Archive | 9:50 pm

Cinta Kok Cemburu?

2 Aug

Katanya, cemburu itu tanda cinta.

Saya menggeleng dan kalau saja sore itu tidak ada spaghetti dalam mulut saya, maka saat itu juga saya akan berteriak tidak sekeras mungkin.

Sore itu seorang teman sedang bercerita soal pacarnya yang pencemburu, saking cemburunya sampai-sampai si pacar membuka akun facebook teman saya tanpa izin dan lebih parahnya lagi sampai menghapus beberapa orang yang terdapat di dalam friend list teman saya itu hanya karena disinyalir orang-orang tersebut memiliki ketertarikan tertentu terhadap teman saya ini. Ironisnya, waktu saya bertanya apakah teman saya marah terhadap kelakuan pacarnya itu, teman saya justru memakluminya dengan alasan bahwa si pacar yang (menurut saya) posesif itu cemburu dan cemburu itu adalah tanda sayang.

Obrolan sore itu membawa saya pada sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu: apa sih cemburu itu? dan kenapa seseorang bisa cemburu? Saya pun mulai iseng googling soal cemburu dan mendapati definisi cemburu berdasarkan kamus dari sini. Berdasarkan apa yang saya baca di link itu, cemburu adalah ketakutan berpindahnya rasa kasih sayang terhadap orang lain atau ketidakpercayaan atas kesetiaan orang yang dicintai.

Saya pun mulai bertanya-tanya kepada diri saya, pernahkah dalam sejarah love life saya yang lumayan kacau, saya merasakan kecemburuan tertentu terhadap pasangan. Sebenarnya saya rada malu sih untuk mengakuinya, tapi sebagai manusia biasa (excuse!) saya pernah juga mengalami rasa cemburu.

Saya pun mulai bertanya-tanya apa sih sebenarnya yang membuat saya merasa cemburu dan lucunya, jawaban pertama yang muncul dalam pikiran saya bukanlah karena ada sesuatu yang salah pada pasangan saya atau hubungan yang sedang saya jalani saat itu, tapi justru karena ada sesuatu yang salah pada diri saya waktu itu.

Tidak usahlah yah saya ceritakan detail kronologis peristiwanya, yang jelas beberapa tahun yang lalu, ketika cemburu merajalela di hati saya, saya yang masih muda, labil, dan sedang dalam proses pencarian jati diri merasa insecure terhadap diri saya sendiri. Saat itu, saya sedang dalam fase dimana saya merasa saya ini selalu kurang dan semua orang selalu lebih di mata saya. Pada akhirnya, saya merasa hidup saya tidak aman dan saya tidak percaya pada diri saya. Salah satu efek yang paling terasa adalah ke dalam hubungan percintaan yang sedang saya jalani, rasa tidak aman dan tidak percaya diri saya membawa saya pada ketakutan yang begitu besar akan perempuan lain yang lebih menarik, lebih pintar, dan lebih cantik dari saya yang bisa saja sewaktu-waktu merebut sang pacar dari saya, terutama karena pada waktu itu mantan dari mantan pacar saya itu sedang getol-getolnya menghubungi kembali mantan pacar saya itu.

Kalau berkaca pada pengalaman beberapa tahun yang lalu tersebut, saya sama sekali tidak menemukan rasa sayang sebagai alasan yang mendasari kecemburuan saya. Kecemburuan tersebut justru muncul karena saya perasaan tidak aman, takut, dan tidak percaya terhadap hubungan yang sedang dijalani.

Saya tidak tahu kapan tepatnya saya mulai berubah pikiran soal cemburu, yang jelas saat ini saya pribadi tidak percaya dengan kalimat yang menyatakan bahwa cemburu itu adalah tanda sayang.

Saya pikir manipulatif sekali orang-orang yang mengatakan bahwa cemburu itu tanda sayang. Bagaimana bisa mereka menerjemahkan rasa tidak aman dan tidak percaya mereka terhadap hubungan yang dijalaninya menjadi sebuah indikator perasaan sayang? Bagaimana bisa mereka menjadikan rasa sayang sebagai excuse untuk bisa cemburu? Bukankah kalau sayang seharusnya percaya? Bukankah dalam sebuah hubungan yang dilandasi oleh perasaan sayang seharusnya semua pihak yang terlibat di dalamnya seharusnya merasa aman satu sama lain?

Makanya ketika teman saya itu bercerita soal pacarnya yang cemburuan, saya menolak untuk percaya bahwa sang pacar sangat sayang pada teman saya sampai-sampai khawatir berlebihan terhadap hubungannya sendiri. Saya malah berpikir jangan-jangan ada sesuatu yang salah pada pacar teman saya ini sampai-sampai dia merasa hubungannya tidak aman dan tidak layak untuk diberikan kepercayaan penuh. Mungkin, pacar teman saya ini sedang mengalami krisis identitas seperti yang saya alami beberapa tahun yang lalu atau mungkin (maafkan karena saya telah berpikir seperti ini) pacar teman saya ini justru yang tukang selingkuh jadi karena takut ketahuan lebih baik dia menutup akses pergaulan teman saya ini.
P.S. Gambar diperoleh dari sini.