Archive | 10:21 am

About Wounds

2 Oct

Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman, topik pembicaraan kami yang ngalor ngidul entah kenapa pada akhirnya bisa sampai pada obrolan soal luka. Teman saya dan saya sama-sama keberatan dengan quotes yang berbunyi: “time will heals all wounds”.

Faktanya adalah nggak semua luka bisa disembuhkan, beberapa luka masih tersisa dan terpendam di dalam hati, terbawa dalam putaran waktu, dan mau nggak mau mempengaruhi reaksi kita terhadap sesuatu akibat traumatis. Beberapa luka memang tidak bisa disembuhkan karena luka itu terlalu dalam dan menyakitkan.

Pikiran saya akhirnya membawa saya kembali pada moment itu. Sewaktu saya masih kecil, saya masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya dinomor duakan, bagaimana rasanya ditolak, bahkan ketika saya sudah berusaha keras untuk diterima di lingkungan saya.

Waktu kecil sebenarnya saya masuk kategori anak yang pendiam. Saya memiliki masalah dalam kemampuan bersosialisasi dengan orang lain. Saya merasa malu ketika harus memperkenalkan diri saya kepada orang yang baru saya temui. Saya merasa minder ketika harus berbicara dengan suara keras di depan umum. Saya entah kenapa… tidak pernah bisa memberanikan diri saya untuk mengajak teman saya bermain dengan saya.

Akibatnya, saya sempat jadi korban bullying waktu TK (let’s skip this part!). Lalu penolakan berlanjut ketika saya yang sempat tinggal di Batam harus kembali ke Bandung dan bersekolah di sekolah yang terkenal… mahalnya. Waktu itu saya seperti anak kampung yang baru masuk kota. Secara akademis saya ketinggalan banyak, tingkat pendidikan di Batam dan di Bandung memang berbeda. Secara pergaulan juga saya ketinggalan, cara bicara saya beraksen melayu, sisa-sisa peninggalan 3 tahun di Batam. Dan tentunya, sebagian besar murid di SD saya tidak menerima saya yang berbeda dengannya.

Belum cukup itu saja, saya yang pendiam dan kakak saya yang tergolong populer dan mudah bergaul selalu dibanding-bandingkan. Posisi perbandingan tentunya tidak menguntungkan bagi saya karena saya selalu dinomorduakan.

Sekarang ini, beberapa orang terlihat kaget melihat saya yang sekarang. Menurutnya, saya telah mengalami perubahan yang cukup drastis. Saya, sependapat dengan mereka tentunya.

Saya yang sekarang tidak akan sungkan-sungkan untuk berkenalan dengan orang-orang baru, bahkan dari segi kuantitas, jumlah kenalan saya bisa masuk dalam kategori sangat banyak. Saya yang sekarang tidak akan minder dan malah sangat percaya diri jika harus berbicara di depan umum, bahkan ketika topik pembicaraannya adalah sesuatu yang tidak benar-benar saya kuasai. Dan saya, bahkan tidak pernah merasa takut lagi ketika ingin mengajak teman saya untuk beraktivitas dengan saya.

Kenapa saya berubah? Well, let’s say karena saya yang menginginkan perubahan itu sendiri. Saya sendiri tidak tahu kapan pastinya saya mulai merubah diri saya secara perlahan, tapi saya masih bisa mengingat dengan jelas prosesnya. Proses ketika saya terluka, proses menyalahkan orang lain dan diri sendiri atas penolakan-penolakan di lingkungan, sampai akhirnya saya berada pada posisi lelah selalu ditolak dan memutuskan untuk berubah.

Lalu apa saya benar-benar berubah?

Jawabannya adalah tidak. Saya yang berubah hanya bagian dari diri saya yang minoritas, sementara mayoritas dari diri saya adalah bagian dari diri saya yang masih sama seperti waktu saya masih kecil, bagian yang masih menyimpan semua luka akibat penolakan-penolakan dan posisi selalu dinomorduakan.

Maka saya membuat kesimpulan bahwa:

Time does not heals all wounds, it’s just cover it. The thing is: some wounds never gone.