Archive | March, 2011

Kasih Sayang, Kasih Uang

16 Mar

“Coba tolong jelaskan apa gunanya kasih sayang kalau tidak kasih uang?”

Beberapa hari yang lalu saya memuat status tersebut dalam Twitter dan Facebook saya. Jangan tanya apa yang ada di pikiran saya waktu saya membuat kalimat seperti itu, yang jelas pertanyaan itu memang sudah sangat mengganggu pikiran saya dalam waktu yang lumayan lama.

Reaksi yang saya dapat dari status tersebut cukup beragam, mulai dari yang menyetujui, mengatai saya dangkal, bahkan hingga memberikan saya kuliah singkat melalui message FB (terima kasih loh), tapi dari sekian banyak reaksi tersebut hanya ada satu respon yang membuat saya berpikir.

Respon tersebut muncul dari seorang teman blogger saya yang juga masuk dalam friend list saya di Facebook. Beliau mengatakan “mungkin pertanyaan yang harus kamu jawab dulu adalah pentingan kasih sayang atau uang?”

Jadi lebih penting kasih sayang atau uang?

Saya menjawab dua-duanya penting. Ah ya, saya memang manusia yang lemah dalam menentukan prioritas, sehingga saya tidak bisa membuat kesimpulan yang pasti mengenai mana yang lebih penting antara uang dan kasih sayang. Saya juga lemah dalam membuat pilihan sehingga ketika saya diajukan pertanyaan ini, saya lebih memilih untuk bermain aman dan menjawab bahwa keduanya penting.

Tapi bukankah keduanya memang penting?

Kasih sayang itu penting adanya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika saya hidup tanpa kasih sayang. Mungkin saya akan berada di daftar sampah masyarakat atau sudah menjadi pasien rumah sakit jiwa atau bahkan saya sudah meninggalkan dunia ini dari zaman entah kapan, membunuh diri saya karena sudah tidak ada lagi kasih sayang untuk saya.

Tapi apakah kasih sayang cukup untuk membuat seseorang bertahan hidup? Apakah mungkin seseorang dapat bertahan hidup dengan sehat tanpa pernah merasa kelaparan hanya karena makan kasih sayang? Tentu saja tidak. Kalau begitu apa artinya hidup dengan berlimpah kasih sayang jika tidak ada uang?

Maka uang bersifat sama pentingnya. Tanpa uang saya tidak akan bisa bertahan hidup. Semua yang ada di dunia ini dibeli dengan uang. Perut yang lapar harus diberi asupan makanan yang tentu saja dibeli dengan uang. Pikiran yang penat harus diberi hiburan yang tentu saja perlu uang untuk memperolehnya. Ketika sakit, untuk bertahan hidup pun saya harus pergi ke dokter dan mengkonsumsi obat-obatan dan memerlukan uang untuk bisa membeli itu semua.

Tapi apakah hidup dengan berlimpah uang akan terasa lebih indah dan jauh lebih baik jika tidak ada kasih sayang di dalamnya, sekali pun kasih sayang itu muncul dari diri sendiri? Ah, saya ragu akan hal itu.

Maka melihat berdasarkan skala kebutuhan dan fungsi yang diberikan, hingga kini saya masih juga tidak bisa membuat prioritas antara uang dan kasih sayang. Jika diibaratkan dalam bentuk barang, maka jelas sekali bahwa kasih sayang dan uang bukanlah sebuah barang substitusi yang bisa diganti ketika yang satunya lagi tidak ada, kasih sayang dan uang adalah barang komplementer yang harus saling melengkapi satu sama lain.

“Buat gue, uang jauh lebih penting, Sen. At least kalau gue punya uang banyak, gue bisa beli segalanya, termasuk kasih sayang.”

Saya tertawa mendengar jawaban teman saya tersebut. Iya juga sih, uang bisa saja membeli kasih sayang, tapi bukankah jika kasih sayang diperoleh dengan cara ‘dibeli’ maka kasih sayang yang didapatkan adalah kasih sayang yang instan dan tidak tulus, kasih sayang yang hanya berlandaskan uang dan bisa hilang seketika karena kasih sayang tersebut menemukan ‘ladang uang’ yang lebih subur?

 

 

 

P.S. Gambar diperoleh dari http://gettyimages.com

Lagi-Lagi Uang

14 Mar

“Apakah uang benar-benar bisa membeli kebahagiaan?”

Beberapa hari yang lalu secara mengejutkan seorang teman menanyakan pertanyaan tersebut pada saya. Saya terdiam.

Sisi diplomatis dan hipokrit dalam diri saya menjawab bahwa tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, salah satunya adalah kebahagiaan. Memiliki uang banyak belum tentu bisa memberikan jaminan seseorang akan bahagia.

Tapi tentu saja sisi kapitalis dan realis saya mengelak jawaban seperti itu. Saya tidak bisa membohongi diri saya dengan menyatakan bahwa jawaban tersebut adalah jawaban yang tepat untuk saya. Maka setelah melalui proses pemikiran yang cukup singkat, saya pun menjawab ‘iya’ untuk pertanyaan tersebut.

Realita menyatakan bahwa uang adalah segalanya. Tanpa uang seseorang akan powerless. Uang bisa membeli segala yang kita inginkan rumah, baju, sex, kekuasaan, bahkan cinta sekali pun. Maka dengan adanya fakta yang terjadi di hadapan saya, saya menarik kesimpulan bahwa uang memang benar-benar bisa membeli kebahagiaan, tidak secara langsung memang, tapi setidaknya tanpa uang seseorang tidak akan bisa bahagia.

“Bagaimana kalau kamu pada akhirnya menjadi seseorang yang super kaya dengan uang tak terbatas tapi lalu menyadari bahwa diri kamu tidak bahagia?”

Saya terdiam, merasa pertanyaan  yang diajukan oleh teman saya yang lain telah menampar saya dengan keras.

Jika suatu hari nanti saya menjadi manusia super kaya dengan uang tak terbatas (amin untuk yang ini) tapi tidak bahagia (amit-amit untuk ini)… well at least I become unhappy people at a nice place 🙂