Hi, Society!

1 Oct

“Ngakunya high class tapi kelakuannya low class banget!”

Itu seruan dari seorang teman begitu saya mengangkat telepon darinya. Obrolan (atau lebih tepat disebut curhatan?) pun berlanjut pada cerita teman saya tentang kekesalannya menghadapi lingkungan barunya yang sebagian besar diisi oleh orang-orang yang ngakunya berada pada piramid pergaulan paling atas alias high class tapi pada kenyataannya kelakuan mereka justru malah lebih terlihat seperti manusia yang berada pada kelas sosial rendahan alias kampungan.

Sebenarnya hal-hal yang seperti itu bukan hal yang baru bagi saya. Sudah sering sekali saya terpaksa atau secara tidak sengaja harus menghadapi kaum-kaum yang merasa dirinya high class tapi kelakuannya berbanding terbalik dengan pesan image yang ingin disampaikan oleh diri mereka. Saya, sama halnya seperti teman saya, selalu merutuk nggak jelas dan akhirnya terpaksa memendam emosi ketika harus berhadapan dengan orang-orang seperti itu, terutama jika saya berada pada pihak yang dirugikan, yaitu: pihak yang dianggap tidak cukup high class untuk diterima dalam pergaulan mereka.

Saya jadi ingat dulu, secara tidak sengaja dan entah bagaimana caranya, saya sempat masuk ke dalam sebuah gang yang dalam lingkungan kami terkenal sebagai gang jetset. Jika dilihat dari nama gangnya, pada awalnya saya kira mereka itu terdiri dari gang orang-orang kaya dengan pergaulan yang glamor – satu hal yang bukan saya banget, tapi ternyata setelah saya masuk ke dalam gang tersebut, isinya nggak semuluk apa yang saya bayangkan. Mereka ternyata nggak jauh beda dengan gang lainnya yang berada pada lingkungan yang sama dengan kami, malah saya lihat beberapa orang tertentu yang tidak termasuk dalam ‘level’ mereka memiliki kelas sosial yang lebih tinggi dibandingkan mereka. Satu-satunya yang membuat semua orang berpikir bahwa mereka adalah kumpulan orang-orang high class, adalah gaya mereka yang setinggi langit yang lalu setelah saya pikirkan belakangan ini, gaya itu memang sengaja mereka buat supaya mereka diakui di lingkungannya.

Pengalaman saya tersebut membuat saya curiga jangan-jangan hal seperti itu nggak cuma terjadi pada gang jetset di lingkungan saya tapi juga di lingkungan lainnya. Jangan-jangan, mereka yang selama ini ngakunya high class cuma memasang topeng supaya diakui di lingkungannya, padahal sebenarnya mereka jelas-jelas sedang menipu dirinya sendiri dan itu semua tercermin dari tingkah lakunya.

Atau jangan-jangan, mengutip kalimat seorang teman, mereka berlaku sok high class hanya karena mereka baru ‘jadi orang kota’. Baru nemu pergaulan high class. Baru diundang ke cocktail party (atau nggak pernah diundang tapi palingan cuma minum cocktailnya doang dan itu juga dapet traktiran dari salah seorang kenalan baru di tempat dugem). Baru mampu nongkrong di Starbucks padahal belinya cuma satu minuman untuk berdua. Baru dibeliin mobil sama orang tuanya. Baru dapet kerjaan di perusahaan ternama padahal gajinya pas-pasan. Baru… (isi tambahannya sendiri deh soalnya kalo saya tulis satu-satu, bakalan jadi panjang ajah ceritanya).

Ya… ya…, saya tahu saya terdengar judgmental tapi saya rasa perlakuan ini pantas diterima oleh mereka yang merasa dirinya high class padahal sebenarnya nggak dan lalu menganggap orang lain tidak pantas bergaul dengannya dengan alasan mereka tidak cukup high class cuma karena orang-orang yang mereka anggap tidak cukup high class itu memilih rantai pergaulan yang berbeda.

Ah tapi ya sudahlah, membahas soal ini memang nggak akan pernah ada habisnya. Saran dari saya siy: nikmati saja hidup kalian apa adanya, sebab hidup jauh lebih menyenangkan kalau kalian nggak harus susah-susah berpikir pada kelas sosial mana posisi kalian sekarang ini dan (apalagi) mengejar-ngejar kelas sosial tertentu yang kalian inginkan.

There are four varieties in society; the lovers, the ambitious, observers, and fools. The fools are the happiest. -Hippolyte Taine-

7 Responses to “Hi, Society!”

  1. alamendah October 1, 2009 at 10:46 pm #

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    ada nggak yang ngakunya low class tapi kelakuannya high class

  2. yosbeda October 2, 2009 at 7:54 am #

    “Ngakunya high class tapi kelakuannya low class banget!”, ko lum dijelasin ap aj yg dimaksud dengan kelakuanya low class bgt, contohnya seperti ap gtu..

    • senny October 2, 2009 at 9:21 am #

      waduh kalo harus dijelasin bisa panjang ceritanya hehe

  3. Zulhaq October 2, 2009 at 1:14 pm #

    itulah kehidupan, banyak yang tidak mau mengakui keadaan aslinya. sikap ego yang terlalu tinggi menggelapkan segalanya…

    bukankah, di mata tuhan semua sama?
    dan bukankah, semua orang punya kekurangan dan kelebihan

    • yosbeda October 2, 2009 at 6:13 pm #

      setuju bang!!!!:mrgreen:

      • senny October 2, 2009 at 7:07 pm #

        ikutan setuju

        *deuh kesannya si zulhaq punya groupies haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: