Archive | December, 2010

Undefined Relationship Part Two

10 Dec

“Lo kenapa nggak pacaran aja sih sama dia, Sen?”

“Penting ya?”

“Iya dong. Biar hubungan lo sama dia jadi lebih pasti dan terarah.”

Saya tersenyum mendengar jawaban teman saya itu. Pertanyaan soal kenapa saya tidak pacaran dengan setiap lelaki yang dekat dengan saya terdengar sangat familiar di telinga saya dan reaksi saya masih sama setiap kali diberikan pertanyaan tersebut: balik bertanya apakah penting untuk saya berpacaran dengan lelaki tak terdefinisi saya.

Menurut teman saya itu (dan teman-teman saya lainnya baik yang saya kenal secara dekat maupun hanya selewat), status ‘pacaran’ penting eksistensinya agar sebuah hubungan lebih pasti dan lebih terarah. Saya… tidak percaya dengan jawaban itu.

Untuk saya, status ‘pacaran’ hanyalah sebuah label yang tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kepastian atau tujuan berlangsungnya sebuah hubungan.

Saya adalah tipikal orang yang sangat percaya bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini, terutama dalam hal berhubungan. Orang yang menikah saja bisa berakhir dengan perceraian, apalagi yang pacaran. Tidak lantas dengan adanya status, hubungan tersebut pasti berakhir bahagia.

Lalu apakah dengan adanya status, maka sebuah hubungan akan lebih terarah dan memiliki tujuan? Saya rasa tidak. Belajar dari pengalaman saya terdahulu, ditambah dengan pengalaman teman-teman saya, banyak hubungan yang berlabel tapi tidak memiliki tujuan. Pacaran hanya untuk senang-senang saja. Pacaran hanya sebagai ajang pamer status kalau mereka tidak jomblo dan sudah laku oleh orang lain. Pacaran tapi dari segi mental masih belum siap, dalam artian masih selalu mencari yang lebih dan ketika menemukan yang lebih dan sama-sama mau, berakhir pada perselingkuhan.

“Jadi lo lebih milih stay di sebuah hubungan yang beresiko sewaktu-waktu laki lo diambil orang lain karena nggak ada status?”

Saya mengangguk. Akan jauh lebih mudah untuk saya ketika saya harus mengakhiri sebuah hubungan karena salah satu pihak yang terlibat, baik saya maupun dia, tertarik dengan orang lain dan memilih orang itu. Lagian, bukankah soal perasaan adalah satu hal yang tidak bisa dikontrol sehingga kemungkinan salah satu pihak tertarik pada orang lain itu akan selalu ada baik dalam hubungan tak terdefinisi seperti yang saya jalani atau hubungan dengan status seperti orang pada umumnya?

Untuk saya, hal terpenting dalam sebuah hubungan bukan terletak pada eksistensi sebuah status, melainkan dari perasaan antara pihak-pihak yang terlibat. Selama saya menjalani hubungan dengan lelaki tak terdefinisi saya ini, saya merasa nyaman, aman, percaya, dan menikmati hubungan kami, dan rasa seperti itu bisa saja tidak saya rasakan lagi ketika sebuah status mengikat kami berdua.

Jadi kalau pihak-pihak yang terkait dalam sebuah hubungan merasa sama-sama sayang dan enjoy kenapa mesti repot-repot dikasih label ‘pacaran’ sih?

Heal A Broken Heart

6 Dec

“Gue patah hati, Sen.”

Status Twitter yang akhir-akhir penuh dengan drama, ajakan ketemuan yang mendadak, rokok yang dihisap tak henti-henti seperti lokomotif, mata yang sembab, hingga muka yang sama kusutnya dengan kain pel sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan kepada saya bahwa teman saya ini sedang patah hati.

Hubungan teman saya dengan pacarnya baru saja berakhir. Masalahnya klise, sangat klise hingga saya rasa tidak perlu dibahas di sini. Persoalan klasik yang akan membuat banyak orang di luaran sana mengangguk sambil berkata “I’ve been there”.

“How do you heal a broken heart, Sen?”

Saya terdiam. Saya pernah patah hati, beberapa kali, jadi saya tahu pasti bagaimana rasanya patah hati.

Saya pernah patah hati, tapi bagaimana cara saya menyembuhkannya?

Waktu saya patah hati, saya mencari kegiatan sebanyak mungkin supaya saya tidak memikirkan lagi soal patah hati saya atau pun orang yang membuat saya patah hati. Saya bersosialisasi dengan begitu banyak orang, menenggelamkan diri saya dengan begitu banyak pekerjaan, hingga mencari kegiatan di luar kebiasaan yang membuat saya pergi pagi pulang malam dalam keadaan lelah. Hasilnya? Well, saya mungkin lupa pada patah hati saya, tapi itu hanya sesaat, pada akhirnya, di waktu kosong saya, saya kembali merasakan patah hati itu.

Mencari kesibukan hanyalah sebuah cara untuk mengalihkan fokus, bukan mengobati patah hati.

“Jadi gimana cara lo mengobati patah hati?”

Saya menghadapinya. Suka atau tidak suka, tidak peduli apakah cara itu akan membuat saya menangis atau setidaknya sekedar berkaca-kaca, cara paling ampuh untuk mengobati patah hati adalah dengan menghadapinya.

Menghadapi patah hati berarti menghadapi rasa sakit yang dirasakan. Semakin sering saya berhadapan dengan rasa sakit saya, saya semakin kuat dan kebal terhadap rasa sakit itu. Semakin sering saya menghadapi rasa sakit saya, semakin tinggi kemampuan saya untuk menerima kenyataan dan berdamai dengan rasa sakit tersebut.

Meskipun menyakitkan, tapi menghadapi rasa sakit akibat patah hati tidak membunuh diri saya, malah membuat saya semakin kuat.

Anything that doesn’t kill you, makes you stronger

Desember

2 Dec

Desember. Saya selalu jatuh cinta pada bulan Desember. Saya selalu jatuh cinta pada segala hal tentang Desember.

Desember, waktunya untuk mereview kembali satu tahun yang telah dilewati. Mengingat-ingat begitu banyak pengalaman yang membuat saya tersenyum, tertawa, atau bahkan menangis. Sejarah adalah satu hal yang membentuk saya menjadi pribadi seperti yang sekarang ini, maka dari itu saya menganggap kegiatan mereview kenangan adalah suatu kegiatan yang penting dan wajib dilakukan di bulan Desember. Mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi dan telah dilewatkan itu penting supaya saya bisa belajar banyak dari pengalaman. Bukankah pengalaman itu adalah guru terbaik dan guru tidak akan menjadi yang terbaik jika saya tidak belajar apa pun dari situ?

Desember adalah saatnya bagi saya untuk mengakui kesalahan yang telah diperbuat, baik sengaja maupun tidak. Mengakui kesalahan itu tidak segampang yang dipikirkan. Perlu keberanian dan jiwa yang sangat besar untuk bisa membuat dirimu benar-benar mengakui kesalahanmu sendiri. Hal yang terpenting dalam sebuah kesalahan adalah mengakuinya, lalu belajar dari kesalahan itu. Setelah kamu bisa mengakui kesalahanmu sendiri dan belajar darinya, maka langkah selanjutnya adalah meminta maaf. Meminta maaf pada mereka yang baik sengaja atau tidak telah kamu sakiti, meminta maaf pada… dirimu sendiri.

Desember adalah saat yang tepat untuk menyusun masa depan. Tahun ini saya memutuskan untuk tidak memasang standar yang terlalu tinggi untuk masa depan saya. Tidak akan ada lagi ekspektasi yang tinggi kan hidup saya di masa mendatang, karena mengutip pernyataannya “terkadang membiarkan segalanya berjalan sesuai arahnya adalah cara terbaik untuk mengetahui apa yang Tuhan takdirkan untuk kamu”, jadi saya tidak mau lagi menekan diri saya terlalu keras. Biarkanlah semuanya berjalan sesuai arahnya. Go with the flow.

Desember adalah waktu dimana kenangan akan masa lalu, realita masa kini, dan harapan masa depan bersatu. Ada begitu banyak perasaan yang selalu menyerang hati saya setiap bulan Desember, mulai dari rasa sedih, kecewa, marah, senang, bahagia, terkejut, dan begitu banyak perasaan lainnya yang akan menjadi terlalu panjang untuk diuraikan satu per satu.

Desember. Maafkan untuk segala kesalahan yang telah saya perbuat. Semoga kamu semua selalu sehat dan berbahagia.

“If you think back and replay your year, if it doesn’t bring you tears either of joy or sadness, consider it wasted.” – Ally McBeal