Hidup Dalam Mimpi

30 Nov

“Lo tahu nggak sih berapa banyak orang di luaran sana yang pengen ada di posisi lo? Banyak banget sen yang dying to get a job, apa pun itu jenis pekerjaannya, sementara lo dengan berbagai jenis peluang yang ada, lo malah menyia-nyiakannya aja gitu.”

Kalimat itu diucapkan oleh seorang teman ketika saya bercerita bahwa saya baru saja menolak beberapa tawaran pekerjaan yang datang pada saya.

Semuanya berawal dari keisengan saya. Iya, kalau lagi tidak ada kerjaan, saya memang suka iseng, mulai dari iseng SMS nanya kabar ke mantan pacar (yang sering banget bikin mereka geer setengah mati kalau saya masih menyimpan ‘perasaan’ pada sang mantan) sampai iseng ngirimin CV saya ke perusahaan-perusahaan yang sedang membuka lowongan pekerjaan. Berbekal keisengan yang selanjutnya, saya pun mulai menghadiri panggilan interview dari beberapa perusahaan yang saya kirimi CV dengan sedikit harapan bahwa saya akan jatuh cinta pada perusahaan itu atau mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan saya atau setidaknya, biarkan saya menemukan jodoh saya di perusahaan itu (abaikan yang terakhir ini).

Ah ya, seperti yang sudah bisa ditebak dari pengalaman-pengalaman terdahulu, keisengan selalu membawa saya pada masalah. Salah satunya adalah beberapa perusahaan tersebut jatuh cinta pada image yang saya tampilkan ketika sedang interview, lalu menawari saya pekerjaan yang… selalu berujung pada penolakan dari saya.

Sssttt… sebenarnya masalah ini rahasia ya. Saya tidak menceritakan soal ini ke keluarga saya karena saya tahu pasti mereka pasti tidak akan mengerti kenapa saya menolak tawaran kerja yang datang pada saya karena tepat seperti apa yang dikatakan teman saya, di luaran sana banyak sekali orang yang mati-matian menginginkan sebuah pekerjaan, tapi saya yang mendapat beberapa tawaran malah menolaknya.

Alasannya adalah karena saya belum menemukan pekerjaan yang cocok untuk saya. Tidak… jangan pernah berpikiran bahwa definisi pekerjaan yang cocok di mata saya adalah pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, membuat saya mampu membeli barang-barang branded setiap hari, dan bisa membawa saya keliling dunia setahun sekali. Saya tidak menilai sebuah pekerjaan semata-mata dari segi finansial saja.

Alasannya adalah karena saya merasa di usia saya yang 23 tahun ini saya tidak benar-benar mengejar mimpi saya. Sepanjang hidup saya, saya memiliki banyak mimpi yang ingin saya kejar, saya juga selalu tahu apa yang saya inginkan dalam hidup saya hanya saja… saya tidak pernah benar-benar merasa telah berbuat sesuatu untuk mengejar mimpi saya.

Seperti mimpi saya ingin menjadi pengacara yang tanpa alasan yang jelas berakhir begitu saja karena lulus SMA saya malah memilih untuk kuliah di jurusan manajemen ketimbang di jurusan hukum.

Seperti mimpi saya menjadi seorang penulis yang berakhir begitu saja karena saya tidak pernah konsisten menulis dan semua ide cerita saya selalu saja berakhir pada konsep tanpa pernah saya sentuh dan kembangkan sedikit pun.

Seperti mimpi saya untuk ini dan itu yang berakhir begitu saja karena saya memang tidak pernah melakukan sesuatu hal untuk itu. Padahal kenyataannya tidak ada hambatan yang cukup berarti yang dapat menghentikan saya mengejar mimpi saya. Padahal (Seperti apa yang dikatakan teman-teman saya) saya memiliki potensi untuk hidup dalam mimpi saya. Padahal… ah sudahlah.

Tanggal 27 Oktober kemarin, di hari ulang tahun saya yang ke 23, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu sendirian, merenung mengenai perjalanan hidup yang telah saya lewati selama 23 tahun dan menyusun visi masa depan berbekal keinginan untuk mulai serius terhadap hidup saya sendiri karena saya sudah tidak muda lagi.

Saat itulah saya mulai menyadari (atau lebih tepatnya menyesali) diri saya yang tidak pernah benar-benar serius akan mimpi saya. Harusnya segudang mimpi yang dibekali oleh cukup banyak kemampuan dapat membawa saya hidup dalam mimpi saya dalam artian yang sebenarnya, bukan malah membiarkan mimpi-mimpi tersebut tetap menjadi angan-angan yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Makanya, saya membuat keputusan untuk berhenti bermain-main dan mulai serius terhadap keinginan saya. Makanya, saya menolak pekerjaan tersebut karena saya tahu bukan pekerjaan tersebut yang sesuai dengan keinginan saya. Makanya, saya lebih memilih untuk bertahan dalam wilayah abu-abu saya yang penuh dengan ketidakpastian ketimbang memilih satu warna yang saya tahu pasti tidak ingin saya pilih.

Saya menolak tawaran tersebut bukan karena saya menolak rejeki, atau memasang standar yang tinggi, atau idealis, atau apapun itu. Saya menolak tawaran tersebut karena saya tidak ingin bangun di usia saya yang menginjak kepala 3 suatu saat nanti, lalu mulai menyesali diri karena saya tidak pernah benar-benar berusaha mengejar apa yang saya inginkan. Saya tidak mau menjadi bagian dari golongan mereka yang mapan finansial karena pekerjaannya tapi tidak pernah bahagia akan itu. Saya tidak mau membangun sebuah jembatan dengan tembok yang tinggi sebagai pemisah antara realita tempat saya hidup dengan keinginan yang hanya sebatas mimpi saja.

“Emangnya lo yakin mimpi lo bakalan bikin lo bahagia kalau lo mampu ngewujudinnya?”

Though question. Saya menghembuskan napas saya menghadapi pertanyaan ini, tersenyum, lalu menjawab “setidaknya saya sudah berusaha”.

7 Responses to “Hidup Dalam Mimpi”

  1. Fahmi December 1, 2010 at 8:39 am #

    lebih bagus kalau mimpi mimpi nya ditulis,lalu dianalisis SWOT nya, kemudian diberi waktu deadline kapan mimpi itu dapat diwujudkan. Mungkin kalau seperti itu anda bisa segera lepas dari zona abu abu dan zona nyaman anda lalu segera mulai bergerak.🙂

    • senny December 1, 2010 at 9:31 am #

      kalau deadline sih emang udah dikasih, tapi kalau analisis SWOT? hmm… terlalu teoritis

  2. Goda-Gado December 1, 2010 at 11:02 am #

    mungkin gini Sen,,, ubah mimpi itu menjadi cita2…
    sehingga bisa lebih real..
    *halah

  3. Babi doll November 3, 2012 at 10:37 pm #

    I hate to dreaming!

  4. man_bleach February 6, 2013 at 12:58 pm #

    yuups bguz

  5. Regina April 3, 2016 at 9:28 pm #

    Hai Senny ☺
    Sekedar iseng2 nyari di google dgn keyword pengalaman menolak kerj, eh ketemu sama tulisan kamu.
    Bisa dibilang cerita kamu sangat mirip sama yang aku alami skrg.
    Bedanya tiap melamar kerja, aku ngasih tau ke ortu. Ini nih lebih sulit lagi. Semakin tinggi proses kamu ikut rekrutmen, semakin tinggi harapan ortu buat kerja di situ. Terutama ktka melamar di perusahaan dgn gaji yg wow.
    Aku terkesan karena punya pemikiran yg sama ttg pekerjaan, karna aku sndri ga menilai pekerjaan itu dri gajinya tapi lebih cari pekerjaan yg cocok. Karna toh kita yg jalanin. Bodo amat lah sama perkataan org lain. Hehe
    Anyway, maaf jdi rada curhat. Tapi thanks ^^

Trackbacks/Pingbacks

  1. You can call me stupid, but wait.. | blue's Blog - April 3, 2016

    […] “Saya menolak tawaran tersebut bukan karena saya menolak rejeki, atau memasang standar yang tinggi, a… […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: