Archive | 1:53 pm

Day 5: Stupid Indonesian, A Stereotype

8 Aug

“Ah Senny, you are too smart for Indonesian.”

Kalimat tersebut diucapkan oleh seorang teman bule say. Meskipun kalimat tersebut ditujukan sebagai sebuah pujian, tapi saya sama sekali tidak merasa dipuji. Sebaliknya, saya sebagai orang Indonesia asli justru merasa sedang dilecehkan.

Koreksi saya kalau saya salah, tapi kalimat yang menyatakan bahwa saya terlalu pintar untuk seorang berkebangsaan Indonesia memberikan kesan bahwa orang Indonesia itu bodoh. Apalagi mengingat kalimat ‘too smart for Indonesian’ tersebut ditujukan kepada saya yang dari segi prestasi biasa-biasa saja.

Berbekal kepercayaan pada pepatah ‘tidak ada asap jika tidak ada api’ dan tidak mau mudah terbakar emosi, saya pun mencoba mengkonfirmasikan kalimat itu kepada si bule. Yah siapa tahu saya yang sedang kelewat sensitif jadi menganggap kalimat yang bermaksud positif menjadi sebuah kalimat negatif. Tapi alangkah terkejutnya saya ketika si bule berkata bahwa selama ini stereotype yang berkembang di negaranya adalah Indonesia negara tertinggal dengan bangsa yang bodoh.

Menurut si bule, selama ini jika dia melihat tayangan di media, berita di Indonesia hanyalah tentang terorisme, kerusuhan, kemiskinan, bencana alam, masyarakat primitif, dan seterusnya, dan seterusnya.

Meskipun saya akui Indonesia, negara dimana saya lahir dan dibesarkan adalah sebuah negara yang rusuh dan terlalu banyak chaos di dalamnya, tetapi tentu saja saya merasa tersinggung dengan stereotype tersebut. Sebenci apa pun saya terhadap Indonesia, tetap saja negara ini yang akan saya bela sampai mati (berlebihan).

Lalu saya pun mulai menjelaskan kepada si bule yang belum pernah menyentuh Indonesia dan selama ini hanya mengenal Indonesia dari media mengenai keadaan Indonesia yang sebenarnya. Dimana meskipun Indonesia adalah sebuah negara yang berkembang, akan tetapi Indonesia menempati urutan ketiga pembeli berlian terbesar seluruh dunia. Bahwa meskipun banyak aksi anarkis dan terorisme berkembang di Indonesia, tapi kami terbiasa hidup bertetangga dengan suku yang berbeda-beda. Bahwa meskipun apa yang ditayangkan di media di negaranya memberi kesan bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk yang bodoh, akan tetapi kami tidak pernah absen meraih gelar juara olimpiade-olimpiade bertaraf internasional.

Anyway, obrolan saya dengan si bule pun membawa saya pada sebuah pemikiran mengenai stereotype terhadap golongan-golongan tertentu. Selama ini kita terlalu banyak mendengar dari orang lain dan terlalu percaya pada media tanpa melihat situasi dan kondisi yang sebenarnya sehingga seringnya stereotype yang tertanam di pikiran kita adalah stereotype yang salah. Nggak usah deh jauh-jauh menyalahkan si bule yang memang dari negara lain yang jaraknya jauh sekali dengan Indonesia, saya sendiri merasa selama ini saya sudah menanamkan stereotype yang salah mengenai warga Indonesia itu sendiri, seperti misalnya si suku A stereotype-nya adalah pelit, suku B itu kasar, suku C itu lembek, dan sebagainya dan sebagainya.

Pembicaraan saya dengan bule tersebut menyadarkan saya bahwa lain kali, sebelum saya menggeneralisasi golongan tertentu, sebaiknya saya terjun ke lapangan lebih dahulu, supaya saya tidak terdengar seperti seorang yang bodoh, douchey, atau sok tahu dan bisa lebih bijak lagi menilai.

Posting ini akan saya tutup dengan sebuah pertanyaan: selama ini saya melihat di media tentang negara-negara di Benua Afrika yang sebagian besar hidup primitif, tertinggal, miskin, dan lapar (yah, tepat seperti stereotype yang tertanam di kepala si bule mengenai Indonesia), pada kenyataannya apakah benar demikian? Anyone tell me, please!