Archive | April, 2011

Bicara Selingkuhan

30 Apr

Setiap kali membahas mengenai perselingkuhan, saya menjadi sangat peka. Sebuah pembicaraan singkat di Twitter yang dilanjutkan dengan diskusi panjang dengan seorang sahabat membawa saya pada analisa mengapa seorang perempuan bersedia untuk dijadikan selingkuhan.

Saya ingat, satu tahun yang lalu seorang teman menceritakan soal hubungannya dengan suami orang. Waktu saya terkejut dan mengingatkan padanya bahwa itu adalah sebuah perbuatan yang tidak sebaiknya dilakukan, teman saya berkata bahwa dia tahu itu salah, tapi dia sangat mencintai lelaki tersebut dan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dia harus mengakhiri hubungannya dengan lelaki tersebut. Saya hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Cinta memang bisa menghipnotis orang untuk melakukan apa pun. Teman saya itu salah satunya, seolah-olah belum cukup mengejutkan saya, teman saya pun lalu mengeluarkan kalimat pembelaan diri “I don’t kill people, Sen… An affair doesn’t kill people, it just hurt them”.

When we’re happy we just don’t care about how does it feels to other people. Tanpa harus bercerita pun saya bisa melihat bahwa teman saya ini sedang berbahagia. Aura kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya, aura kebahagiaan tersebut bahkan menyebar pada orang-orang di sekitarnya termasuk saya. Jatuh cinta dengan seseorang yang memiliki karakter seperti sosok lelaki yang menjadi idamannya membuat teman saya berbahagia, persoalan status lelaki tersebut lantas menjadi satu isu yang tidak penting di mata teman saya itu. “Yang penting gue bahagia, terserah deh orang mau kayak gimana,” begitu kata teman saya. Saya jadi berpikir, ketika seseorang bahagia, jangan-jangan orang tersebut memang memiliki kecenderungan untuk melupakan perasaan orang lain. Selama diri bahagia dan tidak tersakiti, untuk apa peduli perasaan orang lain? Suka atau tidak, egois memang sudah menjadi sifat dasar manusia.

Karena pada dasarnya, kebutuhan utama perempuan adalah keamanan. Tidak peduli apakah perempuan tersebut berasal dari kalangan menengah ke atas atau ke bawah, career woman atau family woman, mandiri atau manja, blablabla yadaa yadaaa, perempuan membutuhkan keamanan. Rasa aman untuk bisa membeli apa yang dibutuhkan dan diinginkan, rasa aman untuk memiliki rumah yang membuatnya merasa nyaman, rasa aman untuk memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi dalam keadaan apa pun, hingga rasa aman untuk memiliki seseorang yang akan tumbuh dan menjadi tua bersama. Beberapa perempuan rela melakukan apa saja demi rasa aman tersebut. Itulah kenapa ketika ada seorang laki-laki datang dan menawarkan rasa aman yang tidak bisa didapatkannya dari diri sendiri  dan sosok lainnya, perempuan tersebut akan dengan senang hati menerimanya, meskipun konsekuensinya adalah menjadi selingkuhan.

We want what we can’t have. Kami, para perempuan, selalu menginginkan apa yang tidak bisa kami miliki. Kami terobsesi untuk memiliki apa yang tampaknya mustahil untuk dimiliki. Malah, dalam beberapa kasus, kami menginginkan sesuatu karena kami tahu bahwa kami tidak bisa memilikinya. Dalam kasus perselingkuhan, beberapa perempuan sebenarnya tahu bahwa lelaki tersebut sudah memiliki pasangan, akan tetapi hal tersebut tidak membuat keinginan untuk memiliki lelaki tersebut urung, malah membuat sang perempuan semakin menginginkannya. Makanya, ketika ada kesempatan untuk memiliki sesuatu yang kelihatannya tidak mungkin, beberapa perempuan mengambil kesempatan tersebut.

Pada dasarnya perempuan memiliki jiwa kompetitif yang tinggi. Perempuan senang berada dalam sebuah kompetisi, sayangnya perempuan tidak senang jika harus kalah. Secara frontal, perempuan terobsesi untuk menang. Ada kepuasan tersendiri jika seorang perempuan berhasil memenangkan sesuatu, tidak peduli sekecil apa pun hal itu. Tanpa bermaksud untuk mengatakan bahwa perempuan yang menjadi selingkuhan adalah seorang pemenang, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ketika seseorang berhasil mendapatkan apa yang sebelumnya sudah menjadi milik orang lain, maka perasaan menang dan berhasil mengalahkan seseorang akan muncul ke permukaan.

Ketika perempuan mengidolakan perempuan lain, perempuan tersebut ingin menjadi seperti idolanya. Saya jadi ingat beberapa minggu yang lalu teman saya bercerita soal seorang sekretaris yang rela menjadi selingkuhan suami bosnya karena dia sangat terobsesi dan mengidolakan sosok bosnya tersebut. Untuknya, dapat memiliki lelaki yang sama seperti lelaki yang dimiliki oleh bos yang juga idolanya tersebut merupakan sebuah indikator dia telah mampu mengimbangi kualitas yang dimiliki idolanya itu.

We’re just daddy’s little girl. Beberapa perempuan menjadikan ayahnya sebagai role model. Berbeda dengan menjadikan perempuan sebagai role model, ketika seorang perempuan memiliki male role model, maka perempuan tersebut akan mencari sosok lelaki yang mirip dengan role model-nya tersebut. Karakter pengertian, perhatian, pekerja keras, baik hati, kebapakan, dan protektif  yang biasanya dimiliki dalam diri seorang ayah menjadi karakter yang wajib dimiliki oleh lelaki yang akan menjadi pasangannya kelak. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang dapat memerankan sosok seperti itu selain… seseorang yang sudah (atau pernah) berkeluarga.

Men are like wine, better by age, unfortunately they’re already taken or gay. Tidak seperti perempuan yang seolah-olah memiliki “masa kadaluarsa”, semakin tua seorang laki-laki, maka semakin dia terlihat lebih baik dan lebih menarik. Pengalaman mendewasakan dan meningkatkan kualitas seorang laki-laki. Sayangnya tidak semua perempuan memiliki cukup kesabaran untuk menjalani proses peningkatan kualitas dan kedewasaan bersama seorang lelaki. Beberapa perempuan menginginkan sosok lelaki yang berkualitas dengan cara yang instan, maka berhubungan dengan lelaki yang sudah beristri adalah sebuah pilihan terbaik.

Some people are love being a bitch. Saya jadi ingat seorang kenalan saya yang terobsesi untuk menyakiti orang lain. Setiap kali dia telah berbuat buruk pada orang lain, dia menceritakannya dengan bangga tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun. Sakit. Awalnya saya kira sosok seperti ini hanya ada di sinetron-sinetron saja, tetapi ternyata di dunia nyata pun sosok seperti ini benar-benar hidup.

Pada akhirnya, apa pun alasan seorang perempuan bersedia menjadi selingkuhan, saya rasa dasar dari semua itu adalah kurangnya kemampuan untuk menahan diri dan berempati terhadap sesama. Tanpa bermaksud untuk menuduh perempuan-perempuan yang menjadi selingkuhan tidak memiliki rasa empati, akan tetapi bukankah jika seseorang memiliki rasa empati yang tinggi maka dia akan sadar bahwa diselingkuhi itu sakit sehingga dia tidak akan pernah mau menjadi pihak ketiga?

Ngomong-ngomong, uraian tersebut hanyalah asumsi saya. Jika ada yang ingin menambahkan atau berbeda pendapat boleh saja, selama masih menggunakan etika ketika mengemukakan pendapatnya.

Spesifik Itu Harus

27 Apr

Sore itu, di tengah hujan besar di sebuah restoran cepat saji, saya dan beberapa orang teman terlibat dalam sebuah percakapan yang absurd. Disebut absurd karena topiknya meloncat-loncat, tidak fokus, dan sama sekali tidak terarah. Saya lupa topik apa saja yang dibicarakan sore itu, tapi saya ingat reaksi mereka ketika saya bilang saya sedang ingin punya pacar.

Mereka, di luar perkiraan saya, terlihat kaget ketika saya menyatakan hal tersebut. Menurut mereka, seorang Senny yang terkenal feminis dan skeptis ketika membicarakan soal cinta tiba-tiba ingin punya pacar adalah kejadian langka dan mengejutkan. Baiklah, jadi menurut mereka orang semacam saya ini tidak wajar kalau ingin merasakan cinta, padahal hal itu kan manusiawi sekali… jangan-jangan selama ini saya tidak dianggap manusia oleh teman-teman saya itu (abaikan).

Setelah meyakinkan teman-teman saya itu kalau saya benar-benar serius ingin punya pacar, teman-teman saya pun akhirnya bertanya kriteria lelaki seperti apa yang saya inginkan untuk dijadikan pacar. Maka dengan antusias sekali, saya pun menceritakan tentang spesifikasi laki-laki yang saya inginkan. Untuk seorang yang demanding seperti saya, harusnya mereka tidak kaget kalau saya memiliki daftar yang panjang untuk itu, tapi reaksi mereka sungguh jauh di luar perkiraan saya. Waktu itu reaksi mereka…

“Busyet dah, lo cari calon pacar apa calon pegawai? Banyak amat mintanya?”

Hingga saat posting ini ditulis, saya masih belum merasakan ada yang salah dari memiliki daftar yang panjang dan kriteria yang detail untuk calon pasangan saya. Sebaliknya, saya malah merasa hal tersebut adalah hal yang wajar dan sangat penting untuk dilakukan.

Menurut saya, penting bagi seseorang memiliki kriteria yang detail dan sangat jelas untuk calon pasangannya kelak. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut tahu apa yang dia inginkan dan lebih fokus dalam masa pencarian pasangan. Dengan adanya daftar yang detail mengenai calon pasangan, maka seseorang tidak akan membuang-buang waktunya untuk berkencan dengan seseorang yang membuatnya tidak akan merasa nyaman.

Selain itu, sebuah kriteria yang spesifik juga menghindari diri dari kemungkinan terjadinya pertengkaran ketika sudah berhubungan akibat pasangan tidak memiliki spesifikasi seperti yang diinginkan. Saya misalnya, dengan adanya daftar yang detail, tentu saja saya tidak harus khawatir dan lalu dibuat emosi karena pasangan saya datang terlambat saat kencan, membiarkan saya membayari tagihannya, memakai sandal ketika sedang jalan dengan saya, blablabla yadaa yadaa. Hubungan akan terasa lebih aman dan nyaman karena orang tersebut sudah mendapatkan apa yang saya inginkan.

“Tapi ‘kan dalam sebuah hubungan pasti selalu ada rasa tidak aman dan nyaman, kecuali kalau pasangan yang kita dapatkan sempurna, which is nobody’s perfect.”

Saya mengangguk menyetujui pernyataan teman saya tersebut. Tidak ada seorang pun yang terlahir sempurna di dunia ini, maka dari itu ketika membuat kriteria calon pasangan otak perlu dipakai, berpikirlah logis dalam menentukan kriteria. Jangan sampai terjebak dengan kriteria sendiri yang akhirnya membawa kita pada kejombloan seumur hidup.

Lalu mengenai akan selalu ada titik dimana pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah hubungan merasa tidak aman dan tidak nyaman, saya pun menyetujuinya. Di sini komunikasi memiliki peran yang sangat besar dan penting dalam sebuah hubungan, agar ketika pihak yang terlibat dalam sebuah hubungan sedang merasa tidak aman atau tidak nyaman, masing-masing pihak dapat menegosiasikannya sehingga mencapai win-win solution dan hubungan yang berjalan pun dapat terselamatkan. Lagi pula, saya tidak pernah menyatakan bahwa adanya kriteria yang detail akan menjamin secara 100% hubungan akan berjalan aman dan nyaman, hanya saja jika dari awal seseorang sudah mengetahui apa yang diinginkannya, tentu saja kemungkinan bertengkar atau merasa kecewa karena tidak memiliki apa yang diinginkan menjadi lebih kecil.

“Tapi kita ‘kan nggak pernah tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta, gimana kalau suatu saat nanti kita malah jatuh cinta dengan orang yang sama sekali tidak termasuk dalam daftar kita?”

Begitu kata teman saya yang satunya lagi. Saya hanya tersenyum. Urusan perasaan memang kompleks, tapi mengingat saya ini orang yang demanding dan skeptis ketika membicarakan soal cinta, harusnya teman saya itu tahu kalau sulit bagi saya (bahkan hanya) untuk membayangkan diri saya jatuh cinta pada pria yang di luar daftar saya.

Pada akhirnya jika membicarakan sebuah hubungan dan calon pasangan yang ideal, tentu saja akan bersifat subjektif. Maka dari itu tidak heran jika hingga saat ini saya dan teman-teman saya masih belum bersepakat mengenai hal ini. Bagaimana dengan kamu?