Archive | 12:01 pm

Day 28: Unusual

2 Sep

Kadang, cuma butuh seorang asing dan sebuah kegiatan di luar kebiasaan untuk membuat saya (dan mungkin juga kamu) berpikir.

Seperti seorang asing bernama Shaskia Noerdin. Saya tidak pernah mengenalnya dan satu-satunya hal yang membuat saya mengetahui tentangnya (dan tertarik untuk mencari tahunya lebih dalam lagi) adalah karena billboard bergambar wajahnya yang terpampang di laundry 5 a sec jalan R.E. Martadinata – Bandung yang sering saya lewati.

Dalam sebuah posting di blognya, Shaskia Noerdin membawa saya pada sebuah kegiatan yang jauh di luar kebiasaan saya: membaca berita kematian di sebuah koran yang memang tiap hari diantar ke rumah.

Membaca koran saja sudah menjadi sesuatu yang di luar kebiasaan untuk saya, mengingat saya lebih memilih membaca majalah yang jauh lebih menarik atau berita di internet yang lebih up date, apalagi membaca berita kematian di sebuah koran.

Sebenarnya, saya benci kegiatan ini. Biasanya, ketika saya terpaksa membaca sebuah koran karena ada sesuatu yang menarik di dalamnya, saya selalu melewatkan kolom ini. Saya takut akan kematian, sesuatu yang pasti akan terjadi pada siapa pun, dan saya tidak pernah bagus dalam menghadapi ketakutan saya sendiri.

Tapi saya sudah bilang ‘kan kalau hari ini berbeda? Hari ini seorang asing menginspirasi saya untuk melakukan sebuah kegiatan di luar kebiasaan saya.

Saya tidak percaya akan sebuah kebetulan, maka takdir membawa saya pada hari dimana koran yang saya baca menampilkan sebuah berita kematian dari seseorang yang saya kenal, tidak dekat, tapi setidaknya saya pernah mengobrol dan berjabat tangan dengannya. Ibu itu pernah menjalin hubungan kerja dengan saya.

Melihat berita kematian ibu itu di koran membuat saya melihat ke belakang dan mengingat-ingat sosok ibu itu. Lucu karena untuk ukuran seseorang yang hanya kenal selewat dengan saya, ternyata ibu itu meninggalkan begitu banyak kesan di hati saya, untungnya kesan tersebut adalah sebuah kesan yang baik, tidak ada satu pun kesan buruk yang membekas di hati saya.

Pada akhirnya, setelah saya membaca berita kematian itu, saya memejamkan mata saya, lalu mengatakan dalam hati “satu lagi orang yang baik telah pergi, semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya”.

Pagi ini, seorang asing dan sebuah kegiatan di luar kebiasaan saya membawa saya pada sebuah niat untuk menjalani hidup saya jauh lebih baik lagi, menyusun komposisi terbaik ddan mengoptimalkan penggunaan peralatan terbaik dalam hidup saya hingga akhirnya suatu saat nanti, ketika saya sudah meninggal, saya telah benar-benar merampungkan sebuah resep kehidupan yang baik.

Suatu saat nanti, ketika saya meninggal, saya harap nasib saya akan sama seperti nasib ibu itu ketika berita kematiannya dibaca oleh saya: diingat sebagai orang baik dan didoakan diterima di sisi-Nya. Amin!