Suatu Saat Nanti

24 Jan

Saya lupa kapan terakhir kalinya saya memiliki me time yang berkualitas. Jadwal yang padat membuat saya lupa akan pentingnya menghabiskan waktu yang berkualitas dengan diri saya sendiri. Waktu berkualitas yang saya maksud adalah: memerhatikan lingkungan sekitar lebih banyak, berdiskusi dengan hati lebih dalam, dan mendengarkan kata hati lebih seksama.

Beberapa hari ini, Tuhan menganugrahi saya sakit supaya saya dapat menikmati waktu untuk diri saya sendiri. Di tengah kesendirian tersebut saya kembali mempertanyakan tentang diri saya, tentang hidup saya saat ini, dan tentang kehidupan yang ingin saya jalani suatu saat nanti.

Seorang teman pernah berkata bahwa saat ini saya hidup di sebuah kehidupan yang menurut masyarakat disebut sebagai good life. Bekerja di sebuah bank ternama dengan jalur karir fast track dan gaji yang lumayan… Di luaran sana, saya yakin ada begitu banyak orang yang menginginkan kehidupan yang saya jalani ini. Tapi pertanyaannya adalah: apakah kehidupan seperti ini yang benar-benar saya inginkan?

Saya tentu saja menggeleng akan pertanyaan tersebut. Bahkan jauh sebelum saya mengambil keputusan untuk bekerja di perusahaan tersebut pun saya sudah tahu pasti bahwa ini bukan kehidupan yang saya inginkan.

Lalu kehidupan seperti apa yang sebenarnya saya inginkan?

Pertanyaan tersebut membuat saya terdiam. Hati saya merasa ditampar karena di saat saya sibuk mengeluh soal kehidupan yang tidak sesuai keinginan saya, saya justru tidak tahu kehidupan seperti apa yang sebenarnya saya inginkan.

Mungkin saya sudah terlalu lama menutup diri dari kata hati saya sendiri sehingga pertanyaan sesederhana itu pun tidak bisa saya jawab.

Mungkin terlalu banyak ditampar oleh realita membuat hati saya tidak lagi memiliki nyali untuk mengatakan kejujuran.

Atau mungkin… Saya memang tidak pernah tahu kehidupan seperti apa yang saya inginkan.

Semalam saya membuat keputusan bahwa 5 tahun dari sekarang, saya harus sudah memperoleh jawaban akan kehidupan yang saya inginkan.

Suatu saat nanti….
5 tahun dari sekarang….
Ketika saya sudah tahu apa yang benar-benar saya inginkan, maka saya akan meninggalkan semua yang saya miliki saat ini

Suatu saat nanti…
5 tahun dari sekarang….
Saya mungkin tidak lagi memiliki apa yang saya miliki sekarang, tapi saya akan dengan bangga berkata ‘hey, I live a good life now’

Suatu saat nanti…
5 tahun dari sekarang…
Semoga masih ada cukup waktu dan kesempatan untuk saya

Jadi bagaimana dengan kamu?
Apakah sudah menjalani kehidupan yang kamu inginkan?

Coffee Shop

11 Aug

Kamu bisa menemukanku di sini. Sedang mengobrol dengan beberapa orang teman. Sesekali obrolan kami diselingi cibiran akan manusia-manusia di sekitar kami, sesekali obrolan kami diselingi celaan satu sama lain, dan maaf jika sesekali kami tak mampu menahan tawa kami hingga rasanya mengganggu tamu lain yang duduk di sekitar kami.

Kamu bisa menemukanku di sini. Sedang berdua dengan seorang teman perempuan. Terkadang kami hanya sekedar membuang waktu. Terkadang kami memang harus bertemu untuk kepentingan tertentu. Tapi seringnya kami bertemu untuk berbagi cerita. Cerita tentang apa yang menjadi passion kami, apa yang ingin kami lakukan, apa yang sudah kami lakukan, apa yang sedang terjadi dalam hidup kami, atau cerita mengenai apapun itu, bukan masalah apakah cerita kami penting atau tidak selama masih ada sesuatu yang bisa dibagi satu sama lain.

Kamu bisa menemukanku sedang berdua dengan seorang lelaki. Dari gelagat kami berdua kamu akan bisa menangkap bagaimana jenis hubungan kami. Jika kamu menangkap sedikit keintiman dalam pembicaraan maupun tingkah laku kami, mungkin kamu lalu akan bertanya kemana hubungan kami akan mengarah. Ah pertanyaan itu… Aku sendiri pun tidak pernah benar-benar yakin kemana akan kubawa hubungan yang sedang kujalani, sebab seperti yang selalu kamu bilang padaku, aku memiliki commitment issue.

Kamu bisa menemukanku di sini. Seorang diri. Mungkin aku sedang menunggu seseorang. Mungkin aku sedang berusaha fokus mengerjakan sesuatu. Atau mungkin aku memang hanya sedang ingin sendiri, menghabiskan me time sambil menulis, mencari ide, membaca buku, blog walking, atau sekedar sight seeing.

Apapun yang sedang aku lakukan dan dengan siapapun itu, kamu akan selalu bisa menemukanku di sini. Aku memang menghabiskan sebagian besar waktu luangku di sini. Aku bahkan menyediakan anggaran khusus untuk dihabiskan di tempat ini.

“Dasar kapitalis!” itu yang kamu bilang padaku.

Aku hanya tersenyum. Kapitalis memang sebagian dari imanku. Dan kamu memang tahu banyak tentangku.

Tapi tahukah kamu bahwa aku sangat mencintai tempat ini?

Tahukah kamu bahwa seburuk apapun moodku, aku akan merasa jauh lebih baik ketika aku memasuki tempat ini dan mencium aroma khasnya?

Tahukah kamu bahwa aku telah menjadikan tempat ini sebagai rumah keduaku, rumah tempat diriku merasa benar-benar diterima dan berpikir ‘semuanya akan baik-baik saja apapun yang terjadi’?

Tahukah kamu bahwa tempat ini menyimpan begitu banyak rahasia tentangku? Tentang waktu dimana aku menangis karenamu, tentang kesepian ketika aku terjebak di tengah keramaian, tentang hati yang menghangat setelah berbagi kebahagiaan dengan seorang asing, tentang perasaan ditemani ketika aku sedang sendiri, tentang ketakutanku yang aku tutupi dengan kenaifanku, tentang perjuanganku melawan monster di kepalaku, dan masih ada begitu banyak tentangku lagi yang tak akan pernah ada cukup waktu untuk diuraikan satu per satu.

Tahukah kamu bahwa aku sangat mencintai tempat ini melebihi rasa cintaku padamu dulu?

Dan terakhir, tahukah kamu bahwa aku masih menyimpan harapan itu? Harapan untuk bertemu kamu lagi suatu saat nanti, dengan keadaan satu sama lain yang lebih dewasa dan lebih baik, lalu kita saling menyapa dan kamu… Membuat aku jatuh cinta kembali di sini… Di kedai kopi ini.

image

Sebab jatuh cinta lagi denganmu di kedai kopi inj adalah impian termanis yang bisa kupikirkan.

Mungkin

24 Nov

Mungkin suatu saat nanti saya akan menyesali keputusan saya ini

Ketika saya beranjak 30 tahun dan merasa belum melakukan apa pun untuk mewujudkan mimpi saya
Ketika pekerjaan saya perlahan-lahan menyita waktu dan pikiran saya hingga akhirnya saya tidak memiliki kehidupan lain
Ketika perasaan berada di ‘rumah’ telah selamanya hilang dari jiwa saya
Ketika uang tak lagi mampu membeli kebahagiaan sekalipun sifatnya temporer

Atau mungkin saya hanya sedang lelah, baik secara fisik, mental, maupun batin
Mungkin saya hanya belum siap menjalani semuanya, terlalu cepat dan terlalu prematur
Mungkin saya hanya butuh sedikit spasi dan waktu, untuk menenangkan diri dan memikirkan kembali semuanya

Ah, terlalu banyak kemungkinan dalam posisi saya yang abu-abu saat ini
Apa pun itu, saya hanya berharap yang terbaik, semoga kemungkinan yang baik saja yang terjadi pada saya dan semoga saya tidak lagi menjadi korban atas pilihan saya sendiri… Semoga…

And I’m Just Starting

27 Oct

Ulang tahun…

Setahun yang lalu ada rasa taku dan khawatir dalam diri saya setiap kali mendengar dua kata tersebut. Syndrom tersebut saya hadapi sejak umur saya menginjak angka 18.

Saya takut menjadi tua. Saya khawatir bahwa pada akhirnya saya terpaksa harus berhadapan dengan kenyataan bahwa hidup tidak bisa berjalan sesuai yang saya inginkan dan sudah terlalu tua untuk saya memperbaiki keadaan agar segalanya berjalan sesuai apa yang saya harapkan dan inginkan.

Tapi lalu saya belajar bahwa hidup tidak hanya segalanya tentang saya. Saya belajar bahwa dalam hidup saya harus berkompromi. Kompromi dengan lingkungan. Kompromi dengan Tuhan. Pada akhirnya waktu membuat saya sadar bahwa meskipun saya adalah satu-satunya manusia yang bertugas menyetir hidup saya danbertanggung jawab akan kebahagiaan saya sendiri, tapi akan selalu ada Tuhan yang mengontrol hidup saya, memberikan apa yang saya butuhkan,bukan apa yang saya mau, meskipun seringnya apa yang saya dapatkan tidak sesuai dengan harapan, keingininan, dan terutama rencana saya.

Dari pengalaman saya belajar banyak hal. Pengalaman mengajarkan saya bahwa kunci utama kebahagiaan saya adalah menerima kenyataan, keadaan, dan diri saya sendiri dengan ikhlas.Pengalaman mengajarkan saya bahwa hidup bukan mempersoalkan mengenai seberapa jauh saya telah melangkah, seberapa banyak pencapaian yang telah saya raih dalam hidup saya, atau apakah saya telah menjalani kehidupan sesuai dengan harapan saya. Pengalaman mengajarkan saya bahwa kesuksesan bukan tentang rencana yang berhasil saya wujudkan.

Dari pengalaman saya belajar bahwa pada akhirnya hal yang penting dalam hidup adalah mengenai seberapa mampu saya bertahan menghadapi kenyataan yang berjalan tidak sesuai harapan saya, seberapa besar hati saya menerima keadaan yang terjadi pada hidup saya, lingkungan saya, dan diri saya sendiri secara ikhlas, dan seberapa jujur saya pada diri saya sendiri.

Tahun ini saya banyak mengalami perubahan… ke arah yang lebih baik, mudah-mudahan.

Tahun ini saya menghadapi pertambahan umur dengan rasa senang.

Senang bahwa pada akhirnya saya memiliki kapasitas untuk menjadi manusia yang ikhlas,setidaknya pada diri saya sendiri terlebih dahulu.

Senang akan fakta bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa hidup saya berada di track yang benar.

Senang menghadapi kenyataan bahwa di usia baru saya ini, saya menemukan begitu banyak hal yang baru: dunia, kehidupan,pekerjaan, teman-teman, bahkan hubungan dengan keluarga dan temanyang sudah lama saya kenal pun terasa sangat baru bagi saya. Pembaruan ke arah yang lebih baik tentunya.

Hari ini, tepat di hari ulang tahun saya, saya membuat janji pada diri saya sendiri. Saya berjanji bahwa  meskipun saat ini atau di masa yang akan datang kenyataan tidak berjalan sesuai dengan harapan, keinginan, dan rencana saya, saya tidak akan membiarkan kekecewaan menghalangi saya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Hari ini, untuk pertama kalinya dalam 24 tahun kehidupan saya, saya akhirnya merasa bahwa menjadi tua bukanlah sesuatu yang harus ditakuti,melainkan sesuatu yang harus dihadapi dengan rasa senang dan syukur.

Sebab hidup tidak akan menjadi lebih baik jika saya tidak bersyukur dan masa hidup saya terlalu singkat jika dihabiskan dengan ketakutan.

A year older and I’m much better, wiser, and stronger… finally :)

Indonesia Merdeka

17 Aug

“Kalau kita hidup di zaman pra kemerdekaan, kira-kira kita bakalan jadi pahlawan nggak ya?”

Pertanyaan tersebut diajukan oleh seorang teman dalam sebuah perbincangan sore kamu. Waktu itu, saya tidak menanggapi pertanyaan teman saya tersebut dengan serius, saya malah membuat lelucon dari pertanyaan yang diajukan teman saya tersebut.

Sampai akhirnya semalam ketika saya tidak bisa tidur dan dunia maya dipenuhi euforia kemerdekaan, saya kembali kepikiran akan pertanyaan tersebut.

Akankah saya menjadi seorang pahlawan jika saya hidup di era pra kemerdekaan?

Jawaban pertama yang muncul di kepala saya adalah jawaban yang muncul dari idealisme saya, ‘iya’. Saya akan menjadi seorang pahlawan yang berada di barisan terdepan melawan penjajah, memimpin pasukan meski dalam keadaan sakit, atau setidaknya saya akan menjadi orang yang menyebarkan semangat kesetaraan gender seperti apa yang dilakukan Kartini dengan surat-suratnya.

Tapi realita menampar saya. Hati kecil saya menolak menyetujui bayangan tersebut. Jawaban yang jujur justru berbanding terbalik dengan jawaban ideal saya. Secara mengejutkan, ternyata lebih mudah bagi saya untuk membayangkan kehidupan warga kelas menengah yang pasrah, yang hanya mengharapkan kemerdekaan tapi tidak melakukan apa-apa untuk meraihnya. Atau bahkan jika saya beruntung, maka saya akan menjadi seorang anak ningrat yang sama sekali tidak peduli akan kemerdekaan, tidak mau berjuang meraih kemerdekaan, tapi justru teriak paling keras ketika kemerdekaan diumumkan hanya karena terbawa euforia dan tidak mau disebut tidak nasionalis.

Saya jadi berpikir, selama ini saya telah salah pengertian mengenai kemerdekaan. Suka atau tidak dan sadar maupun tidak, pemikiran saya akan kemerdekaan sangat dangkal. Selama ini saya berpikir bahwa Indonesia tidak perlu merdeka, pokoknya selama perut saya kenyang, hidup saya senang, dan banyak uang, semuanya akan baik-baik saja, merdeka atau tidak. Semangat ‘merdeka atau mati’ tentu saja tidak tumbuh dalam diri saya sedikit pun.

Semalam seorang teman mengatakan sesuatu yang (maaf sekali saya lupa kalimat persisnya) membuat saya berpikir ulang apakah sebagai warga negara Indonesia saya sudah menjalankan peran saya dengan baik dan apakah saya sudah cukup berprestasi dan menciptakan Indonesia yang lebih baik.

Jawabannya tidak. Saya tidak menjalankan peran saya sebagai warga dengan baik, tidak juga cukup berprestasi dan menciptakan Indonesia yang lebih baik.

Selama ini saya sibuk mengatai-ngatai, memarahi, mengeluh, dan memaki pemerintah yang tidak becus menjalankan tugasnya, padahal di luar kesadaran saya juga sebenarnya tidak becus menjalankan tugas dan peran saya sebagai warga negara.

Kemarin, dalam sebuah acara buka bersama, saya dan beberapa orang teman menyisakan makanan kami di piring dalam porsi yang cukup banyak, alasannya satu: bosan. Sementara saya sibuk setelah ini mau makan dimana lagi, seorang teman berinisiatif memanggil seorang anak kecil penjaja makanan dan memberikan makanan sisa kami untuk dimakan. Awalnya saya pikir itu adalah tindakan yang tidak sopan dan malah cenderung melecehkan, tapi ketika saya melihat ekspresi anak itu, saya berubah pikiran. Dari raut wajah anak itu saya menangkap satu hal yang jauh di luar dugaan saya: ekspresi kemerdekaan, merdeka dari rasa lapar dan ketakutan akan tidur dengan perut kosong.

Malamnya saya berbincang dengan sahabat saya mengenai kejadian tersebut. Sahabat saya menanggapi dengan kalimat yang berhasil membuat pola pikir saya berubah “menurut gue, apa yang lo lakuin itu salah satu bentuk prestasi. Prestasi ‘kan nggak selamanya harus sesuatu yang bersertifikat, berpiala, berpiagam, dan diakui aja, dengan lo bisa berbagi dengan orang yang sama sekali nggak lo kenal secara ikhlas juga udah bentuk dari prestasi. Prestasi yang cukup lo dan Tuhan yang tahu.”

Kalimat tersebut membawa saya pada definisi ulang kata prestasi.

Prestasi adalah ketika saya dapat membebaskan seseorang dari rasa lapar.

Prestasi adalah ketika saya dapat menerima perbedaan opini dan pandangan tanpa harus berakhir dengan tombol block atau rasa benci.

Prestasi adalah ketika saya dapat membebaskan seseorang menganut kepercayaannya, baik itu kepercayaan akan adanya Tuhan maupun kepercayaan akan tidak adanya Tuhan.

Prestasi adalah ketika saya dapat membebaskan seseorang untuk mengekspresikan dirinya tanpa harus menghakiminya setelah itu.

Prestasi adalah… ketika saya dapat membuat lingkungan sekitar saya merasa merdeka.

Maka secara otomatis pemikiran saya akan kemerdekaan pun berubah.

Merdeka di kepala saya tidak lagi sekedar perut kenyang, hidup senang, dan banyak uang. Dan YA, saya rasa Indonesia harus merdeka.

Meskipun semangat ‘merdeka atau mati’ belum benar-benar tumbuh dan berkembang, tapi setidaknya semangat tersebut sudah mulai muncul di hati saya. Maka pagi ini saya mengawali hari saya dengan semangat yang baru dan sebuah pertanyaan ‘apa lagi prestasi yang dapat saya lakukan untuk memerdekakan Indonesia?’.

Semoga semangat tersebut benar-benar semangat baru yang mengisi hidup saya, bukan hanya sebuah bentuk euforia terhadap hari kemerdekaan.

Selagi Masih Ada Waktu

14 Aug

Hari Minggu adalah hari kesukaan saya. Ada begitu banyak hal yang menyenangkan dari hari Minggu: “pergerakannya” yanng terasa lebih lambat meski waktu yang dimiliki masih tetap 24 jam, keluarga yang berkumpul lengkap membuat saya benar-benar merasa suasana rumah, kolom kesukaan saya di salah satu koran nasional, hari libur yang dijadikan alasan untuk bangun siang oleh banyak orang, waktu yang tepat untuk berolahraga meski pada akhirnya tujuan beralih pada pencarian makanan…, ada begitu banyak hal yang saya cintai di hari Minggu.

Tapi hari Minggu ini berbeda. Kejadian yang baru saja terjadi Sabtu pagi kemarin dan ramai dibicarakan di Twitter membuat Minggu ini terasa sangat drama bagi saya. Kejadian tersebut mengingatkan saya akan dua hal: kematian dan kehilangan.

Kematian dan kehilangan…, setiap kali teringat akan hal tersebut saya teringat kembali akan kejadian beberapa tahun yang lalu. Dalam perjalanannya untuk menemui saya, seorang sahabat mengalami kejadian di jalan tol. Sahabat saya tersebut koma selama 3 hari hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Tepat setelah kejadian tersebut, saya diserang oleh perasaan bersalah dan penyesalan. Sewaktu itu pemikiran seperti ‘seandainya saja saya tidak janji ketemuan dengan dia, dia tidak akan menyetir sendiri dan mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya’ menyerang kepala saya. Saya diserang oleh rasa kehilangan dan penyesalan yang membuat saya berharap melakukan hal yang tidak saya lakukan dan tidak melakukan hal yang saya lakukan agar saya tidak harus kehilangan sahabat saya.

Waktu itu saya masih SMA, masih sangat muda dan labil, jadi rasanya wajar saja kalau saya berharap saya dapat mengubah takdir. Pengalaman dan bertambahnya tingkat kedewasaan mengubah cara pandang saya akan kehidupan dan takdir. Saya belajar untuk menerima dan mengerti bahwa saya tidak akan pernah bisa mengingkari kematian, sesuatu yang memang sudah dijadwalkan olehNya. Sekalipun saat itu sahabat saya berdiam diri di rumah, tidak bahkan beranjak dari tempat tidurnya, sesuatu bisa saja terjadi dan mengambil nyawanya.

Hari ini, saya kembali berpikir dan mereview hidup saya.

Saya tidak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk saya. Hidup tidak seperti pertandingan sepakbola dimana saya bisa mengetahui sisa waktu yang saya miliki.

Detiki ini saya bisa saja mengetik sesuatu, up date status di Twitter, bercanda dengan adik saya, menertawakan hal-hal yang lucu hingga menangis dan perut saya sakit, tapi lalu di detik selanjutnya Tuhan mengambil nyawa saya.

Saya tidak akan pernah tahu berapa lama lagi sisa waktu yang saya miliki di dunia ini, tapi saya sadar bahwa pada akhirnya yang menjadi inti dari semuanya bukanlah berapa banyak waktu yang saya miliki di dunia ini, tapi apa yang saya lakukan selama waktu tersebut berjalan.

Maka detik ini juga saya membuat perjanjian dengan diri saya.

Saya berjanji untuk lebih mensyrukuri apa yang saya miliki dalam hidup saya, meski saya tidak bisa mengingkari fakta bahwa masih ada beberapa ketidakpuasan yang saya rasakan.

Saya berjanji untuk lebih bertanggung jawab akan hidup saya, karena pada akhirnya sayalah orang satu-satunya yang bertugas untuk ‘menyetir’ hidup saya.

Saya berjanji untuk lebih sering menghabiskan waktu dengan orang-orang yang saya sayangi dan yang menyayangi saya.

Saya berjanji untuk berbuat lebih baik dan lebih banyak lagi bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk lingkungan sekitar saya.

Saya berjanji akan melakukan yang terbaik. Selagi masih ada waktu. Selama saya masih mampu.

A Friend Indeed

2 Jun

Terkadang yang kita butuhkan hanyalah seseorang

Seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa berkata sepatah kata pun, hanya untuk membuat kita merasa lebih baik,

Seseorang yang akan meyakinkan diri kita bahwa kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, meskipun keinginan tersebut terlihat terlalu tinggi dan mengawang-awang,

Seseorang yang percaya akan potensi kita, bahkan di saat kita sendiri pun ragu akan hal itu,

Seseorang yang akan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja setiap kali rasa takut, cemas, gelisah, dan hal buruk sedang menyerang

Seseorang yang selalu berada di sebelah kita, meskipun tidak secara fisik, baik dalam susah mau pun senang

Seseorang yang membuat kita merasa bebas untuk mengungkapkan segala hal, termasuk sisi paling buruk dalam diri kita tanpa takut akan dihakimi setelahnya

Seseorang yang akan menerima kita apa adanya

Saya mendefinisikan seseorang tersebut sebagai seorang teman baik, a friend in need is a friend indeed. Ada kurang lebih 9,3 miliar manusia di dunia ini, tapi sangat sulit untuk mendapatkan seseorang seperti itu. Untungnya, saya sudah menemukan seseorang tersebut.

Terima kasih karena telah menjadi seseorang tersebut selama beberapa tahun terakhir. Semoga rantai persahabatan ini tidak akan pernah putus. Happy birthday, besta’!

P.S. Ditulis sebagai hadiah ulang tahun untuk seorang sahabat

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.