Tag Archives: Life

Mungkin

24 Nov

Mungkin suatu saat nanti saya akan menyesali keputusan saya ini

Ketika saya beranjak 30 tahun dan merasa belum melakukan apa pun untuk mewujudkan mimpi saya
Ketika pekerjaan saya perlahan-lahan menyita waktu dan pikiran saya hingga akhirnya saya tidak memiliki kehidupan lain
Ketika perasaan berada di ‘rumah’ telah selamanya hilang dari jiwa saya
Ketika uang tak lagi mampu membeli kebahagiaan sekalipun sifatnya temporer

Atau mungkin saya hanya sedang lelah, baik secara fisik, mental, maupun batin
Mungkin saya hanya belum siap menjalani semuanya, terlalu cepat dan terlalu prematur
Mungkin saya hanya butuh sedikit spasi dan waktu, untuk menenangkan diri dan memikirkan kembali semuanya

Ah, terlalu banyak kemungkinan dalam posisi saya yang abu-abu saat ini
Apa pun itu, saya hanya berharap yang terbaik, semoga kemungkinan yang baik saja yang terjadi pada saya dan semoga saya tidak lagi menjadi korban atas pilihan saya sendiri… Semoga…

Advertisements

And I’m Just Starting

27 Oct

Ulang tahun…

Setahun yang lalu ada rasa taku dan khawatir dalam diri saya setiap kali mendengar dua kata tersebut. Syndrom tersebut saya hadapi sejak umur saya menginjak angka 18.

Saya takut menjadi tua. Saya khawatir bahwa pada akhirnya saya terpaksa harus berhadapan dengan kenyataan bahwa hidup tidak bisa berjalan sesuai yang saya inginkan dan sudah terlalu tua untuk saya memperbaiki keadaan agar segalanya berjalan sesuai apa yang saya harapkan dan inginkan.

Tapi lalu saya belajar bahwa hidup tidak hanya segalanya tentang saya. Saya belajar bahwa dalam hidup saya harus berkompromi. Kompromi dengan lingkungan. Kompromi dengan Tuhan. Pada akhirnya waktu membuat saya sadar bahwa meskipun saya adalah satu-satunya manusia yang bertugas menyetir hidup saya danbertanggung jawab akan kebahagiaan saya sendiri, tapi akan selalu ada Tuhan yang mengontrol hidup saya, memberikan apa yang saya butuhkan,bukan apa yang saya mau, meskipun seringnya apa yang saya dapatkan tidak sesuai dengan harapan, keingininan, dan terutama rencana saya.

Dari pengalaman saya belajar banyak hal. Pengalaman mengajarkan saya bahwa kunci utama kebahagiaan saya adalah menerima kenyataan, keadaan, dan diri saya sendiri dengan ikhlas.Pengalaman mengajarkan saya bahwa hidup bukan mempersoalkan mengenai seberapa jauh saya telah melangkah, seberapa banyak pencapaian yang telah saya raih dalam hidup saya, atau apakah saya telah menjalani kehidupan sesuai dengan harapan saya. Pengalaman mengajarkan saya bahwa kesuksesan bukan tentang rencana yang berhasil saya wujudkan.

Dari pengalaman saya belajar bahwa pada akhirnya hal yang penting dalam hidup adalah mengenai seberapa mampu saya bertahan menghadapi kenyataan yang berjalan tidak sesuai harapan saya, seberapa besar hati saya menerima keadaan yang terjadi pada hidup saya, lingkungan saya, dan diri saya sendiri secara ikhlas, dan seberapa jujur saya pada diri saya sendiri.

Tahun ini saya banyak mengalami perubahan… ke arah yang lebih baik, mudah-mudahan.

Tahun ini saya menghadapi pertambahan umur dengan rasa senang.

Senang bahwa pada akhirnya saya memiliki kapasitas untuk menjadi manusia yang ikhlas,setidaknya pada diri saya sendiri terlebih dahulu.

Senang akan fakta bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa hidup saya berada di track yang benar.

Senang menghadapi kenyataan bahwa di usia baru saya ini, saya menemukan begitu banyak hal yang baru: dunia, kehidupan,pekerjaan, teman-teman, bahkan hubungan dengan keluarga dan temanyang sudah lama saya kenal pun terasa sangat baru bagi saya. Pembaruan ke arah yang lebih baik tentunya.

Hari ini, tepat di hari ulang tahun saya, saya membuat janji pada diri saya sendiri. Saya berjanji bahwa  meskipun saat ini atau di masa yang akan datang kenyataan tidak berjalan sesuai dengan harapan, keinginan, dan rencana saya, saya tidak akan membiarkan kekecewaan menghalangi saya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Hari ini, untuk pertama kalinya dalam 24 tahun kehidupan saya, saya akhirnya merasa bahwa menjadi tua bukanlah sesuatu yang harus ditakuti,melainkan sesuatu yang harus dihadapi dengan rasa senang dan syukur.

Sebab hidup tidak akan menjadi lebih baik jika saya tidak bersyukur dan masa hidup saya terlalu singkat jika dihabiskan dengan ketakutan.

A year older and I’m much better, wiser, and stronger… finally 🙂

Selagi Masih Ada Waktu

14 Aug

Hari Minggu adalah hari kesukaan saya. Ada begitu banyak hal yang menyenangkan dari hari Minggu: “pergerakannya” yanng terasa lebih lambat meski waktu yang dimiliki masih tetap 24 jam, keluarga yang berkumpul lengkap membuat saya benar-benar merasa suasana rumah, kolom kesukaan saya di salah satu koran nasional, hari libur yang dijadikan alasan untuk bangun siang oleh banyak orang, waktu yang tepat untuk berolahraga meski pada akhirnya tujuan beralih pada pencarian makanan…, ada begitu banyak hal yang saya cintai di hari Minggu.

Tapi hari Minggu ini berbeda. Kejadian yang baru saja terjadi Sabtu pagi kemarin dan ramai dibicarakan di Twitter membuat Minggu ini terasa sangat drama bagi saya. Kejadian tersebut mengingatkan saya akan dua hal: kematian dan kehilangan.

Kematian dan kehilangan…, setiap kali teringat akan hal tersebut saya teringat kembali akan kejadian beberapa tahun yang lalu. Dalam perjalanannya untuk menemui saya, seorang sahabat mengalami kejadian di jalan tol. Sahabat saya tersebut koma selama 3 hari hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Tepat setelah kejadian tersebut, saya diserang oleh perasaan bersalah dan penyesalan. Sewaktu itu pemikiran seperti ‘seandainya saja saya tidak janji ketemuan dengan dia, dia tidak akan menyetir sendiri dan mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya’ menyerang kepala saya. Saya diserang oleh rasa kehilangan dan penyesalan yang membuat saya berharap melakukan hal yang tidak saya lakukan dan tidak melakukan hal yang saya lakukan agar saya tidak harus kehilangan sahabat saya.

Waktu itu saya masih SMA, masih sangat muda dan labil, jadi rasanya wajar saja kalau saya berharap saya dapat mengubah takdir. Pengalaman dan bertambahnya tingkat kedewasaan mengubah cara pandang saya akan kehidupan dan takdir. Saya belajar untuk menerima dan mengerti bahwa saya tidak akan pernah bisa mengingkari kematian, sesuatu yang memang sudah dijadwalkan olehNya. Sekalipun saat itu sahabat saya berdiam diri di rumah, tidak bahkan beranjak dari tempat tidurnya, sesuatu bisa saja terjadi dan mengambil nyawanya.

Hari ini, saya kembali berpikir dan mereview hidup saya.

Saya tidak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk saya. Hidup tidak seperti pertandingan sepakbola dimana saya bisa mengetahui sisa waktu yang saya miliki.

Detiki ini saya bisa saja mengetik sesuatu, up date status di Twitter, bercanda dengan adik saya, menertawakan hal-hal yang lucu hingga menangis dan perut saya sakit, tapi lalu di detik selanjutnya Tuhan mengambil nyawa saya.

Saya tidak akan pernah tahu berapa lama lagi sisa waktu yang saya miliki di dunia ini, tapi saya sadar bahwa pada akhirnya yang menjadi inti dari semuanya bukanlah berapa banyak waktu yang saya miliki di dunia ini, tapi apa yang saya lakukan selama waktu tersebut berjalan.

Maka detik ini juga saya membuat perjanjian dengan diri saya.

Saya berjanji untuk lebih mensyrukuri apa yang saya miliki dalam hidup saya, meski saya tidak bisa mengingkari fakta bahwa masih ada beberapa ketidakpuasan yang saya rasakan.

Saya berjanji untuk lebih bertanggung jawab akan hidup saya, karena pada akhirnya sayalah orang satu-satunya yang bertugas untuk ‘menyetir’ hidup saya.

Saya berjanji untuk lebih sering menghabiskan waktu dengan orang-orang yang saya sayangi dan yang menyayangi saya.

Saya berjanji untuk berbuat lebih baik dan lebih banyak lagi bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk lingkungan sekitar saya.

Saya berjanji akan melakukan yang terbaik. Selagi masih ada waktu. Selama saya masih mampu.

Monster

11 Nov

Satu hal yang selalu sukses membuat saya ingin kembali ke masa lalu adalah karena monster yang menghantui saya hidup di kolong kasur saya dan hanya mendatangi saya ketika malam datang dan saya (terpaksa) harus tidur.

Berbeda dengan saat ini, ketika usia saya menginjak twenty something. Monster tersebut tidak lagi hidup di kolong tempat tidur saya, kini monster tersebut hidup dengan nyaman di pikiran saya.

Itulah mengapa saya selalu berusaha untuk tetap sibuk. Jika saya tidak dapat menemukan sesuatu yang bisa saya lakukan, saya mencari teman untuk bersosialisasi, baik itu melalui pembicaraan langsung atau sekedar sahut-sahutan di Twitter. Tentunya, kesibukan itu tidak selalu ada, ada masa ketika saya sedang benar-benar sial dan tidak ada satu pun yang bisa dilakukan, waktu seperti itulah yang selalu dipergunakan oleh monster tersebut untuk menyerang saya.

Monster itu bukan lagi sebuah sosok mengerikan, bertaring, bertubuh besar, dengan mata menyala yang seolah-olah siap menyerang saya kapan pun dia mau. Monster tersebut kini telah menjelma menjadi sebuah pikiran negatif yang membuat saya merasa jauh lebih takut daripada ketika saya harus berhadapan dengan monster imajinasi saya sewaktu masih kecil. Satu hal yang membuat saya merasa semakin terancam adalah karena saya tahu bahwa monster yang berhadapan dengan saya sewaktu kecil hanyalah sosok khayalan belaka, sementara monster yang kini berhadapan dengan saya adalah sesuatu yang sifatnya lebih nyata.

Monster tersebut kini menjelma menjadi sebuah kekhawatiran. Kekhawatiran bahwa hidup tidak berjalan sebagaimana rencana saya. Kekhawatiran akan tidak bisa mendapatkan apa yang saya inginkan.Singkatnya, saya khawatir akan masa depan saya, sesuatu yang memang sih belum terjadi, tapi mungkin saja terjadi

Monster tersebut kini menjelma menjadi sebuah ketakutan. Ketakutan akan kehilangan orang-orang (dan hal-hal) yang saya cintai. Ketakutan akan kegagalan. Ketakutan akan segala kemungkinan terburuk dalam hidup ini yang (lagi-lagi) belum terjadi tapi sangat mungkin terjadi sewaktu-waktu.

Berbeda dengan ketika saya masih kecil dimana saya bisa langsung berteriak dan membangunkan orang-orang untuk membantu saya mengusir monster, kali ini hanya tinggal saya sendirilah yang harus berhadapan dengan monster tersebut.

Pada akhirnya saya disadarkan oleh sebuah fakta bahwa musuh terbesar dalam hidup saya adalah diri saya sendiri, sebab dari diri saya sendirilah monster itu lahir, hidup, dan tumbuh. Dari diri saya sendirilah saya menghasilkan “makanan” untuk dikonsumsi oleh monster tersebut sehingga monster itu menjadi sebuah sosok yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Tapi, tidak peduli betapa mengganggunya monster tersebut dalam hidup saya, saya tidak akan pernah membiarkannya mati. Saya akan terus membuatkan makanan yang lezat untuk monster tersebut, karena jika monster tersebut mati, saya akan kehilangan tujuan saya dalam hidup dan tidak ada lagi yang pantas diperjuangkan.

Saya akan membiarkan monster itu tetap hidup dan tumbuh menjadi kuat bersama saya.

“Cara terbaik mengatasi monster dalam pikiran kamu adalah dengan jatuh cinta pada diri kamu sendiri, karena dengan cara itulah kamu bisa bersahabat dengan sang monster” – dia, beberapa jam yang lalu

 

Ya, Ya, Ya

18 Oct

Hari itu semakin dekat. Hari ulang tahun saya yang ke 23. Monster di kepala saya semakin gencar menyerang, bahkan rasanya setiap malam saya tidur ditemani gelisah karena monster-monster itu. Hal seperti ini selalu dan selalu saja terjadi di bulan Oktober. Saya menyebutnya sindrom pra ulang tahun karena begitu hari ulang tahun saya datang, sindrom ini pun menghilang tanpa jejak.

Iya, saya memang over sensitive, impulsif, dan drama queen. Sindrom seperti ini sepertinya hanya dialami oleh saya atau orang-orang yang sama sensitif, impulsif, dan dramanya seperti saya.

Anyway, tapi tahun ini saya memiliki kebanggan tersendiri. Sebuah prestasi yang sangat hebat (menurut saya) dan kalau ini adalah sebuah perlombaan, saya pasti akan memenangkannya, lalu memajang piala dan sertifikatnya di ruang tamu saya, sengaja agar semua orang bisa melihatnya.

Prestasi terbesar saya tahun ini adalah keberhasilan saya mengatasi sindrom pra ulang tahun saya dengan baik. Iya sih, saya masih suka cemas dan khawatir tidak jelas mengenai pencapaian yang ingin saya raih dalam hidup saya; saya juga masih suka gelisah ketika tertidur, tapi setidaknya saya menghadapi sindrom ini dengan cara yang jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini, dalam rangka berperang menghadapi sindrom pra ulang tahun, saya memutuskan untuk melakukan begitu banyak hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan di kepala saya. Tahun ini, saya melakukan sebuah langkah yang sangat sederhana, tapi ternyata memberikan efek yang sangat hebat untuk diri saya sendiri. Tahun ini, saya mengatakan ‘YA’ untuk banyak hal.

Mengatakan ‘ya’.

Sepertinya sudah lama sekali saya lupa bagaimana cara mengatakan ‘ya’ tanpa sebuah keterpaksaan. Menjadi seorang yang pemikir dan penuh pertimbangan membuat saya kesulitan mengatakan ‘ya’ akan segala tawaran atau pun tantangan yang datang pada saya. Di lain sisi, menjadi seorang dengan sifat ‘nggak-enakan’ juga membuat saya menjadi seseorang yang sering mengatakan ‘ya’ hanya atas dasar rasa tidak enak pada orang lain dan pada akhirnya saya melakukan sesuatu dengan terpaksa.

Tapi tahun ini berbeda. Saya mengatakan ‘ya’ karena saya memang menginginkannya, jadi segala hal yang saya lakukan dilandasi sebuah keikhlasan.

Hasilnya? Luar biasa!

Cukup dengan kata’ ya’ saya menemukan diri saya jatuh cinta pada begitu banyak hal yang baru dan semakin cinta pada hal-hal yang saya cintai sejak dahulu.

Saya semakin cinta pada bau kopi yang diseduh dengan air panas. Saya semakin cinta pada menulis. Saya semakin cinta pada membaca. Saya semakin cinta pada kegiatan bersosialisasi yang memungkinkan saya bertemu dengan begitu banyak orang baru yang keren-keren (setidaknya di mata saya). Saya semakin cinta pada bau tanah dan dedaunan yang basah karena hujan. Saya semakin cinta pada melihat hujan deras turun dari dalam ruangan yang membuat saya tetap kering dan hangat. Saya semakin cinta…

Ah akan terlalu banyak dan terlalu panjang untuk diceritakan.

Saya juga menemukan cinta baru saya.

Saya mulai jatuh cinta pada Homogenic dan Ndeesaster, para musisi Indonesia yang membuat saya kembali percaya bahwa meskipun jumlahnya tidak banyak, tapi masih ada musisi Indonesia yang memang berkualitas dan tidak bermusik sesuai trend. Saya mulai jatuh cinta teman-teman baru saya, teman-teman baru yang mengeluarkan aura dan energi positif untuk saya sehingga saya pun, sama halnya seperti mereka, terbawa positif. Saya mulai jatuh cinta pada ‘It Girl’, sebuah game baru di FB yang mencegah saya dari penyakit bosan akibat tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan. Saya mulai jatuh cinta pada kegiatan mencari gambar untuk disisipkan pada posting blog saya. Saya mulai jatuh cinta pada….

Ah, lagi-lagi akan terlalu banyak dan panjang jika harus saya sebutkan satu per satu.

Tapi di balik semua kecintaan saya akan hal baru dan semakin dalamnya cinta saya akan hal lama, satu hal yang paling saya syukuri dan akan saya jadikan hadiah terindah untuk diri saya sendiri di hari ulang tahun saya adalah: kecintaan saya akan hidup saya dan diri saya sendiri.

Terdengar narsis memang, tapi siapa lagi yang bisa mencintai hidup dan diri saya lebih baik dari saya sendiri?

Jadi, besok-besok, ketika saya kembali menjadi orang yang sinis dan kurang menyenangkan, tolong kembalikan cinta saya pada hal lama atau pertemukan saya dengan cinta baru saya cukup dengan mengingatkan saya untuk berkata ‘ya’.

P.S. Gambar diambil dari getty images

 

 

Day 28: Unusual

2 Sep

Kadang, cuma butuh seorang asing dan sebuah kegiatan di luar kebiasaan untuk membuat saya (dan mungkin juga kamu) berpikir.

Seperti seorang asing bernama Shaskia Noerdin. Saya tidak pernah mengenalnya dan satu-satunya hal yang membuat saya mengetahui tentangnya (dan tertarik untuk mencari tahunya lebih dalam lagi) adalah karena billboard bergambar wajahnya yang terpampang di laundry 5 a sec jalan R.E. Martadinata – Bandung yang sering saya lewati.

Dalam sebuah posting di blognya, Shaskia Noerdin membawa saya pada sebuah kegiatan yang jauh di luar kebiasaan saya: membaca berita kematian di sebuah koran yang memang tiap hari diantar ke rumah.

Membaca koran saja sudah menjadi sesuatu yang di luar kebiasaan untuk saya, mengingat saya lebih memilih membaca majalah yang jauh lebih menarik atau berita di internet yang lebih up date, apalagi membaca berita kematian di sebuah koran.

Sebenarnya, saya benci kegiatan ini. Biasanya, ketika saya terpaksa membaca sebuah koran karena ada sesuatu yang menarik di dalamnya, saya selalu melewatkan kolom ini. Saya takut akan kematian, sesuatu yang pasti akan terjadi pada siapa pun, dan saya tidak pernah bagus dalam menghadapi ketakutan saya sendiri.

Tapi saya sudah bilang ‘kan kalau hari ini berbeda? Hari ini seorang asing menginspirasi saya untuk melakukan sebuah kegiatan di luar kebiasaan saya.

Saya tidak percaya akan sebuah kebetulan, maka takdir membawa saya pada hari dimana koran yang saya baca menampilkan sebuah berita kematian dari seseorang yang saya kenal, tidak dekat, tapi setidaknya saya pernah mengobrol dan berjabat tangan dengannya. Ibu itu pernah menjalin hubungan kerja dengan saya.

Melihat berita kematian ibu itu di koran membuat saya melihat ke belakang dan mengingat-ingat sosok ibu itu. Lucu karena untuk ukuran seseorang yang hanya kenal selewat dengan saya, ternyata ibu itu meninggalkan begitu banyak kesan di hati saya, untungnya kesan tersebut adalah sebuah kesan yang baik, tidak ada satu pun kesan buruk yang membekas di hati saya.

Pada akhirnya, setelah saya membaca berita kematian itu, saya memejamkan mata saya, lalu mengatakan dalam hati “satu lagi orang yang baik telah pergi, semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya”.

Pagi ini, seorang asing dan sebuah kegiatan di luar kebiasaan saya membawa saya pada sebuah niat untuk menjalani hidup saya jauh lebih baik lagi, menyusun komposisi terbaik ddan mengoptimalkan penggunaan peralatan terbaik dalam hidup saya hingga akhirnya suatu saat nanti, ketika saya sudah meninggal, saya telah benar-benar merampungkan sebuah resep kehidupan yang baik.

Suatu saat nanti, ketika saya meninggal, saya harap nasib saya akan sama seperti nasib ibu itu ketika berita kematiannya dibaca oleh saya: diingat sebagai orang baik dan didoakan diterima di sisi-Nya. Amin!

Day 23: Zero Sum Game

28 Aug

“Just like having pizza, life is  a zero sum game.”

Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh seorang teman pada waktu saya dan dia sedang berbagi pizza keju di suatu sore.

Waktu mendengar pernyataan itu, saya hanya bisa tersenyum. Waktu itu, teman saya sedang galau, gelar sarjana yang baru diraihnya sebulan yang lalu justru menjadi mimpi buruk untuknya. Menjadi sarjana berarti melepas statusnya sebagai mahasiswa dan menyandang status baru sebagai pengangguran. Waktu itu yang ada di pikiran saya adalah dia hanya sedang galau, jadi setiap kalimat yang diucapkannya bersifat impulsif dan diragukan kebenarannya.

Tapi beberapa hari yang lalu saya kembali teringat pernyataan tersebut. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata pernyataan teman saya itu ada benarnya juga. Seperti sedang berbagi satu pan pizza dengan seorang teman, hidup adalah sebuah zero sum game, dimana untuk satu hal yang kita peroleh, maka kita akan kehilangan satu hal lain.

Contohnya adalah seperti teman saya ini, ketika dia mendapatkan gelar sarjana yang susah payah diusahakannya selama 4 tahun lebih, dia harus rela kehilangan statusnya sebagai mahasiswa.

Atau contoh paling sederhana adalah mengenai umur. Setiap tahunnya, ketika hari ulang tahun datang, haruslah disadari bahwa ketika umur kita bertambah satu tahun maka realita yang terjadi adalah jatah hidup kita berkurang satu tahun.

Atau ketika kita mendapatkan teman baru, maka di luaran sana kita akan kehilangan kontak dengan seorang lama untuk alasan apa pun.

Memang selalu ada konsekuensi dari setiap hal yang kita peroleh, seperti berbagi satu pan pizza. Zero sum game namanya.

Tapi bukan itu masalahnya. Pointnya adalah dari setiap hal yang kita peroleh, seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk (setidaknya) tidak kehilangan terlalu banyak. Karena pada dasarnya hidup membutuhkan sebuah rasio yang seimbang dan jangan sampai ketika kita memperoleh terlalu sedikit, kita justru kehilangan terlalu banyak.

P.S. gambar diperoleh dari gettyimages