Archive | May, 2010

Oh Life!

20 May

Seorang anak membentak orang tuanya karena tidak dibelikan Nintendo Wii, sementara anak yang lain terpaksa harus bekerja menjadi kuli angkut di pasar untuk membayar obat yang diperlukan demi kesembuhan ibunya yang sedang terkapar tak berdaya di gubuknya.

Seorang anak pengusaha bekerja asal-asalan di perusahaan milik keluarganya, sementara seorang fresh graduate yang potensial sibuk mengetuk satu demi satu pintu perusahaan hanya untuk meminta sebuah pekerjaan dengan gaji kurang dari 2 juta.

Seorang ibu-ibu muda arisan di sebuah mall sambil memamerkan tas barunya yang harganya cukup untuk membiayai 3 kali makan sekampung, sementara seorang nenek-nenek tua harus menjadi pemulung hanya untuk mencari makanan yang tidak memenuhi standar kelayakan gizi.

Terakhir, saya menghabiskan begitu banyak waktu saya di sebuah coffee shop tanpa alasan yang jelas, sementara di luaran sana seorang anak terpaksa putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya pendidikan yang harganya sama dengan 3 gelas kopi yang saya minum.

Kejadian tersebut adalah cuplikan kejadian-kejadian yang saya lihat dan saya alami dalam waktu satu bulan terakhir ini. Well, kalau saja saya lebih pintar menggunakan seluruh sense yang ada dalam diri saya, maka saya akan menjadi sedikit lebih peka dan menyadari betapa ironinya dunia di sekitar saya sejak dulu.

Kejadian-kejadian tersebut membuat saya ingin berteriak sekeras mungkin, meneriakkan sebuah kalimat yang saya yakin semua orang menyadarinya “life is not fair!”.

Ya, life is not fair. Orang-orang (termasuk saya) mendapatkan apa yang tidak seharusnya didapatkan. Ada masa dimana saya sangat ingin menutup mata dan telinga saya, menutup diri saya terhadap kenyataan yang terjadi di sekitar saya. Tapi masalahnya adalah saya tidak bisa. Saya hidup di dunia nyata, dimana ketidakadilan dan kesenjangan adalah santapan mata dan telinga saya sehari-hari dan begitu banyak orang yang terpaksa menyerah pada mimpi-mimpinya terdahulu hanya karena terbentur oleh realita.

Pada akhirnya kenyataan tersebut membuat saya berpikir, apakah dunia ini akan menjadi tempat yang jauh lebih baik jika hidup berjalan dengan adil? Apakah akan menjadi sangat menyenangkan dan nyaman jika setiap orang mendapatkan apa yang benar-benar seharusnya mereka dapatkan?

Lucu, karena jawaban tidak justru langsung muncul di pikiran saya begitu pertanyaan tersebut saya ajukan pada diri saya sendiri.

Saya membayangkan situasi dimana setiap orang mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Saya membayangkan setiap orang mendapatkan hal baik karena mereka telah berkelakuan baik dan mendapatkan hal buruk ketika mereka telah berkelakuan buruk. Saya membayangkan rasio kejadian baik dan buruk yang akan menimpa saya sebagai akibat dari tindakan saya. Saya membayangkan diri saya akan menjadi sangat tidak siap ketika hal buruk menimpa saya karena saya baik secara sengaja maupun tidak sengaja telah berbuat buruk. Saya membayangkan tentang semua orang berlomba-lomba berbuat baik untuk mendapatkan imbalan yang serupa, saya membayangkan diri saya meragukan setiap perbuatan baik yang dilakukan orang-orang (dan diri saya sendiri).

Terakhir, saya membayangkan akan menjadi sangat mudahnya hidup ini karena setiap yang kamu peroleh adalah hasil dari perbuatan kamu. Ketika kamu berbuat A, maka kamu akan mendapat A, sementara jika kamu berbuat B, maka kamu akan mendapat B. Hidup akan terasa sangat hitam putih, tidak ada grey area dan sepertiny faktor luck dan teori peluang sama sekali tidak akan berlaku dalam situasi seperti ini.

Pada akhirnya jawaban saya membuat saya berpikir bahwa mungkin hidup memang seharusnya tidak adil. Mungkin hidup memang seharusnya dipenuhi oleh begitu banyak peluang dan pengalaman. Mungkin setiap hal yang kita dapat memang seharusnya tidak selalu hal yang layak kita dapatkan. Mungkin…, argh, siapa saya sih berani-beraninya mengomentari soal ini?!

“Life’s hard. It’s supposed to be. If we didn’t suffer, we’d never learn anything.”

Taken from Jesse on Before Sunset

Perkara Sandal Jepit

15 May

Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah pembicaran hilang arah saya dengan beberapa rekan kerja, saya menyatakan bahwa tidak mengenakan sendal jepit, terutama sendal jepit karet yang sepertinya merupakan barang wajib masyarakat Indonesia, merupakan salah satu harga mati dari lelaki yang ingin berkencan dengan saya. Pengakuan tersebut sukses membuat rekan kerja saya berpikir saya ini manusia aneh (yang saya heran kenapa mereka baru menyadari bahwa saya ini aneh sekarang, bukannya dari dulu-dulu) dan… ini point paling penting, judgmental.

Pernyataan teman saya soal sifat judgmental saya ini membawa saya ke sebuah pertanyaan:

Emangnya hari gini masih ada orang yang nggak judgmental?

Pertanyaan tersebut kemudian mengingatkan saya kepada sebuah pepatah yang terdengar basiĀ  di telinga saya dan hampir tidak mungkin dilakukan: do not judge a book by its cover.

Jadi begini yah saudara-saudara, saya ini hidup di kota besar, memiliki tingkat mobilitas yang tinggi, memiliki begitu banyak teman, dan keadaan memaksa saya untuk bertemu dengan begitu banyak orang asing dan saya juga yakin di luaran sana, masih banyak sekali orang yang senasib dengan saya. Jadi saya rasa judgmental sudah merupakan sebuah sifat yang mendarah daging.

Masalahnya adalah saya (dan saya yakin juga begitu banyak orang di luaran sana) terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing, sehingga tidak memiliki cukup waktu dan kesempatan untuk mengenal dan mengkaji lebih dalam mengenai setiap orang yang saya temui. Dengan keterbatasan waktu dan kesempatan yang sangat tidak seimbang dengan jumlah orang yang saya temui di muka bumi ini, tentu saja hal tersebut memaksa saya untuk menjadi seorang manusia yang lebih memilih, memilih dengan siapa saya ingin mengenal seseorang lebih jauh lagi, dan kalau tidak ada embel-embel kepentingan di belakangnya, tentu saja pilihan tersebut dijatuhkan berdasarkan penampilan semata.

Belum lagi dengan budaya keluarga saya yang mendidik saya untuk tampil rapi sebagai tanda penghargaan terhadap diri sendiri dan juga orang lain, membuat saya terbiasa menilai orang berdasarkan apa yang saya lihat terlebih dahulu, untuk kemudian jika saya memiliki cukup waktu, cukup kesempatan, atau kepentingan terselubung mencoba untuk menjadi lebih objektif dan mengenal orang tersebut secara lebih detail.

Okay, saya tahu setelah posting ini ada kemungkinan besar saya akan dicap dangkal karena menilai berdasarkan apa yang saya lihat saja, tapi sebagai sebuah pembelaan, saya sama sekali tidak berharap setiap orang yang saya temui memakai baju trend terbaru atau keluaran brand ternama, saya cuma menginginkan setiap orang setidaknya, berpenampilan rapi, menarik, dan sesuai pada tempatnya. Itu saja cukup, karena (sekali lagi) orang yang berpenampilan baik adalah orang yang bisa menghargai orang lain dan dirinya sendiri.

P.S gambar diambil dari sini!