Trademark
Kemarin teman gue bercerita kalau akhir minggu kemarin dia menjadi korban diskriminasi identitas. Masalah kecil siy. Jadi waktu akhir minggu kemarin, dia mengantri sangat panjang untuk memasuki sebuah club malam, padahal waktu itu dia sudah reservasi tempat. Tapi… tiba-tiba saja antrian panjang itu terpotong, diserobot oleh orang yang datang tiba-tiba dan tanpa ada reservasi terlebih dahulu. Belakangan, teman gue ini baru tahu kalo sang penyerobot itu adalah anak seorang anggota DPR.
BUat temen gue, ini bukan cuma sekedar masalah sepele tapi sudah menyangkut masalah sosial yang nggak bisa dibiarkan.
Dari cerita teman gue itu, gue jadi kepikiran kalau kita… yang cuma manusia biasa yang seringkali khilaf dan jauh dari kata ideal ini emang sering banget memberikan level playing field yang nggak seimbang untuk orang lain. Biasanya, meskipun tidak selalu… kita menilai seorang manusia itu sebagai sebuah produk yang sudah ditempeli ‘trademark’ tertentu, bukan sebuah produsen yang menghasilkan ‘trademark’ itu sendiri.
Namanya juga manusia, wajar banget kalau mereka cenderung lebih beranggapan ‘produk’ dengan identitas yang lebih baik memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan ‘produk’ dengan identitas yang kurang baik atau setidaknya berada di kelas identitas bawahnya.
Dari situ imajinasi gue membawa gue ke dalam sebuah pasar identitas, dimana satu-satunya komoditas yang diperjualbelikan adalah identitas. Ya, kita-di luar kesadaran kita, sudah mengubah dunia nyata yang sangat reaslistis ini menjadi sebuah tempat jual beli identitas, dimana seorang ‘produk’ dengan ‘trademark’ yang baik bisa membeli jauh lebih banyak dan mendapatkan privilege yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan seorang ‘produk’ dengan ‘trademark’ yang berada di level bawah.
Seharusnya siy yang terjadi nggak kayak gitu, karena menurut yang gue baca di Kompas edisi 3 Mei 2007 dalam sebuah kolom yang berjudul Sang Nasi Dalam Politik Identitas yang ditulis Seno GUmira Ajidarma:‘Identitas adalah suatu produksi, bukan suatu esensi yang tetap dan menetap. Dengan begitu identitas selalu berproses, selalu membentuk di dalam-bukan di luar-representasi. Ini juga berarti otoritas dan keaslian identitas dalam konsep “identitas kultural” misalnya, berada dalam masalah. Identitas hanya bisa ditandai dalam perbedaan sebagai suatu bentuk representasi dalam sistem simbolik maupun sosial, untuk melihat diri sendiri tidak seperti yang lain’.
Tapi itu ‘kan penilaian yang seharusnya… yang etis… Pada akhirnya, kita semua harus dihadapkan dengan realita. Dan realita yang (sialnya) harus kita hadapi adalah, politik identitas; diskriminasi identitas; dan pasar identitas selalu ada di sekitar kita… tidak pernah beranjak (bahkan) sedikit pun.
Dan sekarang yang sedang gue lakukan adalah memainkan peran gue sebaik mungkin. Melakukan politik identitas, berusaha untuk tidak melakukan diskriminasi identitas, dan berusaha menjadi penjual dan pembeli identitas yang baik supaya… gue bisa mencapai identitas yang mapan, menjadi seorang produk yang valuable, dan tidak menjadi korban diskriminasi identitas seperti temen gue itu….
