Archive | 11:23 pm

Day 6: Insya Allah

9 Aug

Insya Allah.

Artinya jika Tuhan mengizinkan.

Sewaktu saya masih kecil, seorang guru agama saya mengatakan bahwa ketika kita berjanji akan sesuatu sebaiknya kita mengatakan Insya Allah. Menurut beliau, segala rencana yang kita buat pada akhirnya akan diputuskan oleh Allah apakah akan berjalan atau tidak. Beliau juga berkata, ketika seseorang mengatakan Insya Allah maka janjinya harus dapat dipegang dan kecuali ada sesuatu yang sifatnya benar-benar di luar kuasa-Nya, orang tersebut harus benar-benar memenuhi janjinya.

Tapi seiring dengan pertambahan umur dan kedewasaan saya, saya justru menemukan begitu banyak pengalaman yang mengajari saya mengenai arti Insya Allah yang sesungguhnya.

Meskipun dalam agama dan sejak saya kecil saya selalu diingatkan bahwa seseorang yang mengatakan Insya Allah harus dapat menempati janjinya kecuali ada sesuatu yang benar-benar di luar kuasanya, tetapi saya justru menemukan hal yang kontras dengan apa yang diatur dalam agama yang saya anut dan apa yang diajarkan oleh guru agama saya sejak kecil. Pada kenyataannya, saya justru menemukan orang yang mengatakan Insya Allah justru mengingkari janji mereka.

“Insya Allah gue datang” artinya dia tidak akan datang.

“Insya Allah gue kerjain seperti yang lo minta” artinya dia tidak akan mengerjakan seperti apa yang saya minta.

“Insya Allah kita ketemu sebelum gue pergi” artinya dia tidak akan menemui saya sebelum dia pergi.

“Insya Allah gue hubungi lo” artinya dia tidak akan menghubungi saya.

Pada akhirnya, Insya Allah hanyalah sebuah kata yang bermakna penolakan secara halus. Sebuah kalimat perhalusan dari kalimat “saya tidak bisa menepati janji saya” atau “saya tidak bisa melakukan apa yang kamu harapkan”.

Akhir-akhir ini saya merasa mulai jenuh mendengar kata Insya Allah. Terlalu banyak penolakan secara halus membuat saya merasa sulit menemukan orang yang tegas dan tidak membawa Allah dalam aktivitas sosialisasi. Makanya ketika saya berhadapan dengan seseorang yang berjanji dengan mengatakan Insya Allah, saya memberikan pertanyaan penegas berupa “ya atau tidak?”.

Saya bukannya tidak percaya akan apa yang diajarkan agama saya, akan tetapi saya ingin semua orang yang berjanji dengan saya bersikap lebih tegas dan berhenti membawa-bawa nama Allah ketika dia tidak bisa atau tidak mampu atau bahkan tidak mau menepati janjinya.

Karena sebaiknya seseorang mengatakan ya untuk sebuah ya dan tidak untuk sebuah tidak.