Archive | May, 2009

Gardu Lantu III on July 2009

22 May

Guys…, Girls…, and Gays…,

Coba kalian intip dompet kalian dan lihat berapa nominal uang yang ada di dalamnya. Ah gue yakin banget kalo sebagian besar dari kalian menemukan nominal uang yang lebih dari 20ribu di dalamnya… kalo pun uang dalam dompet kalian tinggal recehan, gue yakin banget kalian masih punya atm yang bisa dipake dengan nominal uang yang (tentunya) lebih dari 20ribu.

Gue juga yakin banget kalo ngga sedikit dari kalian yang mengganggap uang 20ribu itu adalah uang dengan nominal yang kecil. 20 ribu siy Buat beli bakso terus tumpah aja abis. 20 ribu doang mah Buat beli Starbucks aja kurang.

Tapi pernah ngga siy kalian berpikir (sekali aja dalam hidup kalian) kalo uang 20ribu yang kalian anggap kecil itu bisa berarti banyak untuk mereka di luaran sana yang kurang beruntung seperti… adik-adik kita di panti asuhan misalnya.

Guys, Girls, and Gays… pernah ngga?

Well…, lepas dari jawaban apa yang kalian ucapkan… kali ini gue cuma mau mengajak kalian untuk menyisihkan sedikit rezekinya, berbagi sedikit saja dari harta kalian kepada mereka, adik-adik panti asuhan kita yang kurang beruntung.

Caranya gampang banget, cukup dengan mendonasikan uang sebesar minimal 20ribu aja, kalian udah bisa traktir makan satu anak panti asuhan. Acaranya sendiri sebenernya sudah diadakan untuk ketiga kalinya (lihat acara gardu lantu I dan II). Acara bakalan digelar bulan Juli 2009 di Plaza IBCC, Jalan Ahmad Yani – BAndung. Nantinya semua donasi yang berhasil terkumpul, akan digunakan untuk keseluruhan acara GArdu lantu III ini.

Untuk info lebih lanjut bisa hubungi saya di: 022 70330527 atau lewat email di senny.oktaviani@yahoo.com

Untuk donasi, kalian bisa transfer ke:

1. BCA a.n Herry Constadi no A/C : 233-1591-451
2. BRI a.n Marla Ruby Quintine no A/C : 0384-0-1000-542507
3. Mandiri a.n Amalia Mustikasari no A/C : 131-000-4619872

4. BNI a.n KArina A. Shellyani no A/C: 015-1481-599

Oh ya, bagi yang sudah transfer, harap confirm by sms ke nomer saya dengan format: nama[spasi]rekening yg ditransfer{spasi]nominal

P.S. Mau curcol sedikit ah… seneng banget besok dapet undangan ke salah satu Grand Launching tempat wedding baru di daerah Dago Pakar… 😉 (REport ASAP)

Advertisements

Complicated

21 May

Gue lagi merasa kompleks.

Ternyata merasa senang ngga selamanya menyenangkan karena sekarang ini perasaan senang justru membawa gue ke dalam perasaan jahat.

Gue senang. Senang karena pada akhirnya, setelah 2 tahun melewati masa patah hati yang lumayan akut, setelah 2 tahun jatuh bangun dengan rasa sakit karenanya, setelah 2 tahun melewati begitu banyak pria potensial yang mendekati, setelah 2 tahun menyia-nyiakan begitu banyak hal yang berharga…

Akhirnya gue bisa melupakannya. Benar-benar move on tanpanya. benar-benar merasa hidup tanpa ada sedetik pun dalam hidup gue memikirkannya.

Dan akhirnya… gue berhasil menolaknya. Menolaknya untuk kembali ke dalam kehidupan gue. Menolaknya untuk mengganti statusnya menjadi lebih dari teman. Menolaknya untuk mengganti posisinya dari masa lalu menjadi masa kini (atau bahkan masa depan).

Senang. Senang banget. Sangat Senang. Senang sekali.

Tapi di sisi lain, gue juga merasa jahat.

Merasa jahat karena gue malah merasa senang sementara sang pria itu, sang mantan sepanjang masa terlihat sedih dengan penolakan gue.

Merasa jahat karena gue telah senang di atas penderitaan orang lain (okay…, it’s sounds too much).

Ah perasaan yang aneh… kompleks. Complicated.

Perasaan yang akhirnya melemparkan gue pada wilayah absurditas.

Me And My Friends

21 May

Setelah kemarin gue melewati masa kritis yang membuat gue terisolasi karena mood gue lagi norak, lagi kampungan buat diajak bersosialisasi, belakangan ini justru jadwal gue penuh dengan pertemuan dengan teman-teman.

Teman-teman yang selalu gue sebut dengan AMAZING FRIENDS.Disebut amazing karena so far… merekalah yang selalu ada buat gue. Ada waktu gue lagi banyak duit maupun waktu gue lagi miskin banget. Ada waktu gue lagi seneng banget maupun waktu gue sedih banget. Ada dalam segala masa, mood, situasi, dan kondisi.

Ngomongin soal temen… Jangan pernah suruh gue ngitung berapa banyak temen yang gue punya deh! Susah! Banyak banget. Segmentasinya juga beda-beda, mulai dari temen kuliah; temen clubbing; temen nongkrong dahsyat; temen ngopi-ngopi; temen shopping; temen kerja, temen SD; temen SMP; temen SMA; temen waktu di radio dulu; temen blogger; temen penulis, temen cewek, temen cowok, temen gay, temen… arrgghhh…, banyak banget!! Temen tapi mesra juga ada malahan 😉

Oh ya, dari setiap segmen temen itu biasanya gue punya minimal satu temen yang paling deket. Temen yang selalu gue ajak curhat setiap kali gue ada masalah, temen yang selalu gue inget setiap kali gue mendapat kebahagiaan untuk dibagi. Temen yang menghabiskan hampir sebagian besar waktu gue untuk barengan, baik secara langsung maupun melalui media.

Soal pola pertemanan…, ini dia hal yang paling menarik buat gue karena… ternyata mereka semua, AMAZING FRIENDS gue ini sebagian besar tidak berada pada satu siklus pertemanan yang sama dan bahkan kalo mereka dipersatukan bakalan ngga cocok satu sama lain karena… yah itu dia, karena mereka berada di siklus pertemanan yang berbeda.

Dari situ gue baru sadar kalo ternyata gue ini adalah sebuah irisan. Gabungan antara berbagai jenis lingkungan pergaulan dengan pola kehidupan dan pertemanan yang berbeda-beda. Irisan dari berbagai pola.

Oh ya, kalo ngomongin soal temen gue, selalu ada berbagai perasaan yang muncul, mulai dari:

  1. Seneng karena gue dikelilingi oleh orang-orang yang (lagi-lagi) amazing, menyenangkan, dan fun to be with banget.
  2. bersyukur untuk menyadari di luaran sana banyak banget orang yang mencintai gue bahkan ketika seseorang menyia-nyiakan gue begitu aja dan membuat gue patah hati, bahkan ketika gue melangkah ke arah yang salah, mereka masih ada… memainkan peran yang sama tanpa pernah mengungkit-ungkit kesalahan gue.

Maka dari itu…

Kali ini gue cuma peengen berterima kasih sama kalian (girls, guys, and gays). Terima kasih untuk selalu menjadi teman gue, mesti terkadang gue yang cuma manusia biasa ini memperlakukan kalian dengan salah dan tidak bertingkah layaknya teman yang baik.

Dan semoga… pertemanan ini akan selalu ada untuk selamanya.

Love you girls, guys, and gays 😉

Perpisahan

19 May

Kemarin gue melihatnya dari kejauhan

Melihat dia… sosok yang selama tiga tahun berturut-turut menempuh pendidikan di tempat yang sama, sosok yang malah berada pada ruang kelas yang sama di tahun terakhir pendidikan gue dan dia

Lalu seketika pikiran gue kembali ke masa itu

Masa ketika perpisahan terjadi

Lalu pikiran gue mulai mengurutkan satu per satu kejadian pada masa itu. Mulai dari gue yang pagi itu berangkat diantar papa, perasaan bersalah karena satu orang sahabat dan dua orang teman tidak menghadiri acara kelulusan karena dia memang tidak lulus, mengobrol dengan beberapa orang teman tentang hal yang sekarang ngga penting tapi sangat penting di masanya, Foto-foto, hingga sampailah pada bagian yang paling menyedihkan…

Akhir dari pesta perpisahan itu sendiri, dimana band pengisi mulai menyanyikan lagu Graduation-nya Vitamin C dan kami semua mulai berpelukan. Susah untuk menahan tangis pada moment seperti itu.

Dan ingatlah gue pada moment itu…

Moment ketika dia, sosok yang familiar tapi asing itu memeluk gue, lalu dia membisikkan gue satu kalimat, kalimat yang nggak akan pernah gue lupakan, kalimat yang seketika mengubah cara pikir gue tentang diri gue sendiri-mengubah ke arah yang positif tentunya

Dan lalu…

Gue merasa sangat ingin berlari mengejarnya yang telah semakin jauh dari penglihatan

Mengejarnya, lalu memeluknya, lalu mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya

Terima kasih untuk kalimat yang telah diucapkannya hari itu

Terima kasih untuk moment satu kali seumur hidup itu

Terima kasih untuk moment yang tidak akan pernah bisa terulang lagi, meski gue membayar mahal untuk itu

Terima kasih untuk segalanya

Dan bahkan… terima kasih saja masih terasa belum cukup

And there were times I refuse to grow up

Me And My New Love

16 May

Ngga…ngga…kali ini gue ngga akan ngomongin tentang pria-pria dalam kehidupan gue, meskipun posting kali ini gue bakalan ngebahas tentang cinta.

ini cinta dalam bentuk lain. CInta yang telah memberikan banyak perubahan buat gue. Cinta yang mengubah gue yang seorang HEADLINE READER menjadi seorang yang membaca isi koran dari awal sampai akhir dengan tingkat konsentrasi melebihi Joe Sandy di panggung (lebaaayyy). Cinta yang membuat gue menjadikan Metro TV dan TV One sebagai station TV favorite.

Dan cinta baru gue adalah…

POLITIK

Iyah, politik. P-O-L-I-T-I-K.

P.S. Kalo di Facebook, bakalan ada tulisan kayak gini nih: Senny Oktaviani likes this

Start From NOW on!

14 May

Dari dulu, satu-satunya impian gue yang ngga pernah mati adalah tentang MENJADI SESEORANG

Seseorang yang berarti bagi banyak orang

Seseorang yang bisa memberikan inspirasi banyak orang

Seseorang yang bukan hanya dikenal, tapi juga mengenal banyak orang tanpa harus membeda-bedakan mereka

Seseorang yang berharga bagi yang lainnya

Seseorang yang berarti “seseorang”

Dan dari dulu gue selalu sadar bahwa untuk menjadi “seseorang” tidaklah mudah

Maka gue melakukan banyak hal

Bersosialisasi dengan begitu banyak orang dari latar belakang yang berbeda-beda supaya gue bisa mengambil dan melihat begitu banyak ilmu kehidupan dari berbagai sudut

Bekerja lebih keras dari seharusnya supaya gue bisa lebih berprestasi dalam bidang yang memang gue sukai

Membaca dan mendengarkan lebih banyak daripada menulis dan berbicara supaya gue bisa mengerti lebih dalam

Tapi ternyata perjalanan gue untuk menjadi “seseorang” ngga selamanya lancar

Sempat terbentur dengan masalah insecure terhadap diri sendiri (masalah yang sampai saat ini sedang gue perangi)

Sempat salah melangkah, salah bergaul, sehingga lebih banyak waktu non produktifnya dibandingkan waktu produktif

Sempat mengambil langkah-langkah yang salah, yang lalu menuntut gue untuk memulai semuanya dari awal lagi

Sempat terjebak dengan ketidakkonsistenan pada diri sendiri

Dan masih banyak hambatan lainnya yang menghalangi proses gue menjadi “seseorang”

Dan ada masanya dimana gue merasa ingin memutarbalikan waktu agar gue bisa menghilangkan kesalahan masa lalu gue

Tapi lalu gue berpikir bahwa pemikiran seperti itu adalah sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan karena…

Waktu tidak pernah mundur, selalu konsisten untuk maju dengan kecepatan yang sama sehingga berharap waktu kembali adalah sebuah kemustahilan

Kalau gue ngga pernah berbuat kesalahan, maka gue ngga pernah tahu apakah yang gue lakukan adalah hal yang benar atau tidak

Kalau gue ngga pernah berbuat kesalahan, ngga pernah belajar dari kesalahan, maka selamanya gue ngga akan pernah berbuat benar

Dan karena gue telah belajar dari kesalahan masa lalu, maka mulai hari ini gue berjanji pada diri sendiri untuk…

Berpikir lebih panjang sebelum bertindak

Lebih banyak menghitung tentang segala hal yang gue lakukan, meninggalkan aktivitas-aktivitas yang tidak memberikan keuntungan untuk gue dan menambah aktivitas yang membantu gue menjadi “seseorang”

Karena hidup adalah sebuah rangkaian perjalanan dimana hari ini selalu berpengaruh terhadap hari esok sekecil apa pun pengaruh itu


Rebound Guy[s]

11 May

Tadi sore terjebak dalam sebuah pembicaraan dengan Zhe. Awalnya siy gue cuma mau bilang kalo beberapa hari yang lalu gue ketemu Mr. R, tapi Zhe kesulitan untuk mengingat Mr. R, sementara gue yakin banget kalo gue sempet ngenalin Mr. R ini ke Zhe. Sedikit konfrontasi antara gue yang ngotot pernah banget ngenalin Mr. R ke Zhe dan Zhe yang ngotot ngga pernah kenal Mr. R yang gue maksud sampai akhirnya Zhe bilang…

“OKay deh ngga penting siapa itu Mr. R, sekarang yang penting itu apa posisi Mr. R di hidup lo?”

Sempet mikir sebentar untuk cari kata yang pas untuk menggambarkan posisi Mr. R dalam hidup gue sampai akhirnya gue STUCK pada kata intermezzo. Dan pembicaraan pun bermulai dari sini. Sebuah pembicaraan yang menyadarkan gue bahwa…

Gue memiliki banyak sekali pria-pria rebound dalam hidup gue, bukan karena gue LAKU tapi karena gue selalu punya cara yang MANIPULATIF untuk mendapatkan pria mana pun yang gue mau sebagai rebound (ini cuma berlaku untuk rebound guys ya!)

Setiap kali gue patah hati, terluka, sakit, atau bahasa lain yang menggambarkan rasa sakit yang sama, gue selalu mencari pria-pria yang bersedia menjadi rebound gue.

Kalau setiap kali gue mendapatkan rebound gue, gue ngga akan mempertahankannnya lebih dari 1 bulan (kebanyakan malah cuma bertahan sekitar semingguan)

Kalau eksistensi pria-pria rebound itu dalam hidup gue cuma sebagai pelarian, pelampiasan akan rasa sakit gue. Karena gue selalu berpikir kalau rasa sakit gue karena cinta bisa disembuhkan dengan mencari pelarian.

Eksistensi pria-pria rebound dalam hidup gue cuma sebagai sebuah persembunyian dari rasa takut gue akan kegagalan, ketakutan gue akan tidak akan pernah lagi memiliki seorang pendamping.

Mereka, pria-pria rebound gue, adalah suatu akibat dari pikiran dangkal gue bahwa dengan khadiran mereka, rasa kesepian ini akan hilang begitu saja, tapi lalu ternyata ngga semudah itu mengusir rasa kesepian ini.

Lalu setelah gue bosen dengan satu rebound, gue bakalan berpinah, mencari rebound yang lain, dan terus seperti itu. Berganti dari satu rebound ke rebound yang lain sampai akhirnya gue bosen, gue lelah bermain dengan hati gue sendiri, lalu gue memutuskan untuk sendiri, untuk menikmati kesendirian gue, dan (biasanya) pria datang di saat gue sedang menikmati kesendirian gue.

Lalu gue mulai sadar bahwa gue pengecut. Bahwa selama ini gue telah terbiasa menjadikan orang lain sebagai tempat persembunyian gue dari kenyataan.

Kebiasaan buruk memang. Tahu banget harus SESEGERA mungkin dihentikan.

Tapi kali ini biarkan gue bermain dengan hati gue, bermain dengan mereka yang gue sebut… REBOUND GUYS