Archive | July, 2009

Area Bebas Rokok

21 Jul

Saya pernah menyatakan diri sebagai seorang perokok, meskipun saya nggak pernah punya jumlah tetap rokok yang saya konsumsi per harinya. Dalam satu hari saya bisa saja menghabiskan lebih dari satu bungkus, tapi saya bisa saja nggak merokok dalam satu minggu atau lebih.

Biasanya, intensitas merokok saya bertambah ketika tekanan dalam hidup saya sedang memuncak. Saya menjadikan rokok sebagai pelarian dari masalah saya. Memang nggak bantu siy, karena toh merokok atau tidak, masalah saya yah tetap saja menghadang sampai akhirnya saya benar-benar menghadapi masalah saya itu. Tapi saya suka sensasi ketenangan yang dihasilkan dari setiap hisapan rokok saya. Rokok dan kandungan di dalamnya telah berhasil memberikan fokus yang lebih dan menekan rasa lelah, sehingga saya bisa lebih tenang dan berpikiran jernih dalam menghadapi segalanya.

Beberapa bulan yang lalu, saya memutuskan untuk berhenti merokok. Ini sebenarnya bukan pertama kalinya saya mencoba untuk berhenti merokok, tapi kali ini saya beneran niat untuk berhenti merokok dan beneran bertekad untuk tidak akan mengakhiri usaha lepasnya saya dari status perokok dengan kegagalan seperti yang sudah-sudah.

Waktu saya memutuskan untuk berhenti merokok, kebetulan situasi juga lagi mendukung banget. Pekerjaan saya lagi menumpuk sehingga saya hanya punya sedikit waktu untuk hang out bersama teman-teman saya yang sebagian besar adalah perokok. Selain itu, Zhe dan beberapa teman perokok saya juga mulai berusaha untuk berhenti merokok, sehingga kami sama-sama berjuang.

Ternyata berhenti merokok nggak sesulit yang saya bayangkan. Selama ada niat untuk berhenti, prosesnya akan berjalan lancar. Memang siy nggak segampang membalikkan telapak tangan, tapi at least saya tidak merasakan kesulitan yang teramat sangat seperti yang saya alami pada percobaan berhenti merokok saya yang terdahulu. Ternyata, kesulitan terbesar dalam berhenti merokok bukanlah pada rokok atau prosesnya itu sendiri, tapi lebih karena niat.

Sekarang, sudah ada sekitar enam bulan lebih saya berhasil berhenti merokok secara total. So far siy saya merasa lancar-lancar saja sampai beberapa hari yang lalu…

Keinginan untuk kembali merokok itu datang lagi. Kali ini serangan keinginan itu terasa sangat kuat dan lumayan menggoyahkan iman (tsah, bahasanya!).

Tapi seperti yang sudah saya niatkan sebelumnya, saya tidak akan pernah menyerah. Kali ini saya mencoba lebih keras lagi melawan keinginan untuk merokok. Kali ini saya nggak akan menyerah dengan mudahnya.

I’ve made my promise and I’ll do my best to stick on it.

Incomplete

17 Jul
I have been running so sweaty my whole life
Urgent for a finish line
And I have been missing the rapture this whole time of being forever incomplete

I have been running so sweaty my whole life

Urgent for a finish line

And I have been missing the rapture this whole time of being forever incomplete

Incomplete by Alanis Morissette
Saya hanya ingin menjadi utuh, bukan parsial
Lalu apakah saya salah jika saya hanya meminta sedikit saja pengertian, sedikit penghargaan, sedikit rasa hormat, sedikit kepercayaan dan sedikit perhatian dari kamu untuk saya?
Saya sudah lelah lari dari kenyataan, lari begitu cepat hingga tak ada lagi yang mampu terlihat oleh mata saya, lari sangat cepat hingga seringnya saya terjatuh berkali-kali
Lalu apakah lantas saya menjadi salah ketika saya berhenti berlari dan mulai menghadapinya, tapi saya lalu menyadari bahwa kapasitas saya sebagai seorang manusia hanya mampu menyelesaikan semuanya satu per satu dan tidak sekaligus?
Saya tidak mau dan tidak akan pernah menuntut banyak hal dari kamu
Saya hanya ingin menjadi utuh dan terselesaikan
Dan yang saya butuhkan untuk menjadi utuh dan terselesaikan hanyalah
RESPECT

Etika Nggak Semahal Anjing

16 Jul

Kemarin, waktu acara nongkrong dahsyat saya sama Didit di J.Co PVJ, saya melihat seorang cewek abg yang gayanya selangit bawa-bawa anjing yang meskipun saya nggak pernah punya pengetahuan tentang nama-nama anjing, saya yakin banget harga anjing itu pasti mahal banget.

Tepat di depan Sushi Groove dan nggak jauh dari pandangan mata saya (halah), si anjing berhenti dan ternyata dia (maaf) buang air besar. Yup, buang air besar di depan sushi groove. Sungguh anjing yang nggak punya etika. Lah, saya aja kalau sendawa di depan orang yang lagi makan bisa digantung sama mama saya, ini anjing enak banget buang air besar di depan tempat makan. Eh tapi dia ‘kan anjing yah bukan manusia?

Nah, yang bikin saya merasa terganggu justru bukan etika si anjing karena yah namanya juga anjing jadi wajar kalau dia nggak beretika, tapi etika si empunya anjing. Yes, I’m talking about this abg-dengan-gaya-selangitnya-itu.

Saya tahu kok kalau di PVJ emang mengizinkan binatang peliharaan masuk ke wilayah mall-nya, tapi harusnya sang pembawa binatang peliharaan ini juga sadar dong dengan konsekuensinya. Nah, menurut saya, salah satu konsekuensi membawa binatang peliharaan jalan-jalan adalah dengan repot juga membawa litter box in case sewaktu-waktu dia buang air besar jadi bisa langsung dievakuasi dan nggak memakan korban.

Lah ini, sang empunya anjing mahal, si abg dengan gaya selangit itu, maen jalan aja gitu. Berasa nggak ada kejadian apa-apa. Dan akhirnya tergeletak gitu ajalah si barang bukti di depan Sushi Groove. Iyah, biar saya ulangi saudara-saudara: ada (maaf) tai di depan TEMPAT MAKAN di sebuah mall sekelas PVJ.

WTF??!

Dari situ saya jadi merasa ironis sekali. Masa seseorang yang mampu membeli anjing semahal itu nggak mampu untuk menyekolahkan dirinya supaya punya pemikiran dan etika yang nggak kalah mahalnya dibandingkan harga anjingnya itu.

And the thing is: gimana bisa sang empunya anjing yang masih abg dan gayanya selangit ini mendidik anjingnya dengan baik untuk setidaknya memiliki etika kehewanan, sementara dia sendiri cacat etika.

Suatu Sore Di Starbucks

13 Jul

Suatu sore di Starbucks. Berada di tempat itu selalu mengundang senyum saya. Suatu kejadian yang takkan pernah bisa terhapus dari ruang memori saya telah terjadi di tempat itu, lalu peristiwa itu terekam dalam dokumentasi hidup saya.

Sore hari itu di Starbucks, hujan turun, membuat saya terpaksa berteduh di tempat itu… sendirian. Secara tidak sengaja, saya menemukan teman lama saya di situ. Dia sendiri. Saya sendiri. Kami pun lalu duduk di meja yang sama dan mulai larut dalam segelas kopi dan obrolan nggak penting yang menekan tombol flash back dalam otak saya.

Sore itu di Starbucks, saya sangat ingin menghentikan putaran waktu. Reuni dadakan ini terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja, membuat saya sangat ingin berkompromi dengan waktu. Sayangnya, waktu tidak pernah bisa diajak kompromi. Saya harus pergi, mengejar sebuah pertemuan urusan kerjaan yang tidak bisa diundur-undur, bahkan untuk suatu event berharga seperti reuni dadakan ini.

Saya lalu berpamitan dan pada saat itulah teman saya protes. Dia berkata bahwa saya selalu terlihat terburu-buru dan tidak menikmati waktu, kalimat terakhirnya adalah:

“Everytime I see you, you’ re always in a hurry.”

Saya sebenarnya merasa keberatan dengan pandangannya mengenai saya yang selalu terlihat terburu-buru dan tidak menikmati waktu, karena sebenarnya saya bukan tipe orang yang seperti itu, hanya saja kondisi saya ketika bertemu dengannya selalu saja dalam keadaan sedang terburu-buru mengejar sesuatu. Tapi bukannya saya membantah kalimatnya, saya hanya berkata:

“Kita ini lagi di jalan tol Bandung menuju Jakarta. Mobil yang dipae sama, kemampuan menyetir sama, dan kecepatan mengendarai sama. Logikanya, kita sampai di Jakarta dalam waktu yang sama, tapi di tengah perjalanan, lo tergoda untuk mampir di tempat peristirahatan dan beli minum, sementara gue memutuskan untuk tetap jalan, padahal gue juga haus banget. In the end, lo sampai lima menit lebih lama dari gue, tapi waktu gue sampai di jakarta dan mendapatkan 1 milyar, lo cuma mendapatkan setengah dari apa yang gue dapatkan. Intinya adalah, gue mungkin trkesan terlalu serius, terburu-buru, dan tidak menikmati hidup. Tapi itu semua gue lakukan karena gue ngga mau buang-buang waktu gue dan membiarkan keterlambatan gue mengurangi optimalisasi pencapaian tujuan hidup gue. Gue mungkin telah melewatkan banyak hal dalam hidup ini, begitu banyak kesenangan yang gue lewatkan begitu saja, tapi gue tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu gue di depan.”

Sore itu di Starbucks, saya nggak pernah tahu apa yang membuat saya mengatakan hal seperti itu. Saya nggak tahu dan nggak akan pernah tahu darimana kalimat itu muncul ke permukaan. Satu-satunya yang saya tahu adalah ekspresi wajahnya menyiratkan sesuatu.

Menit selanjutnya adalah dia memeluk saya, lalu mencium pipi kiri dan kanan saya, dan membisikkan suatu kalimat yang sebaiknya hanya diketahui saya, dia, dan Tuhan saja.

Pesan terakhirnya adalah: “Sampai ketemu di Jakarta, ya!”

Saya mengangguk dan tersenyum. Mengetahui bahwa pesan terakhirnya itu bukanlah suatu janji pertemuan di Jakarta, melainkan suatu janji pertemuan di titik akhir pencapaian tujuan. Pesan terakhirnya adalah kalimat berharga (bagi saya) yang membuat suatu sore di Starbucks menjadi kejadian yang lebih berarti dan selalu sukses mengundang senyum saya setiap kali saya berada di Starbucks.

Sore itu di Starbucks mungkin telah berakhir dan berlalu begitu cepat, tapi saya tahu, suatu saat nanti saya akan kembali bertemu dengannya.

Jadi…, sampai ketemu di Jakarta, ya!

What Life Is

5 Jul

Hari ini ada suatu kejadian yang membuat pikiran saya berflash back ria. Ingat dengan kejadian waktu keluarga saya mengalami masalah keuangan yang lumayan akut.

Sebenarnya berada di keluarga yang ayahnya seorang pengusaha membuat saya terbiasa untuk menjalani kehidupan pada kelas sosial mana pun. Pernah menjadi keluarga yang hidup dalam kemewahan, tapi pernah juga kehilangan semua fasilitas materi yang dimiliki karena ayah saya menjadi korban penipuan atau mengalami kebangkrutan. Naik turunnya keadaan ekonomi keluarga saya ini, terjadi selama beberapa kali dalam kehidupan saya, dan terus terang… ini bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, terkadang malah terasa sangat sulir – begitu sulit hingga saya suka merasa telah melewati batas kemampuan saya.

Dulu siy, waktu masih kecil dan belum ngerti apa-apa, yang bisa saya lakukan cuma mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Menyalahkan siapa pun yang menurut saya pantas disalahkan atas nasib kurang baik saya. Tapi seiring dengan pertambahan umur (dan kedewasaan), serta pengalaman yang membuat saya terbiasa dengan keadaan yang naik turun, pola pikir saya mulai berubah.

Pada akhirnya saya mulai meninggalkan gaya hidup hura-hura saya (meskipun sampai sekarang masih belum bisa meninggalkan kebiasaan boros saya)

Pada akhirnya saya mulai berhenti mengeluh, mempertanyakan, apalagi menyalahkan orang lain

Pada akhirnya saya memulai berusaha lebih dan bekerja lebih keras untuk membuat hidup saya lebih bahagia secara finansial

Dan pada akhirnya, yang saya mau cuma satu: semoga adik saya dan anak saya (di masa yang akan datang nanti) tidak akan pernah merasakan kesulitan finansial seperti yang pernah saya rasakan

But after all, I’ve been blessing and so thankful for this 🙂