Mungkin

24 Nov

Mungkin suatu saat nanti saya akan menyesali keputusan saya ini

Ketika saya beranjak 30 tahun dan merasa belum melakukan apa pun untuk mewujudkan mimpi saya
Ketika pekerjaan saya perlahan-lahan menyita waktu dan pikiran saya hingga akhirnya saya tidak memiliki kehidupan lain
Ketika perasaan berada di ‘rumah’ telah selamanya hilang dari jiwa saya
Ketika uang tak lagi mampu membeli kebahagiaan sekalipun sifatnya temporer

Atau mungkin saya hanya sedang lelah, baik secara fisik, mental, maupun batin
Mungkin saya hanya belum siap menjalani semuanya, terlalu cepat dan terlalu prematur
Mungkin saya hanya butuh sedikit spasi dan waktu, untuk menenangkan diri dan memikirkan kembali semuanya

Ah, terlalu banyak kemungkinan dalam posisi saya yang abu-abu saat ini
Apa pun itu, saya hanya berharap yang terbaik, semoga kemungkinan yang baik saja yang terjadi pada saya dan semoga saya tidak lagi menjadi korban atas pilihan saya sendiri… Semoga…

Tags: , ,

And I’m Just Starting

27 Oct

Ulang tahun…

Setahun yang lalu ada rasa taku dan khawatir dalam diri saya setiap kali mendengar dua kata tersebut. Syndrom tersebut saya hadapi sejak umur saya menginjak angka 18.

Saya takut menjadi tua. Saya khawatir bahwa pada akhirnya saya terpaksa harus berhadapan dengan kenyataan bahwa hidup tidak bisa berjalan sesuai yang saya inginkan dan sudah terlalu tua untuk saya memperbaiki keadaan agar segalanya berjalan sesuai apa yang saya harapkan dan inginkan.

Tapi lalu saya belajar bahwa hidup tidak hanya segalanya tentang saya. Saya belajar bahwa dalam hidup saya harus berkompromi. Kompromi dengan lingkungan. Kompromi dengan Tuhan. Pada akhirnya waktu membuat saya sadar bahwa meskipun saya adalah satu-satunya manusia yang bertugas menyetir hidup saya danbertanggung jawab akan kebahagiaan saya sendiri, tapi akan selalu ada Tuhan yang mengontrol hidup saya, memberikan apa yang saya butuhkan,bukan apa yang saya mau, meskipun seringnya apa yang saya dapatkan tidak sesuai dengan harapan, keingininan, dan terutama rencana saya.

Dari pengalaman saya belajar banyak hal. Pengalaman mengajarkan saya bahwa kunci utama kebahagiaan saya adalah menerima kenyataan, keadaan, dan diri saya sendiri dengan ikhlas.Pengalaman mengajarkan saya bahwa hidup bukan mempersoalkan mengenai seberapa jauh saya telah melangkah, seberapa banyak pencapaian yang telah saya raih dalam hidup saya, atau apakah saya telah menjalani kehidupan sesuai dengan harapan saya. Pengalaman mengajarkan saya bahwa kesuksesan bukan tentang rencana yang berhasil saya wujudkan.

Dari pengalaman saya belajar bahwa pada akhirnya hal yang penting dalam hidup adalah mengenai seberapa mampu saya bertahan menghadapi kenyataan yang berjalan tidak sesuai harapan saya, seberapa besar hati saya menerima keadaan yang terjadi pada hidup saya, lingkungan saya, dan diri saya sendiri secara ikhlas, dan seberapa jujur saya pada diri saya sendiri.

Tahun ini saya banyak mengalami perubahan… ke arah yang lebih baik, mudah-mudahan.

Tahun ini saya menghadapi pertambahan umur dengan rasa senang.

Senang bahwa pada akhirnya saya memiliki kapasitas untuk menjadi manusia yang ikhlas,setidaknya pada diri saya sendiri terlebih dahulu.

Senang akan fakta bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa hidup saya berada di track yang benar.

Senang menghadapi kenyataan bahwa di usia baru saya ini, saya menemukan begitu banyak hal yang baru: dunia, kehidupan,pekerjaan, teman-teman, bahkan hubungan dengan keluarga dan temanyang sudah lama saya kenal pun terasa sangat baru bagi saya. Pembaruan ke arah yang lebih baik tentunya.

Hari ini, tepat di hari ulang tahun saya, saya membuat janji pada diri saya sendiri. Saya berjanji bahwa  meskipun saat ini atau di masa yang akan datang kenyataan tidak berjalan sesuai dengan harapan, keinginan, dan rencana saya, saya tidak akan membiarkan kekecewaan menghalangi saya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Hari ini, untuk pertama kalinya dalam 24 tahun kehidupan saya, saya akhirnya merasa bahwa menjadi tua bukanlah sesuatu yang harus ditakuti,melainkan sesuatu yang harus dihadapi dengan rasa senang dan syukur.

Sebab hidup tidak akan menjadi lebih baik jika saya tidak bersyukur dan masa hidup saya terlalu singkat jika dihabiskan dengan ketakutan.

A year older and I’m much better, wiser, and stronger… finally :)

Tags: ,

Indonesia Merdeka

17 Aug

“Kalau kita hidup di zaman pra kemerdekaan, kira-kira kita bakalan jadi pahlawan nggak ya?”

Pertanyaan tersebut diajukan oleh seorang teman dalam sebuah perbincangan sore kamu. Waktu itu, saya tidak menanggapi pertanyaan teman saya tersebut dengan serius, saya malah membuat lelucon dari pertanyaan yang diajukan teman saya tersebut.

Sampai akhirnya semalam ketika saya tidak bisa tidur dan dunia maya dipenuhi euforia kemerdekaan, saya kembali kepikiran akan pertanyaan tersebut.

Akankah saya menjadi seorang pahlawan jika saya hidup di era pra kemerdekaan?

Jawaban pertama yang muncul di kepala saya adalah jawaban yang muncul dari idealisme saya, ‘iya’. Saya akan menjadi seorang pahlawan yang berada di barisan terdepan melawan penjajah, memimpin pasukan meski dalam keadaan sakit, atau setidaknya saya akan menjadi orang yang menyebarkan semangat kesetaraan gender seperti apa yang dilakukan Kartini dengan surat-suratnya.

Tapi realita menampar saya. Hati kecil saya menolak menyetujui bayangan tersebut. Jawaban yang jujur justru berbanding terbalik dengan jawaban ideal saya. Secara mengejutkan, ternyata lebih mudah bagi saya untuk membayangkan kehidupan warga kelas menengah yang pasrah, yang hanya mengharapkan kemerdekaan tapi tidak melakukan apa-apa untuk meraihnya. Atau bahkan jika saya beruntung, maka saya akan menjadi seorang anak ningrat yang sama sekali tidak peduli akan kemerdekaan, tidak mau berjuang meraih kemerdekaan, tapi justru teriak paling keras ketika kemerdekaan diumumkan hanya karena terbawa euforia dan tidak mau disebut tidak nasionalis.

Saya jadi berpikir, selama ini saya telah salah pengertian mengenai kemerdekaan. Suka atau tidak dan sadar maupun tidak, pemikiran saya akan kemerdekaan sangat dangkal. Selama ini saya berpikir bahwa Indonesia tidak perlu merdeka, pokoknya selama perut saya kenyang, hidup saya senang, dan banyak uang, semuanya akan baik-baik saja, merdeka atau tidak. Semangat ‘merdeka atau mati’ tentu saja tidak tumbuh dalam diri saya sedikit pun.

Semalam seorang teman mengatakan sesuatu yang (maaf sekali saya lupa kalimat persisnya) membuat saya berpikir ulang apakah sebagai warga negara Indonesia saya sudah menjalankan peran saya dengan baik dan apakah saya sudah cukup berprestasi dan menciptakan Indonesia yang lebih baik.

Jawabannya tidak. Saya tidak menjalankan peran saya sebagai warga dengan baik, tidak juga cukup berprestasi dan menciptakan Indonesia yang lebih baik.

Selama ini saya sibuk mengatai-ngatai, memarahi, mengeluh, dan memaki pemerintah yang tidak becus menjalankan tugasnya, padahal di luar kesadaran saya juga sebenarnya tidak becus menjalankan tugas dan peran saya sebagai warga negara.

Kemarin, dalam sebuah acara buka bersama, saya dan beberapa orang teman menyisakan makanan kami di piring dalam porsi yang cukup banyak, alasannya satu: bosan. Sementara saya sibuk setelah ini mau makan dimana lagi, seorang teman berinisiatif memanggil seorang anak kecil penjaja makanan dan memberikan makanan sisa kami untuk dimakan. Awalnya saya pikir itu adalah tindakan yang tidak sopan dan malah cenderung melecehkan, tapi ketika saya melihat ekspresi anak itu, saya berubah pikiran. Dari raut wajah anak itu saya menangkap satu hal yang jauh di luar dugaan saya: ekspresi kemerdekaan, merdeka dari rasa lapar dan ketakutan akan tidur dengan perut kosong.

Malamnya saya berbincang dengan sahabat saya mengenai kejadian tersebut. Sahabat saya menanggapi dengan kalimat yang berhasil membuat pola pikir saya berubah “menurut gue, apa yang lo lakuin itu salah satu bentuk prestasi. Prestasi ‘kan nggak selamanya harus sesuatu yang bersertifikat, berpiala, berpiagam, dan diakui aja, dengan lo bisa berbagi dengan orang yang sama sekali nggak lo kenal secara ikhlas juga udah bentuk dari prestasi. Prestasi yang cukup lo dan Tuhan yang tahu.”

Kalimat tersebut membawa saya pada definisi ulang kata prestasi.

Prestasi adalah ketika saya dapat membebaskan seseorang dari rasa lapar.

Prestasi adalah ketika saya dapat menerima perbedaan opini dan pandangan tanpa harus berakhir dengan tombol block atau rasa benci.

Prestasi adalah ketika saya dapat membebaskan seseorang menganut kepercayaannya, baik itu kepercayaan akan adanya Tuhan maupun kepercayaan akan tidak adanya Tuhan.

Prestasi adalah ketika saya dapat membebaskan seseorang untuk mengekspresikan dirinya tanpa harus menghakiminya setelah itu.

Prestasi adalah… ketika saya dapat membuat lingkungan sekitar saya merasa merdeka.

Maka secara otomatis pemikiran saya akan kemerdekaan pun berubah.

Merdeka di kepala saya tidak lagi sekedar perut kenyang, hidup senang, dan banyak uang. Dan YA, saya rasa Indonesia harus merdeka.

Meskipun semangat ‘merdeka atau mati’ belum benar-benar tumbuh dan berkembang, tapi setidaknya semangat tersebut sudah mulai muncul di hati saya. Maka pagi ini saya mengawali hari saya dengan semangat yang baru dan sebuah pertanyaan ‘apa lagi prestasi yang dapat saya lakukan untuk memerdekakan Indonesia?’.

Semoga semangat tersebut benar-benar semangat baru yang mengisi hidup saya, bukan hanya sebuah bentuk euforia terhadap hari kemerdekaan.

Tags:

Selagi Masih Ada Waktu

14 Aug

Hari Minggu adalah hari kesukaan saya. Ada begitu banyak hal yang menyenangkan dari hari Minggu: “pergerakannya” yanng terasa lebih lambat meski waktu yang dimiliki masih tetap 24 jam, keluarga yang berkumpul lengkap membuat saya benar-benar merasa suasana rumah, kolom kesukaan saya di salah satu koran nasional, hari libur yang dijadikan alasan untuk bangun siang oleh banyak orang, waktu yang tepat untuk berolahraga meski pada akhirnya tujuan beralih pada pencarian makanan…, ada begitu banyak hal yang saya cintai di hari Minggu.

Tapi hari Minggu ini berbeda. Kejadian yang baru saja terjadi Sabtu pagi kemarin dan ramai dibicarakan di Twitter membuat Minggu ini terasa sangat drama bagi saya. Kejadian tersebut mengingatkan saya akan dua hal: kematian dan kehilangan.

Kematian dan kehilangan…, setiap kali teringat akan hal tersebut saya teringat kembali akan kejadian beberapa tahun yang lalu. Dalam perjalanannya untuk menemui saya, seorang sahabat mengalami kejadian di jalan tol. Sahabat saya tersebut koma selama 3 hari hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Tepat setelah kejadian tersebut, saya diserang oleh perasaan bersalah dan penyesalan. Sewaktu itu pemikiran seperti ‘seandainya saja saya tidak janji ketemuan dengan dia, dia tidak akan menyetir sendiri dan mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya’ menyerang kepala saya. Saya diserang oleh rasa kehilangan dan penyesalan yang membuat saya berharap melakukan hal yang tidak saya lakukan dan tidak melakukan hal yang saya lakukan agar saya tidak harus kehilangan sahabat saya.

Waktu itu saya masih SMA, masih sangat muda dan labil, jadi rasanya wajar saja kalau saya berharap saya dapat mengubah takdir. Pengalaman dan bertambahnya tingkat kedewasaan mengubah cara pandang saya akan kehidupan dan takdir. Saya belajar untuk menerima dan mengerti bahwa saya tidak akan pernah bisa mengingkari kematian, sesuatu yang memang sudah dijadwalkan olehNya. Sekalipun saat itu sahabat saya berdiam diri di rumah, tidak bahkan beranjak dari tempat tidurnya, sesuatu bisa saja terjadi dan mengambil nyawanya.

Hari ini, saya kembali berpikir dan mereview hidup saya.

Saya tidak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk saya. Hidup tidak seperti pertandingan sepakbola dimana saya bisa mengetahui sisa waktu yang saya miliki.

Detiki ini saya bisa saja mengetik sesuatu, up date status di Twitter, bercanda dengan adik saya, menertawakan hal-hal yang lucu hingga menangis dan perut saya sakit, tapi lalu di detik selanjutnya Tuhan mengambil nyawa saya.

Saya tidak akan pernah tahu berapa lama lagi sisa waktu yang saya miliki di dunia ini, tapi saya sadar bahwa pada akhirnya yang menjadi inti dari semuanya bukanlah berapa banyak waktu yang saya miliki di dunia ini, tapi apa yang saya lakukan selama waktu tersebut berjalan.

Maka detik ini juga saya membuat perjanjian dengan diri saya.

Saya berjanji untuk lebih mensyrukuri apa yang saya miliki dalam hidup saya, meski saya tidak bisa mengingkari fakta bahwa masih ada beberapa ketidakpuasan yang saya rasakan.

Saya berjanji untuk lebih bertanggung jawab akan hidup saya, karena pada akhirnya sayalah orang satu-satunya yang bertugas untuk ‘menyetir’ hidup saya.

Saya berjanji untuk lebih sering menghabiskan waktu dengan orang-orang yang saya sayangi dan yang menyayangi saya.

Saya berjanji untuk berbuat lebih baik dan lebih banyak lagi bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk lingkungan sekitar saya.

Saya berjanji akan melakukan yang terbaik. Selagi masih ada waktu. Selama saya masih mampu.

Tags: , , ,

A Friend Indeed

2 Jun

Terkadang yang kita butuhkan hanyalah seseorang

Seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa berkata sepatah kata pun, hanya untuk membuat kita merasa lebih baik,

Seseorang yang akan meyakinkan diri kita bahwa kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, meskipun keinginan tersebut terlihat terlalu tinggi dan mengawang-awang,

Seseorang yang percaya akan potensi kita, bahkan di saat kita sendiri pun ragu akan hal itu,

Seseorang yang akan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja setiap kali rasa takut, cemas, gelisah, dan hal buruk sedang menyerang

Seseorang yang selalu berada di sebelah kita, meskipun tidak secara fisik, baik dalam susah mau pun senang

Seseorang yang membuat kita merasa bebas untuk mengungkapkan segala hal, termasuk sisi paling buruk dalam diri kita tanpa takut akan dihakimi setelahnya

Seseorang yang akan menerima kita apa adanya

Saya mendefinisikan seseorang tersebut sebagai seorang teman baik, a friend in need is a friend indeed. Ada kurang lebih 9,3 miliar manusia di dunia ini, tapi sangat sulit untuk mendapatkan seseorang seperti itu. Untungnya, saya sudah menemukan seseorang tersebut.

Terima kasih karena telah menjadi seseorang tersebut selama beberapa tahun terakhir. Semoga rantai persahabatan ini tidak akan pernah putus. Happy birthday, besta’!

P.S. Ditulis sebagai hadiah ulang tahun untuk seorang sahabat

Tags: ,

Bicara Selingkuhan

30 Apr

Setiap kali membahas mengenai perselingkuhan, saya menjadi sangat peka. Sebuah pembicaraan singkat di Twitter yang dilanjutkan dengan diskusi panjang dengan seorang sahabat membawa saya pada analisa mengapa seorang perempuan bersedia untuk dijadikan selingkuhan.

Saya ingat, satu tahun yang lalu seorang teman menceritakan soal hubungannya dengan suami orang. Waktu saya terkejut dan mengingatkan padanya bahwa itu adalah sebuah perbuatan yang tidak sebaiknya dilakukan, teman saya berkata bahwa dia tahu itu salah, tapi dia sangat mencintai lelaki tersebut dan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dia harus mengakhiri hubungannya dengan lelaki tersebut. Saya hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Cinta memang bisa menghipnotis orang untuk melakukan apa pun. Teman saya itu salah satunya, seolah-olah belum cukup mengejutkan saya, teman saya pun lalu mengeluarkan kalimat pembelaan diri “I don’t kill people, Sen… An affair doesn’t kill people, it just hurt them”.

When we’re happy we just don’t care about how does it feels to other people. Tanpa harus bercerita pun saya bisa melihat bahwa teman saya ini sedang berbahagia. Aura kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya, aura kebahagiaan tersebut bahkan menyebar pada orang-orang di sekitarnya termasuk saya. Jatuh cinta dengan seseorang yang memiliki karakter seperti sosok lelaki yang menjadi idamannya membuat teman saya berbahagia, persoalan status lelaki tersebut lantas menjadi satu isu yang tidak penting di mata teman saya itu. “Yang penting gue bahagia, terserah deh orang mau kayak gimana,” begitu kata teman saya. Saya jadi berpikir, ketika seseorang bahagia, jangan-jangan orang tersebut memang memiliki kecenderungan untuk melupakan perasaan orang lain. Selama diri bahagia dan tidak tersakiti, untuk apa peduli perasaan orang lain? Suka atau tidak, egois memang sudah menjadi sifat dasar manusia.

Karena pada dasarnya, kebutuhan utama perempuan adalah keamanan. Tidak peduli apakah perempuan tersebut berasal dari kalangan menengah ke atas atau ke bawah, career woman atau family woman, mandiri atau manja, blablabla yadaa yadaaa, perempuan membutuhkan keamanan. Rasa aman untuk bisa membeli apa yang dibutuhkan dan diinginkan, rasa aman untuk memiliki rumah yang membuatnya merasa nyaman, rasa aman untuk memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi dalam keadaan apa pun, hingga rasa aman untuk memiliki seseorang yang akan tumbuh dan menjadi tua bersama. Beberapa perempuan rela melakukan apa saja demi rasa aman tersebut. Itulah kenapa ketika ada seorang laki-laki datang dan menawarkan rasa aman yang tidak bisa didapatkannya dari diri sendiri  dan sosok lainnya, perempuan tersebut akan dengan senang hati menerimanya, meskipun konsekuensinya adalah menjadi selingkuhan.

We want what we can’t have. Kami, para perempuan, selalu menginginkan apa yang tidak bisa kami miliki. Kami terobsesi untuk memiliki apa yang tampaknya mustahil untuk dimiliki. Malah, dalam beberapa kasus, kami menginginkan sesuatu karena kami tahu bahwa kami tidak bisa memilikinya. Dalam kasus perselingkuhan, beberapa perempuan sebenarnya tahu bahwa lelaki tersebut sudah memiliki pasangan, akan tetapi hal tersebut tidak membuat keinginan untuk memiliki lelaki tersebut urung, malah membuat sang perempuan semakin menginginkannya. Makanya, ketika ada kesempatan untuk memiliki sesuatu yang kelihatannya tidak mungkin, beberapa perempuan mengambil kesempatan tersebut.

Pada dasarnya perempuan memiliki jiwa kompetitif yang tinggi. Perempuan senang berada dalam sebuah kompetisi, sayangnya perempuan tidak senang jika harus kalah. Secara frontal, perempuan terobsesi untuk menang. Ada kepuasan tersendiri jika seorang perempuan berhasil memenangkan sesuatu, tidak peduli sekecil apa pun hal itu. Tanpa bermaksud untuk mengatakan bahwa perempuan yang menjadi selingkuhan adalah seorang pemenang, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ketika seseorang berhasil mendapatkan apa yang sebelumnya sudah menjadi milik orang lain, maka perasaan menang dan berhasil mengalahkan seseorang akan muncul ke permukaan.

Ketika perempuan mengidolakan perempuan lain, perempuan tersebut ingin menjadi seperti idolanya. Saya jadi ingat beberapa minggu yang lalu teman saya bercerita soal seorang sekretaris yang rela menjadi selingkuhan suami bosnya karena dia sangat terobsesi dan mengidolakan sosok bosnya tersebut. Untuknya, dapat memiliki lelaki yang sama seperti lelaki yang dimiliki oleh bos yang juga idolanya tersebut merupakan sebuah indikator dia telah mampu mengimbangi kualitas yang dimiliki idolanya itu.

We’re just daddy’s little girl. Beberapa perempuan menjadikan ayahnya sebagai role model. Berbeda dengan menjadikan perempuan sebagai role model, ketika seorang perempuan memiliki male role model, maka perempuan tersebut akan mencari sosok lelaki yang mirip dengan role model-nya tersebut. Karakter pengertian, perhatian, pekerja keras, baik hati, kebapakan, dan protektif  yang biasanya dimiliki dalam diri seorang ayah menjadi karakter yang wajib dimiliki oleh lelaki yang akan menjadi pasangannya kelak. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang dapat memerankan sosok seperti itu selain… seseorang yang sudah (atau pernah) berkeluarga.

Men are like wine, better by age, unfortunately they’re already taken or gay. Tidak seperti perempuan yang seolah-olah memiliki “masa kadaluarsa”, semakin tua seorang laki-laki, maka semakin dia terlihat lebih baik dan lebih menarik. Pengalaman mendewasakan dan meningkatkan kualitas seorang laki-laki. Sayangnya tidak semua perempuan memiliki cukup kesabaran untuk menjalani proses peningkatan kualitas dan kedewasaan bersama seorang lelaki. Beberapa perempuan menginginkan sosok lelaki yang berkualitas dengan cara yang instan, maka berhubungan dengan lelaki yang sudah beristri adalah sebuah pilihan terbaik.

Some people are love being a bitch. Saya jadi ingat seorang kenalan saya yang terobsesi untuk menyakiti orang lain. Setiap kali dia telah berbuat buruk pada orang lain, dia menceritakannya dengan bangga tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun. Sakit. Awalnya saya kira sosok seperti ini hanya ada di sinetron-sinetron saja, tetapi ternyata di dunia nyata pun sosok seperti ini benar-benar hidup.

Pada akhirnya, apa pun alasan seorang perempuan bersedia menjadi selingkuhan, saya rasa dasar dari semua itu adalah kurangnya kemampuan untuk menahan diri dan berempati terhadap sesama. Tanpa bermaksud untuk menuduh perempuan-perempuan yang menjadi selingkuhan tidak memiliki rasa empati, akan tetapi bukankah jika seseorang memiliki rasa empati yang tinggi maka dia akan sadar bahwa diselingkuhi itu sakit sehingga dia tidak akan pernah mau menjadi pihak ketiga?

Ngomong-ngomong, uraian tersebut hanyalah asumsi saya. Jika ada yang ingin menambahkan atau berbeda pendapat boleh saja, selama masih menggunakan etika ketika mengemukakan pendapatnya.

Tags: , ,

Spesifik Itu Harus

27 Apr

Sore itu, di tengah hujan besar di sebuah restoran cepat saji, saya dan beberapa orang teman terlibat dalam sebuah percakapan yang absurd. Disebut absurd karena topiknya meloncat-loncat, tidak fokus, dan sama sekali tidak terarah. Saya lupa topik apa saja yang dibicarakan sore itu, tapi saya ingat reaksi mereka ketika saya bilang saya sedang ingin punya pacar.

Mereka, di luar perkiraan saya, terlihat kaget ketika saya menyatakan hal tersebut. Menurut mereka, seorang Senny yang terkenal feminis dan skeptis ketika membicarakan soal cinta tiba-tiba ingin punya pacar adalah kejadian langka dan mengejutkan. Baiklah, jadi menurut mereka orang semacam saya ini tidak wajar kalau ingin merasakan cinta, padahal hal itu kan manusiawi sekali… jangan-jangan selama ini saya tidak dianggap manusia oleh teman-teman saya itu (abaikan).

Setelah meyakinkan teman-teman saya itu kalau saya benar-benar serius ingin punya pacar, teman-teman saya pun akhirnya bertanya kriteria lelaki seperti apa yang saya inginkan untuk dijadikan pacar. Maka dengan antusias sekali, saya pun menceritakan tentang spesifikasi laki-laki yang saya inginkan. Untuk seorang yang demanding seperti saya, harusnya mereka tidak kaget kalau saya memiliki daftar yang panjang untuk itu, tapi reaksi mereka sungguh jauh di luar perkiraan saya. Waktu itu reaksi mereka…

“Busyet dah, lo cari calon pacar apa calon pegawai? Banyak amat mintanya?”

Hingga saat posting ini ditulis, saya masih belum merasakan ada yang salah dari memiliki daftar yang panjang dan kriteria yang detail untuk calon pasangan saya. Sebaliknya, saya malah merasa hal tersebut adalah hal yang wajar dan sangat penting untuk dilakukan.

Menurut saya, penting bagi seseorang memiliki kriteria yang detail dan sangat jelas untuk calon pasangannya kelak. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut tahu apa yang dia inginkan dan lebih fokus dalam masa pencarian pasangan. Dengan adanya daftar yang detail mengenai calon pasangan, maka seseorang tidak akan membuang-buang waktunya untuk berkencan dengan seseorang yang membuatnya tidak akan merasa nyaman.

Selain itu, sebuah kriteria yang spesifik juga menghindari diri dari kemungkinan terjadinya pertengkaran ketika sudah berhubungan akibat pasangan tidak memiliki spesifikasi seperti yang diinginkan. Saya misalnya, dengan adanya daftar yang detail, tentu saja saya tidak harus khawatir dan lalu dibuat emosi karena pasangan saya datang terlambat saat kencan, membiarkan saya membayari tagihannya, memakai sandal ketika sedang jalan dengan saya, blablabla yadaa yadaa. Hubungan akan terasa lebih aman dan nyaman karena orang tersebut sudah mendapatkan apa yang saya inginkan.

“Tapi ‘kan dalam sebuah hubungan pasti selalu ada rasa tidak aman dan nyaman, kecuali kalau pasangan yang kita dapatkan sempurna, which is nobody’s perfect.”

Saya mengangguk menyetujui pernyataan teman saya tersebut. Tidak ada seorang pun yang terlahir sempurna di dunia ini, maka dari itu ketika membuat kriteria calon pasangan otak perlu dipakai, berpikirlah logis dalam menentukan kriteria. Jangan sampai terjebak dengan kriteria sendiri yang akhirnya membawa kita pada kejombloan seumur hidup.

Lalu mengenai akan selalu ada titik dimana pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah hubungan merasa tidak aman dan tidak nyaman, saya pun menyetujuinya. Di sini komunikasi memiliki peran yang sangat besar dan penting dalam sebuah hubungan, agar ketika pihak yang terlibat dalam sebuah hubungan sedang merasa tidak aman atau tidak nyaman, masing-masing pihak dapat menegosiasikannya sehingga mencapai win-win solution dan hubungan yang berjalan pun dapat terselamatkan. Lagi pula, saya tidak pernah menyatakan bahwa adanya kriteria yang detail akan menjamin secara 100% hubungan akan berjalan aman dan nyaman, hanya saja jika dari awal seseorang sudah mengetahui apa yang diinginkannya, tentu saja kemungkinan bertengkar atau merasa kecewa karena tidak memiliki apa yang diinginkan menjadi lebih kecil.

“Tapi kita ‘kan nggak pernah tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta, gimana kalau suatu saat nanti kita malah jatuh cinta dengan orang yang sama sekali tidak termasuk dalam daftar kita?”

Begitu kata teman saya yang satunya lagi. Saya hanya tersenyum. Urusan perasaan memang kompleks, tapi mengingat saya ini orang yang demanding dan skeptis ketika membicarakan soal cinta, harusnya teman saya itu tahu kalau sulit bagi saya (bahkan hanya) untuk membayangkan diri saya jatuh cinta pada pria yang di luar daftar saya.

Pada akhirnya jika membicarakan sebuah hubungan dan calon pasangan yang ideal, tentu saja akan bersifat subjektif. Maka dari itu tidak heran jika hingga saat ini saya dan teman-teman saya masih belum bersepakat mengenai hal ini. Bagaimana dengan kamu?

Tags: , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.