Ngomongin Tuhan

10 Jan

Jadi ceritanya semalam saya nggak sengaja menemukan Bruce Almighty diputar di salah satu station televisi. Sebenarnya sih waktu film ini lagi booming-boomingnya dengan segala kontroversi yang ada, saya sudah pernah nonton, tapi nonton yang kedua kalinya ini bikin saya berpikiran akan sesuatu.

Nggak. Saya nggak akan ngebahas soal kenapa harus sosok Morgan Freeman yang lelaki, tua, bertampang biasa saja, dan kulit hitam harus berperan sebagai Tuhan. Saya juga nggak akan ngebahas soal sifat Tuhan yang digambarkan sangat santai di film tersebut. Saya nggak sereligius itu untuk membicarakan soal sosok Tuhan lho.

Saya cuma sedang berpikir bagaimana yah rasanya menjadi Tuhan?

Hal pertama yang ada di pikiran saya tentunya hal-hal yang menyenangkan. Saya tidak harus bangun pagi untuk mengejar waktu supaya tidak terlambat kerja atau kuliah. Saya tidak harus bekerja mati-matian untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya tidak harus menabung untuk membeli barang-barang yang saya inginkan yang kebetulan harganya mahal. Saya tidak harus berolahraga dan mengatur pola makan untuk menjaga bentuk tubuh saya. Saya tidak harus menemui lelaki-lelaki yang salah untuk akhirnya mendapatkan pasangan yang tepat. Dan pastinya saya bisa menentukan nasib orang lain dan nasib saya sendiri seenak jidat saya. Oh, kalau saya menjadi Tuhan, tentunya kehidupan saya akan terasa sangat mudah.

Saya… saya…, dan saya. Kalau saya menjadi Tuhan saya pasti akan menjadi sangat egois.

Tapi lalu saya berpikir, saya ini ‘kan Tuhan, jadi saya tidak boleh egois dong. Saya harus mulai memikirkan orang lain, bukan hanya yang saya kenal atau saya sukai saja, tapi mereka yang sama sekali tidak saya kenal dan untuk alasan tertentu (atau bahkan tanpa alasan) tidak saya sukai.

Jadi kalau saya itu Tuhan, saya harus mendengarkan doa-doa mereka, mulai dari doa nggak penting seperti “Oh Tuhan, tolong musnahkan jerawat-jerawat di muka saya ini” hingga doa yang sangat mulia seperti “Tuhan, hentikanlah perang, ciptakanlah kedamaian di muka bumi ini, dan jadikanlah semua orang di dunia ini sebagai orang yang berbahagia, tidak licik, beriman, rajin menabung, dan taat membayar pajak”. Lalu setelah mendengar doa-doa tersebut, saya harus menentukan skala prioritas, mana doa yang akan saya kabulkan pertama kali dan mana doa yang (mungkin) tidak akan pernah saya kabulkan. Duh, membahas soal hal ini saja bahkan membuat kepala saya pusing. Jangankan mendengar doa dan menentukan skala prioritas dari sekian banyak umat manusia, kalau dihadapkan pada mendengarkan curhatan beberapa orang teman dan harus menentukan skala prioritas terhadap teman saya saja saya sudah kesulitan. Belum lagi kalau saya lagi nggak mood untuk mendengarkan ocehan dari siapa pun, bahkan dari orang terdekat saya.

Kalau saya jadi Tuhan, itu artinya saya juga harus siap berada di posisi salah, meskipun saya tidak salah. Saya tahu di luaran sana banyak sekali orang-orang yang bernasib buruk, lalu bukannya berusaha untuk mengubah nasibnya, orang tersebut malah menyalahkan Tuhan. Tuhan yang jahat. Tuhan yang tidak adil. Tuhan yang kejam. Tuhan yang pilih kasih. Tuhan yang… (silakan tambahkan sendiri!). Iya, saya juga pernah menyalahkan Tuhan untuk keapesan saya. Memikirkan tentang hal ini membuat perut saya mules. Jangankan berlapang dada menghadapi orang-orang yang menyalahkan saya atas sesuatu yang bukan kesalahan saya, terkadang (atau bahkan sering) kalau saya dihadapkan di situasi dimana saya salah dan orang menyalahkan saya saja, saya masih tidak bisa terima.

Dua alasan saja sudah cukup membuat saya berpikir ulang untuk menjadi Tuhan. Di sini flash back pun dimulai. Saya mulai mereview satu per satu pengalaman yang bisa saya ingat sebagai manusia.

Saya ingat gimana rasanya harus bangun pagi dan masih kesiangan juga, berlari dan berharap jalanan tidak macet supaya saya tidak terlambat, dan merasa sangat lega ketika ternyata saya datang sangat on time.

Saya ingat gimana rasanya mendapatkan gaji pertama dari hasil kerja keras saya sendiri.

Saya ingat gimana rasanya menabung mati-matian, menolak segala macam bentuk tawaran untuk hang out bersama teman-teman, hingga akhirnya saya bisa membeli barang-barang yang saya inginkan, yang harganya memang lumayan mahal untuk standar saya.

Saya ingat gimana rasanya menemui orang yang salah, patah hati, nangis, sedih, menjadi drama queen, lalu bertemu dengan orang lain dan siklus pun berulang.

Saya ingat ada begitu banyak emosi yang mewarnai kehidupan saya sepanjang saya menjadi manusia. Marah, kesal, sedih, cemburu, senang, kecewa, blablabla yadaa yadaa.

Dari situ saya menyadari bahwa bukan kehidupan yang serba mudahlah yang saya inginkan. Hidup justru akan terasa sangat membosankan dan tidak menantang untuk saya kalau saya bisa melakukan apa pun yang saya mau dan memiliki pilihan yang tidak terbatas tanpa harus menyesali pilihan-pilihan saya di masa lalu.

Ternyata selama ini saya telah mis persepsi terhadap keinginan saya sendiri. Bukan hidup yang serba mudahlah yang saya inginkan. Justru hidup saya yang seperti ini adalah hidup yang telah menjadi keinginan saya. Hidup yang terkadang mudah dilalui tapi terkadang sangat sulit. Hidup yang bisa saya cintai dengan mudah tapi terkadang membuat saya harus usaha ekstra untuk bisa mencintainya. Hidup yang dipenuhi oleh emosi yang sangat fluktuatif.

Ya… ya…, pada akhirnya saya mulai berpikir apa yang dibicarakan sebagian besar orang itu benar. Tuhan tidak pernah memberi apa yang kita mau, tapi dia memberi apa yang kita butuh.


20 Responses to “Ngomongin Tuhan”

  1. dkazuma January 10, 2010 at 11:17 am #

    ahahahaha… brati kalo sampe skrng kita lom nikah… kita belum butuh pasangan hidup ya? *manggut2

    • senny January 10, 2010 at 1:01 pm #

      nah, kalo soal itu gue no comment ah hehe

  2. Miranda Modjo January 10, 2010 at 12:18 pm #

    weleh2.. ini refleksi diri yg bgs. mengandaikn diri sebagai TUHAN membuat kita sadar yg udah diberikanNYA adl apa yg seharusnya dan mulai mensyukuri smua. lets enjoy our life to the fullest

  3. Ikutan Ngeblog January 10, 2010 at 12:59 pm #

    Sudah sepatutnya kita selalu bersyukur kepada tuhan dengan apa yang telah diberikan kepada kita, karena semua memang yang terbaik buat umatnya!

  4. bri January 10, 2010 at 2:37 pm #

    baca ampe abiZzz…dramatisir jadinya…
    sayangnya aku_bri_, kamu dan sahabat2 smua cuma manusia (just a human)๐Ÿ™‚
    just a human with many option..i dunno just gratefull every i wake up early morning

  5. edda January 10, 2010 at 3:54 pm #

    hmm, gw suka kata2 terakhir
    manusia emang gak pernah puas ama apa yg udah dia miliki
    yaah, kita gak akan mgkn bs sesempurna Tuhan

  6. agung January 10, 2010 at 4:27 pm #

    malam tadi baru aja nonton film ini anrh masa tuhan bisa digantiin manusia

    • senny January 10, 2010 at 7:00 pm #

      aneh sih tapi lucu aja
      ga usah terlalu dipikirin, namanya juga film

  7. alfarolamablawa January 10, 2010 at 7:36 pm #

    ungkapan yang ada pada kalimat terakhir itu sangat sangat sangat bagus.
    inilah yang perlu diketahui dan diresapi oleh semua orang.
    karena kita terkadang menyalahkan Tuhan saat keinginan kita tidak dikabulkan.

  8. Fiya January 10, 2010 at 8:43 pm #

    KUNjunganb perdana

    setuju sama kalimat terakhir

    ^.^

    lam kenal

  9. Belajar Blog January 11, 2010 at 11:08 am #

    wkwkwwk…
    ane juga sempat kepikiran kayak gitu
    yah namanya juga manusia, kita ga akan mampu
    dari film itu kan sudah tercermin kalo manusia jadi tuhan, dia akan menjadi sosok egois.

    anyway, nih pilem bruce almighty juga ditiru loh. dah pernah liat versi india-nya blog?? yang maen salman khan
    wkwkwkwk

    • senny January 11, 2010 at 2:21 pm #

      huahaha… curiga kalo ada versi indianya, bakalan ada adegan Tuhan joged-joged ga jelas di belakang pohon

  10. ImUmPh January 11, 2010 at 1:51 pm #

    Hidup itu akan lebih asyik klo ada tanjakan dan turunan.
    Klo lempeng2 aja mah boring!

  11. Qie January 11, 2010 at 3:09 pm #

    betul itu setuju dng kalimat yg terakhir yg di tebali itu.. tuhan emang maha perencana.. dan kita tak pernah tauk apa rencana yg terbaek buat kita๐Ÿ˜€

  12. hadidot January 11, 2010 at 11:41 pm #

    saya suka banget film itu,at least memberikan gambaran betapa tidak mampunya seorang manusia buat jadi Tuhan.

    dan segala kesulitan yg kita dapatkan itu sejatinya untuk membentuk dan mematangkan kita. everything happens for a reason,segala sesuatu gada yg kebetulan ,kata orang2. kalo menurut saya everything happens for a GOOD reason (tambahin good aja dikit tapi lebih positif lagi jadinya:D ).

    mungkin mulai sekarang kita harus memperbaiki doa kita ,ketimbang bilang :”ya Tuhan pindahkanlah gunungnya ” mungkin lebih baik jika kita berdoa ” ya Tuhan berikanlah aku kekuatan untuk mendaki gunung ini”

    salam kenal ya:)

  13. Ongki January 12, 2010 at 12:56 pm #

    “Tuhan tidak pernah memberi apa yang kita mau, tapi dia memberi apa yang kita butuh.”
    Ini kata2 memang benar.. Sebuah misteri besar dalam kehidupan, Tuhan Maha Besar

  14. hellgalicious January 12, 2010 at 3:29 pm #

    gue ga berani nyalahin Tuhan di atas kegagalan yang gue terima
    gue yakin tuhan itu maha adil dan bijaksana

    gue bakal terus berusaha dan berdoa karena gue tau Tuhan itu bakal memberikan apa yang gue butuh kan sama seperti kata terakhir postingan lo.

    good post bray!

  15. Agung Pushandaka January 14, 2010 at 1:03 am #

    Wah, film yang lumayan lama ya. Tapi tulisanmu bagus juga. Pekerjaan Tuhan mungkin terasa berat untuk kita karena kita cuma manusia. Jadi, kalau besok kamu membayangkan dirimu sebagai Tuhan, kamu juga sebaiknya membayangkan punya kemampuan dan kebesaran seperti-Nya. Hehe, maaf untuk komentar ndak penting ini..

  16. zulhaq May 24, 2010 at 12:58 am #

    Banyak orang yang ngmong tentang Tuhan. Banyak yang berandai andai tentang Ketuhanan. tapi, lw menulisnya dari sisi yang unik. +1000 like this. Keren!!!

    Dan Tuhan tidak mengabulkan pada waktu yang kita harapkan, tapi akan mengabukan sesuatu pada waktu yang membuat kita surprise!!!

  17. cedric sucimot November 13, 2011 at 3:06 pm #

    love your blog… your ‘simply’ thought…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: