Archive | 9:24 pm

What Do They Know

25 Oct

Dua hari lagi menjelang ulang tahun saya dan sebuah pikiran melintas kuat di benak saya hari ini. Pernyataan seorang teman saya kembali menampar saya pada sebuah realita. Dalam sebuah pembicaraan ditemani beberapa cangkir kopi dan hujan deras di Bandung suatu sore, seorang teman baik berkata:

“Kenapa kita harus worry dengan apa yang orang pikirkan tentang kita, sementara faktanya adalah mereka tidak tahu apa pun tentang kita?”

Saya lupa pastinya apa yang memicu teman saya mengeluarkan pernyataan seperti itu saat itu, tapi saya tahu dengan pasti bahwa setelah dia berbicara seperti itu, pikiran saya langsung berjalan. Kopi, hujan, dan pernyataan menampar dari teman saya memang kombinasi yang bagus untuk membuat saya (atau siapa pun juga) untuk berpikir.

Hari ini pemikiran itu kembali muncul. Setelah beberapa minggu ini saya menghabiskan waktu dan energi saya lebih banyak untuk memikirkan hal-hal yang tidak begitu penting untuk dipikirkan. Setelah beberapa minggu ini saya membiarkan pekerjaan saya selesai secara tidak optimal karena saya baru menyelesaikannya menjelang deadline, ditambah dengan skripsi dan laporan magang yang terbengkalai begitu saja.

Akhirnya pemikiran itu muncul: what do they know about me? why should I worry about that?. Dua pertanyaan besar itu terus menerus berputar dalam pikiran saya, membuat saya yang terpaksa menghentikan kegiatan belajar untuk UTS saya besok.

Kamu tahu? Salah satu alasan saya menjadi sangat khawatir akan masa depan saya, mengalami pra 22 syndrome adalah karena saya mengkhawatirkan apa yang orang pikirkan tentang saya, karena ketika saya mengetahui bahwa mereka berpikir sesuatu tentang saya tidak seperti apa yang saya ingin mereka untuk pikirkan, saya lalu bertanya-tanya apa yang salah dengan saya.

Memangnya apa yang mereka tahu tentang saya?

Apa yang mereka tahu tentang saya ketika mereka melihat saya sedang duduk sendirian di sebuah coffee shop yang ramai pengunjung, tanpa ipod atau apa pun sebagai teman saya? Memangnya mereka tahu apa waktu mereka berpikir saya tidak punya banyak teman atau sedang patah hati dan menatap saya dengan tatapan kasihan, sementara faktanya adalah waktu itu saya memang lebih memilih untuk sendirian dibandingkan menerima ajakan teman-teman saya untuk nonton, makan bareng, atau sekedar nongkrong-nongkrong nggak jelas?

Apa yang mereka tahu tentang saya ketika saya memutuskan untuk berjalan dibandingkan naik kendaraan ketika hari sudah malam dan gerimis mulai turun? Memangnya apa yang mereka tahu waktu mereka berpikir saya ini nekad atau kehabisan uang, sementara yang terjadi adalah saya memang memutuskan untuk berjalan karena pada waktu itu saya membutuhkan banyak ruang dan waktu untuk berpikir mengenai konsep yang harus saya kerjakan supaya saya tetap bertahan pada pekerjaan saya dan tidak dipecat?

Memangnya apa yang mereka tahu waktu mereka menilai saya sombong dan tidak bersahabat, sementara fakta yang terjadi adalah saya sejak kecil memang didiagnosa memiliki kesulitan kemampuan berkomunikasi dan saya minder ketika berhadapan dengan orang-orang baru atau pun orang-orang yang tidak saya kenal dengan baik?

Memangnya apa yang mereka tahu waktu saya memutuskan untuk mengganti profile picture facebook saya? Apa yang mereka tahu waktu mereka berpikir bahwa lelaki di sebelah saya itu adalah pacar saya, sementara faktanya adalah saya merasa saat ini satu-satunya sahabat lelaki yang saya punya hanya dia?

Apa yang mereka tahu tentang semua itu? Apa yang mereka tahu tentang apa yang ada di pikiran saya? Apa yang mereka tahu tentang… saya?

Lalu saya menemukan jawaban bahwa mereka sama sekali tidak tahu tentang saya.

Terus kenapa saya harus worry pada mereka yang lebih memilih untuk berpikir tentang saya berdasarkan apa yang mereka ingin pikirkan tentang saya bukan mencoba untuk bertanya pada saya tentang apa yang terjadi dan lalu berpikir berdasarkan kenyataan yang ada?

Kenapa juga saya harus bersusah payah untuk bersikap sesuai apa yang mereka inginkan agar mereka bisa berpikir tentang saya sesuai dengan keinginan saya, sementara fakta yang terjadi adalah saya (dan siapa pun juga tidak bisa memaksakan pemikiran orang lain?

Dan ya… saya memang impulsif sejati. Detik ini saya bertekad untuk berhenti mengkhawatirkan apa yang orang pikirkan tentang saya karena saya tidak mau lagi peduli tentang itu.

Terserah selanjutnya apa yang akan orang lain pikirkan tentang saya ketika saya memutuskan untuk menutup telinga saya rapat-rapat untuk pemikiran-pemikiran mereka yang tidak pernah benar-benar mengenal saya karena faktanya adalah saya yakin hidup saya akan jauh lebih bahagia tanpa harus memikirkan apa yang orang pikirkan tentang saya, karena saya ingin membuang jauh-jauh pikiran bahwa saya membutuhkan Prozac, psikolog, atau bahkan psikiater untuk mengobati gangguan mental saya yang sering tertekan, karena jika mereka benar-benar teman maka mereka tidak akan sibuk dengan autistik pemikiran mereka dan lebih memilih untuk bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena saya… tidak mau lagi memaksakan pikiran orang lain tentang saya.

People always act like they know everything but the fact is: they know NOTHING.