Day 29: Sebuah Ruang

3 Sep

Kemarin saya mengeluh padanya tentang kota Bandung yang mulai terlalu sesak dan sempit untuk saya. Rasanya setiap penjuru kota Bandung sudah saya datangi, mulai dari factory outlet dan kafe yang jumlahnya bertambah sebulan sekali, hingga tempat-tempat pariwisata yang kurang terawat. Rasanya juga setiap tempat yang saya datangi akan mempertemukan saya dengan orang yang saya kenal, baik itu cuma sekedar saya kenal wajahnya karena saya dan dia sering berada di angkot yang sama, hingga seseorang yang saya kenal dengan baik, bahkan lebih baik daripada saya mengenal diri saya sendiri.

Dia tersenyum mendengar keluhan saya, lalu dia pun bertanya ‘kenapa saya menunda-nunda kepergian saya dari kota Bandung jika memang saya merasa Bandung sudah terlalu sesak dan sempit untuk saya?’.

Saya terdiam. Waktu dia bertanya akan hal itu, saya benar-benar tidak mampu menemukan kombinasi kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Dia pun tersenyum lalu membelai rambut saya.

Hari ini ketika dia sedang tidak berada di sisi saya dan saya memiliki cukup ruang untuk berpikir sendiri, saya menemukan jawabannya.

Bandung memang terlalu sempit dan sesak untuk saya, tapi walau bagaimana pun Bandung tetaplah Bandung, sebuah kota yang saya cintai karena di kota inilah saya menyimpan begitu banyak kisah dan kenangan tentang saya.

Bandung memang terlalu sempit dan sesak untuk saya, tapi setidaknya Bandung masih sangat berbaik hati memberikan saya dan dia sebuah ruang untuk berdua. Sebuah ruang dimana saya dan dia bisa bebas berbicara akan apa pun atau hanya sekedar berbagi tempat untuk menyibukan diri dengan pikiran masing-masing.

Pada akhirnya saya merasa tidak menjadi penting lagi apakah Bandung terlalu sesak atau terlalu sempit, selama saya dan dia masih memiliki ruang itu, sekalipun ruang itu hanyalah seluas mobil yang terjebak di tengah kemacetan.

Jadi jika besok-besok kamu mendengar saya mengeluh soal kota Bandung yang sudah terlalu sesak dan sempit lagi untuk saya, tolong pastikan bahwa kota Bandung masih menyisakan sedikit tempatnya untuk saya dan dia berbagi.

It takes you and me to make everything okay.

P.s. Gambar diperoleh dari gettyimages

 


4 Responses to “Day 29: Sebuah Ruang”

  1. hellgalicious September 3, 2010 at 5:30 pm #

    wah tulisannya tinggal sedikit lagi nyampe 31

    ga perlu ngeluh selagi masih ada tempat buat kamu berdua
    hehe

    • senny September 3, 2010 at 10:30 pm #

      eh saya ikutannya 30 hari menulis jadi besok tamat🙂

  2. andrysatrio September 3, 2010 at 8:58 pm #

    yah, begitulah Bandung, sama saya juga merasakannya, kenangan manis dan pahit semuanya ada di sini. Meskipun Bandung sekarang bukan Bandung yang dulu..

  3. Goda-Gado September 17, 2010 at 8:09 pm #

    Ya lebih baik lagi jika bisa diperbaiki…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: