Day 16: Ketabrak Realita

21 Aug

Him: “Are you ok?”

Me: “Not really. Lagi memar-memar nih.”

Him: “Memar? Kenapa? Jatuh apa ketabrak?”

Me: “Iya, ketabrak. Ketabrak… realita.”

Kalau realita berbentuk sesuatu yang nyata, pasti saat ini saya sudah patah tulang dan memar-memar karena tertabrak olehnya.

Life’s hard.

Seorang teman pernah mengatakan kepada saya bahwa hidup menjadi susah karena kita semua dituntut untuk terus-menerus berusaha. Usaha untuk memperbaiki keadaan, usaha untuk menjadi sukses, usaha untuk menjadi mapan, usaha untuk menjadi seperti apa yang diinginkan, usaha untuk menjadi seperti apa yang orang lain pikirkan, usaha ini, usaha itu… semuanya selalu tentang usaha.

Teman saya yang lain berpendapat bahwa yang menjadikan hidup itu susah adalah karena kita memiliki ekspektasi tersendiri dalam hidup kita dan pada akhirnya kita tersadar bahwa tidak semua ekspektasi kita dapat menjadi nyata, beberapa ekspektasi terpaksa hanya menjadi mimpi belaka karena terbentur oleh realita.

Terbentur oleh realita seperti saya sekarang ini.

Perasaan saya tentu saja sakit, tapi saya sudah familiar dengan rasa sakit ini. Bukan hanya sekali dua kali saja saya tertabrak oleh realita, jadi dari segi mental saya memang sudah dipersiapkan untuk ini. Tapi tetap saya pertanyaan akan kenapa harus saya yang tertabrak oleh realita itu selalu muncul, menghantui pikiran, hingga mengunjungi saya dalam mimpi buruk saya. Tapi kali ini saya memutuskan untuk tidak akan menyerah, saya akan terus berusaha mengejar apa yang saya inginkan, berusaha mencapai kehidupan sesuai dengan ekspektasi saya.

Karena faktanya adalah saya sudah sering terjatuh, lalu bangun lagi dan hal tersebut tidak lantas membuat saya menjadi semakin lemah dan tak berdaya, tapi justru membuat saya menjadi semakin kuat. The show must go on dan mengutip pernyataan seorang teman “we’re all crash into reality but the bright side is we survive and stronger. Anything that doesn’t kill us makes us stronger.”

At the end of the day, life is just this big wall of reality that we all crash into.

-Georgia Thomas on Ally McBeal-

P.S. Gambar diambil dari getty images

3 Responses to “Day 16: Ketabrak Realita”

  1. Cahya August 21, 2010 at 11:07 am #

    Nah, satu lagi, setelah terbentur realita dan tertimpa tangga, kemudian malangnya orang malah terseret arus dan terdampar entah di mana (atau masih terkatung-katung?).

  2. Agung Pushandaka August 21, 2010 at 1:54 pm #

    Ketabrak realita memang sakit banget. Sakitnya sampai ke dalem-dalem. Hehe! Tapi memang seperti itulah adanya.

    Supaya ndak keras tertabrak, sebaiknya kita bisa berkompromi dengan realita yang ada. Bukan berarti lemah dan cuma ikut arus lho. Tetap berjuang sesuai idealisme, tapi juga tetap siap dengan segala kompromi.

    Pada dasarnya, hidup itu adalah sebuah kompromi kok. Hidup kita pun dimulai dari sikap kompromi kedua orang kita yang mau menerima sedikit perbedaan satu sama lain dalam sebuah perkawinan.🙂

  3. Asop August 21, 2010 at 4:56 pm #

    Realita ya realita, kenyataan, ga bisa diputar balik kembali….😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: