Day 3 : Undefined Relationship, Mau Dibawa Kemana?

6 Aug

Scene #1 : Text Message

Him: Sleepy

Me: Me too. Harusnya kita nggak teleponan sampai tengah malem

Him: I’d rather chat with you all night long then sleepy all day long than sleep earlier and not having any conversation with you at night

Him: seriously

Scene #2 : Phone Talk

Him: “Even kamu ketiduran juga hpnya nggak bakalan aku matiin. Biarin aja teleponnya nyambung semalaman.”

Me: “Sok tajir. Kenapa nggak dimatiin?”

Him: “Biar berasa malam ini aku tidur sama kamu.”

Scene #3 : Face To Face Conversation

Him: “Wow! You’re glowing.”

Me: “I know. Kamu ‘kan selalu bilang gitu kalo aku lagi ngomongin soal ini.”

Him: “so can we do it now?”

Me: “Do what?”

Him: “Kissing. Emangnya aku nggak pernah bilang yah kalo setiap kali kamu glowing, kamu bakalan bikin laki normal mana pun jadi pengen cium kamu?”

Scene #4 : Stuck In A Traffic Jam

Bandung malam itu macet. Hujan dan akhir pekan memang duet maut penyebab utama kemacetan kota Bandung. Tapi malam itu, saya merasa sama sekali tidak ada masalah dengan kemacetan, meskipun badan sudah menjerit minta diistirahatkan. Lalu segerombolan pengamen yang mengatasnamakan himpunan mahasiswa sebuah universitas negeri di Bandung menghampiri mobil yang saya dan dia tumpangi dan mulai menyanyikan lagu Armada yang berjudul Mau Dibawa Kemana. Saya dan dia pun saling berpandangan dan tertawa di saat yang bersamaan. Saya tidak mempunyai ilmu membaca pikiran, tapi saya yakin malam itu, saya dan dia menertawakan hal yang sama. Masalahnya saya tidak yakin apakah yang saya dan dia tertawakan adalah sesuatu yang lucu atau ironi.

Beberapa orang menyebut hubungan antara saya dan dia dengan sebutan pacaran, tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai hubungan tak terdefinisi. Undefined relationship.

Saya tidak yakin kapan dan kenapa semua ini dimulai, tapi yang jelas saya jauh lebih menikmati hubungan tak terdefinisi daripada hubungan dengan status tertentu. Beberapa orang mengatakan saya plin-plan, beberapanya lagi mengatakan saya player, sementara sisanya (mencoba) mengerti posisi saya dan memakluminya.

Dalam sebuah pembicaraan di coffee shop, seorang teman pernah menanyakan kenapa saya lebih memilih menjalani hubungan yang tak terdefinisi yang berarti menjalani sebuah hubungan yang penuh dengan ketidakpastian ketimbang menjalani hubungan yang memiliki status sehingga memiliki kepastian. Waktu itu, jawaban saya adalah ada atau tidaknya sebuah status dalam sebuah hubungan tidak lantas memberikan kepastian terhadap hubungannya itu sendiri. Lah yang sudah nikah saja masih banyak yang berakhir dengan perceraian, apalagi yang pacaran.

Di hari lainnya dengan teman saya yang lain juga, saya sempat membicarakan masalah ini. Bedanya, jawaban saya ketika ditanya kenapa oleh teman saya yang satu ini bukan masalah pasti atau tidak pasti, melainkan masalah ketidakyakinan saya.

Untuk saya yang lahir dengan sifat realis, diperlukan sebuah alasan yang kuat untuk saya akhirnya mau melepas status single saya dan menjalani hubungan berstatus dengan seseorang. Selain itu, lelaki itu juga harus memenuhi kriteria saya, yaitu mapan finansial, identitas, dan spiritual.

Hari lainnya lagi, saya sempat bertanya kepada Zhe, sahabat baik saya mengenai keputusan dia menikah tahun ini. Sebelumnya saya tidak pernah menanyakan soal keputusan menikah seseorang, tetapi karena ini adalah seorang sahabat baik yang juga memiliki sifat realis seperti saya, maka saya sangat ingin tahu apa yang menjadi alasannya mengiyakan lamaran pacarnya, lalu Zhe memberikan jawaban yang jauh di luar prediksi saya.

Zhe: “Karena gue mau aja.”

Me: “Nggak ada alasan khusus gitu?”

Zhe: “surprisingly, no.”

Me: “Lo yakin? Umm… maksud gue, lo yakin kalo lo udah nemuin orang yang tepat? Ini nikah lho, bukan pacaran. Sekalinya lo cerai, status lo lebih berat lagi, janda, bok. Emangnya lo mau jadi janda?”

Zhe: “Yah nggak gitu juga kali, tapi Sen, kalo menurut gue, kadang kita emang perlu ngambil resiko dalam hidup kita dengan mempertimbangkan kata hati kdan mengesampingkan logika. Kalo gue dengerin logika sih, sampai kapan pun gue nggak bakalan married, secara logis ‘kan gue udah bisa survive hidup sendiri, bisa ngebiayain hidup gue, masih ada temen-temen yang ngerawat gue, dan gue nggak segitu kurang hiburannya sampai butuh seks, tapi kata hati gue bilang ini adalah waktu yang tepat untuk gue nikah.”

Me: “Darimana lo tahu ini waktu yang tepat? Dari mana juga lo tahu kalo dia orang yang tepat?”

Zhe: “Yah itu… dari hati gue. Kalo soal dia orang yang tepat, gue nggak pernah tahu kalo nggak pernah ngejalaninnya. Bukannya lo sendiri yang bilang ke gue kalo love is decision?”

Me: “Iya sih.”

Zhe: “And you never know if your decision is the right or the wrong one until you did it, right?”

Malam itu, ketika segerombolan pengamen menyanyikan lagu Mau Dibawa Kemana, saya jadi teringat kembali pembicaraan-pembicaraan yang telah saya lewati. Saya pun jadi bertanya-tanya sendiri mau dibawa kemanakah hubungan saya dengan dia. Ah, tapi saya rasa untuk saat ini, lebih baik saya menikmati hubungan tak terdefinisi ini terlebih dahulu. Sampai saya yakin dan siap mengambil resiko.

P.S. Gambar diperoleh dari http://gettyimages.com

4 Responses to “Day 3 : Undefined Relationship, Mau Dibawa Kemana?”

  1. sangpenjelajahmalam August 7, 2010 at 11:04 am #

    salam kenal…

  2. brianhidayat August 18, 2010 at 6:32 pm #

    apa kabar..?kl mw menikah hrs ad persiapan matang😉

  3. zulhaq October 17, 2010 at 8:08 pm #

    hubungan tak terdefini itu keren menurut gw. dia terjadi bukan karena ungkapan, tapi menyatu oleh rasa. kita sendiri sampe gak sadar dari mana awalnya. tapi ya terjadi.

    • senny October 18, 2010 at 10:42 am #

      eh jadi gue keren dong? *pede setinggi langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: