Archive | September, 2009

Pra 22 Syndrome

27 Sep

It’s not suppossed to be like this.

2 adalah angka keberuntungan saya, dan jika 2 itu digandakan menjadi 22, saya selalu merasa jauh lebih beruntung. Mungkin ini cuma sugesti, tapi yang jelas sugesti saya pada angka 2 cukup membantu meningkatkan kepercayaan saya terhadap sesuatu yang sedang saya lakukan atau setidaknya terhadap diri saya sendiri. Jadi seharusnya, menjelang ulang tahun yang ke 22 ini, saya tidak menjadi senegatif sekarang. Sugesti saya terhadap angka 22 jelas tidak membantu saya sama sekali dalam menghadapi semua ini.

Satu bulan lagi waktu itu datang, saya akan menginjak 22 tahun satu bulan yang akan datang, dan saya seperti tahun-tahun selanjutnya, mengalami pra b’day syndrome.

Belakangan ini saya menjadi over sensitive dan over reaksi terhadap segala sesuatu. Bahkan hal kecil yang dalam keadaan normal sama sekali tidak pernah saya pikirkan mendadak bisa membolak-balik mood saya dalam hitungan detik. Singkatnya, saya kembali menjadi a grumpy impulsive useless person.

Belakangan ini juga saya mulai capek dengan kehidupan saya yang terasa sangat datar. Capek mencoba mengerti orang lain di saat bahkan mereka sama sekali tidak mau mengerti perasaaan saya. Capek memendam semua emosi yang ada hanya karena saya berusaha sangat keras untuk tidak pernah menyakiti perasaan mereka sekalipun perkataan mereka seringkali menyakiti perasaan saya. Capek mengatur segalanya, memastikan segalanya berjalan lancar, sementara rencana yang saya buat sendiri bahkan tidak pernah lepas dari hambatan. Capek dituntut untuk selalu kreatif dan mendatangkan ide-ide segar sementara ada begitu banyak hal yang harus saya lakukan tetapi begitu sedikit waktu yang saya punya. Capek mengatur jadwal untuk orang lain, mulai dari jadwal pertemuan rutin teman-teman sma sampai jadwal mengerjakan tugas kuliah, menentukan tempat pertemuan, mengkomunikasikan rencana dengan mereka semua, sehingga saya lupa kalau saya harusnya mengatur jadwal untuk diri saya sendiri.

Ini mungkin pengakuan terjujur yang pernah saya ucapkan: saya sedang capek mengatur urusan orang lain, sementara urusan saya sendiri seringkali terabaikan.

Biasanya, ketika saya sedang mengalami pra b’day syndrome, saya selalu mencurahkan semuanya ke BFF saya, Zhe. Tapi sepertinya untuk kali ini saya harus bisa menghadapinya sendirian, Zhe sedang sibuk dan sedikit stress dengan rencana pernikahannya dan saya benar-benar merasa tidak ada seorang pun yang bisa saya andalkan lagi (bukan berarti kalian nggak penting buat saya lho!).

Kali ini saya mau meminta maaf pada kalian, maaf jika saya (mungkin) akan lebih sering membawa aura negatif terhadap kalian ketimbang aura positif. Maaf jika saya mendadak over sensitive dan berlebihan menghadapi segala sesuatunya.

Mudah-mudahan pra 22 syndrome ini segera berakhir

H.E.L.P!

23 Sep

Anyone… you guys, can you help me?

I start to hate things called L.O.V.E.

Seriously! Melebihi keseriusan saya yang ingin memiliki badan Bree Turner yang akhirnya membuat saya (sepertinya akan) mengeluarkan banyak uang untuk membeli krim anti selulit dan mengikuti kursus salsa atau melebihi keseriusan saya yang benar-benar ingin menjadi penari striptease at least untuk laki saya suatu saat nanti.

Akhir-akhir ini saya mulai melihat betapa L.O.V.E. atau yang biasa orang Indonesia sebut cinta, memberikan pengaruh yang begitu besar kepada begitu banyak orang. Sayangnya, dalam kasus saya, saya melihat pengaruh tersebut cenderung lebih ke arah yang buruk daripada yang baik. Saya melihat itu, bukan hanya terjadi pada diri saya, tapi juga pada teman-teman di kehidupan saya.

Saya mulai menangkap gejala bahwa L.O.V.E. atau cinta sudah melenceng dari makna yang sebenarnya (meski saya tidak pernah tahu pasti apa makna yang sebenarnya dari cinta). Akhir-akhir ini saya mulai berpikir bahwa cinta sebenarnya hanyalah sebuah alasan, pembenaran, pembelaan, sebuah excuse untuk banyak orang untuk tetap berada di jalan yang salah bahkan ketika mereka menyadari dengan sepenuh hati bahwa mereka berada di jalan yang salah. They know that they’re in the wrong track but they’re still stick on it in the name of love.

And that was just… sounds stupid and silly for me.

But anyway,

We can’t be smart and in love at the same time, right?

Perlu bukti? Pernah dengar tentang orang yang rela membunuh dirinya sendiri setelah diputusin oleh pacarnya yang sebenarnya tidak pernah benar-benar cinta? Atau orang yang rela membagi password facebooknya pada sang pacar yang ternyata psikopat dan mulai nekad mengupload foto ciuman mereka berdua yang diambil entah kapan dan oleh siapa ketika hubungan mereka dalam masalah? Atau orang yang memutuskan untuk stay single dan melewatkan begitu banyak calon pasangan potensial cuma demi menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah memikirkan orang itu sama sekali? Dan tentunya, masih banyak contoh kebodohan karena cinta lainnya yang nggak akan pernah cukup waktu sejuta tahun untuk membahasnya di postingan ini.

Dari beberapa contoh yang terjadi di lingkungan sekitar saya, saya berani menyimpulkan bahwa cinta selalu berhasil mengambil logika manusia dengan cara yang manipulatif.

Dari situlah lantas muncul istilah love for sex dan sex for love. Karena faktanya, beberapa orang memanipulasi keadaaan, bertingkah seolah-olah dia memberikan cinta yang tulus dan dalam, untuk mendapatkan sex; sementara di sisi lain, beberapa orang memanipulasi keadaan, bertingkah seolah-olah dia memberikan sex dengan suka rela, untuk mendapatkan cinta. Seorang teman malah berkata bahwa pilihannya memang ada dua, love for sex or sex for love; the one who doesn’t choose will get nothing.

Tapi yang menurut saya paling parah adalah saya melihat telah terjadi perubahan yang cukup signifikan pada teman-teman saya, dan semua itu terjadi gara-gara cinta. Yup, cinta telah merubah teman-teman saya (dan mungkin banyak orang lain di luaran sana) dengan cara yang sangat instan dan (seringnya) tidak bisa dimengerti.

Teman saya yang dulunya anti selingkuh, mendadak bersedia menjadi selingkuhan seseorang yang sudah bertunangan dan tidak akan pernah meninggalkan tunangannya.

Teman saya yang dulunya career minded dan bersumpah akan menjadi penari seumur hidupnya, mendadak meninggalkan karirnya sebagai penari hanya karena sang pacar tidak menyetujui pilihan karir teman saya yang katanya membuat teman saya seperti wanita gampangan.

Teman saya yang dulunya rajin menabung demi masa depan, mendadak menjadi seseorang yang sangat boros dan mulai sering meminjam uang sana-sini hanya untuk membiayai seluruh pengeluaran nggak jelas dan nggak penting sang pacar.

Teman saya yang penurut pada orang tuanya, mendadak memutuskan untuk meninggalkan rumah, berbohong pada orang tuanya, dan bahkan melawan orang tuanya, hanya demi membela sang pacar begajulan yang tidak mendapat restu dari sang orang tua.

Bahkan, teman saya yang dulunya religius, membuat sebuah keputusan yang sangat mengejutkan saya, mengumumkan dengan bangga bahwa dia telah pindah agama hanya demi mendapat restu dari orang tua sang pacar yang belum tentu juga akan bersedia menikahi teman saya.

Dalam pandangan saya, sama sekali tidak masalah kalau kalian melakukan hal-hal seperti: melawan orang tua, kabur dari rumah, berbohong, mengkhianati, pindah agama, membuang-buang banyak uang, meninggalkan karir yang juga sebenarnya sudah menjadi mimpi sejak dulu, atau hal lainnya yang tidak logis selama

Apa yang kalian lakukan dalam cara yang salah tersebut adalah sebuah proses untuk mencapai tujuan yang benar,

Tapi yang menjadi masalah buat saya adalah:

darimana kalian tahu bahwa kalian telah memilih tujuan yang benar sementara dalam prosesnya saja kalian telah melakukan hal yang salah?

apakah ada jaminan bahwa kalian tidak akan pernah menyesali keputusan kalian yang sudah tanggung melakukan hal yang salah, berada di jalan yang salah?

apakah kalian benar-benar berada pada tujuan yang benar?

Guys, do you??

Yes is a [Yes] is a No

9 Sep

Seumur hidup saya, saya selalu kagum dengan mereka – orang-orang yang selalu mampu mengungkapkan isi hatinya dengan mudah. Selalu kagum dengan mereka yang mengatakan ya ketika hatinya menjawab ya, mengatakan tidak ketika hatinya mengatakan tidak. Menyatakan dirinya dengan tegas bahwa dia tidak suka atau suka terhadap sesuatu tanpa khawatir akan apa pun.

Saya kagum dengan mereka karena saya tidak pernah bisa begitu.

Ini adalah satu lagi hal yang tidak orang-orang ketahui tentang saya, saya yang dari luaran terlihat santai, justru memiliki kekhawatiran terdalam setiap kali saya ingin menyatakan sesuatu.

Saya sangat memahami perasaan ditolak, saya tahu betapa sakitnya ditolak oleh lingkungan dan keadaan. Dan sumpah, sampai mati saya tidak mau lagi merasakan perasaan itu!

Ketakutan saya akan ditolak oleh lingkungan sangatlah besar, sebuah ketakutan yang hanya bisa dirasakan dan dimengerti oleh saya dan orang-orang yang pernah mengalami apa yang saya alami.

Ketakutan terdalam itu akhirnya membawa saya pada kehidupan yang serba palsu. Pribadi yang saya sajikan kepada orang-orang bukanlah saya yang apa adanya. Saya selalu berusaha mengikuti mereka, menyimpan perasaan dan pemikiran terdalam saya dan membiarkan mereka tidak pernah tahu apa yang saya rasakan dan saya pikirkan.

Saya lebih membiarkan orang berpikir tentang saya sesuai yang mereka ingin pikirkan tentang saya daripada apa yang saya ingin mereka pikirkan tentang saya.

Terserah setelah posting ini kamu akan mengatai saya palsu, pengecut, atau apalah. Saya benar-benar tidak peduli lagi sekarang.

Saya sedang depresi. Depresi yang sama seperti sebuah gempa, jika eksistensinya terlalu lama, akan merubuhkan. Depresi ini nyaris membuat saya gila. Parahnya, depresi ini berlangsung untuk kesekian kalinya.

Saya benar-benar mengatakan depresi dalam artian yang sebenarnya, bukan sekedar perumpamaan atau kata-kata yang saya gunakan dalam konteks dilebih-lebihkan seperti apa yang tertulis dalam naskah sinetron sekarang ini. Depresi yang sama, setahun yang lalu pernah membuat saya berada pada lubang sakit hati terdalam dan membuat saya pusing memikirkan apa alasan saya untuk hidup setiap kali saya bangun pagi. Untunglah saya selalu menemukan alasan untuk hidup, sebab jika tidak, mungkin sekarang ini saya hanya tinggal sebuah nama.

Saya benar-benar membutuhkan pertolongan Tuhan saat ini, bukan yang lain. Bahkan teman-teman saya yang sangat banyak dan selalu bersedia membantu pun tidak akan pernah bisa membantu. Bahkan setiap lagu dari Alanis Morisette dan Vonda Shepard yang diputar oleh Playlist saya tidak mampu membantu saya merasa sedikit lebih baik.

Saya depresi oleh apa yang dipikirkan dan dirasakan tapi tidak pernah bisa terungkap.

Everyone must think that I’m strong enough, but actually I’m a fragile one

Titik Nggak Pake Koma

5 Sep

Saya punya seorang teman. Lelaki dan tidak akan pernah saya sebutkan namanya kepada kalian. Kita berteman dari zaman dulu, zaman saya masih abg labil yang bangga jalan-jalan di mall memakai seragam putih abu-abu. Dulu, semua orang yang saya dan dia kenal mengira saya dan dia pacaran, hubungan saya dan dia memang dekat banget siy.

Bahkan sampai sekarang, ketika secara tidak sengaja saya sedang jalan dengannya dan bertemu dengan teman-teman kami dulu, tidak sedikit dari mereka yang bertanya: “Masih?” dengan ekspresi kagum seolah-olah kami memang benar-benar pasangan yang masih langgeng bertahun-tahun.

Kenyataannya adalah tidak ada apa-apa di antara kami. Murni cuma teman. Titik. Nggak Pakai Koma. Saya selalu merasa aman dan nyaman setiap kali menghabiskan waktu dengannya. Setiap kali keinginan untuk jalan-jalan muncul ke permukaan, tapi lagi nggak mau pergi sendirian, dia adalah orang pertama yang saya hubungi. Kalau lagi ada keperluan ke satu tempat dan ngerasa butuh saran untuk sesuatu atau sekedar butuh teman untuk meningkatkan kepercayadirian, saya pasti memintanya untuk menemani saya.

Dan dia selalu ada. Selalu bisa menemani saya dalam setiap ‘aktivitas ingin ditemani’ saya, mulai dari mengantar saya mencari baju baru sekaligus memberi saran mana baju yang sebaiknya dibeli, menemani saya dengan pikiran dan khayalan saya di coffee shop, menyanyi bersama di tempat karaoke, wisata kuliner bersama, survey tempat atau harga soal pekerjaan, bahkan sampai nyalon bersama. Sepertinya, selain ke kamar mandi, tidak ada satu pun aktivitas yang tidak bisa saya lakukan dengan dia secara bersamaan.

Belakangan hubungan kami yang sempat mulai merenggang kembali dekat. Dalam satu bulan, minimal satu kali frekuensi saya bertemu dengannya. Hal itu belum lagi ditambah dengan chatting via y!m atau facebook dan sms-sms nggak penting yang kalau dipikir-pikir lagi cuma sebagai aktivitas mengisi waktu dan membuang-buang uang.

Akhir-akhir ini saya mulai merasa suka. Beberapa orang teman mengatakan kalau akan lebih baik jika saya dan dia meresmikan hubungan kami ke level ‘lebih dari teman’, pendapat itu bahkan saya dengar tidak hanya dari orang yang mengenal kami dari dulu, tapi juga baru saja mengenal kami.

Sebenarnya pendapat bahwa sebaiknya kami pacaran sudah menjadi pendapat yang biasa untuk kami. Biasanya, saya tidak terlalu menanggapi pendapat itu. Biasanya saya cuma menjadikan itu pendapat yang masuk telinga kiri keluar kanan tanpa pernah saya sangkutkan di otak saya.

Tapi akhir-akhir ini, tanpa alasan yang jelas saya mulai kepikiran pendapat-pendapat tersebut. Alasannya sederhana: sejauh ini, cuma dialah yang bisa memberikan saya rasa aman dan nyaman tak terkira. Satu hal yang bahkan tidak bisa diberikan oleh Zhe, sahabat saya yang bergender perempuan.

Saya mulai berpikir kalau

We’re such a great team together

But it’s just impossible

And don’t ask why cause I would never answer

Habis Kontrak

2 Sep

Beberapa hari yang lalu, waktu saya sedang menghabiskan sesorean menjelang maghrib dengan cek-cek harga di mall, saya dikejutkan dengan pertemuan saya dengan seseorang dari masa lalu. Hubungan saya dan dia dulu sangat dekat dan intens. Sering kirim-kiriman sms nggak penting, suka teleponan berjam-jam di tengah malam, dan juga lumayan intens bertemu secara langsung.

Tidak pernah ada yang salah dalam hubungan saya dan dia, tapi karena lain dan satu hal, akhirnya hubungan saya dan dia mulai kehilangan contact. Nggak ada lagi sms-sms nggak penting, nggak ada lagi sambungan telepon berjam-jam, apalagi untuk ketemu langsung.

Dalam pertemuan beberapa hari yang lalu itu, saya dan dia akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sesorean bareng sambil menunggu waktu berbuka. Dalam pertemuan itu, tidak ada perubahan hubungan sama sekali antara saya dan dia. Saya bahkan masih merasakan kenyamanan yang sama ketika berinteraksi dengan dia.

Tapi di balik semua itu, saya merasa ada sesuatu yang tidak terdefinisikan yang membuat saya merasa selalu ingin menjaga sedikit jarak saya dengan dia. Ada sesuatu yang abstrak yang membuat saya merasa beda bahkan ketika saya berusaha sangat keras untuk meyakinkan diri saya bahwa tidak ada sedikit pun yang berubah dari saya atau dia.

Lewat pertemuan itu, saya belajar satu hal, yaitu: segala sesuatu akan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Teori semacam itu juga berlaku untuk hubungan. Seperti hubungan saya dan dia misalnya. Saya yakin bahwa saya sama sekali tidak berubah, masih orang yang sama seperti yang dia kenal sebelumnya, dan begitu pula dengan dia. Tapi yah tetap saya hubungan saya dan dia akan berbeda.

Waktu memang mengubah segala sesuatu, bahkan di luar kesadaran kita. Waktu mampu mengubah segalanya bahkan di saat kita berusaha keras untuk menolak perubahan itu.

Di satu sisi, saya juga mulai benar-benar percaya bahwa segala sesuatu yang ada, yang terjadi, dan yang saya miliki di dunia ini memiliki kontraknya masing-masing. Sebuah kontrak yang sebenarnya sudah saya dan Tuhan sepakati jauh sebelum saya dilahirkan (mungkin bersamaan dengan jadwal pembagian otak). Dan kontrak tersebut, sebagaimana kontrak-kontrak lainnya, memiliki masa waktu tertentu dan akan habis di saat tertentu, bahkan ketika kita merasa masih ada sesuatu yang belum terselesaikan mengenai sesuatu atau seseorang itu.

Ini mungkin akan terdengar sangat mudah, tapi sebenarnya sangat sulit bagi saya untuk menyimpulkan bahwa hubungan saya dan dia sudah habis kontrak.

Tapi yang penting, bukan seberapa lama kontrak itu berjalan, melainkan seberapa banyak kualitas pembelajaran yang telah kita peroleh dalam kontrak itu