Love For |Sex| For Love
Beberapa hari yang lalu saya dibikin pusing oleh pengakuan seorang teman yang berkata bahwa dia telah resmi melepas keperawanannya untuk lelaki yang sudah berpacaran dengannya selama hampir setahun terakhir ini. Pengakuan seperti ini sebenarnya bukan untuk pertama kalinya saya dengar, beberapa orang teman saya juga jelas-jelas mengakui kalau mereka sudah tidak perawan lagi, malah ada beberapa yang rela membagi pengalaman seksnya kepada saya dengan suka rela tanpa harus ditanya terlebih dahulu.
Jadi harusnya saya tidak usah kaget dan mengeluarkan reaksi yang berlebihan ketika mendengar pengakuan tersebut dari teman saya yang ini. Tapi kali ini kasus spesial, kasus langka. Saya yakin kalau kamu mengenal teman saya yang ini, kamu juga akan merasakan hal yang sama seperti saya.
Masalahnya adalah teman saya yang ini adalah seorang teman yang sepanjang sejarah hubungan pertemanan saya dengannya, saya mengenalnya sebagai sosok yang alim. Teman saya yang ini adalah teman yang selalu terlihat risih ketika dia terjebak dalam pembicaraan bertema seks, bahkan cuma sekedar pembicaraan soal ciuman. Teman saya yang ini bahkan protes dan sibuk menceramahi saya panjang lebar ketika saya memakai baju berkerah Sabrina atau ketika melihat foto saya memakai tank top di sebuah club malam.
Dan sekarang… teman saya yang ini mengakui kalau dia telah melepaskan keperawanannya untuk lelaki yang BAHKAN belum satu tahun berhubungan dengannya.
Saya shock. Kaget sekaget-kagetnya. Dan kalau saya mengidap penyakit jantung akut, saya pasti perlu segera dibawa ke UGD begitu mendengar kabar ini. Ya… ya…, mulai berlebihan kayak sinetron
Reaksi kaget saya yang berlebihan pun membawa saya pada pertanyaan kenapa, dan teman saya yang ini pun menjawab dengan entengnya bahwa dia cinta.
Kelanjutan ceritanya pasti bisa kamu tebak sendiri. Teman saya yang ini merasa dirinya terlalu cinta pada sang pacar, sang pacar pun memanfaatkan cinta tersebut untuk mendapatkan seks, dan teman saya ini dengan alasan sangat cinta dan takut kehilangan akhirnya memutuskan untuk memberikan seksnya, melepaskan sesuatu yang sangat dijaganya selama 23 tahun bernama: keperawanan.
WTF??!
Okay, cukup pembahasan tentang teman saya yang ini, jangan sampai kalau dia membaca postingan saya ini dia mulai menjadi pintar dan waras, lalu menyesali keputusannya itu. Biarkan yang lalu menjadi lalu.
Hanya saja… saya kok tidak pernah setuju dengan konsep making love yah? Saya malah lebih setuju dengan konsep having sex ketimbang making love, meskipun saya sendiri memutuskan untuk tidak melakukan seks di luar nikah.
Untuk saya, alasan untuk bersenang-senang atau mendapatkan uang adalah alasan yang lebih bisa diterima ketimbang cinta. Bagi saya, yang namanya cinta itu ‘kan harusnya saling menjaga bukannya malah saling ‘merusak’. Saya sendiri bahkan mengakui kalau jauh lebih gampang untuk saya berciuman dengan orang yang bukan siapa-siapa bagi saya. Ketika ada perasan dalam diri saya terlibat dalam hubungan saya dengan seseorang, saya cenderung membutuhkan waktu yang sedikit lama hingga akhirnya saya memutuskan untuk berciuman dengan orang itu (well, silakan sebut saya perempuan murahan tak bermoral setelah pengakuan ini).
Saya jadi bertanya-tanya kenapa yah di luaran sana banyak sekali orang yang berpikir untuk memberikan seks untuk mendapatkan cinta dari seseorang? Dan kenapa juga masih banyak sekali orang yang berpikir dengan mengobral cintanya sana sini (yang saya yakin mayoritas dari cintanya itu adalah hasil manipulasi) untuk mendapatkan seks?
For God’s sake go get a grip, guys!
Untuk saya sex dan love itu adalah hal yang berbeda. Tidak ada hubungannya sama sekali. Kalau kamu mencintai seseorang, bukan berarti kamu harus having sex (atau kalau ada cinta di dalamnya maka konsepnya menjadi making love) dengan orang itu. Di sisi lain, ketika kamu having sex dengan seseorang bukan berarti ada perasaan cinta di dalamnya.
Saya yakin banyak orang yang tidak akan sependapat dengan saya, hanya saja kali ini saya ingin mengingatkan kepada teman saya yang ini dan siapa pun yang masih peduli dengan racauan nggak jelas saya:
Pada dasarnya setiap orang itu layak dicintai, jadi jangan pernah berpikir untuk memberikan sex agar bisa mendapatkan cinta seseorang
Dan untuk mereka yang menjadikan cinta sebagai alat untuk mendapatkan seks: KAMU ITU BASI!
Are You A Homophobic Or Something?
Baru saja saya mengobrol dengan seseorang yang mengira saya ini lesbi. Meskipun pada akhirnya dia berkata kalau dia sedang bercanda, tapi saya tahu pasti kalau dia serius ingin memastikan orientasi seksual saya.
Lantas apa perlu saya membuat sebuah klarifikasi?
Umm…, sebenarnya tidak juga sih. Toh tidak peduli seberapa keras saya membantah gosip-gosip murahan itu dan menyatakan secara terang-terangan tentang orientasi seksual saya, mereka tidak akan pernah mendengar saya. Bukankah mereka, orang-orang yang senang bergosip mengenai hal-hal yang murahan itu, hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar?
Tapi kali ini saya benar-benar merasa perlu menuliskan ini di blog saya. Ya… ya…, saya EMOSI!
Jadi gosip kalau saya lesbi ini bukan pertama kalinya saya dengar. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya dalam masa cuti kuliah saya, saya pernah mendengar gosip sejenis. Ironi sekali mengingat gosip murahan ini beredar di tempat dimana saya sangat jarang bersosialisasi bernama: kampus, sebuah institusi yang harusnya berisi orang berpendidikan.
Dengan pemikiran positif bahwa tidak ada asap kalau tidak ada api, saya pun mencoba untuk menyelidiki kenapa akhirnya banyak sekali mereka yang bahkan tidak kenal saya bergosip seperti itu hingga akhirnya gosip tersebut membuat banyak orang percaya dan membuat saya merasa nama baik saya tercemar.
Iya, saya merasa mereka telah mencemarkan nama baik saya dan kalau saja saya punya bukti otentik mengenai siapa yang pertama kali menyebarkan gosip murahan tersebut, saya pasti sudah menghubungi pengacara dan melaporkan orang terkutuk itu ke pengadilan atas dasar pencemaran nama baik. Berlebihan? I don’t think so. Bukannya saya sebagai warga negara Indonesia yang baik memiliki hak untuk melaporkan setiap tingkah laku orang lain yang terasa mengganggu kehidupan saya?
Oke, balik ke topik awal! Beberapa orang memang sempat mengatakan secara langsung bahwa kemungkinan terbesar penampilan fisik saya membuat saya terlihat lesbi. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena gen cara berjalan ayah saya yang tidak ‘rapet’ atau anggun seperti para model di catwalk menurun ke saya. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena saya lebih merasa nyaman menggunakan T-shirt, celana jeans, dan sneaker. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena saya ini tipikal manusia wash up and go, bukan seperti wanita kebanyakan yang senang berlama-lama di depan kaca untuk berdandan. Jadi sekarang saya merasa bersalah karena saya lebih nyaman dengan rambut pendek saya ketimbang memanjangkan rambut saya.
Lantas apakah itu berarti saya harus mengubah penampilan fisik saya? Harus mulai memanjangkan rambut saya (seperti yang sedang saya lakukan sekarang), memakai rok (yang juga sudah mulai saya lakukan), berdandan (juga mulai saya lakukan), dan memakai sepatu high heels (yes, saya juga sudah mulai melakukannya).
Ah, tapi betapa dangkalnya saya kalau saya harus mendengar pendapat mereka hingga akhirnya saya mengubah penampilan saya hanya untuk menjauhi diri dari gosip mengenai orientasi seksual saya.
Jadi saya memutuskan untuk menutup telinga saya pada mereka, para penggosip sialan yang sangat dangkal dengan menilai orientasi seksual seseorang berdasarkan penampilan fisiknya.
Situ pikir semua perempuan yang memakai t-shirt, sneaker, berambut pendek, dan tidak dandan adalah lesbian? Hello… open your eyes, then! Saya mengenal seorang lesbian yang berambut panjang, suka dandan, pergi selalu mengenakan sepatu hak, dan sangat wanita. So you’re wrong!
Iya saya tahu kalau setiap orang memiliki kecenderungan untuk do judge a book by its cover, tapi untuk saya tidak fair saja kalau ada seseorang yang menilai orientasi seseorang berdasarkan tampilan luarnya saja.
Dan lagian nih ya… kalau misalnya, ini cuma kalau lho ya, kalau misalnya saya beneran lesbi memangnya apa urusannya sama orang lain? Urus diri sendiri saja belum benar mau sok-sokan ngurusin orang lain!
Last note: sebenarnya saya nggak suka merasa diri saya lebih superior dibandingkan yang lain, tapi sekarang saya bisa mengerti kenapa saya tidak pernah benar-benar merasa cocok dengan mereka: karena meskipun dari segi ekonomi saya di bawah mereka, tapi setidaknya dari kelas sosial saya lebih tinggi, setidaknya saya tidak kampungan seperti mereka yang menilai orientasi seksual berdasarkan penampilan luarnya dan hanya berani ngomong di belakang saja!
P.S. maaf untuk curhat yang sangat impulsif ini, blogger!
Ini Bukan Tentang Uang, Jendral!
Beberapa hari yang lalu saya diajukan pertanyaan yang membuat saya mengkerutkan dahi saya. Seorang teman kerja saya, teman paling dekat saya di kantor bertanya:
“Lo ‘kan udah lama ngeblog tapi belum menghasilkan uang sama sekali, kok lo mau sih terus-terusan ngeblog?”
Pertanyaan semacam itu sebenarnya bukan hanya pertama kalinya saya dengar. Saya pernah diajukan pertanyaan sejenis oleh seorang adik angkatan saya di kampus, teman selewat saya, bahkan hingga ketika saya menjadi seorang narasumber di salah satu stasiun televisi di Bandung. Mereka bertanya soal berapa uang yang sudah saya hasilkan dari blog.
Saya memaklumi mereka yang tidak benar-benar mengenal saya, lalu bertanya pertanyaan seperti itu, mungkin mereka berpikir bahwa saya sematrealistis itu hingga segala hal yang berhubungan dengan saya ada kaitannya dengan uang. Tapi kalau yang mengajukan pertanyaan itu adalah teman dekat saya sendiri, perasaan marah dan kecewa.
Saya akui blog ini tidak menghasilkan uang sama sekali, malah terkadang saya yang mengeluarkan uang untuk blog ini. Saya tidak pernah mengecek pagerank saya karena saya memang tidak mau soal itu dan kalau pun saya memiliki pagerank yang cukup untuk memasang iklan, saya tidak akan melakukannya. Blog saya ini juga tidak sebagus itu sehingga ada penerbit yang tertarik untuk membukukan blog ini.
Tapi apa saya peduli soal itu? TIDAK, jendral!
Kamu mau tahu kenapa saya ngeblog?
Bukan… alasannya bukan uang. Saya merasa masih bisa mencukupi kebutuhan saya dengan uang yang saya raih di dunia nyata.
Saya ngeblog karena saya menyukainya. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, akhirnya saya bisa melakukan apa yang benar-benar saya sukai tanpa harus berhadapan dengan tekanan dari manapun.
Saya ngeblog karena saya suka pamer. Saya suka menunjukkan kepada dunia apa yang sedang saya rasakan. Ketika saya jatuh cinta, patah hati, sedih, senang, marah, kecewa atau apapun itu, saya ingin menunjukkan kepada siapa pun, syukur-syukur kalau subjek yang membuat saya merasakan apa yang saya rasakan membacanya.
Saya ngeblog dengan semangat ingin berbagi. Saya ingin berbagi tentang apa yang saya pikirkan tentang segala sesuatu, meskipun pemikiran saya terkadang tidak penting untuk dibagi kepada siapa pun, meskipun saya tahu di luaran sana banyak sekali orang yang tidak peduli dengan apa yang ada di pikiran saya.
Dan kamu tahu apa yang saja yang telah saya hasilkan lewat blog?
Saya menjadi kaya karena blog. Bukan kaya finansial, tentunya tapi saya lebih kaya dari itu.
Saya mengenal begitu banyak teman-teman baru yang sangat menyenangkan. Orang-orang yang memiliki kualitas spesifik yang selalu sukses membuat saya terperangah dan mereka tentu saja tidak pernah bisa dibeli dengan uang.
Saya mendapatkan begitu banyak pengetahuan baru yang saya peroleh dari membaca blog orang lain atau comment yang muncul ke blog saya. Pengetahuan baru yang sering menginspirasi saya untuk mengkonsep sesuatu yang sangat membantu untuk pekerjaan saya atau sekedar memacu kreativitas saya. Hal tersebut tidak akan pernah bisa saya beli dengan uang.
Dan yang terpenting adalah, saya mendapatkan kebebasan tak terbatas dari blog ini. Saya tidak harus menyimpan segala sesuatu yang ada di kepala saya dengan alasan menjaga perasaan orang lain atau menghindari pandangan-pandangan yang muncul setelahnya.
Pada akhirnya saya hanya bisa tersenyum menghadapi pertanyaan dari teman saya itu. Mungkin dia memang berpikir bahwa sebuah blog sama halnya seperti sebuah pekerjaan yang harus menghasilkan uang bahkan meskipun pekerjaan tersebut adalah bagian dari hobi. Mungkin dia tidak akan pernah bisa mengerti kalau meskipun saya matrealistis, tapi saya tidak mau menilai segala sesuatunya dari uang. Dan mungkin dia tidak akan pernah tahu betapa kayanya saya sekarang meskipun saya tidak pernah mendapatkan uang dari blog saya.
Besok-besok, kalau ada yang bertanya mengenai hal serupa pada saya, maka dengan tegas saya akan menjawab:
“Ini bukan tentang uang, jendral!”
P.S. Gambar diambil dari http://istockphoto.com
Book Review Heart Block
Jadi dalam rangka mengembalikan semangat membaca saya yang sempat menurun drastis, saya akhirnya memutuskan untuk membaca buku terbaru dari kakak Okke sepatumerah yang berjudul Heart Block.
Heart Block menceritakan tentang Senja, seorang penulis yang sedang laris-larisnya tapi menghadapi sebuah masalah yang sangat vital: writer’s block alias mati ide. Untuk mengobati serangan writer’s block-nya tersebut, Senja memutuskan untuk berlibur di Ubud, Bali. Dan ya… mana ada sih cerita yang menjual kalo nggak ada cerita cintanya, di tempat itulah Senja dekat dengan seorang pelukis bernama Genta (yang entah kenapa di bayangan saya selalu muncul sosok Gaston something yang pacarnya Jupe itu).
Dari segi cerita, Heart Block sangat menarik, diadaptasi dari pengalaman nyata yang bisa terjadi pada siapa saja (saya yang seorang event coordinator ini juga sering banget menghadapi hal yang sama seperti Senja), hingga saya sempat berpikir ‘kakak okke mungkin sedang curhat’.
Dari segi bahasa, tutur kata yang digunakan sangat akrab dan mudah dicerna, setidaknya saya yang suka tiba-tiba terserang penyakit nggak fokus ini bisa mengerti setiap kata yang ada tanpa harus membaca berulang-ulang.
Tapi… tapi… dan tapi…
Saya kok merasa endingnya itu ya… duh! Nanggung aja. Belum lagi di pertengahan bab, saya yang sangat detail ini, merasa ada hal yang sepertinya terlewatkan hingga saya harus membalik halaman sebelumnya untuk memastikan saya tidak melewatkan satu halaman sekali pun.
Overall, novel Heart Block ini benar-benar menghibur dan berhasil mengembalikan semangat membaca saya. Well, mungkin beberapa bulan yang akan datang kakak Okke Sepatumerah akan mengeluarkan extended version seperti yang dilakukan Ika Natassa untuk Divortiare.
Ngomongin Tuhan
Jadi ceritanya semalam saya nggak sengaja menemukan Bruce Almighty diputar di salah satu station televisi. Sebenarnya sih waktu film ini lagi booming-boomingnya dengan segala kontroversi yang ada, saya sudah pernah nonton, tapi nonton yang kedua kalinya ini bikin saya berpikiran akan sesuatu.
Nggak. Saya nggak akan ngebahas soal kenapa harus sosok Morgan Freeman yang lelaki, tua, bertampang biasa saja, dan kulit hitam harus berperan sebagai Tuhan. Saya juga nggak akan ngebahas soal sifat Tuhan yang digambarkan sangat santai di film tersebut. Saya nggak sereligius itu untuk membicarakan soal sosok Tuhan lho.
Saya cuma sedang berpikir bagaimana yah rasanya menjadi Tuhan?
Hal pertama yang ada di pikiran saya tentunya hal-hal yang menyenangkan. Saya tidak harus bangun pagi untuk mengejar waktu supaya tidak terlambat kerja atau kuliah. Saya tidak harus bekerja mati-matian untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya tidak harus menabung untuk membeli barang-barang yang saya inginkan yang kebetulan harganya mahal. Saya tidak harus berolahraga dan mengatur pola makan untuk menjaga bentuk tubuh saya. Saya tidak harus menemui lelaki-lelaki yang salah untuk akhirnya mendapatkan pasangan yang tepat. Dan pastinya saya bisa menentukan nasib orang lain dan nasib saya sendiri seenak jidat saya. Oh, kalau saya menjadi Tuhan, tentunya kehidupan saya akan terasa sangat mudah.
Saya… saya…, dan saya. Kalau saya menjadi Tuhan saya pasti akan menjadi sangat egois.
Tapi lalu saya berpikir, saya ini ‘kan Tuhan, jadi saya tidak boleh egois dong. Saya harus mulai memikirkan orang lain, bukan hanya yang saya kenal atau saya sukai saja, tapi mereka yang sama sekali tidak saya kenal dan untuk alasan tertentu (atau bahkan tanpa alasan) tidak saya sukai.
Jadi kalau saya itu Tuhan, saya harus mendengarkan doa-doa mereka, mulai dari doa nggak penting seperti “Oh Tuhan, tolong musnahkan jerawat-jerawat di muka saya ini” hingga doa yang sangat mulia seperti “Tuhan, hentikanlah perang, ciptakanlah kedamaian di muka bumi ini, dan jadikanlah semua orang di dunia ini sebagai orang yang berbahagia, tidak licik, beriman, rajin menabung, dan taat membayar pajak”. Lalu setelah mendengar doa-doa tersebut, saya harus menentukan skala prioritas, mana doa yang akan saya kabulkan pertama kali dan mana doa yang (mungkin) tidak akan pernah saya kabulkan. Duh, membahas soal hal ini saja bahkan membuat kepala saya pusing. Jangankan mendengar doa dan menentukan skala prioritas dari sekian banyak umat manusia, kalau dihadapkan pada mendengarkan curhatan beberapa orang teman dan harus menentukan skala prioritas terhadap teman saya saja saya sudah kesulitan. Belum lagi kalau saya lagi nggak mood untuk mendengarkan ocehan dari siapa pun, bahkan dari orang terdekat saya.
Kalau saya jadi Tuhan, itu artinya saya juga harus siap berada di posisi salah, meskipun saya tidak salah. Saya tahu di luaran sana banyak sekali orang-orang yang bernasib buruk, lalu bukannya berusaha untuk mengubah nasibnya, orang tersebut malah menyalahkan Tuhan. Tuhan yang jahat. Tuhan yang tidak adil. Tuhan yang kejam. Tuhan yang pilih kasih. Tuhan yang… (silakan tambahkan sendiri!). Iya, saya juga pernah menyalahkan Tuhan untuk keapesan saya. Memikirkan tentang hal ini membuat perut saya mules. Jangankan berlapang dada menghadapi orang-orang yang menyalahkan saya atas sesuatu yang bukan kesalahan saya, terkadang (atau bahkan sering) kalau saya dihadapkan di situasi dimana saya salah dan orang menyalahkan saya saja, saya masih tidak bisa terima.
Dua alasan saja sudah cukup membuat saya berpikir ulang untuk menjadi Tuhan. Di sini flash back pun dimulai. Saya mulai mereview satu per satu pengalaman yang bisa saya ingat sebagai manusia.
Saya ingat gimana rasanya harus bangun pagi dan masih kesiangan juga, berlari dan berharap jalanan tidak macet supaya saya tidak terlambat, dan merasa sangat lega ketika ternyata saya datang sangat on time.
Saya ingat gimana rasanya mendapatkan gaji pertama dari hasil kerja keras saya sendiri.
Saya ingat gimana rasanya menabung mati-matian, menolak segala macam bentuk tawaran untuk hang out bersama teman-teman, hingga akhirnya saya bisa membeli barang-barang yang saya inginkan, yang harganya memang lumayan mahal untuk standar saya.
Saya ingat gimana rasanya menemui orang yang salah, patah hati, nangis, sedih, menjadi drama queen, lalu bertemu dengan orang lain dan siklus pun berulang.
Saya ingat ada begitu banyak emosi yang mewarnai kehidupan saya sepanjang saya menjadi manusia. Marah, kesal, sedih, cemburu, senang, kecewa, blablabla yadaa yadaa.
Dari situ saya menyadari bahwa bukan kehidupan yang serba mudahlah yang saya inginkan. Hidup justru akan terasa sangat membosankan dan tidak menantang untuk saya kalau saya bisa melakukan apa pun yang saya mau dan memiliki pilihan yang tidak terbatas tanpa harus menyesali pilihan-pilihan saya di masa lalu.
Ternyata selama ini saya telah mis persepsi terhadap keinginan saya sendiri. Bukan hidup yang serba mudahlah yang saya inginkan. Justru hidup saya yang seperti ini adalah hidup yang telah menjadi keinginan saya. Hidup yang terkadang mudah dilalui tapi terkadang sangat sulit. Hidup yang bisa saya cintai dengan mudah tapi terkadang membuat saya harus usaha ekstra untuk bisa mencintainya. Hidup yang dipenuhi oleh emosi yang sangat fluktuatif.
Ya… ya…, pada akhirnya saya mulai berpikir apa yang dibicarakan sebagian besar orang itu benar. Tuhan tidak pernah memberi apa yang kita mau, tapi dia memberi apa yang kita butuh.


Recent Comments