1/30 Orang Pertama yang Ada di Kepala

14 Sep

Perlu waktu yang lumayan lama dan beberapa draft sampai akhirnya tulisan ini berhasil saya buat.
Memikirkan tentang apa yang akan saya tulis tentangnya membuat saya merasa ditampar. Bagaimana mungkin saya bisa kehilangan ide ketika akan menuliskan tentang seseorang yang telah saya kenal seumur hidup, seseorang yang memiliki peran terbesar terhadap sosok saya saat ini, seseorang yang seharusnya… menjadi orang terdekat saya.
Hubungan saya dengannya memang tidak terlalu dekat dibandingkan dengan hubungan anak dan ibu pada umumnya. Saya banyak bercerita mengenai hidup saya, orang-orang sekitar saya, pekerjaan saya, hingga apa yang sedang terjadi dalam hidup saya, tapi saya tidak pernah menceritakan mengenai apa yang benar-benar saya rasakan mengenai segala hal.
Saya tahu bahwa mama selalu tahu apa yang sedang saya rasakan, tapi saya selalu memilih untuk diam dan tidak menceritakan perasaan saya, menjawab kekhawatirannya dengan kebohongan di balik kalimat sejenis “saya baik-baik saja”  atau “saya tidak apa-apa”.
Saya memilih untuk tidak bercerita bukan karena saya tidak mempercayainya, tapi karena saya tidak ingin membuatnya khawatir. Untuk saya, sudah terlalu banyak kekhawatiran dan kesulitan yang mama saya hadapi, sehingga rasanya tidak perlu lagi saya tambahkan dengan cerita soal masalah hidup saya yang sepertinya dibandingkan dengan apa yang sudah mama alami dalam hidupnya, tidak ada apa-apanya.
Hubungan saya dan mama memang tidak terlalu dekat. Ada banyak hal yang tidak mama ketahui tentang saya, dan begitu pula sebaliknya, tapi mama selalu menjadi orang nomor satu dalam hidup saya.
Saya selalu mengagumi sosok mama saya.
Saya kagum dengan kemampuannya meyakinkan saya dan saudara-saudara saya yang lainnya bahwa semuanya akan baik-baik saja, meskipun saya tahu ketika kami sedang berada pada titik terendah dalam hidup kami, mama memiliki kekhawatiran yang sama besarnya seperti kami.
Saya kagum dengan kemampuannya mencintai ayah saya dan bertahan pada komitmen pernikahan mereka. Dari situlah saya belajar bahwa meskipun sesuatu berjalan tidak seperti harapan, meskipun ada pilihan untuk meninggalkan, tapi belajarlah terus untuk mencintai ketidaksempurnaan dan bertahan pada komitmen dan pilihan yang telah dibuat.
Saya kagum pada kesabaran dan konsistensinya dalam menghadapi saya. Mama tidak pernah bosan mengingatkan saya untuk menjadi orang yang berada pada jalur yang benar, meskipun mama tahu seringkali saya tidak mendengarkan nasihat-nasihatnya.
Saya kagum dengan keyakinannya bahwa akan selalu ada Tuhan yang mendampingi dalam suka maupun duka.
Saya kagum pada segala hal yang ada pada sosok mama, sekecil apapun hal itu.
Dari mama saya banyak belajar tentang hidup, pelajaran berharga yang tidak akan pernah bisa saya dapatkan dari institusi pendidikan terbaik sekalipun.
Mama memang bukan orang yang sempurna, tapi selalu ada keyakinan dalam diri saya bahwa mama beserta kelebihan dan kekurangannya adalah sosok paling tepat yang Tuhan ciptakan untuk saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: