Day 21: Hujan, Malam Hari, dan Kota Bandung

26 Aug

Hujan, malam hari, dan Bandung adalah kombinasi yang paling menyenangkan untuk saya.

Saya suka hujan. Hujan membuat saya menjadi lebih sensitif terhadap segala hal. Kalau saya ini seorang jenius atau ilmuwan, hal pertama yang saya teliti pastilah mengenai zat apa yang terkandung dalam air hujan sehingga hujan selalu sukses membuat setiap orang merasakan sesuatu.

Saya suka malam hari. Ketenangan dan inspirasi selalu saya dapat di malam hari. Di coffee shop, club, atau bahkan hanya sekedar di kamar, sedang mengobrol, menulis, bekerja, clubbing, nonton televisi, atau bahkan tertidur, malam hari selalu menjadi waktu terbaik saya.

Saya suka Bandung, cinta malahan. Menjadi seseorang yang lahir dan dibesarkan di Bandung dan hanya meninggalkan Bandung selama 3 tahun membuat saya sangat mencintai kota ini.

Jadi malam itu, ketika hujan turun di Bandung, saya memutuskan untuk keluar rumah tanpa tujuan.

Saya ingat seorang teman pernah mengatakan kepada saya bahwa jika seseorang pintar menggunakan setiap sense yang dimilikinya, maka orang tersebut akan mampu menjadi seseorang yang sangat peka menilai situasi di sekitarnya. Hujan, malam hari, dan Bandung membuat saya lebih pintar menggunakan sense yang ada dalam diri saya.

Sense saya membawa saya pada Bandung bagian realita. Kota Bandung dimana di sekeliling saya ada begitu banyak hal yang terjadi yang membuat saya sadar bahwa ada begitu banyak hal yang terjadi di sekitar saya yang membuat saya harusnya bersyukur akan hidup saya.

Malam hari sewaktu hujan di kota Bandung, saya melihat seorang ibu-ibu separuh baya yang berjualan bunga mawar, lima ribu rupiah setangkai, tapi sedikit sekali peminatnya. Saya melihat seorang pengamen berpindah dari satu angkutan umum ke angkutan umum yang lainnya, menyanyikan lagu dengan suara fals dan permainan gitar yang asal-asalan. Saya melihat seorang perempuan, masih lengkap dengan seragam sekolahnya berdiri di trotoar, menunggu angkutan umum dalam keadaan menahan dingin dan basah tanpa jaket dan payung. Saya melihat seorang wanita muda sedang kebingungan karena di tengah hujan mobilnya mogok dan sepertinya dia sama sekali tidak tahu caranya memperbaiki mesin mobil. Saya melihat seornag pengemis tidak berkaki dan berjalan menggunakan lututnya di sebuah perempatan.

Lalu perasaan itu pun muncul, malam hari di tengah hujan di kota Bandung, hati saya menghangat, padahal cuaca malam itu lumayan dingin. Malam hari di tengah hujan di kota Bandung, saya tersadar bahwa kesialan seperti apa pun yang menimpa hidup saya, masih ada begitu banyak hal yang patut disyukuri.

4 Responses to “Day 21: Hujan, Malam Hari, dan Kota Bandung”

  1. orange float August 26, 2010 at 1:06 pm #

    hujan di malam hari biasanya pengennya segera tidur di balik selimut:mrgreen:

  2. Cahya August 26, 2010 at 4:34 pm #

    Rasa-rasanya, di mana pun melihat suasana seperti itu, hati seseorang akan bisa menghangatđŸ™‚.

  3. Lambertus Wahyu Hermawan August 27, 2010 at 2:01 am #

    Refleksi diri di hari ke-21…đŸ˜€

  4. cenya95 August 27, 2010 at 8:19 am #

    Dunia oh dunia… masih banyak kekurangan pada diri… syukuri apa yang didapat.
    salam superhangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: