhi diri dari gosip mengenai orientasi seksual saya.

Jadi saya memutuskan untuk menutup telinga saya pada mereka, para penggosip sialan yang sangat dangkal dengan menilai orientasi seksual seseorang berdasarkan penampilan fisiknya.

Situ pikir semua perempuan yang memakai t-shirt, sneaker, berambut pendek, dan tidak dandan adalah lesbian? Hello… open your eyes, then! Saya mengenal seorang lesbian yang berambut panjang, suka dandan, pergi selalu mengenakan sepatu hak, dan sangat wanita. So you’re wrong!

Iya saya tahu kalau setiap orang memiliki kecenderungan untuk do judge a book by its cover, tapi untuk saya tidak fair saja kalau ada seseorang yang menilai orientasi seseorang berdasarkan tampilan luarnya saja.

Dan lagian nih ya… kalau misalnya, ini cuma kalau lho ya, kalau misalnya saya beneran lesbi memangnya apa urusannya sama orang lain? Urus diri sendiri saja belum benar mau sok-sokan ngurusin orang lain!

Last note: sebenarnya saya nggak suka merasa diri saya lebih superior dibandingkan yang lain, tapi sekarang saya bisa mengerti kenapa saya tidak pernah benar-benar merasa cocok dengan mereka: karena meskipun dari segi ekonomi saya di bawah mereka, tapi setidaknya dari kelas sosial saya lebih tinggi, setidaknya saya tidak kampungan seperti mereka yang menilai orientasi seksual berdasarkan penampilan luarnya dan hanya berani ngomong di belakang saja!

P.S. maaf untuk curhat yang sangat impulsif ini, blogger!

Hi, Society!

1 Oct

“Ngakunya high class tapi kelakuannya low class banget!”

Itu seruan dari seorang teman begitu saya mengangkat telepon darinya. Obrolan (atau lebih tepat disebut curhatan?) pun berlanjut pada cerita teman saya tentang kekesalannya menghadapi lingkungan barunya yang sebagian besar diisi oleh orang-orang yang ngakunya berada pada piramid pergaulan paling atas alias high class tapi pada kenyataannya kelakuan mereka justru malah lebih terlihat seperti manusia yang berada pada kelas sosial rendahan alias kampungan.

Sebenarnya hal-hal yang seperti itu bukan hal yang baru bagi saya. Sudah sering sekali saya terpaksa atau secara tidak sengaja harus menghadapi kaum-kaum yang merasa dirinya high class tapi kelakuannya berbanding terbalik dengan pesan image yang ingin disampaikan oleh diri mereka. Saya, sama halnya seperti teman saya, selalu merutuk nggak jelas dan akhirnya terpaksa memendam emosi ketika harus berhadapan dengan orang-orang seperti itu, terutama jika saya berada pada pihak yang dirugikan, yaitu: pihak yang dianggap tidak cukup high class untuk diterima dalam pergaulan mereka.

Saya jadi ingat dulu, secara tidak sengaja dan entah bagaimana caranya, saya sempat masuk ke dalam sebuah gang yang dalam lingkungan kami terkenal sebagai gang jetset. Jika dilihat dari nama gangnya, pada awalnya saya kira mereka itu terdiri dari gang orang-orang kaya dengan pergaulan yang glamor – satu hal yang bukan saya banget, tapi ternyata setelah saya masuk ke dalam gang tersebut, isinya nggak semuluk apa yang saya bayangkan. Mereka ternyata nggak jauh beda dengan gang lainnya yang berada pada lingkungan yang sama dengan kami, malah saya lihat beberapa orang tertentu yang tidak termasuk dalam ‘level’ mereka memiliki kelas sosial yang lebih tinggi dibandingkan mereka. Satu-satunya yang membuat semua orang berpikir bahwa mereka adalah kumpulan orang-orang high class, adalah gaya mereka yang setinggi langit yang lalu setelah saya pikirkan belakangan ini, gaya itu memang sengaja mereka buat supaya mereka diakui di lingkungannya.

Pengalaman saya tersebut membuat saya curiga jangan-jangan hal seperti itu nggak cuma terjadi pada gang jetset di lingkungan saya tapi juga di lingkungan lainnya. Jangan-jangan, mereka yang selama ini ngakunya high class cuma memasang topeng supaya diakui di lingkungannya, padahal sebenarnya mereka jelas-jelas sedang menipu dirinya sendiri dan itu semua tercermin dari tingkah lakunya.

Atau jangan-jangan, mengutip kalimat seorang teman, mereka berlaku sok high class hanya karena mereka baru ‘jadi orang kota’. Baru nemu pergaulan high class. Baru diundang ke cocktail party (atau nggak pernah diundang tapi palingan cuma minum cocktailnya doang dan itu juga dapet traktiran dari salah seorang kenalan baru di tempat dugem). Baru mampu nongkrong di Starbucks padahal belinya cuma satu minuman untuk berdua. Baru dibeliin mobil sama orang tuanya. Baru dapet kerjaan di perusahaan ternama padahal gajinya pas-pasan. Baru… (isi tambahannya sendiri deh soalnya kalo saya tulis satu-satu, bakalan jadi panjang ajah ceritanya).

Ya… ya…, saya tahu saya terdengar judgmental tapi saya rasa perlakuan ini pantas diterima oleh mereka yang merasa dirinya high class padahal sebenarnya nggak dan lalu menganggap orang lain tidak pantas bergaul dengannya dengan alasan mereka tidak cukup high class cuma karena orang-orang yang mereka anggap tidak cukup high class itu memilih rantai pergaulan yang berbeda.

Ah tapi ya sudahlah, membahas soal ini memang nggak akan pernah ada habisnya. Saran dari saya siy: nikmati saja hidup kalian apa adanya, sebab hidup jauh lebih menyenangkan kalau kalian nggak harus susah-susah berpikir pada kelas sosial mana posisi kalian sekarang ini dan (apalagi) mengejar-ngejar kelas sosial tertentu yang kalian inginkan.

There are four varieties in society; the lovers, the ambitious, observers, and fools. The fools are the happiest. -Hippolyte Taine-