Archive | August, 2009

Gossip

29 Aug

819849_gossipKetowel sama statusnya seorang teman di Facebook yang menyatakan kalau godaan terberat selama bulan puasa adalah gosip. Setuju! Setuju banget! Mengingat salah satu ritual wajib di hampir setiap acara hangout saya dengan begitu banyak gang (tsah gang!) yang saya punya adalah bergosip, mulai dari gosip nggak penting seputaran seleb yang lagi booming kayak kasus Marshanda sekarang, sampai gosip seputaran orang-orang yang nyelebnya cuma di dunia saya dan teman-teman saya saja.

“Mau berita bagus, mau berita jelek, atau bahkan cuma berita yang seliweran nggak jelas, gosip itu tetap jadi acara wajib harian kalee!”

Nah yang di atas itu kutipan kalimat seorang teman yang lainnya.

Gosip emang hal paling menyenangkan untuk dilakukan. Mau mood lagi jelek, badan lagi capek, tulang berasa patah-patah, semangat hidup menurun (okay… mulai sounds too much!), gosip bisa bikin semua orang yang saya kenal maksudnya mendadak semangat.

Bergosip ria juga bisa bikin saya dan teman-teman saya lupa waktu. Terutama sama si ibu yang satu ini. Jadi inget nongkrong dahsyat sambil bergosip di Oh Lala Plaza Dago yang sekarang udah nggak ada dari jam 8 malem sampai adzan shubuh.

Nggak bisa ngelak deh kalau gosip adalah pemberi kontribusi terbesar terhadap dosa-dosa kecil saya selain ciuman. Tapi yah mau digimanain lagi ya… habisnya menyenangkan deh. Apalagi kalau gosipnya udah sampai di tahap kombinasi sama nyela, dijamin bisa bikin mood yang lagi ancur kembali menyemangat dan bisa bikin perut sakit gara-gara ketawa-ketawa.

Ya Allah… mudah-mudahan pengakuan dosa sekarang ini bisa mengurangi dosa saya yang numpuk itu.

Okay, back to the topic!

Bergosip emang menyenangkan banget buat pelaku tapi nggak buat korban, tapi buat saya gosip juga tetap ada etikanya juga dong ah. Jangan sampai gosip itu malah ntarnya jadi ‘doa’ yang nggak-nggak untuk si korban gosip.

Kayak dulu tuh, waktu si Zhe baru saja pulang dari perantauannya di luar negeri dan kita sama-sama kurang kerjaan, saya akhirnya menghabiskan hampir setiap hari barengan dia. Mulai dari nyalon sampai ngopi-ngopi cantik (secara kita suka kopi dan kita cantik). Nah entah kabar burung darimana, tiba-tiba saja mulai tersebar gosip kalau saya dengan Zhe lesbi. Buoookk… padahal waktu itu baik saya atau Zhe sama-sama udah punya pacar. Reaksi pertama denger gosip itu siy rada marah, tapi kalau dipikir-pikir lagi kemarahan yang nggak berguna juga mengingat gosip justru bakalan semakin panas kalau sang korban marah, akhirnya aksi yang paling pas yang saya dan Zhe lakukan adalah diam. Ternyata apa kata mereka soal diam itu emas ada benarnya juga.

Tapi buat saya siy masalah gosip soal orientasi seksual yang menyimpang seperti yang terjadi pada saya masih nggak terlalu parah dibandingin sama gosip yang menimpa seorang teman saya, si neng geulis yang profesinya model dengan pergaulan dunia hitam kelas kakap.

Jadi ceritanya waktu itu, secara nggak sengaja saya bertemu teman saya yang lainnya. Bukannya tanya kabar atau basa basi busuk lainnya, hal pertama yang dia bilang adalah kabar kalau teman saya, si neng geulis itu meninggal. Saya shock dong. Langsung tanya banyak, mulai dari kapan sampai kenapa.

Ternyata menurut kabar burung yang beredar (eh tanya dong, kenapa yah judulnya kabar burung?) si neng geulis yang satu itu meninggal sebulan yang lalu gara-gara over dosis. Masuk akal juga siy mengingat pergaulan si neng geulis satu itu yang lumayan menggoda eh… parah maksudnya.

Gosip yang masuk akal ditambah ekspresi lebay teman saya yang sangat meyakinkan akhirnya sukses bikin saya percaya gosip murahan itu.

Nggak lama kemudian, sekitaran dua atau tiga hari setelah gosip tersebut beredar, saya dikejutkan oleh fakta bahwa si neng geulis ini masih hidup dan sehat-sehat saja. Coba diulang: si neng geulis yang katanya meninggal gara-gara over dosis ini masih hidup dan sehat-sehat saja. Malahan saya ketemu dia lagi sibuk belanja di sebuah mall yang lagi hip di Bandung.

Saya siy nggak berani menyampaikan gosip itu ke sang korban langsung, tapi kabarnya waktu ada seorang teman yang lain menyampaikan gosip itu, si neng geulis langsung marah banget dan ngerasa sedih. Ya iyahlah yah, siapa juga yang nggak ngerasa marah atau sedih kalau digosipin mampus?

Moral of the storynya? Lanjut gosip lagi yuuuukkk!!!

Whoever gossips to you will gossip about you.  ~Spanish Proverb

P.s. gambar diambil dari http://sxc.hu

Wasit Goblog

14 Aug

Dalam sebuah pembicaraan di coffee shop bersama beberapa orang teman saya, saya terjebak dalam topik pembicaraan yang sama sekali tidak menarik minat saya: sepakbola. Waktu itu, teman saya mengatakan kalau kekalahan tim sepakbola kesayangannya adalah karena wasit yang bertugas mengawasi jalannya pertandingan saat itu adalah wasit goblog.

Kalimat “wasit goblog” menarik perhatian saya, jauh lebih menarik daripada topik sepakbola, meskipun topik obrolan favorite saya tetap jatuh pada gosip, urban life style, dan seks tentunya ;). Jadi begini, tepat sebelum saya bertemu teman saya sore itu, dalam perjalanan saya melihat seorang anak memakai kaus bertuliskan “WASIT GOBLOG”.

Hal pertama yang saya pikirkan ketika membaca tulisan itu adalah: “memangnya Indonesia kekurangan tenaga potensial sampai-sampai orang goblog aja harus dijadikan wasit yah?”.

Dan anyway, terlepas dari wasit itu memang benar-benar goblog atau dia cuma ngeblog, saya jadi berpikir jangan-jangan selama ini kita terbiasa menyalahkan orang lain atas setiap kegagalan yang terjadi dalam hidup kita. Soal wasit goblog ini contohnya. Seberapa goblognya sih wasit itu sampai-sampai bisa membuat satu tim sepakbola kalah? Maksud saya, saya lebih yakin kalau tim sepakbola itu berlatih lebih intens dan bermain lebih baik, sang wasit tidak akan segoblog itu membuat keputusan-keputusan yang bisa menyebabkan terjadinya kekalahan pada tim sepakbola tersebut. Dan kalaupun sang wasit dan keputusannya memang benar-benar goblog, setidaknya sang tim sepak bola akan tetap menang di mata masyarakat.

Dalam kehidupan saya, kebiasaan menyalahkan orang lain atas kegagalan yang terjadi dalam hidup saya banyak contohnya. Menyalahkan dosen yang ngajarnya nggak becus ketika saya mendapat nilai yang kurang memuaskan, hingga menyalahkan partner saya dalam berhubungan asmara, ketika saya dan dia memiliki masalah yang tidak bisa diselesaikan hingga akhirnya memaksa kami untuk mengakhiri hubungan tersebut (oh ya, konteks hubungan yang saya maksud tentu saja tidak selalu yang berstatus mengingat… ah lupain aja deh!).

Saya juga yakin, kasus menyalahkan orang lain atas kegagalan tidak hanya terjadi pada tim sepakbola atau saya juga. Kamu juga pasti pernah mengalaminya, meskipun cuma sesekali. Iya… kamu! Ngelak gampar yah!

Tapi anyway, kasus menyalahkan orang lain yang sudah terjadi di masa-masa yang lalu itu (tsah bahasanya!) nggak penting lagi untuk dibahas. Past is the past, its said and done, jadi nggak mungkin banget untuk memutar balik waktu dan berhenti menyalahkan orang lain atas kegagalan yang pernah terjadi karena ya…, saya memang sudah tanggung menyalahkan orang lain.

Dalam pembicaraan sore itu di coffee shop, saya hanya bisa tersenyum sementara teman-teman saya yang lain masih sibuk membahas soal wasit goblog dan topik kurang menarik lainnya seputaran sepakbola.  Dalam hati saya, saya bertekad untuk berhenti menyalahkan orang lain atas kegagalan yang terjadi dalam hidup saya mulai detik itu.

Hasilnya? Susah. Susah banget malahan. Tapi hal favorite saya ketika sedang merasa susah adalah mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa susah itu hanya masalah pola pikir, sebab tidak ada satu pun hal yang terasa sulit selama saya masih berpikir hal tersebut mudah untuk dilakukan.

Karena seharusnya kegagalan membuat kita introspeksi diri dan belajar akan apa yang telah terjadi dan dilakukan hingga membuat kita gagal bukan malah menyalahkan orang lain yang cuma kebetulan saja terlibat dalam kegagalan tersebut.

Mistaken

1 Aug

Belakangan ini banyak sekali yang terjadi dalam hidup saya sehingga pola pikir saya terhadap segala sesuatu banyak berubah. Salah satu perubahan yang terjadi dalam pola pikir adalah mengenai kesalahan.

Mendadak perkara dimaafkan dan memaafkan dalam sebuah kesalahan tidak lagi penting bagi saya. The thing is apakah ketika seseorang memaafkan kesalahan yang telah saya buat, dia benar-benar memaafkan dan tidak akan pernah mengungkit-ungkit kesalahan itu sendiri. Atau dalam posisi terbalik, ketika saya mengucapkan kata “dimaafin” pada seseorang yang telah berbuat satu kesalahan pada saya, apa saya benar-benar bisa memaafkan dan tidak pernah mengungkit-ungkit kesalahan itu dalam keadaan apa pun.

Buat saya, perkara dimaafkan dan memaafkan akan berlangsung secara alami begitu saja seiring dengan berjalannya waktu. Kecuali kesalahan itu terlalu besar dan menyakitkan atau kecuali orang yang menjadi objek kesalahan terlalu nggak ada kerjaan, saya percaya setiap orang cenderung lupa akan kesalahan apa yang telah dilakukan orang lain kepadanya.

Buat saya, perkara dimaafkan dan memaafkan tidak lagi menjadi hal yang penting sebab tidak pernah ada jaminan apakah seseorang telah benar-benar belajar dari kesalahannya setelah dimaafkan.

Sebab, seperti apa yang selalu Zhe tegaskan…

Hal yang paling penting dalam kesalahan adalah belajar dari kesalahan itu sendiri