Archive | 3:28 am

Suatu Sore Di Starbucks

13 Jul

Suatu sore di Starbucks. Berada di tempat itu selalu mengundang senyum saya. Suatu kejadian yang takkan pernah bisa terhapus dari ruang memori saya telah terjadi di tempat itu, lalu peristiwa itu terekam dalam dokumentasi hidup saya.

Sore hari itu di Starbucks, hujan turun, membuat saya terpaksa berteduh di tempat itu… sendirian. Secara tidak sengaja, saya menemukan teman lama saya di situ. Dia sendiri. Saya sendiri. Kami pun lalu duduk di meja yang sama dan mulai larut dalam segelas kopi dan obrolan nggak penting yang menekan tombol flash back dalam otak saya.

Sore itu di Starbucks, saya sangat ingin menghentikan putaran waktu. Reuni dadakan ini terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja, membuat saya sangat ingin berkompromi dengan waktu. Sayangnya, waktu tidak pernah bisa diajak kompromi. Saya harus pergi, mengejar sebuah pertemuan urusan kerjaan yang tidak bisa diundur-undur, bahkan untuk suatu event berharga seperti reuni dadakan ini.

Saya lalu berpamitan dan pada saat itulah teman saya protes. Dia berkata bahwa saya selalu terlihat terburu-buru dan tidak menikmati waktu, kalimat terakhirnya adalah:

“Everytime I see you, you’ re always in a hurry.”

Saya sebenarnya merasa keberatan dengan pandangannya mengenai saya yang selalu terlihat terburu-buru dan tidak menikmati waktu, karena sebenarnya saya bukan tipe orang yang seperti itu, hanya saja kondisi saya ketika bertemu dengannya selalu saja dalam keadaan sedang terburu-buru mengejar sesuatu. Tapi bukannya saya membantah kalimatnya, saya hanya berkata:

“Kita ini lagi di jalan tol Bandung menuju Jakarta. Mobil yang dipae sama, kemampuan menyetir sama, dan kecepatan mengendarai sama. Logikanya, kita sampai di Jakarta dalam waktu yang sama, tapi di tengah perjalanan, lo tergoda untuk mampir di tempat peristirahatan dan beli minum, sementara gue memutuskan untuk tetap jalan, padahal gue juga haus banget. In the end, lo sampai lima menit lebih lama dari gue, tapi waktu gue sampai di jakarta dan mendapatkan 1 milyar, lo cuma mendapatkan setengah dari apa yang gue dapatkan. Intinya adalah, gue mungkin trkesan terlalu serius, terburu-buru, dan tidak menikmati hidup. Tapi itu semua gue lakukan karena gue ngga mau buang-buang waktu gue dan membiarkan keterlambatan gue mengurangi optimalisasi pencapaian tujuan hidup gue. Gue mungkin telah melewatkan banyak hal dalam hidup ini, begitu banyak kesenangan yang gue lewatkan begitu saja, tapi gue tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu gue di depan.”

Sore itu di Starbucks, saya nggak pernah tahu apa yang membuat saya mengatakan hal seperti itu. Saya nggak tahu dan nggak akan pernah tahu darimana kalimat itu muncul ke permukaan. Satu-satunya yang saya tahu adalah ekspresi wajahnya menyiratkan sesuatu.

Menit selanjutnya adalah dia memeluk saya, lalu mencium pipi kiri dan kanan saya, dan membisikkan suatu kalimat yang sebaiknya hanya diketahui saya, dia, dan Tuhan saja.

Pesan terakhirnya adalah: “Sampai ketemu di Jakarta, ya!”

Saya mengangguk dan tersenyum. Mengetahui bahwa pesan terakhirnya itu bukanlah suatu janji pertemuan di Jakarta, melainkan suatu janji pertemuan di titik akhir pencapaian tujuan. Pesan terakhirnya adalah kalimat berharga (bagi saya) yang membuat suatu sore di Starbucks menjadi kejadian yang lebih berarti dan selalu sukses mengundang senyum saya setiap kali saya berada di Starbucks.

Sore itu di Starbucks mungkin telah berakhir dan berlalu begitu cepat, tapi saya tahu, suatu saat nanti saya akan kembali bertemu dengannya.

Jadi…, sampai ketemu di Jakarta, ya!

Advertisements