About Wounds

2 Oct

Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman, topik pembicaraan kami yang ngalor ngidul entah kenapa pada akhirnya bisa sampai pada obrolan soal luka. Teman saya dan saya sama-sama keberatan dengan quotes yang berbunyi: “time will heals all wounds”.

Faktanya adalah nggak semua luka bisa disembuhkan, beberapa luka masih tersisa dan terpendam di dalam hati, terbawa dalam putaran waktu, dan mau nggak mau mempengaruhi reaksi kita terhadap sesuatu akibat traumatis. Beberapa luka memang tidak bisa disembuhkan karena luka itu terlalu dalam dan menyakitkan.

Pikiran saya akhirnya membawa saya kembali pada moment itu. Sewaktu saya masih kecil, saya masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya dinomor duakan, bagaimana rasanya ditolak, bahkan ketika saya sudah berusaha keras untuk diterima di lingkungan saya.

Waktu kecil sebenarnya saya masuk kategori anak yang pendiam. Saya memiliki masalah dalam kemampuan bersosialisasi dengan orang lain. Saya merasa malu ketika harus memperkenalkan diri saya kepada orang yang baru saya temui. Saya merasa minder ketika harus berbicara dengan suara keras di depan umum. Saya entah kenapa… tidak pernah bisa memberanikan diri saya untuk mengajak teman saya bermain dengan saya.

Akibatnya, saya sempat jadi korban bullying waktu TK (let’s skip this part!). Lalu penolakan berlanjut ketika saya yang sempat tinggal di Batam harus kembali ke Bandung dan bersekolah di sekolah yang terkenal… mahalnya. Waktu itu saya seperti anak kampung yang baru masuk kota. Secara akademis saya ketinggalan banyak, tingkat pendidikan di Batam dan di Bandung memang berbeda. Secara pergaulan juga saya ketinggalan, cara bicara saya beraksen melayu, sisa-sisa peninggalan 3 tahun di Batam. Dan tentunya, sebagian besar murid di SD saya tidak menerima saya yang berbeda dengannya.

Belum cukup itu saja, saya yang pendiam dan kakak saya yang tergolong populer dan mudah bergaul selalu dibanding-bandingkan. Posisi perbandingan tentunya tidak menguntungkan bagi saya karena saya selalu dinomorduakan.

Sekarang ini, beberapa orang terlihat kaget melihat saya yang sekarang. Menurutnya, saya telah mengalami perubahan yang cukup drastis. Saya, sependapat dengan mereka tentunya.

Saya yang sekarang tidak akan sungkan-sungkan untuk berkenalan dengan orang-orang baru, bahkan dari segi kuantitas, jumlah kenalan saya bisa masuk dalam kategori sangat banyak. Saya yang sekarang tidak akan minder dan malah sangat percaya diri jika harus berbicara di depan umum, bahkan ketika topik pembicaraannya adalah sesuatu yang tidak benar-benar saya kuasai. Dan saya, bahkan tidak pernah merasa takut lagi ketika ingin mengajak teman saya untuk beraktivitas dengan saya.

Kenapa saya berubah? Well, let’s say karena saya yang menginginkan perubahan itu sendiri. Saya sendiri tidak tahu kapan pastinya saya mulai merubah diri saya secara perlahan, tapi saya masih bisa mengingat dengan jelas prosesnya. Proses ketika saya terluka, proses menyalahkan orang lain dan diri sendiri atas penolakan-penolakan di lingkungan, sampai akhirnya saya berada pada posisi lelah selalu ditolak dan memutuskan untuk berubah.

Lalu apa saya benar-benar berubah?

Jawabannya adalah tidak. Saya yang berubah hanya bagian dari diri saya yang minoritas, sementara mayoritas dari diri saya adalah bagian dari diri saya yang masih sama seperti waktu saya masih kecil, bagian yang masih menyimpan semua luka akibat penolakan-penolakan dan posisi selalu dinomorduakan.

Maka saya membuat kesimpulan bahwa:

Time does not heals all wounds, it’s just cover it. The thing is: some wounds never gone.

21 Responses to “About Wounds”

  1. yosbeda October 2, 2009 at 10:41 am #

    boleh aj sie berubah…
    asal jgn tiba2 jadi cewek liar/bengal hehehe…😉

    • alamendah October 2, 2009 at 11:17 am #

      (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
      SETUJU SAMA BANG YOS!!!

      • yosbeda October 2, 2009 at 11:59 am #

        seumur2 baru pertama kali ini komen diatasya maz alamendah😳
        perlu dirayakan nie,🙄 hehehe

      • ikiakukok October 2, 2009 at 12:53 pm #

        ikutan setuju🙂

      • Zulhaq October 2, 2009 at 1:19 pm #

        hahaha, komen kok rebutan to bro

    • Zulhaq October 2, 2009 at 1:19 pm #

      kalo itu bukan perubahan namanya sob, tapi pemunduran. namanya perubahan itu, harus menjadi baik.

  2. ikiakukok October 2, 2009 at 12:54 pm #

    yah selamat deh kalau sudah berubah. ke arah yang lebih baik dong pastinya…

    salam

  3. Zulhaq October 2, 2009 at 1:18 pm #

    semua orang pasti punya masa. dan perubahan itu tentu ada. entah di sadari atau tidak di sadari🙂

    luka, di nomor duakan, kenapa tidak melawannya untuk menemukan perubahan yang berarti.

    gw merupakan orang yang harus menerima segala luka yang pedih. tapi, semua gw jadiin tantangan dalam proses kehidupan. karena gw yakin, semua pasti akan ada akhirnya. gw harus menemukan perubahan yang membawa gw pergi dari semua masa lalu🙂

    • yosbeda October 2, 2009 at 6:02 pm #

      plok..plok..plok…. tepuk tangan buat bang zulhaq…. tumben ngomongnya lurus2 aj… gawat nie,, klo sintingnya dah sembuh… hehe..😀

    • senny October 2, 2009 at 7:05 pm #

      tuh kan seneng deh kalo zulhaq yang comment, udh mah commentnya banyak, bermutu pula haha😉

  4. Berita Unik October 2, 2009 at 1:44 pm #

    salam kenal dari saya ya bang newbie yang pengen juga punya blog keren seperti ini jangan lupa mampir ke berita unik ya

  5. tyan's October 2, 2009 at 9:45 pm #

    pastinya orang hidup pasti berubah…,

  6. yosbeda October 3, 2009 at 6:56 am #

    wuih,,, biz ganti theme ya neng!!, suka bgt sie ma yg gelap2…

    • senny October 4, 2009 at 12:23 pm #

      ini theme dipilihnya random kok

      • yosbeda October 4, 2009 at 2:55 pm #

        ouw suka ngacak yah….
        klo milih cowok jgn pake metode random juga ya… hehehe:mrgreen:

  7. Bang Aswi October 3, 2009 at 7:02 am #

    Pepatah itu sebenarnya mengungkapkan bahwa perubahan itu memang memerlukan waktu, beberapa di antaranya memang bisa menghilangkan luka, tetapi hanya sementara. Luka yang hilang adalah luka pada permukaan, yaitu ekspresi wajah atau sifat murung, dll. Luka dalam hati tidak terwakilkan di sana….

    • ampun deh October 3, 2009 at 8:25 am #

      Luka dalam hati tetep terkenang. Kadang sesekali teringat, masih saja sakit hati.

  8. keblug October 3, 2009 at 8:21 am #

    Semua orang punya luka… tinggal bagaimana kita berdamai dengan luka itu, berubah mejadi lebih baik dan meraih hidup lebih bahagia🙂

  9. pushandaka October 3, 2009 at 8:23 am #

    Saya juga kurang setuju dengan pendapat yang bilang bahwa berjalannya waktu akan menyembuhkan luka.

    Tapi kita sendirilah yang bisa menyembuhkan luka. Kalau kamu bisa merubah sedikit kekurangan kamu, artinya kamu pun bisa berubah lebih banyak lagi kekuranganmu. Semua tergantung niat, usaha, dan doa.

    Mulai saja dengan pikiran yang positif dulu. Percaya atau ndak, pikiran sangat mempengaruhi hasil dari segala usaha kita. Kalau blum apa-apa kamu sudah berpikiran ndak bisa, susah, ndak akan berhasil, dsb., hasil akhirnya ndak akan jauh-jauh dari sana.

    Saya pernah baca, trauma itu ada karena kita ndak menguatkan diri kita untuk menyembuhkan luka/sakit yang kita rasakan.

    *ah, jadi panjang deh komentar saya. maaf ya jadi menghabiskan banyak tempat. hehe..

    • senny October 3, 2009 at 10:00 am #

      oh ga apa2 kok, saya senang yang panjang2 hehe

  10. fakhri ramley November 20, 2009 at 7:07 pm #

    Salam ziarah.. Teruskan usaha anda.. Selamat berjaya.. Good luck!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: