Thought At The Bucks

1 Nov

Beberapa hari yang lalu, when I was having a grande Frapuccino Hazelnut at Starbucks, saya melihat beberapa orang anak SMA sedang mengobrol. Mengingat Starbucks tempat yang lumayan sepi dan kebiasaan anak-anak SMA untuk mengobrol dengan suara keras, saya tentu bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Salah satu dari mereka akan mengikuti lomba pidato tapi merasa tidak percaya diri, sementara teman-teman yang lainnya berusaha menyemangati.

Mendengarkan obrolan mereka, pikiran saya teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 SMP. Dulu, saya adalah tipikal orang yang sangat minder. Jangankan tampil di depan orang-orang yang tidak dikenal, untuk mengatakan sesuatu di depan kelas aja saya nyaris tidak bisa melakukannya. Sampai pada satu hari sekolah saya menyatakan bahwa akan mengirimkan satu kandidatnya untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris dengan tema: drugs prevention.

Tidak ada seorang pun yang merelakan dirinya untuk mengikuti lomba tersebut, yang ada satu sama lain malah saling menunjuk. Sampai akhirnya seorang teman meminta saya untuk menyusun naskahnya dan dia yang akan membacakannya. Sebenarnya waktu itu saya merasa sedikit enggan. Pertama, saya tidak yakin saya bisa menulis pidato dalam bahasa Inggris. Kedua, tanpa alasan yang jelas perasaan saya tidak enak. Tapi, paksaan teman saya akhirnya membuat saya membuatkan naskah pidato.

Tapi kamu tahu apa yang terjadi pada hari perlombaan?

Teman saya bohong. Dia memasukkan nama saya sebagai kandidat dan mau tidak mau saya harus membacakan naskah di depan umum. Waktu itu saya benar-benar merasa ditipu habis-habisan. Saya merasa sangat marah, tapi ketegangan yang muncul ke permukaan jauh melebihi rasa marah saya. Akhirnya mau tidak mau saya harus maju ke depan, membacakan naskah pidato bahasa Inggris saya di depan umum. Tempat perlombaan saat itu panas, tapi saya justru merasa sangat kedinginan.

Saya tidak yakin dengan cara saya berpidato waktu itu, yang saya pikirkan hanyalah bagaimana saya berusaha sebaik mungkin menutupi ketegangan saya, tetap membacakan naskah pidato tersebut secepat mungkin, lalu turun dari panggung dan bersikap seolah-olah tidak ada apa pun yang terjadi sebelumnya (meskipun hati kecil saya sangat ingin menghadiahi teman saya itu sebuah bogem mentah).

Dan jangan tanya apa saya bisa melakukan semua itu dengan baik, karena sejujurnya saya sama sekali tidak tahu apa pun. Satu-satunya yang saya tahu adalah saya menjadi juara dua, sebuah prestasi yang membanggakan dan jauh di luar perkiraan saya.

Sejak saat itu saya mulai berusaha membuka diri saya, meyakinkan diri saya bahwa saya memiliki kemampuan, dan melatih rasa percaya diri saya. Saya juga melatih beberapa kemampuan berbicara di depan umum saya, mempertajam kemampuan bahasa Inggris saya, dan memperluas pengetahuan umum saya.

Sore itu, waktu saya menguping obrolan anak-anak SMA itu, saya bertanya-tanya:

Apakah saya akan berada di posisi sekarang ini jika waktu itu saya tidak terpaksa mengikuti lomba tersebut?

Apa yang akan terjadi seandainya waktu itu hak saya untuk diam tidak diperkosa oleh teman-teman saya atau setidaknya waktu itu saya tidak tinggal diam ketika saya merasa hak saya untuk diam diperkosa oleh teman-teman saya?

Tapi ya…

tidak peduli seberapa besar energi yang terkuras untuk mempertanyakan hal tersebut, saya tidak akan pernah benar-benar menemukan jawabannya.

After all I’ve been blessed

22 Responses to “Thought At The Bucks”

  1. bri November 1, 2009 at 5:03 pm #

    hiphiphoree pertamaxxxxx
    tungutunggu baca dulu..ciiat^^
    __salamsore senny__

  2. bri November 1, 2009 at 5:08 pm #

    yuups ceritanya menariik
    senny kalaubri yang ituh, kamsudnya disuruh baca
    pasti bri mau bangeet..
    enggak pikir lama lama..ahahay ciiat
    toh kalau belum dicoba kita gak bakalan tau kan
    dan ternyata hasilnya enk ink enk
    __horee senny juara dua^^….semangaat ciiat^^__

  3. .lala November 1, 2009 at 5:51 pm #

    Eta nu komen diluhur kunaon sih?

    • senny November 1, 2009 at 10:04 pm #

      haha… sensi si lala

    • indra1082 November 2, 2009 at 9:55 am #

      teu nanaon…🙂

  4. .lala November 1, 2009 at 5:52 pm #

    Hehe,
    next time ga usah mikir, beja ka barudak eta, gandeng kitu..

    • indra1082 November 2, 2009 at 9:56 am #

      saha?? woy.. cicing..😆

      • senny November 2, 2009 at 10:11 am #

        haha… geus euweuh budakna oge

  5. .lala November 1, 2009 at 5:54 pm #

    What need to be done will somehow done.

    Nothing suprisingly undefined in our destiny what have been happen.

    • senny November 1, 2009 at 10:05 pm #

      but I learn something that things would never be the same if I never do that

  6. Deka November 1, 2009 at 10:33 pm #

    So Sorry, I wasn’t know exactly what you mean, maybe I’m too stupid for understand. but all I know, just follow it the path of your life.

  7. pushandaka November 2, 2009 at 9:40 am #

    Wah, salut untuk temanmu yang sukses menjerumuskanmu untuk sesuatu yang positif seperti itu..

  8. trendy November 2, 2009 at 7:32 pm #

    enak kalo ngobrol serius kayak gitu!
    kalo saya sam atemen saya maunya becanda terus!
    wkekekekekek!

  9. Pilo November 3, 2009 at 8:22 am #

    Hehehe… membuka diri itu memang membahagiakan, kawan… heheheh

    *saya mah klo ketemu org tertutup, diem”an… ku klitik-klitik saja.. ahahah

  10. Bandit Pangarattoâ„¢ November 3, 2009 at 8:23 am #

    Say thanx to your friend(s)… heheheh

  11. Triunt November 5, 2009 at 6:21 am #

    Gue dulu juga pernah.
    pas kelas 2 SMA, kagak ada angin apa gue bisa ditunjuk jadi MC panggung kampung.
    padahal gue kagak bakat ngomong di depan orang.

    tapi Syukur acara lancar banget, jd malah kagak ada trauma.

  12. hellgalicious November 5, 2009 at 12:48 pm #

    kalo pede dan berani pasti bisa pidato di depan umum
    jangan takut dahhh

    gue juga pernah gitu
    tapi gue ga mau hahaha

  13. willyafurqan November 8, 2009 at 5:38 am #

    salam kenal kawan…
    ijin baca

  14. Sinta November 8, 2009 at 2:31 pm #

    Gw juga pernah, Sen..
    jaman SD dipaksa nyokap ikut lomba gambar 17Agustusan..

    Gw sampe nangis2 gara2 ga mau.
    Tapi karena diancem bakal ditinggal di rumah sendirian, ya udah gw pasrah..

    Taunya dapet juara 1.
    Padahal perasaan gambar gw biasa aja + rasa gak ikhlas.
    Hahaha..

    Abis itu gw ngerasa PD punya bakat ngegambar.
    Tapi ga diseriusin..

  15. ontohod November 10, 2009 at 10:37 am #

    jadi inget waktu jadi kandidat ketua osis dulu…. saya jadi patung depan umum😀

  16. zulhaq November 11, 2009 at 12:57 am #

    ayoo sen semangat!!!!

    galilah segala kemampuan yang ada. bisa karena terbiasa🙂

  17. komuter November 12, 2009 at 2:06 pm #

    nasib yang sama menimpa saya sekarang,
    karena sibuk, tidak mau ikut lomba, namun mendapat surat perintah…..
    terpaksa ikut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: