Day 7: Anomali Kesepian

10 Aug

Bisakah seseorang merasa begitu kesepian ketika sedang ditemani dan merasa ditemani justru ketika sedang sendirian?

Pertanyaan itu terbersit di kepala saya beberapa bulan yang lalu. Entah apa yang membuat saya pertama kali berpikir seperti itu, tapi yang jelas pertanyaan itu lumayan mengganggu konsentrasi saya. Dalam sebuah perbincangan makan siang dengan seorang teman, saya pun mulai mengangkat topik ini. Menurut teman saya, rasanya tidak mungkin seseorang akan merasa kesepian ketika dia sedang bersama dengan temannya dan justru merasa ditemani ketika sedang sendirian. Ketika saya bertanya kenapa tidak mungkin, teman saya ini menjawab bahwa dari segi logika jelas saja tidak logis.

Pertanyaan selanjutnya yang saya ajukan kepada teman saya adalah kenapa kesepian selalu diasosiasikan dengan sendirian? Bukankah dari segi definisi saja sudah terdpat perbedaan antara kesepian dan sendirian, dimana kesepian adalah keadaan jiwa yang merasa hampa atau kosong, dan tidak mendapatkan kepuasan dalam hubungan sosialnya, sementara sendiri berarti keadaan dimana seseorang sedang tidak bersama siapa pun. Terdapat perbedaan konsep antara sendiri dan kesepian, dimana konsep sendiri adalah kuantitas dan konsep kesepian adalah kualitas.

Teman saya pun menjawab bahwa seseorang akan merasa kesepian jika dia sedang sendiri, jadi dari segi teori, kesepian dan sendiri, meskipun memiliki perbedaan konsep yang begitu jelas, tetap saja tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Mendengar jawaban teman saya tersebut, saya memutuskan untuk diam dan mengakhiri topik pembicaraan mengenai kesepian ini, meskipun ada bagian dari diri saya yang mengelak untuk menyetujui pendapat teman saya itu.

Beberapa hari yang lalu, sebuah pengalaman pribadi menjawab pertanyaan tersebut. Sebuah anomali kesepian, begitu kata Zhe, sahabat saya, terjadi pada saya.

Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu saya menghadiri pesta ulang tahun seorang teman. Pesta kecil-kecilan yang hanya dihadiri oleh teman-teman dekat saja dimana semua undangan saya kenal dengan baik. Dalam keadaan normal, saya akan merasa sangat akrab dengan kumpulan undangan tersebut, tapi sepertinya malam itu ada sesuatu yang salah pada diri saya. Di tengah sekelompok orang yang saya kenal dengan baik saya justru merasa kesepian. Saya memang masih bisa tertawa bersama mereka, berkomunikasi dengan baik bersama mereka, tapi hati kecil saya tetap merasa kesepian. Perasaan saya merasa kosong.

Besoknya, putus asa karena rasa kesepian yang melanda semalam, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu saya sendirian. Me time di sebuah coffee shop yang terletak di sebuah mall yang memang selalu ramai.

Memang tidak banyak yang bisa dilakukan ketika sedang sendirian, tapi justru itulah bagian kesukaan saya, ketika tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan, saya lebih leluasa untuk berpikir mengenai begitu banyak hal secara random.

Saya melihat ke sekeliling saya, mata saya bertemu dengan mata seorang barista yang sebelumnya melayani saya, berhubung saya memang rutin mengunjungi tempat itu dan memesan menu yang sama, tidak heran dia mengenal saya meskipun tidak secara harfiah, barista itu tersenyum pada saya, membuat saya merasa seperti sedang ditemani oleh seorang teman lama. Pemandangan kedua yang saya tangkap adalah sepasang kekasih yang berjalan melewati coffee shop tempat saya berada, mereka bergandengan dan mengobrol, sesekali obrolan mereka diselipi tawa, meskipun hanya sekilas, tapi melihat pasangan kekasih tersebut membuat saya merasa nyaman. Pemandangan saya selanjutnya adalah 4 orang wanita berpakaian kerja yang duduk tak jauh dari tempat saya duduk. Mereka terlihat akrab dengan obrolan yang tidak bisa saya dengar dari tempat saya duduk, melihat pemandangan tersebut membuat hati saya menghangat.

Lalu perasaan itu pun muncul. Di tengah kesendirian saya sore itu, saya justru merasa seperti sedang berada di tempat yang sangat familiar ditemani oleh sekelompok teman akrab yang membuat keadaan seburuk apa pun terlihat seperti baik-baik saja. Saya merasa seperti sedang berada di… rumah, tempat dimana saya selalu merasa nyaman, a place where my heart belong to.

Sore itu, pertanyaan saya beberapa bulan terjawab dengan memuaskan karena saya dipaksa untuk mengalaminya sendiri. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa bahkan orang terdekat pun bisa membuat saya kesepian, dan sebaliknya, justru seseorang yang benar-benar asing bisa membuat kita merasa ditemani.

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu pernah mengalami sebuah anomali kesepian? Tell me, plase!

P.S. Gambar diperoleh dari gettyimages

4 Responses to “Day 7: Anomali Kesepian”

  1. Asop August 11, 2010 at 4:33 am #

    Eh, kalo dipikir lagi, benar juga ya, bisa terjadi yang namanya anomali ini…😐
    Tunggu…saya ingat2 dulu… rasanya saya belum pernah mengalaminya.🙂

  2. mikow August 11, 2010 at 9:06 am #

    alone but not lonely

  3. hellgalicious August 11, 2010 at 4:06 pm #

    kalo lagi sendiri biasanya saya pergi keluar ato hanya sekedar jalan jalan
    tapi kalo pas saat lagi ngumpul bareng teman-teman dan saya masih merasa kesepian, keknya blom pernah ngalamin deh
    hehehe

  4. Lex dePraxis August 14, 2010 at 1:46 am #

    Hai sobat, tulisan yang menarik. Kebetulan saya baru menulis post yang terkait, Pacaran Bisa Obati Kesepian?

    Semoga bisa membantu.

    Salam kenal juga.

    Lex dePraxis
    Unlocked!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: