Tag Archives: Gender

Luna Dan Gender

16 Nov

Salah satu hal yang paling saya sukai dari ulang tahun adalah karena bisa dipastikan saya mendapatkan buku dari seorang sahabat sebagai hadiah ulang tahun dan kalau lagi beruntung, saya juga mendapat beberapa buku dari teman yang lain. Well, have I told you that I’m so in love with books?

Jadi sebagai hadiah ulang tahun saya, Zhe yang tadinya berniat ngasih saya striptease kit (yang lalu urung karena barangnya lagi kosong di ak.sa.ra) akhirnya memberikan saya sebuah buku berjudul Luna dari Julie Anne Peters.

Luna by Julie Anne Peters

Cuma ada satu komentar soal Luna: BRILIAN! Luna menceritakan soal Liam, seorang lelaki yang merasa dirinya perempuan dan lebih memilih untuk dipanggil Luna, yang selalu menyelinap ke kamar saudara perempuannya setiap tengah malam untuk memakai pakaian, make up, dan barang-barang lainnya milik sang saudara perempuan hanya agar dia merasa benar-benar menjadi seorang perempuan, sesuatu yang tidak bisa dia lakukan ketika dia bersosialisasi di siang hari.

Membaca novel Luna ini membuat saya merasa sedang bercermin. Dalam tingkat yang tidak seekstrim Liam alias Luna, saya juga pernah merasakan ketidakpuasan saya akan gender yang Tuhan berikan kepada saya. Saya masuk dalam kategori newbie dalam soal menikmati gender saya, menikmati diri sebagai seorang perempuan.

Sebelumnya, ada masa dalam hidup saya dimana saya mempertanyakan mengapa selalu perempuan yang berada dalam posisi yang merugikan. Ada masa dalam hidup saya dimana saya merasa kehidupan menjadi seorang lelaki jauh lebih mudah dibandingkan menjadi seorang perempuan.

Let’s say, mulai dari lelaki yang hanya perlu berpakaian rapi hanya untuk terlihat ganteng, sementara perempuan harus menghabiskan begitu banyak uang untuk membeli banyak hal dan menghabiskan begitu banyak waktu untuk menata rambut dan memakaikan ini dan itu di wajah untuk terlihat cantik.

Belum lagi perempuan selalu mengalami rasa sakit, mulai dari sakit karena berjalan-jalan keliling mall dengan menggunakan sepatu hak tinggi, sakit ketika hamil dan melahirkan, sakit ketika PMS, dan bahkan sakit ketika kehilangan keperawanan – sesuatu yang harusnya menyenangkan tapi jadi sangat menyakitkan untuk kaum perempuan.

Belakangan saya baru belajar menikmati gender saya sebagai perempuan. Meskipun saya masih bisa menemukan sisi tidak enaknya menjadi seorang perempuan, tapi saya sekarang cenderung lebih bersyukur menjadi perempuan. Terutama di zaman sekarang ini, saat perempuan sudah bisa mendapatkan kursi di pemerintahan dan nggak harus sibuk surat menyurat untuk mendapatkan hak yang sama mengenai pendidikan seperti waktu zaman Kartini.

Belum lagi dengan kebebasan perempuan untuk berpakaian. Yah, at least cuma perempuan yang bisa jalan-jalan dan tetap terlihat cantik dengan pakaian yang seharusnya menjadi milik kaum lelaki, seperti jeans dan T-shirt. Lelaki tentunya tidak akan pernah bisa memakai rok dan baby doll lalu berkeliling mall kecuali jika ingin dilihat sebagai banci kaleng.

Ditambah dengan PMS sebagai alasan untuk cuti kerja (padahal alasan sebenarnya adalah malas), mendapatkan kursi ketika semua kursi di bis terisi penuh (meskipun gue ragu masih ada cukup banyak lelaki gentle yang bersedia memberikan kursinya), dan (this is what I love most) perempuan akan selalu mendapatkan cincin berlian ketika seorang lelaki melamarnya.

So with all of those privileges, how can I not enjoying my self of being a woman?