Archive | November, 2009

Perkara Kaus

19 Nov

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menawarkan saya untuk membuat customize shirt dengan harga yang didiskon 50% khusus untuk saya. Saya yang seorang impulsive buyer sejati tentunya sangat tertarik dengan tawarannya tersebut, sampai akhirnya teman saya itu bertanya mengenai slogan apa yang ingin saya cetak di kaus tersebut.

Beberapa dari kamu mungkin akan berpikir bahwa ini hanyalah sebuah kaus, lalu memasang slogan apa pun yang ada di pikiran kalian pertama kali, tapi buat saya, ini bukan hanya sekedar kaus. It’s not just a shirt, it’s about self labeling.

Lebay? Mungkin juga sih, tapi beberapa hari sebelumnya (eh apa beberapa minggu sebelumnya yah?) saya melalui pengalaman mencela customize shirt.

Jadi waktu itu saya sedang ngopi-ngopi cantik dengan seorang sahabat di sebuah mall yang lumayan happening di Bandung (sok gaul!). Di tengah-tengah obrolan rada serius kami mengenai pekerjaan, konsentrasi saya terganggu dengan kehadiran seorang anak laki-laki memakai kaus bertuliskan “Ganteng Seperti Ayahnya”.

Saya: “Bok, lo lihat deh anak itu?”

Dia: “Ih bokapnya pede banget ya?”

Saya: “Bapaknya yang narsis, anaknya yang jadi korban.”

Dia: “Kalo gue punya anak jangan sampai deh dikasih baju yang begituan, kayak nggak ada baju lain yang lebih bagus aja desainnya.”

Okay, saya tahu pembicaraan tersebut terdengar judgmental, tapi yang ingin saya sampaikan di sini adalah: untuk beberapa orang (seperti saya dan sahabat saya misalnya), desain sebuah kaus turut berperan aktif dalam menentukan kesan apa yang ingin disampaikan oleh si pemakai kaus tersebut.

Jadi ketika pikiran pertama saya jatuh pada slogan “Natural Born Bitch”, maka saya langsung membuang jauh-jauh pikiran tersebut. Pertama, karena saya tidak yakin bahwa saya seorang natural born bitch, saya hanya seorang perempuan yang sangat suka mempergunakan kelebihannya sebagai perempuan untuk mendapatkan beberapa kemudahan dalam hidup (seperti guess list dan free flow di sebuah club waktu saya masih muda, labil, dan gaul). Kedua, kalaupun saya memang seorang natural born bitch, saya tidak bangga sama sekali akan hal tersebut.

Slogan selanjutnya yang ada di pikiran saya adalah “Not Single But Available”. Lagi-lagi ide tersebut harus ditolak mentah-mentah mengingat konsekuensi yang (mungkin) akan saya terima setelah memakai kaus tersebut.

Setelah itu muncul berbagai jenis slogan dalam pikiran saya, slogan yang saya pikir akan menjadi lucu atau bagus untuk desain sebuah kaus, tapi pada akhirnya slogan tersebut berakhir pada kategori trash karena tidak ada satu pun slogan yang cukup bagus untuk saya pakai atau sangat merepresentasikan diri saya.

Perkara kaus tersebut membuat saya jadi berpikir jangan-jangan selama ini saya tidak benar-benar mengenali diri saya. Buktinya, untuk membuat sebuah slogan di kaus yang akan saya kenakan dan melabeli diri saya saja, saya kebingungan. Dan kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya? Saya langsung dilanda galau resah tak berarah karenanya, menguatkan image saya yang seorang drama queen ini.

Kemarin, seorang teman memberi ide untuk memasang slogan “Pelacur Ide” di kaus saya. Ide yang menurut saya sangat brilian karena (ugh, hate to say this) saya memang seorang pelacur ide yang sibuk membuat ide ini dan itu, tapi selalu berhenti pada tahap mengenali ide dan tidak pernah sukses memperkosa ide tersebut. Hey, pekerjaan saya kan memang membuat ide! (excuse)

Pelacur ide memang sebuah slogan yang sangat merepresentasikan diri saya sih, tapi lagi-lagi ide brilian teman saya itu saya masukan ke dalam kategori trash. Alasannya adalah karena saya sama sekali tidak bangga menjadi seorang pelacur ide dan saya sangat percaya bahwa apa yang kamu tulis adalah doa, dan saya tentu tidak senaif itu mendoakan diri saya untuk selamanya menjadi pelacur ide.

So guys, ada ide slogan apa yang sebaiknya saya pasang di kaus saya?

And if you were me, what kind of slogan you would like to put on your shirt?


Luna Dan Gender

16 Nov

Salah satu hal yang paling saya sukai dari ulang tahun adalah karena bisa dipastikan saya mendapatkan buku dari seorang sahabat sebagai hadiah ulang tahun dan kalau lagi beruntung, saya juga mendapat beberapa buku dari teman yang lain. Well, have I told you that I’m so in love with books?

Jadi sebagai hadiah ulang tahun saya, Zhe yang tadinya berniat ngasih saya striptease kit (yang lalu urung karena barangnya lagi kosong di ak.sa.ra) akhirnya memberikan saya sebuah buku berjudul Luna dari Julie Anne Peters.

Luna by Julie Anne Peters

Cuma ada satu komentar soal Luna: BRILIAN! Luna menceritakan soal Liam, seorang lelaki yang merasa dirinya perempuan dan lebih memilih untuk dipanggil Luna, yang selalu menyelinap ke kamar saudara perempuannya setiap tengah malam untuk memakai pakaian, make up, dan barang-barang lainnya milik sang saudara perempuan hanya agar dia merasa benar-benar menjadi seorang perempuan, sesuatu yang tidak bisa dia lakukan ketika dia bersosialisasi di siang hari.

Membaca novel Luna ini membuat saya merasa sedang bercermin. Dalam tingkat yang tidak seekstrim Liam alias Luna, saya juga pernah merasakan ketidakpuasan saya akan gender yang Tuhan berikan kepada saya. Saya masuk dalam kategori newbie dalam soal menikmati gender saya, menikmati diri sebagai seorang perempuan.

Sebelumnya, ada masa dalam hidup saya dimana saya mempertanyakan mengapa selalu perempuan yang berada dalam posisi yang merugikan. Ada masa dalam hidup saya dimana saya merasa kehidupan menjadi seorang lelaki jauh lebih mudah dibandingkan menjadi seorang perempuan.

Let’s say, mulai dari lelaki yang hanya perlu berpakaian rapi hanya untuk terlihat ganteng, sementara perempuan harus menghabiskan begitu banyak uang untuk membeli banyak hal dan menghabiskan begitu banyak waktu untuk menata rambut dan memakaikan ini dan itu di wajah untuk terlihat cantik.

Belum lagi perempuan selalu mengalami rasa sakit, mulai dari sakit karena berjalan-jalan keliling mall dengan menggunakan sepatu hak tinggi, sakit ketika hamil dan melahirkan, sakit ketika PMS, dan bahkan sakit ketika kehilangan keperawanan – sesuatu yang harusnya menyenangkan tapi jadi sangat menyakitkan untuk kaum perempuan.

Belakangan saya baru belajar menikmati gender saya sebagai perempuan. Meskipun saya masih bisa menemukan sisi tidak enaknya menjadi seorang perempuan, tapi saya sekarang cenderung lebih bersyukur menjadi perempuan. Terutama di zaman sekarang ini, saat perempuan sudah bisa mendapatkan kursi di pemerintahan dan nggak harus sibuk surat menyurat untuk mendapatkan hak yang sama mengenai pendidikan seperti waktu zaman Kartini.

Belum lagi dengan kebebasan perempuan untuk berpakaian. Yah, at least cuma perempuan yang bisa jalan-jalan dan tetap terlihat cantik dengan pakaian yang seharusnya menjadi milik kaum lelaki, seperti jeans dan T-shirt. Lelaki tentunya tidak akan pernah bisa memakai rok dan baby doll lalu berkeliling mall kecuali jika ingin dilihat sebagai banci kaleng.

Ditambah dengan PMS sebagai alasan untuk cuti kerja (padahal alasan sebenarnya adalah malas), mendapatkan kursi ketika semua kursi di bis terisi penuh (meskipun gue ragu masih ada cukup banyak lelaki gentle yang bersedia memberikan kursinya), dan (this is what I love most) perempuan akan selalu mendapatkan cincin berlian ketika seorang lelaki melamarnya.

So with all of those privileges, how can I not enjoying my self of being a woman?

The Things He Said

15 Nov



Love Letters of Great Men

I just read Love Letters Of Great Men and I’m so enjoying that book until he comes right next to me and said:

“Sen, you don’t really need that book to inspire you on writing the next page of your project cause I’ll be the one who inspires you most.”

“Haha… give me one good reason why do I have to put you on my top inspirator list?”

“It’s simply to say because we do have ‘something’ in our relationship. With this ‘thing’ who needs love letter of great men cause I’m great enough for you, at least I’m great enough to makes you feels better right?”

“…”

“Sen, am I great enough for you? Cause I’ll try harder if I don’t.”

Can somebody tell me how to write mati gaya in English?

P.S. Suddenly feeling send this book to trash bin is not bad idea at all.

Dear God

1 Nov

Dear God,

Would you mind to makes things right, now?

Cause I swear, I can’t take it anymore

Please holding back my tears here, God.

 

Thought At The Bucks

1 Nov

Beberapa hari yang lalu, when I was having a grande Frapuccino Hazelnut at Starbucks, saya melihat beberapa orang anak SMA sedang mengobrol. Mengingat Starbucks tempat yang lumayan sepi dan kebiasaan anak-anak SMA untuk mengobrol dengan suara keras, saya tentu bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Salah satu dari mereka akan mengikuti lomba pidato tapi merasa tidak percaya diri, sementara teman-teman yang lainnya berusaha menyemangati.

Mendengarkan obrolan mereka, pikiran saya teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 SMP. Dulu, saya adalah tipikal orang yang sangat minder. Jangankan tampil di depan orang-orang yang tidak dikenal, untuk mengatakan sesuatu di depan kelas aja saya nyaris tidak bisa melakukannya. Sampai pada satu hari sekolah saya menyatakan bahwa akan mengirimkan satu kandidatnya untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris dengan tema: drugs prevention.

Tidak ada seorang pun yang merelakan dirinya untuk mengikuti lomba tersebut, yang ada satu sama lain malah saling menunjuk. Sampai akhirnya seorang teman meminta saya untuk menyusun naskahnya dan dia yang akan membacakannya. Sebenarnya waktu itu saya merasa sedikit enggan. Pertama, saya tidak yakin saya bisa menulis pidato dalam bahasa Inggris. Kedua, tanpa alasan yang jelas perasaan saya tidak enak. Tapi, paksaan teman saya akhirnya membuat saya membuatkan naskah pidato.

Tapi kamu tahu apa yang terjadi pada hari perlombaan?

Teman saya bohong. Dia memasukkan nama saya sebagai kandidat dan mau tidak mau saya harus membacakan naskah di depan umum. Waktu itu saya benar-benar merasa ditipu habis-habisan. Saya merasa sangat marah, tapi ketegangan yang muncul ke permukaan jauh melebihi rasa marah saya. Akhirnya mau tidak mau saya harus maju ke depan, membacakan naskah pidato bahasa Inggris saya di depan umum. Tempat perlombaan saat itu panas, tapi saya justru merasa sangat kedinginan.

Saya tidak yakin dengan cara saya berpidato waktu itu, yang saya pikirkan hanyalah bagaimana saya berusaha sebaik mungkin menutupi ketegangan saya, tetap membacakan naskah pidato tersebut secepat mungkin, lalu turun dari panggung dan bersikap seolah-olah tidak ada apa pun yang terjadi sebelumnya (meskipun hati kecil saya sangat ingin menghadiahi teman saya itu sebuah bogem mentah).

Dan jangan tanya apa saya bisa melakukan semua itu dengan baik, karena sejujurnya saya sama sekali tidak tahu apa pun. Satu-satunya yang saya tahu adalah saya menjadi juara dua, sebuah prestasi yang membanggakan dan jauh di luar perkiraan saya.

Sejak saat itu saya mulai berusaha membuka diri saya, meyakinkan diri saya bahwa saya memiliki kemampuan, dan melatih rasa percaya diri saya. Saya juga melatih beberapa kemampuan berbicara di depan umum saya, mempertajam kemampuan bahasa Inggris saya, dan memperluas pengetahuan umum saya.

Sore itu, waktu saya menguping obrolan anak-anak SMA itu, saya bertanya-tanya:

Apakah saya akan berada di posisi sekarang ini jika waktu itu saya tidak terpaksa mengikuti lomba tersebut?

Apa yang akan terjadi seandainya waktu itu hak saya untuk diam tidak diperkosa oleh teman-teman saya atau setidaknya waktu itu saya tidak tinggal diam ketika saya merasa hak saya untuk diam diperkosa oleh teman-teman saya?

Tapi ya…

tidak peduli seberapa besar energi yang terkuras untuk mempertanyakan hal tersebut, saya tidak akan pernah benar-benar menemukan jawabannya.

After all I’ve been blessed