Archive | 8:37 pm

Wasit Goblog

14 Aug

Dalam sebuah pembicaraan di coffee shop bersama beberapa orang teman saya, saya terjebak dalam topik pembicaraan yang sama sekali tidak menarik minat saya: sepakbola. Waktu itu, teman saya mengatakan kalau kekalahan tim sepakbola kesayangannya adalah karena wasit yang bertugas mengawasi jalannya pertandingan saat itu adalah wasit goblog.

Kalimat “wasit goblog” menarik perhatian saya, jauh lebih menarik daripada topik sepakbola, meskipun topik obrolan favorite saya tetap jatuh pada gosip, urban life style, dan seks tentunya ;). Jadi begini, tepat sebelum saya bertemu teman saya sore itu, dalam perjalanan saya melihat seorang anak memakai kaus bertuliskan “WASIT GOBLOG”.

Hal pertama yang saya pikirkan ketika membaca tulisan itu adalah: “memangnya Indonesia kekurangan tenaga potensial sampai-sampai orang goblog aja harus dijadikan wasit yah?”.

Dan anyway, terlepas dari wasit itu memang benar-benar goblog atau dia cuma ngeblog, saya jadi berpikir jangan-jangan selama ini kita terbiasa menyalahkan orang lain atas setiap kegagalan yang terjadi dalam hidup kita. Soal wasit goblog ini contohnya. Seberapa goblognya sih wasit itu sampai-sampai bisa membuat satu tim sepakbola kalah? Maksud saya, saya lebih yakin kalau tim sepakbola itu berlatih lebih intens dan bermain lebih baik, sang wasit tidak akan segoblog itu membuat keputusan-keputusan yang bisa menyebabkan terjadinya kekalahan pada tim sepakbola tersebut. Dan kalaupun sang wasit dan keputusannya memang benar-benar goblog, setidaknya sang tim sepak bola akan tetap menang di mata masyarakat.

Dalam kehidupan saya, kebiasaan menyalahkan orang lain atas kegagalan yang terjadi dalam hidup saya banyak contohnya. Menyalahkan dosen yang ngajarnya nggak becus ketika saya mendapat nilai yang kurang memuaskan, hingga menyalahkan partner saya dalam berhubungan asmara, ketika saya dan dia memiliki masalah yang tidak bisa diselesaikan hingga akhirnya memaksa kami untuk mengakhiri hubungan tersebut (oh ya, konteks hubungan yang saya maksud tentu saja tidak selalu yang berstatus mengingat… ah lupain aja deh!).

Saya juga yakin, kasus menyalahkan orang lain atas kegagalan tidak hanya terjadi pada tim sepakbola atau saya juga. Kamu juga pasti pernah mengalaminya, meskipun cuma sesekali. Iya… kamu! Ngelak gampar yah!

Tapi anyway, kasus menyalahkan orang lain yang sudah terjadi di masa-masa yang lalu itu (tsah bahasanya!) nggak penting lagi untuk dibahas. Past is the past, its said and done, jadi nggak mungkin banget untuk memutar balik waktu dan berhenti menyalahkan orang lain atas kegagalan yang pernah terjadi karena ya…, saya memang sudah tanggung menyalahkan orang lain.

Dalam pembicaraan sore itu di coffee shop, saya hanya bisa tersenyum sementara teman-teman saya yang lain masih sibuk membahas soal wasit goblog dan topik kurang menarik lainnya seputaran sepakbola.  Dalam hati saya, saya bertekad untuk berhenti menyalahkan orang lain atas kegagalan yang terjadi dalam hidup saya mulai detik itu.

Hasilnya? Susah. Susah banget malahan. Tapi hal favorite saya ketika sedang merasa susah adalah mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa susah itu hanya masalah pola pikir, sebab tidak ada satu pun hal yang terasa sulit selama saya masih berpikir hal tersebut mudah untuk dilakukan.

Karena seharusnya kegagalan membuat kita introspeksi diri dan belajar akan apa yang telah terjadi dan dilakukan hingga membuat kita gagal bukan malah menyalahkan orang lain yang cuma kebetulan saja terlibat dalam kegagalan tersebut.