Archive | October, 2010

Patah Hati

20 Oct

“Hal yang paling susah ketika kehilangan seseorang adalah membiasakan diri untuk kembali beraktivitas tanpa ada eksistensi orang tersebut di dalamnya”

Kalimat tersebut sempat saya update di akun Twitter saya beberapa hari yang lalu.

Tidak. Kalimat tersebut bukan hanya kalimat yang muncul selewat di kepala saya, melainkan berdasarkan pengalaman pribadi. Saya mengalami hal itu tidak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali, rasanya tidak akan bisa dihitung oleh jari berapa kali saya kehilangan seseorang dan harus kembali membiasakan diri beraktivitas tanpa ada eksistensi orang tersebut dalam hidup saya.

Seperti saat ini misalnya.

Tunggu! Sebelum kamu melanjutkan untuk membaca posting ini, saya ingatkan kamu bahwa posting kali ini adalah sebuah curahan hati, silakan segera tutup halaman ini dan abaikan posting kali ini jika kamu merasa sudah terlalu banyak drama dalam hidup kamu dan curahan hati saya ini hanya akan membuat hidup kamu terasa semakin sesak.

Akhirnya saya putus. Bukan putus dalam artian sepasang kekasih yang mengakhiri hubungan asmaranya lalu mengganti status Facebook-nya menjadi single karena saya dan dia tidak pernah benar-benar menjalin hubungan, tapi putus dalam artian… ah saya bingung mengartikan kata putus ini. Intinya adalah saya dan dia putus hubungan, sudah 2 minggu berlangsung.

Hubungan tak terdefinisi itu berakhir sudah. Dia ingin meresmikan hubungan saya dengannya, tapi saya belum siap, masih terlalu muda dan belum mapan baik dalam segi mental, finansial, dan terutama spiritual membuat saya enggan untuk meresmikan hubungan ini. Akhirnya dia menyerah, lalu mundur dari hubungan ini.

Perasaan saya?

Patah hati. Tidak pernah saya kira sebelumnya kalau saya sangat membutuhkan kehadiran dia dalam hidup saya. Saya butuh SMSnya setiap pagi, saya butuh telepon darinya setiap malam, saya butuh komentarnya tentang tulisan saya di blog ini yang selalu dikirimkannya melalui SMS (meskipun terkadang komentarnya hanya ‘tulisan kamu yang terbaru bagus deh’), saya butuh percakapan ringan di dalam mobil saat Bandung mulai berulah dengan kemacetannya, saya butuh….

Ah… tuh kan! Saya butuh banyak hal darinya.

Saya patah hati. Setiap malam saya mendengarkan lagu Katy Perry – Thinking Of You karena saya pikir itu satu-satunya lagu yang sangat menggambarkan perasaan saya saat ini. Selalu memikirkannya, bahkan ketika saya sedang bersenang-senang dengan segerombolan teman-teman dahsyat saya sekali pun.

Saya patah hati. Membiasakan untuk kembali beraktivitas tanpa eksistensinya adalah sesuatu yang sama sulitnya seperti seseorang yang amnesia ingin mengembalikan ingatannya. Berlebihan memang, tapi saat ini memang itulah yang sedang saya rasakan.

Saya patah hati dan kalau saja hal ini menimpa pada saya setahun yang lalu, saya pasti menjadi orang yang sangat emosional yang pernah ada. Untungnya waktu membuat saya menjadi lebih dewasa, sehingga saya lebih mampu mengontrol perasaan saya dan memendam semuanya di dalam.

Saya patah hati dan saya tidak menginginkan apa pun selain kehadiran dia kembali. Saya berjanji saya akan berusaha lebih keras untuk menyiapkan diri saya pada sebuah hubungan yang resmi. Saya berjanji akan lebih fleksibel dengan mengkompromikan segala sesuatunya dengannya. Atau setidaknya, kalau pun saya dan dia memang tidak ditakdirkan untuk bersama, setidaknya izinkanlah perpisahan ini terjadi secara bertahap, supaya saya lebih ikhlas dan lebih siap menerima perpisahan itu.

Saya patah hati dan hari ini, sama seperti 2 minggu terakhir yang saya habiskan tanpa eksistensinya, saya menghabiskan waktu luang saya dengan bersenang-senang dengan teman saya, sengaja supaya saya tidak terlalu memikirkan dia setiap saat. Usaha yang sia-sia karena dia tetap ada di dalam pikiran saya.

Saya patah hati. So much for my upcoming birthday!

Malam ini, beberapa jam yang lalu, saya update status di Twitter saya, bunyinya:

Have fun outside, miss you inside. Please call

Saya serius. Saya harap dia benar-benar menelepon saya karena saat ini saya sedang patah hati dan saya tidak mau siapa pun mengobatinya selain… dia.

“´╗┐You’re the best and yes I do regret, How I could let myself let you go?”

Thinking of You by Katty Perry-


Ya, Ya, Ya

18 Oct

Hari itu semakin dekat. Hari ulang tahun saya yang ke 23. Monster di kepala saya semakin gencar menyerang, bahkan rasanya setiap malam saya tidur ditemani gelisah karena monster-monster itu. Hal seperti ini selalu dan selalu saja terjadi di bulan Oktober. Saya menyebutnya sindrom pra ulang tahun karena begitu hari ulang tahun saya datang, sindrom ini pun menghilang tanpa jejak.

Iya, saya memang over sensitive, impulsif, dan drama queen. Sindrom seperti ini sepertinya hanya dialami oleh saya atau orang-orang yang sama sensitif, impulsif, dan dramanya seperti saya.

Anyway, tapi tahun ini saya memiliki kebanggan tersendiri. Sebuah prestasi yang sangat hebat (menurut saya) dan kalau ini adalah sebuah perlombaan, saya pasti akan memenangkannya, lalu memajang piala dan sertifikatnya di ruang tamu saya, sengaja agar semua orang bisa melihatnya.

Prestasi terbesar saya tahun ini adalah keberhasilan saya mengatasi sindrom pra ulang tahun saya dengan baik. Iya sih, saya masih suka cemas dan khawatir tidak jelas mengenai pencapaian yang ingin saya raih dalam hidup saya; saya juga masih suka gelisah ketika tertidur, tapi setidaknya saya menghadapi sindrom ini dengan cara yang jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini, dalam rangka berperang menghadapi sindrom pra ulang tahun, saya memutuskan untuk melakukan begitu banyak hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan di kepala saya. Tahun ini, saya melakukan sebuah langkah yang sangat sederhana, tapi ternyata memberikan efek yang sangat hebat untuk diri saya sendiri. Tahun ini, saya mengatakan ‘YA’ untuk banyak hal.

Mengatakan ‘ya’.

Sepertinya sudah lama sekali saya lupa bagaimana cara mengatakan ‘ya’ tanpa sebuah keterpaksaan. Menjadi seorang yang pemikir dan penuh pertimbangan membuat saya kesulitan mengatakan ‘ya’ akan segala tawaran atau pun tantangan yang datang pada saya. Di lain sisi, menjadi seorang dengan sifat ‘nggak-enakan’ juga membuat saya menjadi seseorang yang sering mengatakan ‘ya’ hanya atas dasar rasa tidak enak pada orang lain dan pada akhirnya saya melakukan sesuatu dengan terpaksa.

Tapi tahun ini berbeda. Saya mengatakan ‘ya’ karena saya memang menginginkannya, jadi segala hal yang saya lakukan dilandasi sebuah keikhlasan.

Hasilnya? Luar biasa!

Cukup dengan kata’ ya’ saya menemukan diri saya jatuh cinta pada begitu banyak hal yang baru dan semakin cinta pada hal-hal yang saya cintai sejak dahulu.

Saya semakin cinta pada bau kopi yang diseduh dengan air panas. Saya semakin cinta pada menulis. Saya semakin cinta pada membaca. Saya semakin cinta pada kegiatan bersosialisasi yang memungkinkan saya bertemu dengan begitu banyak orang baru yang keren-keren (setidaknya di mata saya). Saya semakin cinta pada bau tanah dan dedaunan yang basah karena hujan. Saya semakin cinta pada melihat hujan deras turun dari dalam ruangan yang membuat saya tetap kering dan hangat. Saya semakin cinta…

Ah akan terlalu banyak dan terlalu panjang untuk diceritakan.

Saya juga menemukan cinta baru saya.

Saya mulai jatuh cinta pada Homogenic dan Ndeesaster, para musisi Indonesia yang membuat saya kembali percaya bahwa meskipun jumlahnya tidak banyak, tapi masih ada musisi Indonesia yang memang berkualitas dan tidak bermusik sesuai trend. Saya mulai jatuh cinta teman-teman baru saya, teman-teman baru yang mengeluarkan aura dan energi positif untuk saya sehingga saya pun, sama halnya seperti mereka, terbawa positif. Saya mulai jatuh cinta pada ‘It Girl’, sebuah game baru di FB yang mencegah saya dari penyakit bosan akibat tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan. Saya mulai jatuh cinta pada kegiatan mencari gambar untuk disisipkan pada posting blog saya. Saya mulai jatuh cinta pada….

Ah, lagi-lagi akan terlalu banyak dan panjang jika harus saya sebutkan satu per satu.

Tapi di balik semua kecintaan saya akan hal baru dan semakin dalamnya cinta saya akan hal lama, satu hal yang paling saya syukuri dan akan saya jadikan hadiah terindah untuk diri saya sendiri di hari ulang tahun saya adalah: kecintaan saya akan hidup saya dan diri saya sendiri.

Terdengar narsis memang, tapi siapa lagi yang bisa mencintai hidup dan diri saya lebih baik dari saya sendiri?

Jadi, besok-besok, ketika saya kembali menjadi orang yang sinis dan kurang menyenangkan, tolong kembalikan cinta saya pada hal lama atau pertemukan saya dengan cinta baru saya cukup dengan mengingatkan saya untuk berkata ‘ya’.

P.S. Gambar diambil dari getty images

 

 

Tuhan Bersosialisasi

13 Oct

Kalau kemarin saya membuat sebuah posting yang menggambarkan kejenuhan saya akan kata ‘Insya Allah’, maka kali ini saya ingin menggambarkan kejenuhan saya akan kata ‘demi Allah’.

Demi Allah

Saya ingat pertama kali saya belajar mengerti kata tersebut, bukan dari guru agama saya, melainkan dari ayah saya. Saya ingat ketika saya masih kecil dan orang tua saya berpikir saya masih terlalu kecil untuk mengerti perbincangan orang dewasa, saya selalu mendengar ayah saya mengatakan kalimat tersebut ketika sedang bertengkar dengan ibu saya. Dari ayah saya, saya belajar bahwa ‘demi Allah’ adalah sebuah kata yang diucapkan ketika kamu tidak sedang berkata jujur, tapi kamu ingin membuat lawan bicaramu percaya pada kamu dengan mudah.

Waktu saya mulai sekolah dan belajar agama, saya baru tahu bahwa persepsi saya mengenai ‘demi Allah’ salah total. Berdasarkan apa yang saya dapat dari pelajaran agama (yang hanya saya perdalam semasa saya sekolah saja), saya mengetahui bahwa ‘demi Allah’ adalah kata yang boleh diucapkan hanya ketika kamu berkata jujur.

Makna yang sangat kontras dengan apa yang saya lihat pada situasi sehari-hari bukan?

Ya, persis sekali dengan kata ‘Insya Allah’.

Ngomong-ngomong setelah beberapa waktu yang lalu saya dilanda kejenuhan akan kata ‘Insya Allah’, kali ini saya diserang kejenuhan yang teramat sangat akan kata ‘demi Allah’. Entah kebetulan atau memang sedang trend, tapi saya menemukan banyak sekali orang yang mengatakan ‘demi Allah’ kepada saya.

Semuanya mengatakan ‘demi Allah’ untuk alasan yang sama, agar saya percaya dengan apa yang mereka katakan. Berbeda dengan kata ‘Insya Allah’, reaksi saya menghadapi ‘demi Allah’ adalah diam, sambil berkata dalam hati ‘just wait and see!’.

Berhadapan dengan begitu banyak orang yang membawa-bawa Tuhan dalam aktivitas sosialnya membuat saya bertanya-tanya sendiri apakah sebenarnya saya ini ketampangan seperti orang yang religius dan dapat mempercayai orang yang membawa-bawa nama Tuhan dengan mudah?

Jawabannya adalah tidak dan tidak.

Satu tidak untuk tampang yang membuat orang berpikir saya ini religius dan akan percaya apa pun selama itu mengatasnamakan Tuhan di dalamnya

Dan satu tidak untuk saya yang mudah percaya akan segala sesuatu yang memuat Tuhan di dalamnya.

Maka hari ini, izinkan saya mendeklarasikan sesuatu:

Ketika kamu diminta untuk melakukan sesuatu tapi kamu tidak yakin atau tidak mau melakukannya, maka sebaiknya katakan tidak jangan pernah mengatakan Insya Allah karena selain kamu akan mengecewakan saya (dan mungkin juga lawan bicaramu yang lainnya, kamu juga sudah mempermainkan Tuhan)

Ketika kamu ingin membuat seseorang percaya akan kata-katamu jangan pernah mengatakan Demi Allah karena hal tersebut tidak lantas membuat orang lain percaya, terutama ketika kamu sebenarnya sedang berbohong, mengatakan hal tersebut akan membuat kamu terdengar seperti sedang menyepelekan Tuhan.

Pada akhirnya, saya meminta kamu, dengan hormat, untuk tidak membawa-bawa Tuhan dalam aktivitas sosial yang kamu lakukan dengan saya, karena di mata saya, hal tersebut tidak membuat kamu terlihat seperti seorang yang religius, tapi justru membuat kamu terlihat seperti seorang manusia yang tidak tahu diri karena senang sekali mempermainkan Tuhan.

Pada akhirnya, sesuatu yang membuat saya percaya pada kamu adalah waktu dan itikad baik yang kamu tunjukkan pada saya, bukan karena kamu memuat nama Tuhan dalam setiap kalimat yang kamu ucapkan.