Archive | 8:40 pm

With You

4 Oct

Harusnya siy berdasarkan aturan posting yang saya buat sendiri, pamali hukumnya bikin posting sekaligus dua di blog yang sama pada hari yang sama. Tapi berhubung saya lagi beneran cerita dan saya sendiri yang bikin aturannya, maka kali ini saya bikin pengecualian.

Tapi yah, terserah deh setelah posting ini kalian mau menganggap saya norak, dangkal, cheesy, atau mengejek saya dengan kata apa pun, saya nggak peduli. Silakan gunakan hak mencela saya sebaik mungkin, terima kasih!

By the way, basa-basinya kepanjangan yah? 😀

Ok, so let’s go back to the topic!

Selalu ada masa di kehidupan saya, dimana saya berharap kalau pun waktu tidak bisa dihentikan, setidaknya waktu bisa berjalan lebih lambat dari biasanya. Seperti apa yang saya alami malam itu.

Saya selalu suka menghabiskan waktu dengannya untuk berwisata kuliner, konser dengan suara pas-pasan di Inul Vizta yang sebenarnya membanting harga diri karena satu-satunya lagu yang berskor 100 adalah lagu-lagunya Bening, lalu pada akhirnya menghabiskan waktu untuk mencari es krim sambil mengobrol tentang banyak hal. Saya selalu jatuh cinta dengan kebebasan yang diberikannya pada saya, kebebasan untuk bersikap atau berkata tanpa harus ada penyesalan di kemudian hari akibat penghakiman yang mungkin timbul setelahnya, karena faktanya dia sama sekali tidak pernah menghakimi saya bahkan ketika saya salah mengambil sikap.

Saya selalu senang akan setiap waktu yang saya habiskan dengannya.

Seperti waktu itu, di sebuah restoran 24 jam dengan suasana outdoor di daerah Dago – Bandung malam hari itu. Waktu saya sebenarnya sudah kehabisan energi akibat paginya berhadapan dengan si bos, siangnya berkeliaran sendirian akibat janji yang sangat mendadak dibatalkan, lalu sorenya menghabiskan waktu di sebuah toko yang juga restoran di daerah Dago untuk halalbilhalal dengan teman-teman blogger saya.

Waktu itu, saya yang sebenarnya sudah setengah jalan pulang memutuskan untuk kembali ke Dago dan menemuinya untuk sekedar mengobrol dan menghabiskan sisa malam akhir minggu kami dengan mengobrol tentang banyak hal, mulai dari bitching about those shit that currently happen into our lives, sampai dengan gosip soal orang-orang di sekitar kita.

Lalu malam itu semakin saya nikmati ketika akhirnya pembicaraan tertuju pada hal yang selalu mengundang ketertarikan saya. Di luar kesadaran, setiap kali berbicara soal hal-hal yang membuat saya tertarik, saya mengungkapkan pendapat atau berbicara dalam jangka waktu yang cukup panjang, tapi… jangankan memotong ucapan saya, dia bahkan sama sekali tidak terlihat bosan mendengarkan ucapan saya sampai akhirnya…

“Sen…”

“Ya?”

“Mata lo kayak kristal.”

“Ha? Ada beleknya maksud lo?”

“Bukan! You’re glowing, Sen. You’re always glowing everytime we’re talk about this or another stuff that you like.”

“Define glowing, please!”

“Well, gue tahu banget lo ngga bego untuk ngerti definisi glowing tapi biar gue jelasin. Glowoing itu adalah aura yang keluar jelas dari muka lo yang bikin..”

“Bikin apaan?”

“Duh, gue nggak harusnya ngomong gini, tapi setiap kali lo glowing, gue yakin banget every guy… every normal guy would love to kiss your lips. With that glow-look in your face, how could a guy not fall for you?”

“Gue baru tahu segitu betenya lo hari ini sampei-sampei lo kesambet. Kesambet apaan lo?”

“Seriously, you’re so hot, you know that?”

Dan waktu saya melihat ekspresinya mengatakan kalimat itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan pertemanan kami yang berlangsung hampir 8 tahun, saya merasa jantung saya berdegup sangat kencang ketika melihatnya. Detik itu juga saya merasa dengan saya memiliki dia, semuanya menjadi cukup dalam hidup saya.

Detik selanjutnya, saya mulai mempertanyakan apakah benar-benar tidak ada apa-apa antara saya dan dia karena faktanya: saat ini saya sedang merasa ada sesuatu, sebuah chemistry yang sangat kuat antara saya dan dia, sesuatu yang telah disangka oleh mereka yang mengenal saya, dia, atau kami dalam satu paket sejak bertahun-tahun yang lalu. And the thing is:

I really don’t care if world around me goes wrong as long as I have him in my life

Thank God I’m Not The Only One

4 Oct

“I’m worry about my future… I really do!”

Itu status facebook salah seorang teman saya. Perlu waktu beberapa detik untuk saya berpikir sampai akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan komentar:

“Why you should worry about it? You have your plan but God own the masterplan. Just take the step!”

Sebenarnya ketika saya meninggalkan komentar yang canggih itu *okay, yang mau nimpuk tolong antri, saya tidak hanya berbicara kepada teman saya itu, tapi juga berbicara pada diri saya sendiri. Karena, terus terang, waktu saya membaca status itu (atau bahkan sampai sekarang?), saya juga merasakan hal yang sama seperti teman saya itu. Sama-sama mengkhawatirkan tentang masa depan.

Padahal kalo boleh saya sedikit membahas tentang teman saya itu, secara kasat mata, dia tidak mungkin mengalami kegagalan dalam masa depannya. Dia cantik, kepribadiannya menarik, pernah masuk dalam nominasi sebuah model sebuah produk kecantikan, baru lulus dari universitas (atau institut?) negeri kenamaan di Bandung, sedang membangun usaha sebuah butik, dan punya pacar yang tidak kalah potensial. See, saya tidak melebih-lebihkan lho.

Jadi kalau orang seperti teman saya saja bisa mengkhawatirkan soal masa depannya, apa kabarnya dengan orang seperti saya?

Semakin mendekati ulang tahun saya yang ke 22, saya semakin merasa takut dan khawatir akan masa depan saya. Saya sudah punya standardisasi soal tingkat kesuksesan dalam hidup saya, saya juga sudah punya rencana apa yang harus saya lakukan, tapi tetap saja hal seperti itu tidak membantu saya untuk berhenti mengkhawatirkan soal masa depan saya. Meskipun saya juga yakin sepenuh hati kalau Tuhan juga punya rencana untuk saya, dan Tuhan lebih tahu yang terbaik buat saya, dibandingkan saya sendiri.

Saya yakin, setidaknya satu kali dalam hidup seseorang, mereka pernah merasakan kekhawatiran akan masa depannya. Hasil dari pembicaraan tengah malam dengan seorang teman membuat saya menyimpulkan bahwa beberapa dari mereka yang mengkhawatirkan masa depannya tidak melakukan apa-apa untuk mengatasinya itu dan hanya menjadikan kekhawatiran itu sebagai sebuah reaksi akan kesuksesan orang lain, bukan sebagai sebuah batu loncatan untuk mulai melakukan tindakan membangun masa depan; beberapanya lagi terlalu terbuai dengan hambatan yang mungkin dihadapi dalam proses membangun masa depan sehingga lupa untuk bertindak; sementara sisanya, mulai bertindak dan berusaha sebaik mungkin untuk meraih masa depan sesuai yang diimpikannya.

Saya, tidak mau termasuk dalam kategori orang yang beberapa. Saya ingin masuk ke dalam kategori sisanya. Maka, saya mulai memantapkan langkah saya, mengambil tindakan dari mulai hal yang kecil demi meraih tujuan itu… tujuan untuk menjadi lebih baik lagi dalam segala aspek kehidupan dalam hidup saya.

Maka saya mulai lagi berolahraga secara rutin, berhasil memaksa seorang teman untuk mengajari saya salsa secara cuma-cuma, mencoba minum susu – WRP Body Shape (padahal dari umur 3 atau empat tahun saya tidak menyukai susu yang diseduh dan cuma mau minum ultra atau produk sejenisnya), mengeluarkan cukup banyak uang untuk membeli beberapa produk kosmetik dan meminta teman yang juga pelatih salsa saya untuk mengajarkan saya tata cara make up yang baik dan benar, membaca lebih banyak buku dari segala jenis; mulai dari chicklit hingga kumpulan jurnal canggihnya Idi Subandy Ibrahim, mengatur pola tidur supaya tidak terlalu malam sehingga saya tidak akan malas ketika adzan shubuh memanggil saya untuk menghadapNya, mendekatkan diri saya dengan Tuhan (setelah bertahun-tahun saya memeluk agama Islam KTP), bertemu dengan lebih banyak orang; mulai dari teman lama hingga mencari teman baru sehingga pikiran saya lebih terbuka, dan… argh, terlalu banyak untuk disebutkan.

Tapi yang jelas, saat ini saya sedang berusaha… benar-benar berusaha untuk masa depan saya. Saya tidak mau lagi menjadi orang yang terlalu banyak mengeluh dan menuntut tentang kehidupan saya kepada Tuhan. Saya hanya ingin menjadi orang yang ikhlas menerima apa pun yang Tuhan berikan pada saya. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri tapi dengan fitur tambahan lebih baik dalam segala aspek kehidupan saya.

Dan saya ingin meminta doa dari kamu semua semoga semuanya berjalan lancar

Saya akui, sindrom pra 22 ini memang lumayan menganggu aktivitas dan prilaku saya, terutama pola pikir saya terhadap hidup dan masa depan saya, tapi untuk tahun ini saya memutuskan untuk tidak menyerah dan berbuat sesuatu untuk mengatasi itu.