Heal A Broken Heart

6 Dec

“Gue patah hati, Sen.”

Status Twitter yang akhir-akhir penuh dengan drama, ajakan ketemuan yang mendadak, rokok yang dihisap tak henti-henti seperti lokomotif, mata yang sembab, hingga muka yang sama kusutnya dengan kain pel sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan kepada saya bahwa teman saya ini sedang patah hati.

Hubungan teman saya dengan pacarnya baru saja berakhir. Masalahnya klise, sangat klise hingga saya rasa tidak perlu dibahas di sini. Persoalan klasik yang akan membuat banyak orang di luaran sana mengangguk sambil berkata “I’ve been there”.

“How do you heal a broken heart, Sen?”

Saya terdiam. Saya pernah patah hati, beberapa kali, jadi saya tahu pasti bagaimana rasanya patah hati.

Saya pernah patah hati, tapi bagaimana cara saya menyembuhkannya?

Waktu saya patah hati, saya mencari kegiatan sebanyak mungkin supaya saya tidak memikirkan lagi soal patah hati saya atau pun orang yang membuat saya patah hati. Saya bersosialisasi dengan begitu banyak orang, menenggelamkan diri saya dengan begitu banyak pekerjaan, hingga mencari kegiatan di luar kebiasaan yang membuat saya pergi pagi pulang malam dalam keadaan lelah. Hasilnya? Well, saya mungkin lupa pada patah hati saya, tapi itu hanya sesaat, pada akhirnya, di waktu kosong saya, saya kembali merasakan patah hati itu.

Mencari kesibukan hanyalah sebuah cara untuk mengalihkan fokus, bukan mengobati patah hati.

“Jadi gimana cara lo mengobati patah hati?”

Saya menghadapinya. Suka atau tidak suka, tidak peduli apakah cara itu akan membuat saya menangis atau setidaknya sekedar berkaca-kaca, cara paling ampuh untuk mengobati patah hati adalah dengan menghadapinya.

Menghadapi patah hati berarti menghadapi rasa sakit yang dirasakan. Semakin sering saya berhadapan dengan rasa sakit saya, saya semakin kuat dan kebal terhadap rasa sakit itu. Semakin sering saya menghadapi rasa sakit saya, semakin tinggi kemampuan saya untuk menerima kenyataan dan berdamai dengan rasa sakit tersebut.

Meskipun menyakitkan, tapi menghadapi rasa sakit akibat patah hati tidak membunuh diri saya, malah membuat saya semakin kuat.

Anything that doesn’t kill you, makes you stronger

11 Responses to “Heal A Broken Heart”

  1. Cahya December 6, 2010 at 8:37 pm #

    It might be never healed at all, but doesn’t mean somebody can not life fully. So sometime it is better not to wait the heart wound to heal.

  2. Agung Pushandaka December 7, 2010 at 1:32 pm #

    Menurut saya patah hati ndak bisa diobati dan ndak ada obatnya. Patah hati akan selamanya jadi patah hati, cuma cara kita menghadapinya yang berbeda seiring berjalannya waktu.

    • Cahya December 7, 2010 at 3:45 pm #

      Hmm…, apa itu pengalaman pribadi ya Mas Pushandaka🙂.

      • Agung Pushandaka December 7, 2010 at 11:08 pm #

        Begitulah. Hehe!

      • senny December 8, 2010 at 9:46 am #

        iya juga sih, patah hati itu bukan diobati tapi harusnya dihadapi ya?
        wah, berarti posting ini harus direvisi hehe

  3. Cahya December 8, 2010 at 5:03 pm #

    Mas Pushandaka, sepertinya sudah mencicipi asam garamnya kehidupan🙂.

    Senny, jangan khawatir, jika sudah waktunya akan sembuh dengan sendirinya🙂.

    • Agung Pushandaka December 9, 2010 at 1:54 pm #

      Ah, Mas Cahya ini. Siapa sih yang ndak pernah patah hati. Ndak melulu tentang pacar kan? Saat kita melamar pekerjaan tapi ndak dapat, kan patah hati juga. Hihi!

      Maaf Sen, kalau sudah ngobrol sama Mas Cahya ini jadi lupa tempat. Blog orang pun jadi tempat nongkrong. Hehe..

  4. Agung Pushandaka December 9, 2010 at 1:52 pm #

    @Senny, saya juga sepakat dengan tulisanmu di atas.

    “Mencari kesibukan hanyalah sebuah cara untuk mengalihkan fokus, bukan mengobati patah hati.”

    Mengalihkan fokus adalah salah satu cara menghadapi rasanya patah hati. Tapi ndak akan mengobati.

    Bisa jadi saat kita bertemu dengan hal/orang yang membuat kita patah hati, kita masih merasakan sakit itu. Tapi kita menghadapinya dengan cara yang berbeda dibandingkan saat pertama kali merasakannya.

    • senny December 9, 2010 at 1:57 pm #

      percaya atau nggak, sampai sekarang ada satu orang yang kalau dengar namanya aja bisa bikin inget lagi sakit hatinya, padahal itu udah 5 tahun yang lalu dan sekarang udah bisa berteman dengan orang itu.
      Patah hati itu emang seharusnya dihadapi

  5. andrysatrio December 28, 2010 at 11:39 pm #

    gue suka banget postingan lu sen, aaah dewasa. Iya menghadapinya, soalnya mana mungkin bisa dihindari :-p

    • senny December 29, 2010 at 6:34 am #

      ahaha… gue rasa lo suka ini karena lagi pas aja sama keadaan lo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: