Archive | July, 2010

Berdamai Dengan Masa Lalu

21 Jul

Beberapa hari yang lalu saya mendengar seorang teman bercerita kalau dia baru saja menghapus segala kontak mantannya sehingga kemungkinan terjadinya akses atau komunikasi atau kontak dalam bentuk apapun antara dia dan mantannya akan sangat kecil mendekati tidak mungkin. Alasannya sederhana dan klise, karena dia ingin melupakan mantannya dan membuat otaknya berhenti untuk memikirkan segala hal yang berhubungan dengan mantannya.

Saya tersenyum. Cerita ini mengingatkan saya pada tindakan yang juga pernah dilakukan oleh saya di masa lalu yang lalu saya sesali belakangan ini. Yes, I’ve been there done that. Saya juga pernah melakukan hal yang sama seperti apa yang baru saja dilakukan teman saya itu, menghapus nomor telepon, alamat email, alamat y!m, bahkan hingga facebook dengan alasan dan tujuan yang sama. Seperti yang bisa diperkirakan sebelumnya, tujuan saya pun terpenuhi. Si mantan yang brengsek dan kurang ajar ini tidak lagi menghubungi saya dan tidak ada lagi kontak dalam bentuk apa pun yang terjadi antara saya dan mantan.

Tapi apa berarti dengan tertutupnya segala akses untuk berkomunikasi dengan si mantan lantas masalah selesai sampai di situ?

Jawabannya adalah tidak saudara-saudara. Ternyata, melupakan seseorang yang pernah cukup berarti di masa lalu saya tidak semudah menghapusnya dari friendlist facebook saya atau menghapus sms-sms berisi rayuan omong kosongnya yang selama ini memenuhi hp. Bukannya bisa melupakan si lelaki dari masa lalu ini, saya malah semakin sering mengingat-ingat dia.

Butuh waktu lumayan lama untuk saya akhirnya menyadari bahwa menghapus segala kontaknya dari muka bumi ini (berlebihan) tidak lantas membuat saya melupakan dia. Tindakan menghapus cuma salah satu cara untuk meminimalisir terjadinya komunikasi yang membuat drama patah hati saya akan menjadi semakin panjang dan berlebihan seperti episode dalam sinetron cinta-cintaan di televisi, meskipun tindakan seperti itu tidak menjamin juga sih kontak akan terputus karena kalau menuju Roma saja banyak jalannya, apalagi jalan kembali menuju kehidupan si mantan.

Baru-baru ini saya baru menyadari bahwa cara terbaik untuk melupakan si mantan adalah dengan mencoba berdamai dengan masa lalu. Maka dengan tekad dan usaha yang tidak kalah kerasnya dibandingkan dengan pahlawan era perjuangan (lagi-lagi berlebihan), saya pun memulai usaha perdamaian saya dengan masa lalu.

Susah? Tentu saja. Meskipun saya yakin saya (dan juga kamu) bisa melewatinya, tapi tidak pernah ada jaminan bahwa usaha perdamaian ini akan menjadi satu hal yang mudah dilakukan.

Saya pun mulai mengingat-ingat kembali tentang berapa banyak hal baik yang sudah saya peroleh karena dia membuat saya patah hati. Well, sisi baiknya adalah ketika saya patah hati oleh seseorang, hati saya bukannya semakin rapuh, melainkan akan semakin kuat menghadapi cobaan-cobaan lainnya dan tentu saja otak saya menjadi lebih pintar dalam menghadapi rayuan maut para lelaki brengsek itu.

Lalu saya pun berusaha untuk menerima segalanya dengan ikhlas. Meyakinkan diri saya sendiri bahwa justru dengan saya patah hati karenanya, saya bisa menilai dengan jernih kualitas orang tersebut di mata saya (dan percaya deh, kecuali kamu terlalu lemah menghadapi perasaan kamu, maka kualitas tersebut akan merosot tajam dari perkiraan kamu sebelumnya).  Dan melihat segala sesuatunya dari sisi yang positif, untungnya untuk satu hal ini, saya memiliki begitu banyak teman luar biasa yang selalu ada untuk membantu saya berpikiran positif dalam masa terburuk sekali pun.

Langkah terakhir yang saya lakukan adalah dengan mencoba menghubungi kembali si mantan. Nah, kalau untuk hal ini perlu usaha yang lebih keras dari langkah-langkah sebelumnya, mulai dari usaha untuk meyakinkan diri bahwa saya tidak akan lagi terhanyut oleh perbuatan baik si mantan yang kemungkinan besar saya salah artikan, menghilangkan emosi, ego, gengsi, dan perasaan, sampai mencari nomor kontaknya yang sempat saya hapus sebagai akibat dari pemikiran saya yang impulsif dan tidak cerdas sama sekali itu.

Hasilnya ternyata di luar perkiraan saya. Saya menjadi lebih lega dan tenang setelah menghubunginya dan menjalin kontak kembali dengannya. Perasaan seolah-olah ada yang mengganjal karena menyimpan duka masa lalu pun terangkat dan hilang begitu saja. Dan kata orang-orang, saya terlihat lebih senang dan glowing.

Ah ternyata segala sesuatunya memang lebih mudah jika saya bisa menerima dan berdamai dengan masa lalu.

Makanya ketika teman saya bercerita tentang tindakan menghapus kontak untuk menghapus mantannya dari pikiran, saya hanya bisa tersenyum, berharap suatu saat nanti (yang tidak selama proses yang saya jalani), teman saya ini mulai pintar dan berpikiran jernih bahwa usaha tersebut sia-sia dan sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Segala sesuatunya terlihat lebih jernih ketika emosi dan perasaan tidak lagi terlibat di dalamnya -Zhe-

Gambar diperoleh dari http://gettyimages.com