3/30: Teman Masa Kecil

18 Sep

Akan selalu ada cerita tentang cita-cita. Tentang keinginan dan harapan yang pada akhirnya tidak pernah tercapai karena semakin dewasa, baik saya maupun dia sama-sama tertampar oleh realita.
Akan selalu ada kebahagiaan yang sederhana, sesederhana jajanan murah di depan gerbang sekolah atau menonton film kartun di televisi.
Akan selalu ada ketulusan di balik ketidakpedulian kami akan apa yang kami pakai, apa pekerjaan kami, atau bahkan berapa uang yang mampu kami habiskan untuk bermain.
Aku dan dia…
Kami pernah sangat dekat, berbagi banyak hal mulai dari uang jajan, mainan, permen, cerita, harapan, dan cita-cita.
Kami pernah tertawa untuk hal yang tidak akan orang lain mengerti.
Kami pernah begitu dekat.
But things happened as day goes by…
Aku dan dia tidak lagi dekat, kami bahkan tidak pernah berhubungan sama sekali.
Tidak pernah ada yang salah dalam hubungan kami.
Tidak pernah ada kebohongan yang terbongkar hingga akhirnya salah satu pihak kecewa dan memutuskan untuk pergi.
Tidak pernah ada pertengkaran yang terjadi karena kegagalan kami menahan ego masing-masing.
Tidak pernah ada drama seperti yang pada umumnya dipertontonkan di televisi.
Hubungan kami berjalan dengan baik, hanya saja…
Baik aku dan dia sama-sama lupa. Lupa akan kesederhanaan, kepolosan, dan ketulusan yang pernah kami miliki. Lupa bahwa ketika memiliki, maka ada komunikasi yang harus dijaga agar tetap saling memiliki.
Aku dan dia sama-sama sibuk. Sibuk dengan kesibukan satu sama lain. Sibuk mencari yang baru hingga melupakan yang lama. Sibuk membangun masa depan yang tidak lagi sesuai dengan harapan  karena realita menghadang.
Jarak di antara kami semakin menjauh. Jarak yang membuat aku dan dia pada akhirnya sibuk dengan dunia masing-masing.
Inong…
Dia akan selalu tersimpan bersama dengan kesederhanaan, ketulusan, kepolosan, dan idealisme dalam sebuah kotak berjudul “kenangan”.
Inong…
Mudah-mudahan akan terjadi pertemuan selanjutnya… dan mudah-mudahan pertemuan tersebut tidak seperti pertemuan terakhir kami ketika dia sedang berduka karena ibunya meninggal dan aku bahkan tidak bisa menjadi sosok shoulder to cry on baginya.
Inong…
Semoga dimanapun dia berada saat ini, keadaannya baik-baik saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: