Tag Archives: relationship

Tentang Kesendirian

9 Jan

  “Kenapa sih suka banget menyendiri di coffee shop?”

  Pertanyaan seorang teman melalui Whatsapp membuat saya tersenyum. Sore itu saya menolak ajakan bertemunya dengan alasan saya sedang menikmati me time saya di salah satu kedai kopi lokal favorite saya di Bandung.

Pertanyaan seperti apa yang teman saya tanyakan sore itu bukanlah pertama kali saya dengar. Tidak sedikit dari orang yang saya kenal, pernah mempertanyakan pertanyaan sejenis, tentunya dengan pilihan kata yang berbeda.

Jadi apa yang membuat saya senang menyendiri di sebuah kedai kopi? Continue reading

Advertisements

Bicara Selingkuhan

30 Apr

Setiap kali membahas mengenai perselingkuhan, saya menjadi sangat peka. Sebuah pembicaraan singkat di Twitter yang dilanjutkan dengan diskusi panjang dengan seorang sahabat membawa saya pada analisa mengapa seorang perempuan bersedia untuk dijadikan selingkuhan.

Saya ingat, satu tahun yang lalu seorang teman menceritakan soal hubungannya dengan suami orang. Waktu saya terkejut dan mengingatkan padanya bahwa itu adalah sebuah perbuatan yang tidak sebaiknya dilakukan, teman saya berkata bahwa dia tahu itu salah, tapi dia sangat mencintai lelaki tersebut dan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dia harus mengakhiri hubungannya dengan lelaki tersebut. Saya hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Cinta memang bisa menghipnotis orang untuk melakukan apa pun. Teman saya itu salah satunya, seolah-olah belum cukup mengejutkan saya, teman saya pun lalu mengeluarkan kalimat pembelaan diri “I don’t kill people, Sen… An affair doesn’t kill people, it just hurt them”.

When we’re happy we just don’t care about how does it feels to other people. Tanpa harus bercerita pun saya bisa melihat bahwa teman saya ini sedang berbahagia. Aura kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya, aura kebahagiaan tersebut bahkan menyebar pada orang-orang di sekitarnya termasuk saya. Jatuh cinta dengan seseorang yang memiliki karakter seperti sosok lelaki yang menjadi idamannya membuat teman saya berbahagia, persoalan status lelaki tersebut lantas menjadi satu isu yang tidak penting di mata teman saya itu. “Yang penting gue bahagia, terserah deh orang mau kayak gimana,” begitu kata teman saya. Saya jadi berpikir, ketika seseorang bahagia, jangan-jangan orang tersebut memang memiliki kecenderungan untuk melupakan perasaan orang lain. Selama diri bahagia dan tidak tersakiti, untuk apa peduli perasaan orang lain? Suka atau tidak, egois memang sudah menjadi sifat dasar manusia.

Karena pada dasarnya, kebutuhan utama perempuan adalah keamanan. Tidak peduli apakah perempuan tersebut berasal dari kalangan menengah ke atas atau ke bawah, career woman atau family woman, mandiri atau manja, blablabla yadaa yadaaa, perempuan membutuhkan keamanan. Rasa aman untuk bisa membeli apa yang dibutuhkan dan diinginkan, rasa aman untuk memiliki rumah yang membuatnya merasa nyaman, rasa aman untuk memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi dalam keadaan apa pun, hingga rasa aman untuk memiliki seseorang yang akan tumbuh dan menjadi tua bersama. Beberapa perempuan rela melakukan apa saja demi rasa aman tersebut. Itulah kenapa ketika ada seorang laki-laki datang dan menawarkan rasa aman yang tidak bisa didapatkannya dari diri sendiri  dan sosok lainnya, perempuan tersebut akan dengan senang hati menerimanya, meskipun konsekuensinya adalah menjadi selingkuhan.

We want what we can’t have. Kami, para perempuan, selalu menginginkan apa yang tidak bisa kami miliki. Kami terobsesi untuk memiliki apa yang tampaknya mustahil untuk dimiliki. Malah, dalam beberapa kasus, kami menginginkan sesuatu karena kami tahu bahwa kami tidak bisa memilikinya. Dalam kasus perselingkuhan, beberapa perempuan sebenarnya tahu bahwa lelaki tersebut sudah memiliki pasangan, akan tetapi hal tersebut tidak membuat keinginan untuk memiliki lelaki tersebut urung, malah membuat sang perempuan semakin menginginkannya. Makanya, ketika ada kesempatan untuk memiliki sesuatu yang kelihatannya tidak mungkin, beberapa perempuan mengambil kesempatan tersebut.

Pada dasarnya perempuan memiliki jiwa kompetitif yang tinggi. Perempuan senang berada dalam sebuah kompetisi, sayangnya perempuan tidak senang jika harus kalah. Secara frontal, perempuan terobsesi untuk menang. Ada kepuasan tersendiri jika seorang perempuan berhasil memenangkan sesuatu, tidak peduli sekecil apa pun hal itu. Tanpa bermaksud untuk mengatakan bahwa perempuan yang menjadi selingkuhan adalah seorang pemenang, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ketika seseorang berhasil mendapatkan apa yang sebelumnya sudah menjadi milik orang lain, maka perasaan menang dan berhasil mengalahkan seseorang akan muncul ke permukaan.

Ketika perempuan mengidolakan perempuan lain, perempuan tersebut ingin menjadi seperti idolanya. Saya jadi ingat beberapa minggu yang lalu teman saya bercerita soal seorang sekretaris yang rela menjadi selingkuhan suami bosnya karena dia sangat terobsesi dan mengidolakan sosok bosnya tersebut. Untuknya, dapat memiliki lelaki yang sama seperti lelaki yang dimiliki oleh bos yang juga idolanya tersebut merupakan sebuah indikator dia telah mampu mengimbangi kualitas yang dimiliki idolanya itu.

We’re just daddy’s little girl. Beberapa perempuan menjadikan ayahnya sebagai role model. Berbeda dengan menjadikan perempuan sebagai role model, ketika seorang perempuan memiliki male role model, maka perempuan tersebut akan mencari sosok lelaki yang mirip dengan role model-nya tersebut. Karakter pengertian, perhatian, pekerja keras, baik hati, kebapakan, dan protektif  yang biasanya dimiliki dalam diri seorang ayah menjadi karakter yang wajib dimiliki oleh lelaki yang akan menjadi pasangannya kelak. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang dapat memerankan sosok seperti itu selain… seseorang yang sudah (atau pernah) berkeluarga.

Men are like wine, better by age, unfortunately they’re already taken or gay. Tidak seperti perempuan yang seolah-olah memiliki “masa kadaluarsa”, semakin tua seorang laki-laki, maka semakin dia terlihat lebih baik dan lebih menarik. Pengalaman mendewasakan dan meningkatkan kualitas seorang laki-laki. Sayangnya tidak semua perempuan memiliki cukup kesabaran untuk menjalani proses peningkatan kualitas dan kedewasaan bersama seorang lelaki. Beberapa perempuan menginginkan sosok lelaki yang berkualitas dengan cara yang instan, maka berhubungan dengan lelaki yang sudah beristri adalah sebuah pilihan terbaik.

Some people are love being a bitch. Saya jadi ingat seorang kenalan saya yang terobsesi untuk menyakiti orang lain. Setiap kali dia telah berbuat buruk pada orang lain, dia menceritakannya dengan bangga tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun. Sakit. Awalnya saya kira sosok seperti ini hanya ada di sinetron-sinetron saja, tetapi ternyata di dunia nyata pun sosok seperti ini benar-benar hidup.

Pada akhirnya, apa pun alasan seorang perempuan bersedia menjadi selingkuhan, saya rasa dasar dari semua itu adalah kurangnya kemampuan untuk menahan diri dan berempati terhadap sesama. Tanpa bermaksud untuk menuduh perempuan-perempuan yang menjadi selingkuhan tidak memiliki rasa empati, akan tetapi bukankah jika seseorang memiliki rasa empati yang tinggi maka dia akan sadar bahwa diselingkuhi itu sakit sehingga dia tidak akan pernah mau menjadi pihak ketiga?

Ngomong-ngomong, uraian tersebut hanyalah asumsi saya. Jika ada yang ingin menambahkan atau berbeda pendapat boleh saja, selama masih menggunakan etika ketika mengemukakan pendapatnya.

Spesifik Itu Harus

27 Apr

Sore itu, di tengah hujan besar di sebuah restoran cepat saji, saya dan beberapa orang teman terlibat dalam sebuah percakapan yang absurd. Disebut absurd karena topiknya meloncat-loncat, tidak fokus, dan sama sekali tidak terarah. Saya lupa topik apa saja yang dibicarakan sore itu, tapi saya ingat reaksi mereka ketika saya bilang saya sedang ingin punya pacar.

Mereka, di luar perkiraan saya, terlihat kaget ketika saya menyatakan hal tersebut. Menurut mereka, seorang Senny yang terkenal feminis dan skeptis ketika membicarakan soal cinta tiba-tiba ingin punya pacar adalah kejadian langka dan mengejutkan. Baiklah, jadi menurut mereka orang semacam saya ini tidak wajar kalau ingin merasakan cinta, padahal hal itu kan manusiawi sekali… jangan-jangan selama ini saya tidak dianggap manusia oleh teman-teman saya itu (abaikan).

Setelah meyakinkan teman-teman saya itu kalau saya benar-benar serius ingin punya pacar, teman-teman saya pun akhirnya bertanya kriteria lelaki seperti apa yang saya inginkan untuk dijadikan pacar. Maka dengan antusias sekali, saya pun menceritakan tentang spesifikasi laki-laki yang saya inginkan. Untuk seorang yang demanding seperti saya, harusnya mereka tidak kaget kalau saya memiliki daftar yang panjang untuk itu, tapi reaksi mereka sungguh jauh di luar perkiraan saya. Waktu itu reaksi mereka…

“Busyet dah, lo cari calon pacar apa calon pegawai? Banyak amat mintanya?”

Hingga saat posting ini ditulis, saya masih belum merasakan ada yang salah dari memiliki daftar yang panjang dan kriteria yang detail untuk calon pasangan saya. Sebaliknya, saya malah merasa hal tersebut adalah hal yang wajar dan sangat penting untuk dilakukan.

Menurut saya, penting bagi seseorang memiliki kriteria yang detail dan sangat jelas untuk calon pasangannya kelak. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut tahu apa yang dia inginkan dan lebih fokus dalam masa pencarian pasangan. Dengan adanya daftar yang detail mengenai calon pasangan, maka seseorang tidak akan membuang-buang waktunya untuk berkencan dengan seseorang yang membuatnya tidak akan merasa nyaman.

Selain itu, sebuah kriteria yang spesifik juga menghindari diri dari kemungkinan terjadinya pertengkaran ketika sudah berhubungan akibat pasangan tidak memiliki spesifikasi seperti yang diinginkan. Saya misalnya, dengan adanya daftar yang detail, tentu saja saya tidak harus khawatir dan lalu dibuat emosi karena pasangan saya datang terlambat saat kencan, membiarkan saya membayari tagihannya, memakai sandal ketika sedang jalan dengan saya, blablabla yadaa yadaa. Hubungan akan terasa lebih aman dan nyaman karena orang tersebut sudah mendapatkan apa yang saya inginkan.

“Tapi ‘kan dalam sebuah hubungan pasti selalu ada rasa tidak aman dan nyaman, kecuali kalau pasangan yang kita dapatkan sempurna, which is nobody’s perfect.”

Saya mengangguk menyetujui pernyataan teman saya tersebut. Tidak ada seorang pun yang terlahir sempurna di dunia ini, maka dari itu ketika membuat kriteria calon pasangan otak perlu dipakai, berpikirlah logis dalam menentukan kriteria. Jangan sampai terjebak dengan kriteria sendiri yang akhirnya membawa kita pada kejombloan seumur hidup.

Lalu mengenai akan selalu ada titik dimana pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah hubungan merasa tidak aman dan tidak nyaman, saya pun menyetujuinya. Di sini komunikasi memiliki peran yang sangat besar dan penting dalam sebuah hubungan, agar ketika pihak yang terlibat dalam sebuah hubungan sedang merasa tidak aman atau tidak nyaman, masing-masing pihak dapat menegosiasikannya sehingga mencapai win-win solution dan hubungan yang berjalan pun dapat terselamatkan. Lagi pula, saya tidak pernah menyatakan bahwa adanya kriteria yang detail akan menjamin secara 100% hubungan akan berjalan aman dan nyaman, hanya saja jika dari awal seseorang sudah mengetahui apa yang diinginkannya, tentu saja kemungkinan bertengkar atau merasa kecewa karena tidak memiliki apa yang diinginkan menjadi lebih kecil.

“Tapi kita ‘kan nggak pernah tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta, gimana kalau suatu saat nanti kita malah jatuh cinta dengan orang yang sama sekali tidak termasuk dalam daftar kita?”

Begitu kata teman saya yang satunya lagi. Saya hanya tersenyum. Urusan perasaan memang kompleks, tapi mengingat saya ini orang yang demanding dan skeptis ketika membicarakan soal cinta, harusnya teman saya itu tahu kalau sulit bagi saya (bahkan hanya) untuk membayangkan diri saya jatuh cinta pada pria yang di luar daftar saya.

Pada akhirnya jika membicarakan sebuah hubungan dan calon pasangan yang ideal, tentu saja akan bersifat subjektif. Maka dari itu tidak heran jika hingga saat ini saya dan teman-teman saya masih belum bersepakat mengenai hal ini. Bagaimana dengan kamu?

Kasih Sayang, Kasih Uang

16 Mar

“Coba tolong jelaskan apa gunanya kasih sayang kalau tidak kasih uang?”

Beberapa hari yang lalu saya memuat status tersebut dalam Twitter dan Facebook saya. Jangan tanya apa yang ada di pikiran saya waktu saya membuat kalimat seperti itu, yang jelas pertanyaan itu memang sudah sangat mengganggu pikiran saya dalam waktu yang lumayan lama.

Reaksi yang saya dapat dari status tersebut cukup beragam, mulai dari yang menyetujui, mengatai saya dangkal, bahkan hingga memberikan saya kuliah singkat melalui message FB (terima kasih loh), tapi dari sekian banyak reaksi tersebut hanya ada satu respon yang membuat saya berpikir.

Respon tersebut muncul dari seorang teman blogger saya yang juga masuk dalam friend list saya di Facebook. Beliau mengatakan “mungkin pertanyaan yang harus kamu jawab dulu adalah pentingan kasih sayang atau uang?”

Jadi lebih penting kasih sayang atau uang?

Saya menjawab dua-duanya penting. Ah ya, saya memang manusia yang lemah dalam menentukan prioritas, sehingga saya tidak bisa membuat kesimpulan yang pasti mengenai mana yang lebih penting antara uang dan kasih sayang. Saya juga lemah dalam membuat pilihan sehingga ketika saya diajukan pertanyaan ini, saya lebih memilih untuk bermain aman dan menjawab bahwa keduanya penting.

Tapi bukankah keduanya memang penting?

Kasih sayang itu penting adanya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika saya hidup tanpa kasih sayang. Mungkin saya akan berada di daftar sampah masyarakat atau sudah menjadi pasien rumah sakit jiwa atau bahkan saya sudah meninggalkan dunia ini dari zaman entah kapan, membunuh diri saya karena sudah tidak ada lagi kasih sayang untuk saya.

Tapi apakah kasih sayang cukup untuk membuat seseorang bertahan hidup? Apakah mungkin seseorang dapat bertahan hidup dengan sehat tanpa pernah merasa kelaparan hanya karena makan kasih sayang? Tentu saja tidak. Kalau begitu apa artinya hidup dengan berlimpah kasih sayang jika tidak ada uang?

Maka uang bersifat sama pentingnya. Tanpa uang saya tidak akan bisa bertahan hidup. Semua yang ada di dunia ini dibeli dengan uang. Perut yang lapar harus diberi asupan makanan yang tentu saja dibeli dengan uang. Pikiran yang penat harus diberi hiburan yang tentu saja perlu uang untuk memperolehnya. Ketika sakit, untuk bertahan hidup pun saya harus pergi ke dokter dan mengkonsumsi obat-obatan dan memerlukan uang untuk bisa membeli itu semua.

Tapi apakah hidup dengan berlimpah uang akan terasa lebih indah dan jauh lebih baik jika tidak ada kasih sayang di dalamnya, sekali pun kasih sayang itu muncul dari diri sendiri? Ah, saya ragu akan hal itu.

Maka melihat berdasarkan skala kebutuhan dan fungsi yang diberikan, hingga kini saya masih juga tidak bisa membuat prioritas antara uang dan kasih sayang. Jika diibaratkan dalam bentuk barang, maka jelas sekali bahwa kasih sayang dan uang bukanlah sebuah barang substitusi yang bisa diganti ketika yang satunya lagi tidak ada, kasih sayang dan uang adalah barang komplementer yang harus saling melengkapi satu sama lain.

“Buat gue, uang jauh lebih penting, Sen. At least kalau gue punya uang banyak, gue bisa beli segalanya, termasuk kasih sayang.”

Saya tertawa mendengar jawaban teman saya tersebut. Iya juga sih, uang bisa saja membeli kasih sayang, tapi bukankah jika kasih sayang diperoleh dengan cara ‘dibeli’ maka kasih sayang yang didapatkan adalah kasih sayang yang instan dan tidak tulus, kasih sayang yang hanya berlandaskan uang dan bisa hilang seketika karena kasih sayang tersebut menemukan ‘ladang uang’ yang lebih subur?

 

 

 

P.S. Gambar diperoleh dari http://gettyimages.com

Undefined Relationship Part Two

10 Dec

“Lo kenapa nggak pacaran aja sih sama dia, Sen?”

“Penting ya?”

“Iya dong. Biar hubungan lo sama dia jadi lebih pasti dan terarah.”

Saya tersenyum mendengar jawaban teman saya itu. Pertanyaan soal kenapa saya tidak pacaran dengan setiap lelaki yang dekat dengan saya terdengar sangat familiar di telinga saya dan reaksi saya masih sama setiap kali diberikan pertanyaan tersebut: balik bertanya apakah penting untuk saya berpacaran dengan lelaki tak terdefinisi saya.

Menurut teman saya itu (dan teman-teman saya lainnya baik yang saya kenal secara dekat maupun hanya selewat), status ‘pacaran’ penting eksistensinya agar sebuah hubungan lebih pasti dan lebih terarah. Saya… tidak percaya dengan jawaban itu.

Untuk saya, status ‘pacaran’ hanyalah sebuah label yang tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kepastian atau tujuan berlangsungnya sebuah hubungan.

Saya adalah tipikal orang yang sangat percaya bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini, terutama dalam hal berhubungan. Orang yang menikah saja bisa berakhir dengan perceraian, apalagi yang pacaran. Tidak lantas dengan adanya status, hubungan tersebut pasti berakhir bahagia.

Lalu apakah dengan adanya status, maka sebuah hubungan akan lebih terarah dan memiliki tujuan? Saya rasa tidak. Belajar dari pengalaman saya terdahulu, ditambah dengan pengalaman teman-teman saya, banyak hubungan yang berlabel tapi tidak memiliki tujuan. Pacaran hanya untuk senang-senang saja. Pacaran hanya sebagai ajang pamer status kalau mereka tidak jomblo dan sudah laku oleh orang lain. Pacaran tapi dari segi mental masih belum siap, dalam artian masih selalu mencari yang lebih dan ketika menemukan yang lebih dan sama-sama mau, berakhir pada perselingkuhan.

“Jadi lo lebih milih stay di sebuah hubungan yang beresiko sewaktu-waktu laki lo diambil orang lain karena nggak ada status?”

Saya mengangguk. Akan jauh lebih mudah untuk saya ketika saya harus mengakhiri sebuah hubungan karena salah satu pihak yang terlibat, baik saya maupun dia, tertarik dengan orang lain dan memilih orang itu. Lagian, bukankah soal perasaan adalah satu hal yang tidak bisa dikontrol sehingga kemungkinan salah satu pihak tertarik pada orang lain itu akan selalu ada baik dalam hubungan tak terdefinisi seperti yang saya jalani atau hubungan dengan status seperti orang pada umumnya?

Untuk saya, hal terpenting dalam sebuah hubungan bukan terletak pada eksistensi sebuah status, melainkan dari perasaan antara pihak-pihak yang terlibat. Selama saya menjalani hubungan dengan lelaki tak terdefinisi saya ini, saya merasa nyaman, aman, percaya, dan menikmati hubungan kami, dan rasa seperti itu bisa saja tidak saya rasakan lagi ketika sebuah status mengikat kami berdua.

Jadi kalau pihak-pihak yang terkait dalam sebuah hubungan merasa sama-sama sayang dan enjoy kenapa mesti repot-repot dikasih label ‘pacaran’ sih?

Patah Hati

20 Oct

“Hal yang paling susah ketika kehilangan seseorang adalah membiasakan diri untuk kembali beraktivitas tanpa ada eksistensi orang tersebut di dalamnya”

Kalimat tersebut sempat saya update di akun Twitter saya beberapa hari yang lalu.

Tidak. Kalimat tersebut bukan hanya kalimat yang muncul selewat di kepala saya, melainkan berdasarkan pengalaman pribadi. Saya mengalami hal itu tidak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali, rasanya tidak akan bisa dihitung oleh jari berapa kali saya kehilangan seseorang dan harus kembali membiasakan diri beraktivitas tanpa ada eksistensi orang tersebut dalam hidup saya.

Seperti saat ini misalnya.

Tunggu! Sebelum kamu melanjutkan untuk membaca posting ini, saya ingatkan kamu bahwa posting kali ini adalah sebuah curahan hati, silakan segera tutup halaman ini dan abaikan posting kali ini jika kamu merasa sudah terlalu banyak drama dalam hidup kamu dan curahan hati saya ini hanya akan membuat hidup kamu terasa semakin sesak.

Akhirnya saya putus. Bukan putus dalam artian sepasang kekasih yang mengakhiri hubungan asmaranya lalu mengganti status Facebook-nya menjadi single karena saya dan dia tidak pernah benar-benar menjalin hubungan, tapi putus dalam artian… ah saya bingung mengartikan kata putus ini. Intinya adalah saya dan dia putus hubungan, sudah 2 minggu berlangsung.

Hubungan tak terdefinisi itu berakhir sudah. Dia ingin meresmikan hubungan saya dengannya, tapi saya belum siap, masih terlalu muda dan belum mapan baik dalam segi mental, finansial, dan terutama spiritual membuat saya enggan untuk meresmikan hubungan ini. Akhirnya dia menyerah, lalu mundur dari hubungan ini.

Perasaan saya?

Patah hati. Tidak pernah saya kira sebelumnya kalau saya sangat membutuhkan kehadiran dia dalam hidup saya. Saya butuh SMSnya setiap pagi, saya butuh telepon darinya setiap malam, saya butuh komentarnya tentang tulisan saya di blog ini yang selalu dikirimkannya melalui SMS (meskipun terkadang komentarnya hanya ‘tulisan kamu yang terbaru bagus deh’), saya butuh percakapan ringan di dalam mobil saat Bandung mulai berulah dengan kemacetannya, saya butuh….

Ah… tuh kan! Saya butuh banyak hal darinya.

Saya patah hati. Setiap malam saya mendengarkan lagu Katy Perry – Thinking Of You karena saya pikir itu satu-satunya lagu yang sangat menggambarkan perasaan saya saat ini. Selalu memikirkannya, bahkan ketika saya sedang bersenang-senang dengan segerombolan teman-teman dahsyat saya sekali pun.

Saya patah hati. Membiasakan untuk kembali beraktivitas tanpa eksistensinya adalah sesuatu yang sama sulitnya seperti seseorang yang amnesia ingin mengembalikan ingatannya. Berlebihan memang, tapi saat ini memang itulah yang sedang saya rasakan.

Saya patah hati dan kalau saja hal ini menimpa pada saya setahun yang lalu, saya pasti menjadi orang yang sangat emosional yang pernah ada. Untungnya waktu membuat saya menjadi lebih dewasa, sehingga saya lebih mampu mengontrol perasaan saya dan memendam semuanya di dalam.

Saya patah hati dan saya tidak menginginkan apa pun selain kehadiran dia kembali. Saya berjanji saya akan berusaha lebih keras untuk menyiapkan diri saya pada sebuah hubungan yang resmi. Saya berjanji akan lebih fleksibel dengan mengkompromikan segala sesuatunya dengannya. Atau setidaknya, kalau pun saya dan dia memang tidak ditakdirkan untuk bersama, setidaknya izinkanlah perpisahan ini terjadi secara bertahap, supaya saya lebih ikhlas dan lebih siap menerima perpisahan itu.

Saya patah hati dan hari ini, sama seperti 2 minggu terakhir yang saya habiskan tanpa eksistensinya, saya menghabiskan waktu luang saya dengan bersenang-senang dengan teman saya, sengaja supaya saya tidak terlalu memikirkan dia setiap saat. Usaha yang sia-sia karena dia tetap ada di dalam pikiran saya.

Saya patah hati. So much for my upcoming birthday!

Malam ini, beberapa jam yang lalu, saya update status di Twitter saya, bunyinya:

Have fun outside, miss you inside. Please call

Saya serius. Saya harap dia benar-benar menelepon saya karena saat ini saya sedang patah hati dan saya tidak mau siapa pun mengobatinya selain… dia.

“You’re the best and yes I do regret, How I could let myself let you go?”

Thinking of You by Katty Perry-


Tuhan Bersosialisasi

13 Oct

Kalau kemarin saya membuat sebuah posting yang menggambarkan kejenuhan saya akan kata ‘Insya Allah’, maka kali ini saya ingin menggambarkan kejenuhan saya akan kata ‘demi Allah’.

Demi Allah

Saya ingat pertama kali saya belajar mengerti kata tersebut, bukan dari guru agama saya, melainkan dari ayah saya. Saya ingat ketika saya masih kecil dan orang tua saya berpikir saya masih terlalu kecil untuk mengerti perbincangan orang dewasa, saya selalu mendengar ayah saya mengatakan kalimat tersebut ketika sedang bertengkar dengan ibu saya. Dari ayah saya, saya belajar bahwa ‘demi Allah’ adalah sebuah kata yang diucapkan ketika kamu tidak sedang berkata jujur, tapi kamu ingin membuat lawan bicaramu percaya pada kamu dengan mudah.

Waktu saya mulai sekolah dan belajar agama, saya baru tahu bahwa persepsi saya mengenai ‘demi Allah’ salah total. Berdasarkan apa yang saya dapat dari pelajaran agama (yang hanya saya perdalam semasa saya sekolah saja), saya mengetahui bahwa ‘demi Allah’ adalah kata yang boleh diucapkan hanya ketika kamu berkata jujur.

Makna yang sangat kontras dengan apa yang saya lihat pada situasi sehari-hari bukan?

Ya, persis sekali dengan kata ‘Insya Allah’.

Ngomong-ngomong setelah beberapa waktu yang lalu saya dilanda kejenuhan akan kata ‘Insya Allah’, kali ini saya diserang kejenuhan yang teramat sangat akan kata ‘demi Allah’. Entah kebetulan atau memang sedang trend, tapi saya menemukan banyak sekali orang yang mengatakan ‘demi Allah’ kepada saya.

Semuanya mengatakan ‘demi Allah’ untuk alasan yang sama, agar saya percaya dengan apa yang mereka katakan. Berbeda dengan kata ‘Insya Allah’, reaksi saya menghadapi ‘demi Allah’ adalah diam, sambil berkata dalam hati ‘just wait and see!’.

Berhadapan dengan begitu banyak orang yang membawa-bawa Tuhan dalam aktivitas sosialnya membuat saya bertanya-tanya sendiri apakah sebenarnya saya ini ketampangan seperti orang yang religius dan dapat mempercayai orang yang membawa-bawa nama Tuhan dengan mudah?

Jawabannya adalah tidak dan tidak.

Satu tidak untuk tampang yang membuat orang berpikir saya ini religius dan akan percaya apa pun selama itu mengatasnamakan Tuhan di dalamnya

Dan satu tidak untuk saya yang mudah percaya akan segala sesuatu yang memuat Tuhan di dalamnya.

Maka hari ini, izinkan saya mendeklarasikan sesuatu:

Ketika kamu diminta untuk melakukan sesuatu tapi kamu tidak yakin atau tidak mau melakukannya, maka sebaiknya katakan tidak jangan pernah mengatakan Insya Allah karena selain kamu akan mengecewakan saya (dan mungkin juga lawan bicaramu yang lainnya, kamu juga sudah mempermainkan Tuhan)

Ketika kamu ingin membuat seseorang percaya akan kata-katamu jangan pernah mengatakan Demi Allah karena hal tersebut tidak lantas membuat orang lain percaya, terutama ketika kamu sebenarnya sedang berbohong, mengatakan hal tersebut akan membuat kamu terdengar seperti sedang menyepelekan Tuhan.

Pada akhirnya, saya meminta kamu, dengan hormat, untuk tidak membawa-bawa Tuhan dalam aktivitas sosial yang kamu lakukan dengan saya, karena di mata saya, hal tersebut tidak membuat kamu terlihat seperti seorang yang religius, tapi justru membuat kamu terlihat seperti seorang manusia yang tidak tahu diri karena senang sekali mempermainkan Tuhan.

Pada akhirnya, sesuatu yang membuat saya percaya pada kamu adalah waktu dan itikad baik yang kamu tunjukkan pada saya, bukan karena kamu memuat nama Tuhan dalam setiap kalimat yang kamu ucapkan.